[Opini] Kedaulatan Pangan: Kita Sedang Berjuang atau Hanya Sedang Mengigau?

Pernahkah Anda terbangun di tengah malam dengan perasaan ganjil—sadar bahwa Anda baru saja bermimpi, tetapi tak mampu mengingat mimpi itu…
1 Min Read 0 1

Pernahkah Anda terbangun di tengah malam dengan perasaan ganjil—sadar bahwa Anda baru saja bermimpi, tetapi tak mampu mengingat mimpi itu tentang apa? Atau di pagi hari, seseorang memberi tahu bahwa semalam Anda mengigau, berbicara panjang lebar tentang sesuatu yang terasa penting, namun sama sekali tidak Anda sadari?

Di berbagai kolom komentar, utas media sosial, hingga spanduk aksi, kata “Kedaulatan Pangan” kini meluncur begitu lancar dari jemari dan mulut kita. Ia terdengar gagah, bersih, dan penuh perlawanan. Sebuah kata yang seolah langsung menempatkan kita di sisi yang benar dari sejarah. Namun, jangan-jangan semua itu hanyalah igauan kolektif di tengah tidur yang terlalu nyenyak?

Barangkali kita mengucapkannya bukan karena benar-benar memahami akarnya, melainkan karena takut tertinggal. Takut dianggap tidak peduli, tidak progresif, tidak relevan. Seperti tren membawa botol minum mahal—yang awalnya berbicara tentang pengurangan plastik sekali pakai, namun pelan-pelan bergeser menjadi adu gengsi merek, sementara filosofi dasarnya terkubur rapi di rak dapur yang penuh koleksi.

Menyuarakan isu pangan pun kerap terasa seperti mengikuti pembaruan filter media sosial: cepat, refleksif, tanpa jeda. Kita lebih sibuk memastikan posisi moral kita terbaca jelas, daripada berhenti sejenak untuk benar-benar terjaga. Namun sebelum igauan ini membawa kita semakin jauh dari maksud awalnya, mungkin ada baiknya kita menarik napas—dan menjemput kembali ingatan ke tempat di mana kata-kata ini pertama kali memiliki nyawa.

 

Nyéléni: Sebuah Bangun yang Menyakitkan

Ingatan itu membawa kita ke Sélingué, sebuah desa kecil di Mali. Pada tahun 2007, di sebuah pusat komunitas bernama Nyéléni—diambil dari nama perempuan petani legendaris yang dipercaya mampu memberi makan seluruh negerinya—lebih dari 500 orang dari 80 negara berkumpul. Mereka bukan diplomat, bukan pejabat berdasi. Mereka adalah petani kecil, nelayan tradisional, masyarakat adat, dan aktivis akar rumput yang datang dengan satu pengalaman bersama: luka.

Di bawah tenda-tenda sederhana, kedaulatan pangan bukan jargon akademik atau bahan diskusi santai. Ia lahir dari tubuh-tubuh yang dipukul sejarah. Ada petani Amerika Latin yang kehilangan kawan karena mempertahankan tanah dari ekspansi monokultur kedelai untuk pakan ternak negara maju. Ada nelayan yang tak lagi mengenali lautnya sendiri karena pesisir dipagari atas nama pariwisata eksklusif. Di Nyéléni, kedaulatan pangan adalah penolakan terhadap upaya menyeragamkan isi piring dunia dari meja rapat korporasi.

Bagi mereka, ketahanan pangan tanpa kedaulatan bukanlah kemajuan. Ia hanyalah bentuk lain dari perbudakan—dengan perut kenyang, tetapi tanpa kuasa.

 

Ketika Istilah Bepergian ke Indonesia

Di Indonesia, istilah ini mulai berakar kuat pada akhir 1990-an, melalui perjuangan gerakan petani yang berhadapan langsung dengan warisan Revolusi Hijau. Saat itu, kedaulatan pangan hadir sebagai antitesis yang tegas terhadap sistem yang membuat petani tergantung pada benih hibrida, pupuk kimia, dan pasar yang tak mereka kendalikan. Aspirasi awalnya relatif jernih: pembaruan agraria, pelestarian benih lokal, dan pemutusan rantai ketergantungan pada korporasi global. Kedaulatan dimulai dari tanah—bukan dari meja birokrasi.

Namun seiring waktu, ketika istilah ini masuk ke dalam undang-undang, pidato resmi, dan dokumen kebijakan, pertanyaan mulai muncul: apakah intensinya masih sama? Ataukah ia perlahan mengalami domestikasi?

Di tingkat aktivisme sekalipun, pergeseran itu terasa. Kedaulatan pangan sering kali dicuplik secara parsial—dipakai untuk menolak impor saat harga jatuh, tetapi melupakan pembebasan petani dari jerat input kimia. Sesuatu yang dulu bersifat transformatif, perlahan berubah menjadi administratif. Bahkan, tak jarang, menjadi komoditas isu: cukup lantang untuk menarik perhatian, cukup aman untuk tidak benar-benar mengganggu struktur yang ada.

 

Hidup di Mode Pilot Otomatis

Di sinilah kita mulai bergerak dalam mode pilot otomatis. Kita bereaksi, bukan lagi ber-aksi. Kita merasa sedang berjuang, padahal sering kali hanya sedang menegaskan identitas diri sebagai “orang yang peduli”. Kita mengutuk krisis iklim ketika udara kota terasa menyengat, tetapi kesulitan melepaskan kenyamanan-kenyamanan kecil yang menjadi bahan bakarnya.

Sebelum berbicara tentang sistem besar, mari menengok aktivitas paling dasar dalam hidup kita: makan.

Bayangkan satu adegan sederhana. Siang hari. Anda duduk di depan sepiring nasi. Tangan kanan memegang sendok, tangan kiri menggenggam ponsel. Notifikasi berdenting. Suapan pertama masuk tanpa rasa. Bukan karena makanannya hambar, melainkan karena pikiran Anda sedang berada di tempat lain—di linimasa, di kolom komentar, mungkin sedang mengetik pandangan kritis tentang sistem pangan global.

Apakah kita benar-benar hadir saat makan? Ataukah tubuh kita hanya sedang menjalankan jadwal yang telah diprogram sejak lama?

Jika untuk menyadari rasa nasi di lidah sendiri kita gagal karena kendali otomatis pikiran, bagaimana mungkin kita membayangkan pembebasan sistem pangan yang jauh lebih kompleks?

 

Titik Buta, Imajinasi, dan Perasaan Moral yang Menenangkan

Barangkali titik buta terbesar kita adalah ketidaksediaan menerima kondisi kita apa adanya. Kita berbicara tentang sistem pangan seolah-olah ia sepenuhnya berada “di luar sana”, padahal ia hidup dalam kebiasaan belanja kita, dalam selera yang dibentuk sejak kecil, dalam keinginan diam-diam untuk tetap menjadi “modern”.

Kita merasa bebas memilih menu, padahal preferensi kita mungkin telah dijajah jauh sebelum kita mampu memilih. Kita merasa mendukung petani lokal, namun lidah kita tetap merindukan gandum yang tak tumbuh di tanah kita. Kita memeluk konsep kemandirian pangan bukan semata karena kita mandiri, tetapi karena konsep itu memberi rasa nyaman secara moral—sebuah balsem untuk rasa bersalah kita.

Peta perjuangan sering kali tampak rapi: ada kita yang berjuang, ada sistem yang harus diubah. Namun realitas jauh lebih berantakan. Jangan-jangan, “perjuangan” yang kita anggap nyata ini sebagian hanyalah imajinasi yang kita susun agar kita tak perlu berhadapan dengan kenyataan bahwa kita pun terikat, rapuh, dan belum tahu harus mulai dari mana.

 

Belajar Duduk Bersama Kegelisahan

Ada kegelisahan yang terus menemani tulisan ini—dan mungkin juga hadir di sepanjang hidup kita. Karena tidak terbiasa berkawan dengannya, kita tergagap saat mengalaminya. Dan, saat dia hadir, kita lebih memilih beroperasi dengan mode otomatis: berisik, reaktif, merasa sibuk bergerak.

Tulisan ini tidak menawarkan peta jalan. Tidak ada daftar langkah praktis atau resep instan. Ia hanya mengajak berhenti sejenak. Karena mungkin, kedaulatan pangan menuntut sesuatu yang lebih berat daripada sekadar partisipasi dalam gerakan sosial: ia menuntut kedewasaan. Kedewasaan untuk melihat hubungan kita dengan tanah, benih, dan sesama tanpa ilusi kepahlawanan. 

Mungkin, kedaulatan hari ini tidak dimulai dari aksi besar. Mungkin ia dimulai dari satu piring. Satu kali makan yang benar-benar kita hadiri—tanpa ponsel, tanpa jargon, tanpa kebutuhan untuk terlihat benar. Sebuah latihan kecil untuk keluar dari autopilot.

Di ujung refleksi ini, saya hanya ingin bertanya pelan: apakah kita benar-benar sedang melangkah menuju kedaulatan itu? Ataukah kita masih mengigau dalam mimpi panjang tentang kedaulatan pangan?

Bahkan mungkin tulisan ini pun adalah bagian dari igauan itu.

Saya menuliskannya sambil menyadari bahwa beberapa menit lalu saya panik mencari kacamata ke seluruh ruangan—sampai akhirnya menyentuh dahi dan mendapati kacamata itu tersampir tenang di atas kepala saya sendiri. Atau ironi lain: tepat setelah mengunggah konten edukasi tentang bahaya sampah plastik, saya mendapati diri saya memesan es kopi susu dalam gelas plastik lewat aplikasi. Dengan bangga, saya menulis catatan, “Tolong tanpa sedotan plastik,” seolah itu cukup untuk menebus ketergantungan saya pada kenyamanan sistem yang saya kritik.

Jadi, di antara jargon yang mentereng dan ingatan tentang Nyéléni yang mulai memudar, apakah masih ada yang merasakan kegundahan yang sama?

Jika iya, mungkin itu bukan tanda kita gagal.
Mungkin itu tanda bahwa kita—akhirnya—sedang mulai terjaga.

Zoldyck

Leave a Reply

Your email address will not be published.