[Masalah Kita] Melawan Plant Awareness Disparity: Misi Orang Muda Gunung Sawal Menjaga Cagar Alam lewat Pangan Lokal
Bagi saya, 2025 bukan sekadar angka di kalender, melainkan sebuah “tahun pangan” yang dimulai dari aroma segar hutan Gunung Sawal sampai pada berbagai usaha untuk membangun kembali pasar pangan lokal pohpohan di Ciamis dan Tasikmalaya. Di tengah kepungan tren pangan instan, saya menyaksikan bagaimana seikat pohpohan dan rendeu bukan lagi sekadar pelengkap makan siang, melainkan jembatan ingatan yang menghubungkan masyarakat urban dengan masa kecil mereka. Namun, di balik bisnis memori ini, tersimpan sebuah misi mendesak: mampukah kita menjaga kejayaan pangan lokal sebelum seluruh hijau hutan kita berubah menjadi hamparan monokultur?

Proses packing salah satu orang muda yang menjadi mitra kami dalam mengelola usaha berbasis pangan lokal di Gunung Sawal.
Awal tahun ini menjadi masa yang sangat sibuk bagi jejaring kami. Selain terlibat dalam advokasi sistem pangan kota melalui Paguyuban Pangan (PUPA) bersama AKATIGA dan Seni Tani, saya juga harus memantau proses yang dijalani rekan-rekan di Ciamis-Tasikmalaya dalam membangun Pasar Lalapan untuk Pilea melastomoides atau pohpohan.
Terinspirasi dari pangsa pasar lalapan di Bogor Raya, kami melihat pohpohan dan “teman-temannya” seperti rendeu dan katuk sebagai sahabat ideal untuk memulai usaha tanpa modal finansial. Prinsipnya sederhana: berangkat pagi menuju hutan alami, merunduk dan memicingkan mata sambil mencari, lalu ambil secukupnya dan ikat kuat-kuat dengan jemari. Di jalan pulang, lantunkan doa yang panjang semoga pemilik restoran berbaik hati.
Bayangkan saja, data terbuka (open data) Jawa Barat tahun 2024 mencatat setidaknya ada 2.035 restoran di kawasan Ciamis dan Tasikmalaya. Jika 20% di antaranya adalah rumah makan Sunda, maka setidaknya ada 400 rumah makan yang membutuhkan pasokan lalapan setiap hari. Dari impian inilah kami membuktikan bahwa pasar tersebut memang ada dan terbentuk dengan baik di Jawa Barat.

Ujicoba teh ekstrak pohpohan di kawasan wisata dekat cagar alam Gunung Sawal Kabupaten Ciamis
Menjual Memori, Mengembalikan Kejayaan
Tidak berhenti di dapur restoran, kami juga berusaha mengembalikan kejayaan lalapan dengan strategi sederhana: berkeliling menjajakan aneka lalapan hutan ke perumahan elit di sekitar Tasikmalaya dan Ciamis. Besar harapan kami, sang pemilik rumah memiliki memori masa kecil yang berkaitan dengan tanaman pangan asli hutan Jawa Barat.
Benar saja, dari ratusan pintu yang kami ketuk, 80% pembeli bukan terpikat pada produknya semata, melainkan karena memori yang terantik. Oleh karena itu, harga jual dapat kami tingkatkan 2 hingga 3 kali lipat dari harga pasar. Perlu diingat, kami sedang menjual “ingatan indah” yang diharapkan memberikan dampak nyata bagi kelestarian alam.
Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi
Pengembangan pasar pohpohan sejatinya didukung penuh oleh agen konservasi di sekitar gunung sawal. Pohpohan bukan tanaman pangan yang bibitnya bisa dibeli dan ditanam di sembarang tempat. Habitat alami-nya perlu dijaga dari gangguan alih fungsi lahan dan diperlukan juga proses menjaga aliran air alami agar pohpohan dapat tumbuh subur dan membentuk semacam “bush” yang rindang. Mengapa kami yakin kegiatan ini berdampak bagi alam dan situasi sosial masyarakat di sekitarnya? Proses pembentukan rantai pasok pohpohan ini dimulai dengan kerja sama langsung dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) dan relawan masyarakat desa penyangga Cagar Alam Gunung sawal tepatnya desa sukamaju kecamatan cihaurbeuti. Mitra-mitra petani kami adalah garda terakhir yang membantu BKSDA Bidang 3 Jawa Barat dalam berpatroli melindungi kawasan cagar alam. Penghasilan dari mencari pohpohan membantu memutar roda ekonomi lokal, sekaligus menjadikan lalapan sebagai kuliner khas bagi wisatawan yang berkunjung ke spot-spot wisata yang dikelola oleh KTH Ciamis.
Meniadakan Plant Awareness Disparity (PAD)
Untuk memastikan keberlanjutan dari inisiatif rantai pasok lokal pohpohan, kami melatih 10 orang muda setempat dengan satu kerangka kerja sederhana: meniadakan Plant Awareness Disparity (PAD). PAD adalah “penyakit mental” bagi banyak manusia perkotaan, bahkan orang muda di pedesaan, yang membuat mereka gagal menyadari keberadaan dan manfaat berbagai tanaman di sekitar mereka. Proses pelatihan menggunakan metode ARKA yang merupakan pendekatan pembelajaran berbasis experiential learning yang dirancang untuk melibatkan peserta pelatihan secara aktif melalui pengalaman nyata, dengan empat tahapan utama: Aktivitas, Refleksi, Konseptualisasi, dan Aplikasi. Peserta diajak mengunjungi green house tanaman endemik di kaki gunung sawal yang dikelola oleh Yayasan Pojok Rakyat Nusantara, kemudian mereka diminta untuk mengidentifikasi berbagai jenis tanaman dan mencari tahu manfaat dari setiap tanaman. Proses sederhana ini mengaitkan pengalaman empiris orang muda desa penyangga cagar alam yang sering melihat berbagai tanaman endemik dengan kumpulan informasi yang dikelola yayasan pojok rakyat terkait kebermanfaatan dan potensi ekonomi tanaman endemik. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan aktivitas magang sebagai guide untuk kegiatan kunjungan ke kawasan cagar alam sehingga apa yang mereka pahami bisa mereka sampaikan ulang selama proses ekspedisi ke cagar alam gunung sawal.

Framework kami tentang PAD sebagai salah satu penyebab utama biodiversity loss dan sulitnya regenerasi petani.
PAD sendiri sekarang jadi hambatan besar yang menghalangi orang muda berkenalan dan memahami lingkungan sekitar mereka, jika kita mengenal tanaman di sekitar kita, menguasai pangsa pasar pangan bukanlah mimpi di siang bolong. Penelitian terbaru tahun 2025 oleh Rinaldi dkk. di Universitas Siliwangi Tasikmalaya menyimpulkan bahwa PAD berpengaruh signifikan terhadap kemampuan identifikasi tumbuhan. Semakin tinggi kesadaran terhadap keberagaman tumbuhan, semakin baik kemampuan seseorang dalam melestarikan alam.
Jadi, mau sampai kapan kita acuh pada pangan lokal dan spesies endemik sendiri? Apakah kita harus menunggu sampai semua tumbuhan berubah menjadi sawit dan tanaman monokotil lainnya?

No Comment