[Profil] Membuka Telinga untuk Mencari Kebenaran : Perjalanan Amy Tan Mengenal Dirinya Sendiri

[Profil] Membuka Telinga untuk Mencari Kebenaran : Perjalanan Amy Tan Mengenal Dirinya Sendiri

Sumber: https://www.amazon.com/Joy-Luck-Club-Novel/dp/0143038095

Amy Tan, seorang penulis yang terkenal karena menulis beberapa buku diantaranya “The Joy Luck Club” lahir pada tahun 1952 dari sebuah keluarga imigran. Kedua orang tuanya berasal dari Cina dan pada tahun 1940-an pindah ke Amerika Serikat untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Ketika masih muda, Amy tidak pernah benar-benar tahu kenapa orang tuanya pindah ke Amerika Serikat.

Amy tumbuh dengan beberapa kemarahan. Sejak masih usia sekolah dasar, Amy bertengkar dengan ibunya setiap hari. Di usia 6 tahun, Amy sudah berpikir untuk bunuh diri (meskipun gagal, karena menggunakan pisau roti yang tidak tajam). Ibunya, banyak melukai batinnya.

Ibunya punya ekspektasi yang sangat tinggi terhadap Amy. Nilai sekolah Amy harus selalu A. Kalau sampai memperoleh B, Amy akan memperoleh cercaan. Saat TK, ada pelajaran menggambar. Ketika tahu bahwa karya anak lain, bukan karya Amy, yang dipajang di jendela kelas, Ibunya tidak terima. 

Saat seorang teman sekelas Amy meninggal karena leukemia. Amy yang masih anak-anak merasa ketakutan. Wajah temannya saat meninggal dunia putih pucat, berbeda dengan wajah yang dikenalnya. Ibunya tidak menenangkannya, malah mengatakan, “Itulah yang akan terjadi kalau kamu tidak mendengarkan orang tuamu.”

Ibunya juga percaya pada hal-hal gaib, seperti hantu, roh leluhur, dan sebagainya. Ibunya juga percaya bahwa setiap hal terjadi karena suatu alasan. Masalahnya, alasan-alasan Ibunya tidak selalu masuk akal bagi Amy. 

Di usia 15 tahun, Amy kehilangan ayahnya. Setahun sebelumnya, kakak laki-laki Amy meninggal karena tumor otak. Kakak laki-laki Amy senantiasa berprestasi di sekolah.  Namun, suatu hari temannya menjiplak esai yang ditulis kakaknya. Esai tersebut merupakan tugas sekolah. Ketika guru tahu ada dua esai yang sama, baik kakak Amy dan temannya tidak diluluskan di pelajaran tersebut. 

Kata Ibu Amy, kematian kakak laki-laki Amy disebabkan oleh kegagalannya di kelas tersebut. Kegagalan di kelas, menyebabkan kakak Amy depresi. Depresi menyebabkan kepalanya menjadi pusing. Akhirnya, kakaknya menderita tumor otak dan meninggal. Begitu pikir Ibu Amy. Kematian sang kakak, akibat kesalahannya sendiri. 

Saat remaja, Amy belajar bahwa ibunya pernah punya suami lain, selain bapaknya. Anaknya dari suami pertama ada dua. Keduanya terpaksa ditinggal di Cina, saat Ibunya bermigrasi ke Amerika Serikat. 

Dalam suatu pertengkaran dengan Amy, Ibunya memukul Amy dan mengatakan, “Kenapa aku memiliki anak sepertimu? Saya punya dua anak perempuan yang lain. Keduanya sangat baik, dan bisa berbahasa Cina dengan lancar.” 

Pernyataan tersebut seakan-akan menyiratkan betapa tidak bangganya Ibunya pada Amy. Amy tumbuh dewasa dengan keyakinan bahwa dia tidak akan pernah bisa membuat hati ibunya puas. Luka-luka batinnya juga banyak, lebih dari yang digambarkan di atas. Pengalaman hidup Amy, pernah membuat Amy malu pada identitasnya sebagai keturunan Cina. Baginya, kepercayaan  pada takhayul, perilaku suka mencerca dan berdebat dengan orang lain, dan kebiasaan-kebiasan lainnya berasal dari Cina. 

Saat dewasa, dan mulai menempuh karir sebagai penulis, Amy pernah mencoba menulis tentang hal-hal yang ‘bukan dirinya’. “Saya menulis cerita tentang seseorang dari keluarga terdidik, seorang professor di MIT,” kata Amy dalam pidatonya di American Academy of Achievement (1996). 

Tulisannya di masa itu tidak sukses karena tidak originil dan seperti tidak ‘berbunyi’. Sampai suatu kejadian terjadi di tahun 1986. Ibu Amy mengalami serangan jantung. Ketika dirawat di rumah sakit, Ibu Amy berkata, “Tampaknya kamu hampir tidak mengenalku.”

Dalam hatinya Amy berjanji, “Kalau Ibu nanti tetap hidup, aku akan belajar mengenal Ibu.”

Ibunya ternyata kembali sehat. Tahun 1987, Amy pergi ke Cina bersama Ibunya. Selama bersama Ibunya, Amy mencoba lebih terbuka. Ini kesempatan baginya, untuk mengenal ibunya. Siapakah ibunya? Seperti apakah masa lalunya? Di manakah ibunya dulu tinggal? Keluarganya seperti apa? Seperti apakah anak-anaknya yang lain – yang tinggal di Cina? 

Dari perjalanannya ke Cina, Amy bukan hanya jadi kenal dengan keluarganya. Amy juga tersadar  bahwa Ibunya unik. Karakternya memang keras – bukan semata-mata karena Ibunya seorang Cina, tapi memang karena kepribadiannya seperti itu. Amy tertawa melihat ibunya berdebat dan mengkritisi orang-orang selama perjalanan. Sejarah keluarganya pun terasa lebih terang. Amy belajar bahwa neneknya pernah mengalami kekerasan seksual dan dipaksa menjadi perempuan simpanan. Ibunya pernah menikah secara paksa dan mengalami kekerasan dari suaminya yang pertama. Akhirnya, Ibunya memilih kabur dan kebetulan bertemu dengan bapak Amy, seorang yang luar biasa baiknya. 

Ketika muda, segala tentang ibunya terasa buruk. Amy belajar bahwa Ibunya juga dibentuk oleh sejarah hidupnya. Harapannya yang tinggi terhadap Amy, bukan untuk mengatakan ‘Amy tidak baik’ tetapi karena Ibunya berharap Amy akan bisa berdiri di atas kakinya sendiri dan tidak terintimidasi oleh orang lain. Ibunya ternyata juga orang yang kuat dan cerdas. Tanpa kecerdasan, ibunya tidak akan bisa menemukan jalan untuk mengakali berbagai kesulitan hidupnya. 

Apa yang Amy pelajari selama perjalanan ke Cina, menjadi modal besar ketika dia menulis fiksi berjudul “The Joy Luck Club” pada tahun 1989. Fiksi yang ditulisnya, didasarkan pada emosi-emosi yang pernah Amy rasakan selama muda namun dirangkai sedemikian rupa sehingga menjawab ‘mengapa emosi tersebut terjadi’. Orang yang membacanya, bisa ikut berempati pada apa yang dirasakan tokohnya. Bahkan, Ibu Amy sangat bangga pada buku tersebut sampai-sampai menghardik orang yang belum membacanya. Meskipun berupa fiksi, bagi Ibunya, buku tersebut merupakan cara untuk menyuarakan emosi-emosi yang pernah dirasakan Amy maupun Ibunya, bahkan merupakan bukti bahwa Amy mengenalnya – Ibunya. 

Bagi Amy, perjalanan berdamai dengan diri sendiri tampaknya dimulai dengan keterbukaan untuk mengeksplorasi ‘mengapa’. Juga keterbukaannya untuk mencari tahu kebenaran. Siapakah dirinya? Seperti apa sejarah hidupnya dan keluarganya? Apa benang merah dari segala kejadian dalam hidupnya. Proses mencari kebenaran dilakukan dengan mendengarkan orang lain, khususnya Ibunya, orang yang pernah begitu menyakitinya. Pilihan hidupnya sebagai penulis, tampaknya juga membuka jalan baginya untuk mengeksplorasi berbagai emosi yang pernah dimilikinya dan kemudian merefleksikannya ke dalam karya. Dalam sebuah wawancara (Gioa, 2007), Amy pernah berkata, alasannya menulis fiksi, “Saya menulis fiksi, salah satunya untuk mengenal diri saya, untuk mencari tahu siapa diri saya yang sebenarnya. Banyak penulis menulis untuk memaknai pengalaman personalnya. Mereka ingin merepresentasikan apa yang mereka rasakan tentang dunia.”

 

Sumber: 

Chung, Nicole (2017). Amy Tan on Writing and the Secrets of Her Past.https://www.shondaland.com/inspire/books/a12919749/amy-tan-interview/

Gioa, Dana. (2007). A Conversation With Amy Tan.  The American Interest Vol 02 No. 5 . https://www.the-american-interest.com/2007/05/01/a-conversation-with-amy-tan/

Tan, Amy. (2009). Amy Tan Reflects on 30 Years Since The Joy Luck Club: Writing Fiction That’s Truer Than Memoar. Penguin Books. https://lithub.com/amy-tan-reflects-on-30-years-since-the-joy-luck-club/ 

Tan, Amy. (1996). Amy Tan’s Speech on the Academy of Achievement Award. https://www.youtube.com/watch?v=Nac-bVsyg_g&t=1s

Dhitta Puti Sarasvati

Dhitta Puti Sarasvati

Dhitta Puti Sarasvati adalah associate KAIL. Kini, mengajar calon guru di Fakultas Pendidikan Universitas Sampoerna serta  menjadi fasilitator berbagai pelatihan guru.

Related Posts

[Profil] Longevitology : Menyalurkan Cinta Kasih dengan Energi Semesta

[Profil] Longevitology : Menyalurkan Cinta Kasih dengan Energi Semesta

[Profil] YPBB – Inspirator Gaya Hidup Organis

[Profil] YPBB – Inspirator Gaya Hidup Organis

[Profil] Savic Ali: Gus Dur, Dunia Digital, dan Toleransi

[Profil] Savic Ali: Gus Dur, Dunia Digital, dan Toleransi

[Profil] Ceu Nden, Pentingnya Mencintai Diri Bagi Aktivis

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 1713

Visitors are unique visitors