[Profil] YPBB – Inspirator Gaya Hidup Organis

[Profil] YPBB – Inspirator Gaya Hidup Organis

Sudah selayaknya manusia hidup selaras dengan alam. Manusia membutuhkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di saat yang sama, manusia perlu menjaga alam sedemikian rupa agar alam dapat pula mendukung dengan kualitas yang baik bagi manusia. Hanya saja, kecenderungan manusia yang tak pernah puas, dan seringkali tak berperilaku secara berkelanjutan terhadap alam, mengakibatkan terjadinya eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Beberapa akibat dari eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan telah dirasakan oleh masyarakat di dunia saat ini. Kualitas alam menurun dan beberapa gejala utama yang telah kita rasakan adalah perubahan iklim global.

Keprihatinan akan pentingnya menjaga alam mendorong berbagai pihak untuk menyatukan aksi. Muncul berbagai gerakan yang mengkampanyekan hidup selaras alam. Salah satu yang telah cukup lama malang melintang dalam mempromosikan dan mempraktekkan keselarasan hidup dengan alam adalah YPBB yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat.

Profil Singkat

Nama    : Perkumpulan YPBB

Berdiri sejak tahun 1993

VISI

Terciptanya kehidupan manusia yang berkualitas tinggi melalui gaya hidup selaras alam”

MISI

Membantu dan mendukung masyarakat dalam memahami dan menerapkan gaya hidup organis untuk mencapai kualitas hidup yang tinggi melalui gaya hidup ramah lingkungan (organis)”

Website : ypbbblog.blogspot.com

IG @ypbbbandung

 

Kampanye dan Edukasi Masyarakat untuk Mewujudkan Hidup Selaras Alam

YPBB meyakini bahwa strategi terbaik untuk mencapai visi dan misi mereka adalah dengan melakukan kampanye yang dikemas melalui program-program pendidikan kepada masyarakat. Dengan terdorongnya masyarakat untuk belajar, kemudian mempraktekkan tentang hidup selaras alam, akan tumbuh keberpihakan serta kebiasaan baru yang berwawasan organis. Program-program pendidikan yang dibawakan YPBB antara lain: pelatihan gaya hidup nol sampah (Zero Waste Lifestyle), Zero Waste Event (ZWE), dan Zero Waste Office (ZWO).

Isu sampah merupakan keprihatinan utama yang YPBB kampanyekan semenjak 2005 hingga saat ini. Beban bumi akibat sampah yang ditimbulkan oleh manusia telah melampaui daya dukung bumi itu sendiri. Apabila persoalan ini tak segera ditangani, peradaban manusia akan kolaps. Untuk itu, YPBB mengemas kampanye sekaligus pelatihan cara pengelolaan sampah yang ekonomis dan berkelanjutan dengan memanfaatkan kinerja lingkungan yang tinggi, yaitu pengelolaan sampah yang berorientasi preventif, terdesentralisasi, berkelanjutan dan mandiri. Program pendidikan berupa pelatihan yang bertujuan memperkenalkan Zero Waste Lifestyle (ZWL) ditujukan bagi masyarakat kota Bandung dan sekitarnya. Dalam pelatihan ini, YPBB mendorong peserta “melepaskan diri” dari persoalan sampah, tentunya tanpa merugikan orang lain ataupun menimbulkan masalah lingkungan yang lebih besar di masa mendatang. Dengan pelatihan ini, diharapkan peserta dapat mengubah paradigma yang awalnya menganggap sampah sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat menjadi paradigma baru bahwa sampah merupakan material yang dapat digunakan kembali. Sebagai contoh, sampah organik disebut sebagai material organik karena bisa dimanfaatkan menjadi kompos yang berguna sebagai media tanam dan untuk menyuburkan tanah. Dengan menanam sayur-sayuran di lahan bermaterial organik, kita dapat mengonsumsi sayuran tersebut tanpa takut bahaya pestisida. Melalui pelatihan ini dan dengan pemahaman yang tepat, peserta dapat mulai menyelesaikan 70% persoalan sampah di tingkat rumah tangga hanya dengan beberapa langkah sederhana. Salah satu contoh pengelolaan sampah yang sering dilakukan adalah dengan metode Takakura, pembaca dapat langsung berkunjung ke : https://www.google.com/url?q=http://ypbbblog.blogspot.com/2018/11/belajar-bersama-si-pencipta-takakura-di.html&sa=D&ust=1607838400485000&usg=AOvVaw2eTZZSi14uO0muAoWe6wQt

Program Zero Waste Cities

Berangkat dari keprihatinan bersama terkait masalah sampah di lingkungan perkotaan, YPBB bekerjasama dengan Mother Earth Foundation (MEF), sebuah lembaga nirlaba dari Philipina yang berhasil mewujudkan pengelolaan sampah dengan prinsip Sustainable Solid Waste Management. Setidaknya 244 kelurahan dari 4 kota besar dan 15 kota kecil di Filipina, telah berhasil menanggulangi permasalahan sampah yang serupa dengan negara kita.

profil_navita
Program Zero Waste Cities di Bandung, digerakkan oleh YPBB Sumber gambar: https://bit.ly/3htkSwS

Untuk program Zero Waste Cities (ZWC) ini, kerjasama dengan para pemangku kepentingan di tingkat kota menjadi sangat penting. Di Bandung, sebagai penggerak program ZWC, YPBB berupaya mendorong pemerintah kota/kabupaten untuk menerapkan pengelolaan sampah dari kawasan. Program ZWC yang dijalankan oleh YPBB telah mendorong dua kota untuk melengkapi perangkat regulasinya dalam mendukung pengelolaan sampah dari kawasan. Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung telah memiliki peraturan daerah terkait pengelolaan sampah di tingkat kota.

Di Kota Bandung, gerakan Zero Waste dikenal dengan istilah Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan). Program Kang Pisman didukung oleh Peraturan Daerah No. 9 tahun 2018, yang menegaskan peran Pemerintah Kota dalam pengelolaan sampah secara terpilah. YPBB turut serta mengawal pemberlakuan Perda tersebut di lapangan, dengan mendampingi beberapa kelurahan yang menjadi role model Kawasan Bebas Sampah (KBS). Terdapat 8 Kelurahan, yaitu: Sukamiskin, Sukaluyu, Gempolsari, Cihaurgeulis, Mengger, Neglasari, Babakansari, dan Kebon Pisang. Fokus KBS adalah pada pemilahan sampah skala rumah tangga. Dalam 1 tahun sejak pembentukannya di tahun 2018, Ke-8 KBS tersebut telah mampu mengolah sampah sebesar 32,94 ton sampah organik dan 26,96 ton sampah anorganik. Jumlah KBS pun berkembang menjadi 147 kawasan. Hal ini tentunya menunjukkan penerimaan yang cukup baik terhadap konsep Zero Waste di antara masyarakat dan para pemangku kepentingan di Pemerintah Daerah.

Memasuki 2021, di tengah masa pandemi ini, YPBB tetap berkomitmen  mewujudkan visi dan misinya. Dalam semangat menyongsong perbaikan kualitas alam maupun kehidupan manusia, semoga YPBB akan terus konsisten dalam setiap sepak terjangnya. Amin.

Navita K. Astuti

Navita K. Astuti

Navita Kristi Astuti, sejak kuliah telah memiliki minat pada isu pemberdayaan manusia dan berbagi informasi melalui tulisan. Ia menempuh pendidikan S1di Biologi ITB (1995-2001) dan S2 di Network on Humanitarian Assistance (NOHA) di Rijksuniversiteit Groningen (2004-2005). Tahun 2001-2004, ia mengabdikan diri sebagai relawan di kamp pengungsi Pulau Timor bersama Jesuit Refugee Service. Setelah itu ia berkarya bersama Kuncup Padang Ilalang (2008-2009 di Aceh, 2011-2019 di Bandung). Sejak pertengahan April 2020, ia bergabung dengan Unpar Press.

Related Posts

[Profil] Longevitology : Menyalurkan Cinta Kasih dengan Energi Semesta

[Profil] Longevitology : Menyalurkan Cinta Kasih dengan Energi Semesta

[Profil] Savic Ali: Gus Dur, Dunia Digital, dan Toleransi

[Profil] Savic Ali: Gus Dur, Dunia Digital, dan Toleransi

[Profil] Membuka Telinga untuk Mencari Kebenaran : Perjalanan Amy Tan Mengenal Dirinya Sendiri

[Profil] Membuka Telinga untuk Mencari Kebenaran : Perjalanan Amy Tan Mengenal Dirinya Sendiri

[Profil] Ceu Nden, Pentingnya Mencintai Diri Bagi Aktivis

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 1713

Visitors are unique visitors