[Profil] Junkan Farm: Belajar Mengembangkan Organisasi lewat Mengelola Kebun Kecil di Jepang

Pada bulan September yang lalu, saya sempat berkunjung ke sebuah kebun kecil di Jepang. Kebun itu dikelola oleh sepasang suami…
1 Min Read 0 3

Pada bulan September yang lalu, saya sempat berkunjung ke sebuah kebun kecil di Jepang. Kebun itu dikelola oleh sepasang suami istri bernama Shiro dan Yuko Yoshihara. Mereka berdua adalah sahabat baik yang memutuskan untuk menjadi petani setelah menjalani kehidupan profesional di bidang bisnis dan hukum. Mereka berdua mengelola dua kebun. Satu kebun yang luas terletak di pinggiran kota dan satu kebun lagi menggunakan petak lahan yang tidak digunakan atau belum dibangun di tengah perumahan. Shiro dan Yuko menyebut kebun mereka Junkan Farm.

profil1-4

Panen untuk makan siang di Junkan Farm bersama Shiro dan Yuko Yoshihara

 

Junkan (循環) berarti siklus / sirkulasi / daur alami. Di Junkan Farm, istilah ini bukan sekadar nama atau slogan, tapi sebuah kerangka berpikir serius atau cara pandang tentang kehidupan. Semua unsur, misalnya tanah, tanaman, serangga, mikroorganisme, dan manusia, dianggap sebagai bagian dari satu siklus kehidupan yang saling menopang. Karena itu di Junkan, tujuan bertani bukan memaksimalkan panen, melainkan menjaga keberlangsungan siklus alami tersebut. Di kebun ini, pertanian dilaksanakan dengan prinsip bahwa alam sesungguhnya telah memiliki mekanisme sendiri untuk menjaga keseimbangan. Tugas manusia bukan menguasai, melainkan mendengarkan dan merawat.

Pada praktiknya, prinsip ini diterapkan secara teknis sebagai berikut. Pertama, di Junkan Farm, pertanian dilakukan tanpa input eksternal. Jadi, Junkan Farm tidak menggunakan pupuk kimia, pestisida, maupun membeli kompos dari luar. Seluruh input dihasilkan di kebun itu sendiri. Hampir tidak ada “input” yang datang dari luar kebun. Tanah tidak dipaksa bekerja lebih keras dari kemampuannya. Di kebun ini, tanah dibiarkan membangun kesuburannya sendiri dengan pengolahan sisa tanaman, gulma, dan aktivitas mikroba di kebun tersebut. 

Selain itu di Junkan Farm, gulma bukanlah sesuatu yang harus dibasmi, melainkan dibiarkan tumbuh bersama dengan tanaman utama. Gulma tidak dianggap musuh. Kadang ia dipotong dan dibiarkan membusuk di tempat dan menjadi bagian dari siklus nutrisi tanah. Diyakini, akar gulma dapat membantu memperbaiki struktur tanah dan sumber kehidupan bagi mikroorganisme. Di sini, gulma menjadi bagian dari siklus nutrisi, bukan masalah yang harus diberantas. 

Di Junkan Farm, pengolahan tanah dilakukan seminimal mungkin. Tanah jarang dicangkul dalam-dalam seperti kebanyakan praktik pertanian modern. Struktur tanah dijaga agar kehidupan mikroba tidak rusak. Akar tanaman lama dibiarkan terurai alami. Ini sejalan dengan prinsip regenerasi tanah (soil regeneration) dan do nothing farming ala Masanobu Fukuoka, tapi dengan adaptasi konteks lokal. Meskipun dilakukan dengan pendekatan minimal intervensi, sejatinya yang dilakukan adalah pengamatan yang intens dan penuh kesadaran.

Di kebun ini, tanaman ditanam mengikuti musim, bukan mengikuti kebutuhan pasar. Petani tidak memaksakan tanaman tumbuh di luar musim. Jika terjadi gagal panen, maka ini diterima sebagai bagian dari siklus belajar. Hasil panen yang bervariasi, naik turun atau tidak stabil dianggap sebagai sebuah kewajaran. Ini merupakan respons alami dari perubahan kondisi ekosistem pertanian. Ketahanan sistem pertanian dalam jangka panjang dianggap lebih penting daripada konsistensi produksi.

Bagi Yuko dan Shiro, bertani bukanlah kegiatan produksi semata. Bertani adalah sebuah latihan kerendahan hati. Mereka menerima bahwa tidak semua musim menghasilkan panen yang baik. Gagal panen bukan kegagalan personal, melainkan pesan dari alam tentang batas-batas yang perlu dihormati. Dalam logika ini, keberhasilan tidak diukur dari jumlah hasil, tetapi dari kesehatan sistem yang terus bertahan dari waktu ke waktu.

Di dalam Junkan Farm, hubungan manusia dengan alam bukan untuk mengontrol, melainkan untuk mengamati, mendengarkan dan belajar. Yuko dan Shiro sering menekankan: petani bukan penguasa alam. Petani adalah pengamat dan penjaga proses. Mereka menghabiskan waktu untuk mengamati tanah, serangga dan perubahan-perubahan kecil dalam ekosistem pertanian. Praktik bertani menjadi sebuah praktik kesadaran (awareness practice), bukan sekadar teknik produksi pangan.

Junkan Farm penting bukan karena skalanya, tapi karena ia menunjukkan bahwa: (1) pertanian bisa hidup tanpa ketergantungan industri, (2) keberlanjutan adalah relasi, bukan teknologi, dan (3) skala kecil justru memungkinkan perhatian, perawatan, dan pembelajaran mendalam. Prinsip-prinsip ini sangat dekat dengan praktik pertanian regeneratif, CSA, kedaulatan pangan, dan pengembangan pangan lokal berbasis ekologi.

Apa yang terjadi di Junkan Farm sebenarnya bertolak belakang dengan logika pertanian modern yang serba cepat dan terukur. Di tengah dunia pertanian yang semakin sibuk mengejar hasil, efisiensi, dan skala besar, sebuah kebun kecil di Jepang justru mengajarkan hal sebaliknya. Junkan Farm bukan sebuah pertanian besar, bukan pula tujuan wisata utama. Keberadaan kebun ini bahkan nyaris tak terdengar di luar lingkaran kecil pegiat pertanian berkelanjutan. Justru dari ketidakmenonjolannya itulah Junkan Farm menawarkan pelajaran penting tentang bagaimana manusia seharusnya berelasi dengan alam. Di sinilah letak relevansinya bagi dunia hari ini. Ketika krisis iklim, degradasi tanah, dan ketergantungan pada input industri semakin nyata, Junkan Farm menunjukkan bahwa ketahanan bisa tumbuh dari kesederhanaan dan kedekatan.

Pengalaman bertani ini kemudian melampaui kebun. Shiro Yoshihara membawa prinsip junkan ke ranah sosial dan organisasi melalui pendekatan yang melihat komunitas dan institusi sebagai sistem hidup. Pengalaman di Junkan Farm kemudian diterjemahkan ke dalam praktik manajemen organisasi. Seperti tanah, organisasi pun tidak selalu perlu diperbaiki dengan intervensi besar. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang, waktu, dan kepercayaan agar sistem dapat menata dirinya sendiri. 

Dari pengalaman tersebut, ditarik pembelajaran sebagai berikut: (1) sebuah sistem yang sehat tidak dipaksa, (2) terlalu banyak intervensi justru melemahkan sistem, dan (3) ketidakteraturan bukan musuh, tapi sumber ketahanan. Pembelajaran ini sering digunakan sebagai refleksi organisasi, komunitas, lembaga pendidikan, dan kehidupan sehari-hari.

Junkan Farm mengingatkan kita bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari proyek ambisius. Ia bisa tumbuh dari sebidang kebun kecil, dari keputusan untuk tidak serakah, dari kesediaan untuk berjalan lebih pelan. Di dunia yang terbiasa memaksakan kehendak pada alam, Junkan Farm mengajarkan satu hal sederhana namun radikal: keberlanjutan dimulai dari kesediaan manusia untuk bersikap rendah hati dan berhenti merasa paling tahu.

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.