[Media] Resensi Buku Simpang Belajar

[Media] Resensi Buku Simpang Belajar

media1-7Judul Buku: “Jurnal Simpang Belajar Bandung: Pangan dan Angan-Angan”

Penulis: Gusti Nur Asla Shabia, Dewi Setiawan

Penyunting: Wilsa Naomi, Firdaus Habibu Rohman

Ilustrasi dan Tata Letak: Mohammad Furqon

Peninjau: Catharina Any Sulistyowati

Penerbit: Perkumpulan Pamflet Generasi

Tahun Terbit: 2025

Tempat Terbit: Jakarta, Indonesia

 

Isu terkait pangan dan segala hal yang menyertainya–atau biasa disebut sistem pangan–merupakan isu yang sedang mencuat ke permukaan karena isu ini tidak dapat dipisahkan dari isu krisis iklim dan perusakan lingkungan berulang-ulang yang banyak terjadi sekarang. Namun, dari pengalaman saya isu pangan ini belum sepenuhnya masuk ke dalam tataran masyarakat umum dibandingkan dengan isu ekonomi (biaya hidup dan kesempatan kerja) atau isu sosial budaya (agama, moralitas, dan identitas). Padahal, sebenar-benarnya isu tentang pangan tidak bisa dipisahkan dari hal-hal tersebut atau hal-hal lainnya yang tidak disebutkan. Dengan permasalahan di sistem pangan yang banyak terjadi dan krisis iklim yang semakin meresahkan ini, Urban Futures, pada dasar angan-angannya, hadir untuk menjawab kedua soalan tersebut.

Urban Futures merupakan program global yang fokusnya berada pada ranah sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim dengan lokus program di lima negara, yaitu Kolombia, Ekuador, Indonesia, Zambia, dan Zimbabwe. Di Indonesia sendiri, program ini diselenggarakan di dua tempat, yakni Kota Bandung, Jawa Barat dan Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Di Kota Bandung, ada banyak konsorsium yang memayungi inisiatif-inisiatif yang lebih kecil–maksudnya dibandingkan dengan tujuan Urban Futures sebagai program; bukan mengkerdilkan–seperti Konsorsium PUPA yang di dalamnya ada AKATIGA dan Seni Tani dengan tujuan untuk meningkatkan pangan lokal Bandung yang rentan akibat ketergantungan impor.

AKATIGA sendiri merupakan sebuah organisasi nonpemerintah (NGO) yang bergerak di isu sosial, yang juga merupakan tempat saya magang semester kemarin. Maka dari itu, setidaknya, saya mengikuti sedikit, yang biasanya sebagai notulis, acara-acara naungan Konsorsium PUPA yang membentuk kesadaran saya terhadap sistem pangan Kota Bandung yang rentan akan ancaman, seperti bencana alam. Dari supervisor magang pula saya dapatkan informasi terkait program lain dalam Urban Futures, yaitu Simpang Belajar yang berada di bawah Pamflet Generasi dan Rombak Media yang tergabung dalam Konsorsium Simpul Pangan.

Simpang Belajar merupakan sebuah inisiatif untuk mengumpulkan orang muda Kota Bandung yang memiliki keresahan dalam soalan-soalan pangan yang nantinya saling berbagi pengetahuan sebagai modal perencanaan dan pembuatan inisiatif. Sesuai dengan namanya, orang-orang muda ini dipertemukan di sebuah persimpangan untuk belajar dari pengalaman dan pengetahuan satu sama lain. Tentunya persimpangan ini bukanlah menjadi satu-satunya persimpangan yang ada. Nantinya akan ada persimpangan-persimpangan lain untuk pertemuan-pertemuan bermakna yang akan dibentuk. Ini sedikitnya yang bisa saya interpretasi dari apa yang dibicarakan panitia, dan apa yang saya baca dari buku yang akan saya bahas.

media2-7

Halaman verso dan daftar isi jurnal

 

Buku ini berjudul “Jurnal Simpang Belajar Bandung: Pangan dan Angan-Angan” dengan berisikan 86 halaman yang ditulis oleh Gusti Nur Asla Shabia dan Dewi Setiawan untuk membahas, apa yang saya tangkap sebagai gerakan pangan. Tema besar tersebut dipecah ke dalam enam bagian yang semuanya berkelindan dalam satu kesatuan harmoni. Tak kalah penting, buku ini juga ditinjau langsung oleh Catharina Any Sulistyowati, atau kerap saya sapa sebagai Mbak Any, pendiri dari Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang (KAIL). Pamflet Generasi, selaku panitia program, juga menjadi penanggung jawab dalam perancangan dan penerbitan. Tentunya ada orang-orang lain yang membantu menyusun ini yang tidak bisa saya tulis satu per satu. Selanjutnya buku ini akan saya sebut sebagai jurnal karena pada dasarnya memang dibagikan pada peserta Simpang Belajar sebagai modul dan jurnal pendamping selama pembelajaran berlangsung. Maksudnya adalah lokakarya pertama dalam perjalanan panjang dalam program Simpang Belajar.

Dari segi visual, buku ini disertai banyak ilustrasi yang relevan dengan isi pembicaraan karya Mohammad Furqon sebagai ilustrator sekaligus layouter yang bertanggung jawab dalam penataan letaknya. Penggunaan warna yang kontras, tetapi tetap sedap dipandang menjadi salah satu hal yang menarik dari buku ini. Penggunaan jenis fon dan ukurannya yang pas–maksudnya dapat dibaca dengan jelas–menambah nilai keunggulan. Selain itu, buku ini memberi ruang kosong untuk menjawab pertanyaan yang disediakan. Ditambah lagi, banyaknya ruang kosong lain yang dapat dimanfaatkan untuk menulis apapun yang dibutuhkan. Pemilihan kertas yang tebal pun perlu disinggung karena peserta dapat dengan leluasa menggunakan alat tulis apapun, senyamannya untuk mengisi dan berinteraksi dengan isi jurnal.

Bagian pertama buku ini berjudul “Piring Kita, Hak Kita: Mengenal Hak dan Peranmu.” Sesuai dengan judulnya, bagian ini menjadi pengantar dasar dari topik-topik yang akan muncul selanjutnya. Dalam bab ini diinformasikan mengenai hak atas pangan, yang merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM), sehingga memunculkan konsep pembedaan peran antara warga negara sebagai pemangku hak dan pemerintah sebagai pemangku kewajiban. Selain itu, konteks hak ini dilengkapi dengan konteks hak orang muda–ini terkait pula dengan tujuan dari Urban Futures itu sendiri. Bahwasanya, orang muda mempunyai hak yang sama dengan orang dewasa dalam semua hal. Maka dari itu, konsep partisipasi bermakna dan inklusif (atau MIYP; Meaningful and Inclusive Youth Participation) muncul sebagai pijakan dasar pemosisian peserta dalam proses pembelajaran. Terakhir, refleksi terkait sistem pangan Kota Bandung juga tak lupa disebutkan di sini. Total halaman dalam bagian pertama adalah 22 halaman, yang terbanyak di antara bagian lain.

Masuk ke dalam bagian selanjutnya yang berjudul “Pangan 101: Belajar Pangan, Permasalahan Pangan, dan Sistem Pangan” yang melanjutkan pemahaman selangkah lebih jauh dibandingkan bagian pertama yang berada pada tataran hak atau soalan fundamental diri manusia. Di dalamnya, bab ini secara eksplisit mendefinisikan apa yang disebut dengan pangan. Lebih jauh lagi, di sini dikenalkan konsep berpikir sistem dengan ilustrasi gunung es untuk membantu mengidentifikasi permasalahan dalam sistem pangan yang membentuk hubungan kausalitas antara satu sama lain. Oleh karena itu, bab ini mendorong untuk merefleksikan pengalaman dan pengetahuan diri dalam hal-hal terdekat para peserta. Bagian ini terdiri dari sebelas halaman.

Setelah diberikan pijakan terkait HAM, pendefinisian yang jelas tentang pangan dan sistem pangan, dan refleksi permasalahan dengan berpikir sistem, pijakan selanjutnya berkaitan dengan angan-angan untuk sistem pangan Kota Bandung sendiri. Dengan judul “Berkelanjutan, Berkeadilan, Berbasis Hak: Membayangkan Sistem Pangan yang Ideal” peserta diajak untuk mengetahui apa itu sistem pangan berkelanjutan dan berkeadilan sebagai modal dari angan-angan yang nantinya akan terbentuk atau dibentuk. Tak hentinya juga diajak berefleksi bahwasanya justifikasi perenggutan hak dalam sistem pangan juga bisa dimulai dari dalam pikiran masing-masing, seperti bias gender dan bias kelas walaupun hanya dibahas pada satu halaman dari keseluruhan sepuluh halaman bab tiga. Terakhir, diberikan secara eksplisit bentuk sistem pangan yang ideal adalah sistem pangan yang berbasis hak dengan indikator yang berasal dari Komite Ketahanan Pangan PBB (CSIPM).

media3-6

Salah satu pertanyaan dalam jurnal

 

Pada bagian keempat yang berjumlah sebelas halaman ini, dieksplorasi konsep pangan lokal dan keuntungan-keuntungannya yang nantinya juga berkelindan dengan apa yang disebut sebagai pangan bergizi. Keduanya dibahas sebagai sesuatu hal yang perlu dicapai karena berkaitan erat dengan hak atas pangan itu sendiri. Bergizi artinya sesuai dengan anjuran pedoman “Isi Piringku” yang menggantikan “4 Sehat 5 Sempurna” karena bukan hanya sekadar tentang apa yang dimakan, tetapi juga terkait porsinya. Lalu, lokal artinya mengakui keberagaman pangan, melestarikan pengetahuan lokal turun-temurun, dan mengurangi jejak emisi karbon untuk distribusi. Gerakan pangan lokal ini juga menjadi salah satu jawaban dari permasalahan ketergantungan impor, yang dilakukan Indonesia atau Kota Bandung dalam sistem pangan.

media4-5

Rubrik “Tembok Berbunga”

 

Terakhir, bagian kelima dan keenam berisikan pembuatan dan perencanaan inisiatif itu sendiri. Bagian kelima memperkenalkan beberapa inisiatif pangan yang ada di Bandung, seperti Seni Tani, Food Bank Bandung, Komunitas Cika-Cika, dan Rahsa Nusantara. Ada pula inisiatif-inisiatif yang berada di daerah lain yang dapat dieksplorasi sendiri oleh peserta. Selanjutnya, ketika sudah kenal dengan keragaman inisiatif dalam sistem pangan, disediakan banyak pertanyaan yang menstimulasi kemunculan inisiatif dari peserta. Untuk bab “Dari Angan untuk Pangan: Waktunya Bergerak Bersama!” terdiri dari lima belas halaman. Dan, pada bab “Percayalah, Kamu Tidak Sendirian!” yang berisikan satu halaman pengingat, dan sisa halamannya digunakan untuk rubrik “Tembok Berbunga” sebagai tempat menulis catatan harian. Di sisa-sisa halaman yang ada, sekumpulan daftar pustaka dari sitasi yang muncul di sepanjang jurnal ini diperlihatkan.

Beberapa hal yang saya rasa menjadi sesuatu yang baik dari jurnal ini sudah saya sebutkan di atas. Penggunaan warna yang kontras mendukung kejelasan gambar atau ilustrasi yang digunakan sehingga mendorong minat baca dari para peserta. Pertanyaan-pertanyaan yang ada untuk menstimulasi peserta dan merefleksikan pengalaman serta pengetahuannya sangat mencerminkan konsep partisipasi bermakna dan inklusif. Peserta diajak untuk memberikan pengalaman dan suaranya sendiri yang kemudian dituangkan dalam kertas. Selain itu, ruang kosong yang banyak dapat dimanfaatkan menjadikan kanvas ide atau pemikiran yang melintas.

Selain dari segi visual, sifat interaktif dari jurnal ini ada pada bagaimana penulis menggunakan tutur bahasa yang ringan. Kalimat substansi yang dicantumkan relatif kalimat singkat yang menyasar inti dari apa yang dibicarakan yang salah satunya dari pendefinisian terminologi yang relatif eksplisit. Kalaupun dibutuhkan, alur konteks personal pun juga dituangkan dalam bahasa yang menarik. Sebagai contoh adalah kalimat “Apa saja aspek penting bagi orang muda supaya bisa berpartisipasi dan bekerja di sistem pangan secara berkelanjutan (HLPE, 2021)? Yuk, kita cek dan refleksikan!” (hlm. 18). Ini pun juga berarti bahwa copywriting yang digunakan sangat menarik. Misalnya ketika membahas tentang bias dalam pikiran sendiri, kata yang digunakan dalam judul adalah “BiaSalah!” (hlm. 40).  Interaksi juga diperluas dengan adanya kode QR yang ada sebagai tambahan bahan bacaan. 

media5

Ilustrasi pohon oleh Tony Ruth

 

Secara substansi juga, ada beberapa analogi yang digunakan untuk memudahkan pemahaman peserta, seperti: “Bunga Partisipasi” dari CHOICE For Youth and Sexuality untuk membahas partisipasi bermakna dan inklusif; ilustrasi pohon Tony Ruth terkait sistem pangan berkeadilan; dan siraman dukungan untuk tumbuhan dalam merancang inisiatif. Kemudahan yang ditawarkan ini tentunya sangat menguntungkan peserta karena tidak semua yang terlibat dalam program merupakan orang yang sudah terjun ke dalam isu sistem pangan sebelumnya, seperti saya sendiri. Dan saya merasakan keuntungan dari hal ini. Selain itu, topik yang dibahas sudah runut dari yang dasar hingga ke pada tujuan akhir, yakni pembentukan inisiatif. Hal ini juga tecermin dari pertanyaan-pertanyaan yang ada yang semua jawabannya berhubungan dengan topik yang sedang dibahas. Seperti pertanyaan pada bagian pembahasan mengenai hak orang muda dan MIYP, yaitu “Menurutmu, kenapa orang muda perlu untuk dilibatkan dalam sistem pangan?” (hlm. 17). Barang tentu jawabannya akan mengarah ke dalam pembahasan itu.

Yang saya sadari setelah menyelesaikan jurnal ini pun adalah bahwa, layaknya karya-karya tulis yang lain, tidak lepas dari pembentukan keberpihakan. Dari adanya penjabaran definisi yang jelas, beberapa masalah sistem pangan yang disebutkan dengan gamblang, pemosisian orang muda, pengidentifikasian peran warga negara dengan pemerintah memberikan kejelasan posisi dari saya sebagai peserta. Belum sampai situ, masalah global terkait impor pangan dan pangan yang bergantung pada korporasi juga disebutkan dalam bab tiga (hlm. 35) yang merupakan contoh dari pangan yang tidak berkeadilan. Jurnal ini pun juga menyertakan beberapa kutipan, seperti dari Pramoedya Ananta Toer dan kutipan lain untuk membakar renjana dari para peserta.

Akan tetapi, sejauh saya merefleksikan jurnal ini, ada kekurangan konteks dalam menggambarkan dinamika sistem pangan perkotaan. Maksudnya, ketika Urban Futures mempunyai tujuan menjawab sistem pangan perkotaan, sebaiknya itu yang bisa dieksplor banyak. Salah satu contohnya adalah keterbatasan lahan yang tersedia untuk bertani. Memang, ada beberapa bagian yang sedikitnya menyinggung hal ini. Salah satunya pun juga mengutip penelitian Ben White (2020) di Yogyakarta bahwa ketertarikan orang muda untuk bertani dipengaruhi akses terhadap tanah dan sumber daya. Oleh sebab itu, terlihat masalah yang besar di sini bahwasanya orang muda terjebak dalam paradoks keinginan akses yang cukup dan masalah akses yang tidak pernah selesai. Bagi saya, sebelum masuk ke dalam konsep pangan lokal, hal ini yang bisa dieksplorasi terlebih dahulu.

Selain itu, dinamika relasi pemerintah dengan warganya dalam sistem pangan perkotaan pun juga rasa-rasanya dapat dijelaskan lebih banyak. Saya merasa tak ada salahnya mencantumkan apa-apa saja, setidaknya, yang sudah dilakukan pemerintah untuk menjawab permasalahan pangan yang sedari awal terus-menerus disebutkan. Hal itu juga didasari dari adanya pemisahan peran warga negara dan pemerintah dalam kerangka HAM, terlebih hak atas pangan yang ada dalam bagian pertama. Memang, mungkin apa yang ingin jurnal ini sampaikan lebih kepada memperlihatkan kondisi sebenar-benarnya realitas pangan dan mendorong peserta untuk mengembangkan inisiatifnya sendiri, tetapi tak ada salahnya mengeksplorasi lebih untuk memicu inisiatif yang lebih beragam lagi.

Intinya, jurnal yang diberikan dalam program Simpang Belajar ini merupakan bahan bacaan yang terbilang cukup ringan dilihat dari penggunaan kalimat dalam substansi, dan pada ilustrasi-ilustrasi yang ada. Hal ini menumbuhkan minat baca dari peserta yang juga didorong dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang dapat menstimulasi pengalaman dan pengetahuan para peserta. Namun, pembawaannya yang ringan tidak menjadikannya hilang kekuataan dalam substansi. Apa yang ditulis mencakup banyak aspek dalam sistem pangan, dengan analogi yang mudah dipahami dan kalimat yang menyasar inti pembahasan. Hal-hal tersebut dapat diartikan bahwa jurnal ini mendorong interaksi antara apa yang sudah dituangkan dengan peserta lokakarya untuk mencerminkan partisipasi bermakna dan inklusif itu sendiri. Maksudnya, setidaknya, para peserta dilatih untuk berani mengungkapkan pengalaman dan pengetahuannya dalam sebuah kertas sehingga akan terbiasa pada praktik secara langsung. Ada pula kekurangan dalam hal topik yang, setidaknya, dapat ditambahkan. Tentunya pandangan ini semata-mata berasal dari pemikiran saya sendiri. Akan tetapi, pada dasarnya, buku ini mendukung proses pembelajaran dan mendukung tujuan-tujuan awal program Simpang Belajar untuk mempertemukan orang muda dan membentuk gerakan menjawab permasalahan di sistem pangan Kota Bandung.

Avatar

Salman Reynaldi

Salman Reynaldi, atau bisa dipanggil Salmiun, adalah seorang mahasiswa yang sedang berusaha untuk menulis lebih sering dalam upaya merawat ingatan dan merefleksikan pengetahuannya. Memiliki ketertarikan terhadap topik pangan, identitas, dan budaya.

Related Posts

[Media] Nusantara Food Biodiversity:  Pangkalan Data Kekayaan Ragam Pangan Lokal Indonesia

[Media] Nusantara Food Biodiversity: Pangkalan Data Kekayaan Ragam Pangan Lokal Indonesia

[Media] Merawat Ingatan Rasa Sunda melalui buku Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték

[Media] Merawat Ingatan Rasa Sunda melalui buku Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték

[Media] Menerawang Masa Depan Pertanian dari Struktur Ekonomi Politik Pangan dan Eksplorasi Ruang Kolaborasi

[Media] Menerawang Masa Depan Pertanian dari Struktur Ekonomi Politik Pangan dan Eksplorasi Ruang Kolaborasi

[Media] Menghasilkan dan Mengolah Pangan Sendiri

[Media] Menghasilkan dan Mengolah Pangan Sendiri

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 42
Total Visitors: 93791

Visitors are unique visitors