[Masalah Kita] Berbagi Kisah, Menguatkan Langkah: Bagaimana Menghadapi Pandemi Covid-19?

[Masalah Kita] Berbagi Kisah, Menguatkan Langkah: Bagaimana Menghadapi Pandemi Covid-19?

Menyimak berita pandemi covid-19 pada pertengahan tahun 2021 di Indonesia membuat kita seperti dihempas dan terombang-ambing oleh gelombang lautan yang amat besar. Berita duka datang bertubi-tubi. Kesedihan, ketakutan, waswas, lelah, dan ragam emosi intens hadir mewarnai batin. Kita dituntut untuk tegar menghadapi badai peristiwa dan tetap tenang menjalani putaran roda kehidupan. Tulisan ini akan menuturkan tiga kisah tentang bagaimana badai yang dihadapi menuntun kita untuk berpusat pada kedalaman, dan selamat sampai ke tepian.      

 

Kisah Satu

Meski sudah mengetahui bahwa Bapak dan Ibu sakit covid, tetap saja berita kepulangan mereka yang berurutan, hanya selisih setengah hari antara Bapak dan Ibu, rasanya masih sangat mengejutkan! Semuanya terjadi begitu cepat dan tiba-tiba! Membuat aku terhenyak dan tergugu diam. Apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang?

Pulang kampung segera agar dapat hadir melihat mereka dimakamkan merupakan pilihan ideal. Menabur bunga secepat aku bisa setelah mereka selesai dimakamkan menempati pilihan kedua. Namun aku waswas, bagaimana kalau dalam perjalanan nanti aku terkena covid dan menulari keluargaku di rumah sepulang aku melayat? Kebingungan ini membuatku membuka diri untuk menerima sumbang saran dari orang-orang terdekat.

Sebagian dari mereka meneguhkanku untuk menjalankan segera niatan pulang kampung dan melayat. Bukankah itu pilihan mutlak seorang anak bagi orang tuanya? Rasa waswas dapat diatasi dengan berpusat pada keyakinan bahwa niatan baik pasti direstui Tuhan YME. Risiko dan bahaya dapat dicegah dengan mengikuti protokol kesehatan (prokes) secara cermat.

Sementara itu, sebagian lagi dari mereka mempertanyakan objektivitas dari pilihan yang menjadi niatanku. Untuk kebaikan siapakah sesungguh-sungguhnya aku pulang kampung sekarang? Apakah betul untuk kebaikan orang tua? Ataukah ini untuk kepentinganku sendiri agar merasa lega dan lapang, karena berpikir sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk menghantarkan kepergian orang tua? Ataukah ini untuk memuaskan nafsu sanak saudara, yang merasa aman dan benar, bilamana semua orang mengikuti tatanan norma umum yang seharusnya dilakukan?

menghadapi-pandemi-1
Sumber gambar: flickr.com

 

Aku pun diam sejenak. Hening. Secara jujur, aku masuk ke kedalaman batinku sendiri.  Aku dapati hasratku yang besar, untuk pulang kampung segera dan melayat orang tua secepat aku bisa. Aku sadari ketidaksiapanku menanggung risiko terbesar, yaitu kemungkinan anggota keluargaku sendiri dapat meninggal akibat tertular covid, yang bisa saja aku bawa pulang ke rumah selesai bepergian antar kota untuk melayat orang tua. Isolasi mandiri (isoman) langsung selama 14 hari selesai pergi melayat juga bukan merupakan konsekuensi yang siap aku jalani. Aku yakin, Tuhan YME dan ruh Bapak Ibu mengerti dan menerima keadaan batinku. Aku siap menghadapi sikap penghakiman atau komentar negatif dari sanak saudara yang akan menentang keputusanku nanti.

Di tengah situasi pro-kontra, aku menentukan pilihan yang siap aku jalani apapun akibatnya: Aku tunda melayat, sampai aku selesai vaksin, dan zona covid antar kota yang kulintasi tidak lagi merah. Saat sahabat dan sanak saudara terus menghubungi, menasehati, dan rasanya seperti mendesakku dan menyalahkanku – kenapa tidak segera melayat makam orang tua, aku menanggapinya dengan diam dan terima kasih. Pengertian orang terdekat merupakan dukungan yang menguatkan. Seiring waktu, pro-kontra reda dengan sendirinya. Tiada penyesalan dan gugatan menjalani keputusan bulat yang sudah kubuat.

 

Kisah Dua

Siapa yang tidak takut covid?! Bisa dipastikan, bahwa setidaknya hampir semua orang, tidak ingin terjangkit covid. Penolakan terhadap covid adalah sebuah kemutlakan. Segala daya upaya dilakukan untuk mencegah covid masuk ke dalam tubuh. Sikap anti-covid menjadi sikap bijak yang dianut bersama, termasuk oleh diriku.

Sampai pada suatu pagi, tiba-tiba rasa di lidahku hilang. Aku langsung siaga, jangan-jangan aku terkena covid?! Hasil SWAB-Antigen di sore itu menyatakan bahwa AKU POSITIF COVID!! Satu kalimat tersebut telak menohok hatiku.

Apakah hasil tes ini akurat? Bukankah aku dan keluarga selama ini menjalankan prokes dengan ketat? Bagaimana bisa aku sendirian di rumah ini yang kena covid? Bukankah aku sudah selesai vaksin 1 dan 2? Mungkinkah proses pembangunan imun tubuh sedang berlangsung, namun ini keliru dibaca sebagai positive-covid? Apakah aku perlu melakukan tes SWAB-PCR yang lebih akurat, untuk setidaknya memastikan? Namun hasil SWAB-PCR memerlukan waktu beberapa hari sampai keluar hasil, apa yang sebaiknya aku lakukan selama waktu tunggu tersebut?

Aku WA seorang sahabat, yang dokter, untuk meminta opininya. Menurut beliau, aku kemungkinan besar betul positive-covid, dan sebaiknya melakukan SWAB-PCR di puskesmas terdekat dan isoman segera. Opininya mengusir semua keraguan dan membuatku percaya, bahwa aku beneran sakit covid sekarang.

Pasangan hidup dan sahabat dekat membantuku menghubungi beberapa tempat rujukan yang menyediakan fasilitas isoman. Namun semua tempat rujukan yang ada di daftar menyatakan mereka tidak menerima isoman. Saat ada satu tempat yang mau menerima, namun tempat itu menuntut syarat, yang dapat dipenuhi dengan langkah-langkah administratif yang memerlukan waktu beberapa hari. Ini berarti, aku tidak bisa menemukan tempat untuk isoman langsung di malam itu. Bagaimana nanti bila keluargaku tertular?!

Pasangan hidup akhirnya memutuskan agar aku isoman dalam salah satu kamar di rumah, setidaknya untuk malam itu, agar kami semua bisa beristirahat memulihkan kelelahan. Aku setuju, dan langsung berangkat tidur. Segala sesuatu lebih baik dipikirkan besok, ketika badan segar dan batin lebih tenang.

Kicau burung liar di pagi hari membangunkan tidur dengan cara yang menyenangkan. Aku mengawali pagi dengan latihan rohani. Dalam doa, aku sampaikan semua gugatanku kepadaNya. Dalam permenungan, aku tertawa geli, saat menyadari kebiasaan lamaku… Aku memang selalu tidak-cukup-menaruh-hormat, dan bersyukur-tidak-secara-penuh, atas rahmat kejadian yang dihadirkanNya di hadapanku sekarang. Refleksi pagi ini membulatkan hatiku untuk menerima keadaan positive-covid. Yes, I want this, God, as You please.

 Ternyata lapang hati menerima si covid membuat segala gentar sirna. Hati riang, pikiran jernih, dan langkah hidup ringan menjalani proses isoman. Aku manfaatkan waktu isoman untuk istirahat dan meditasi. Aku sadar, ternyata selama ini aku bersikap paranoid terhadap covid, karena covid baru menjadi pengetahuan dan masih berupa unknown experience. Setelah mengalaminya sendiri, berbagi tubuh dengan covid, aku merasa familiar dan terbuka menerima keberadaannya.[1]

menghadapi-pandemi-2-jpgPerhatian dan kasih sayang keluarga membuatku terharu dan merasa hangat meski aku terus sendirian di dalam kamar saja. Pernyataan diri anak-anak dan pasangan hidup yang polos dan apa adanya tampak bercahaya lembut, membuatku tersenyum geli dan spontan bahagia. Aneh! Hal-hal biasa kini memenuhi hatiku dengan syukur yang mengalir deras! Ketidaksesuaian kenyataan dengan harapan tidak lagi mengusik dan membuka hatiku sungguhan lebar menerima! Inikah damai bahagiaMu, ya Tuhan?!

Dalam waktu yang termasuk singkat, yakni hanya delapan hari setelah hasil tes positif, aku pun sembuh dan sudah dinyatakan negative-covid. Delapan hari isoman menjadi anugerahNya, yang entah bagaimana Dia menghapus kebiasaan lamaku: tidak-cukup-menaruh-hormat dan bersyukur-tidak-secara-penuh atas rahmat kejadian di depan mata sekarang….

 

Kisah Tiga

Terus terang, aku belum siap, kalau Tuhan memanggil pulang pasangan hidupku sekarang! Ya, rasa takut memenuhi ruang hatiku. Bagaimana tidak?! Pasangan hidupku sudah dua kali periode menghabiskan antibiotik dengan dua jenis obat yang berbeda, namun tubuhnya tidak menunjukkan perubahan. Pinjaman oksimeter dari seorang sahabat kemudian menunjukkan kadar oksigen di dalam tubuh pasangan hidupku tergolong rendah dan tidak stabil, yaitu saturasi 70-88. Konsultasi WA dengan dua dokter dan seorang sahabat penyintas covid mengarahkanku untuk bersegera membawanya ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) malam ini juga! Aku pun panik!

Aku mencari tempat duduk untuk mengatur nafas. Ya, nafas panjang teratur dapat melepaskan ketegangan. Aku hubungi atasan untuk menyampaikan situasi yang kuhadapi, dan meminta arahannya. Sungguh beruntung berhadapan dengan atasan, yang pribadinya adalah sosok sahabat sejati! Beliau menyimak, menenangkan, memberi harapan, melepaskanku dari tanggung jawab pekerjaan, menyarankan aku untuk fokus pada pasangan hidup, dan membawanya ke IGD besok pagi agar lebih tenang. Ya, ketenanganku mutlak diperlukan, agar membawa ketenangan juga untuk pasangan hidup dan anak-anak, dan kami semua lebih siap melangkah dengan cermat.

Keesokan harinya, selesai sarapan, aku membawa pasangan hidup ke rumah sakit favorit. Namun, rumah sakit ini tidak menerima pasien covid baru karena ruang IGD-nya untuk pasien covid sudah penuh. Dokter IGD menyarankan agar aku menyusuri setiap IGD rumah sakit di sepanjang perjalanan kami. Pasangan hidup mengarahkanku untuk mendatangi IGD rumah sakit X, salah satu rujukan pemerintah untuk rumah sakit covid. Meski IGD mereka juga penuh, bahkan secara kasat mata terlihat jauh lebih penuh daripada IGD di rumah sakit pertama, namun rumah sakit X ini langsung terbuka menerima. Perawat langsung memasang selang oksigen dan selang infus bagi pasangan hidup, sementara aku diarahkan untuk mengisi pendaftaran pasien baru.

Hasil tes SWAB-PCR dilakukan kembali, karena hasil tes pertama, yang menyatakan pasangan hidup positive-covid, sudah cukup lama, yaitu dua belas hari sebelumnya. Rumah sakit X juga melakukan tes darah dan rontgen paru. Dari tiga hasil tes tersebut, dokter IGD menyatakan, bahwa pasangan hidup mengalami gagal nafas, ada luka menyebar rata di paru kiri dan kanan, serta prognosis kurang baik, meski tetap ada peluang besar untuk sembuh, sebagaimana kasus-kasus covid yang lain. Aku pun merasa syok!

Setelah menenangkan diri sejenak, aku menyampaikan berita tersebut kepada pasangan hidup secara garis besar dan optimis. Pasangan hidupku merasa lebih tenang dan memintaku pulang untuk menemani anak-anak di rumah. Di parkiran, aku menangis. Tangisan ampuh melepaskan semua ketegangan. Aku kembali dapat menikmati adanya angin sepoi-sepoi, suara burung, langkah bisu kucing, dan cahaya matahari. Alam selalu dapat mengisi ruang batinku dengan udara segar. Aku siap mendampingi proses penyembuhan apapun yang diperlukan oleh pasangan hidupku!

[2]

menghadapi-pandemi-3Aneka bentuk perhatian, dukungan, dan bantuan terus mengalir datang dari para sahabat dan sanak saudara. Hantaran kasih mereka sungguh menguatkan kami untuk melangkah maju. Salah satunya adalah mencari informasi lebih banyak mengenai keadaan medis yang ada. Melalui searching, aku mengetahui istilah medis untuk penyakit pasangan hidup, yaitu pneumonia akibat virus covid, atau long covid, di mana ada 19% pasien covid yang termasuk kelompok ini, peluang sembuhnya 97%, waktu penyembuhan 2-6 minggu, dan faktor utama penyembuhan adalah daya tahan tubuh pribadi.

Kejelasan informasi semakin meneguhkan keyakinanku akan peluang sembuh pasangan hidup. Demikian juga dengan pasangan hidup. Kejelasan informasi tampak mengusir kerisauannya, dan membulatkan optimismenya untuk sembuh. Makannya menjadi lebih banyak, semangatnya lebih tampak, energinya lebih ringan dan riang, dan proses penyembuhan yang dijalani (bersama oleh kami sekeluarga) ini terasa menyenangkan.

Masa kritis pun lewat. Proses pemulihan berlangsung cepat. Setelah lima hari di rumah sakit, pasangan hidup diizinkan pulang ke rumah. Ada obat yang perlu dihabiskan oleh pasangan hidup selama lima hari di rumah, dan lanjut isoman di rumah tanpa minum obat selama 9 hari. Semakin hari, ketakutanku semakin hilang. Bukan hanya kesembuhan yang berkembang, namun juga rezeki dan kasih tulus terus datang. Keinginan untuk mengendalikan sesuatu pelan-pelan mengendur, dan kesediaan untuk mengikuti ritme hidup yang berlangsung semakin lentur.

 

Penutup

Siapa yang tidak takut menghadapi badai?! Ancaman bahaya langsung terbayang, perasaan negatif intens muncul, pikiran bersegera mencari solusi, dan upaya total untuk dapat bertahan dikerahkan, dengan keyakinan sekaligus waswas bahwa “badai pasti berlalu?!?!”. Diam sejenak untuk melepaskan ketegangan mutlak diperlukan. Nafas panjang teratur dapat membangun ketenangan. Sabar menunggu lepasnya ketegangan dan hadirnya ketenangan akan menghasilkan kejernihan. Panca indera terbuka. KeberadaanNya terasa melalui semua yang ada. PetunjukNya jelas. Langkah hidup ringan dan nyaman, apapun situasi yang ada di depan, dengan segala konsekuensi yang mengikuti langkah-langkah kehidupan. Buahnya manis dan mengenyangkan. Salam Damai.***

 

Sumber tulisan : sharing dan refleksi pengalaman

 

Levianti, M.Si, Psi, adalah psikolog yang aktivitas utamanya sebagai ibu rumah tangga dari empat anak, mendampingi suami menjalankan usaha bersama, penulis lepas, associate trainer, dan dosen homebase Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul. Minat utamanya adalah pada pelatihan character building, serta latihan melepaskan diri dari hawa nafsu dan kelekatan tidak teratur. Diskusi artikel dengan penulis dapat dilakukan melalui wa 0815-7371-3025.

[1] Sumber gambar: needpix.com

[2] Sumber gambar: pixabay.com

Levianti

Levianti

Levianti, M.Si, Psi, adalah psikolog, yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, merintis usaha Kopi Bale bersama suami sejak tahun 2016, penulis lepas, associate trainer, dan dosen homebase Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul. Minat utamanya adalah pada pelatihan character building, serta latihan melepaskan diri dari hawa nafsu dan kelekatan tidak teratur. Diskusi artikel dengan penulis dapat dilakukan melalui email alevianti@gmail.com.

Related Posts

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 5
Total Visitors: 3279

Visitors are unique visitors