[Opini] Pola Pendekatan Penyembuhan Komunitas

[Opini] Pola Pendekatan Penyembuhan Komunitas

Secara umum, untuk memudahkan pemahaman tentang suatu konsep atau teori, pola pendekatan deduktif (umum ke khusus) merupakan metode yang paling sering digunakan. Dengan demikian, gambaran umum yang utuh dapat diurutkan sampai detail hingga pada sebuah kesimpulan konsep atau teori. Namun karena saking seringnya menggunakan pola pendekatan deduktif, ketika pada ranah aplikasi untuk menyelesaikan masalah, kita sering kebingungan harus memulai dari mana dulu untuk penyelesaian masalah tersebut.

 

pola-pendekatan-1

Belajar dari pola alam mengenai pembentukan ekosistem hingga biosfer, awalnya sudah tentu adalah individual, kemudian kumpulan individual sejenis yang saling berhubungan dalam suatu wilayah menjadi populasi. Selanjutnya kumpulan beberapa jenis populasi yang saling berhubungan dalam suatu wilayah menjadi komunitas, kemudian kumpulan beberapa komunitas biotik dan abiotik yang saling berhubungan dalam suatu wilayah menjadi ekosistem, begitu seterusnya hingga pada tingkatan biosfer. Maka pola pendekatan induktif (khusus ke umum-dari mulai diri hingga lingkungan terbesar) merupakan metode yang lebih pas untuk melakukan penyelesaian masalah berupa penyembuhan komunitas.

pola-pendekatan-2-3

 

Seperti pernah diuraikan pada tulisan [Opini] Mari Bercocok Tanam Ramah Lingkungan – Pro:aktif (kail.or.id), sebuah proses penyembuhan lahir dan batin suatu komunitas sudah tentu selalu dimulai dari diri, keluarga terdekat (inti), lingkungan terdekat hingga komunitas. Asupan lahir yang berkaitan dengan kebutuhan pokok manusia mulai diperbaiki bertahap, meninggalkan bahan-bahan sintetik yang lama/sukar terurai dan digantikan bertahap oleh bahan-bahan ramah lingkungan yang mudah terurai. Sedangkan untuk asupan kebutuhan batin yang primer hingga tersier diperbaiki oleh masing-masing individu secara bertahap sesuai jalan hidup dan kesanggupannya.

pola-pendekatan-3

Jika dilihat dari piramida kebutuhan Maslow, maka kebutuhan lahir yang primer (Physiological needs) meliputi minum, makan dan naungan (lokasi istirahat dan perlindungan cuaca), sedangkan untuk kebutuhan batin yang primer hingga tersier, mulai dari Safety needs (keamanan dan keselamatan) sampai puncak piramida berupa Self-actualization (capaian penuh potensi, aktivitas kreatif dan sebagainya). Dengan demikian, menyelesaikan persoalan hidup satu per satu selagi di awal, lalu melanjutkan lagi jalan hidup menuju TUHAN hingga akhir bertemu denganNya, merupakan sebuah proses panjang menuju kesembuhan sejati.

Agar lebih jelas lagi proses serta tahapannya, dapat menonton video dari Jon Jandai yang berjudul Making money from small garden to buy land di Youtube (klik tautan ini) yang berisi kisah perjalanan hidup Jon Jandai mengaplikasikan pola pendekatan induktif dari mulai diri sendiri hingga penyembuhan komunitas, membangun Pun Pun Sustainable Living and Learning Center).

Dimulai dengan penjelasan adanya krisis (sesuai dengan situasi dan kondisi kita sekarang ini), Jon Jandai mengajak orang-orang untuk kembali mengolah lahan (dalam rangka pemenuhan kebutuhan pokok) secara ramah lingkungan. Bahkan lebih lanjut, dirinya menceritakan bagaimana strategi untuk membeli lahan dari tidak punya sama sekali.

Berdasarkan pengalamannya pulang kampung, setelah merasa tidak cocok hidup di Kota Bangkok-Thailand, dirinya meminjam lahan seluas 200 m2 dari Ibunya (berdasarkan John Jeavons luas lahan ideal adalah 400 m², referensi : growveg.com dan www.growbiointensive.org), kemudian setelah 3 tahun dirinya dapat membeli sebidang lahan sendiri.

Menurutnya, strategi bercocok tanamnya sudah tentu harus berbeda dari petani pada umumnya karena itu awal sekali dirinya mencari tahu informasi bahan makanan apa saja yang biasa diolah (dari masa lalu hingga sekarang) oleh warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Setelah memiliki daftar berbagai jenis bahan makanan (referensi  pada link berikut ini dan ini), dibuatlah desain kebun yang mendukung pola penanaman berbagai jenis bahan makanan dalam daftar (tumpang sari-komunitas tanaman hingga gilda, lebih lanjut silahkan berkunjung ke tautan ini).

Selain strategi tersebut di atas, usahakan memilih jenis yang sekali tanam tetapi dapat dipanen beberapa kali (contohnya pepaya, berbagai jenis terong-ungu, bulat dan telunjuk, ranti/lenca, berbagai jenis cabe, dan sebagainya). Penanamannya juga dibagi dalam blok bedeng (per 1 m2) sebanyak mungkin, dengan demikian kita dapat panen setiap hari berdasarkan urutan blok bedeng hingga kembali ke blok awal lagi.

Bedeng berikutnya bunga-bungaan tahan lama (tahunan) yang daun serta bunganya dapat diolah menjadi pangan-acar (contohnya; morning glory, kenikir, nasturtium, mawar, jengger ayam, dan sebagainya). Penanamannya tetap dibagi dalam blok bedeng seperti di atas. Bedeng selanjutnya bawang daun yang dibagi beberapa blok agar dapat panen setiap hari. Sedangkan bedeng-bedeng sisanya ditanami rempah-rempah, rimpang-rimpangan dan sayur-sayuran tumpangsarinya. Dengan masing-masing bedeng dibagi dua blok, setiap blok ditanami lima jenis tanaman, maka kita akan memiliki banyak macam bumbu dan sayur mayur.

Sepanjang batas pinggiran dapat kita tanami serai, kacang panjang, timun, dan tanaman pagar serta merambat lainnya, hingga setiap jengkal tanah termanfaatkan. Walaupun waktu menyiram kebunnya hanya sekitar lima belas menit setiap harinya (menggunakan embrat), namun hasilnya dapat berlipat ganda secara maksimal. Sedangkan untuk membuat kompos (eceng gondok, batang-batang tanaman kering dan kotoran hewan) hanya mengambil waktu satu jam setiap pekannya, betapa banyaknya waktu luang kita untuk melakukan hal lainnya yang disukai.

Setelah tiga bulan mulai bercocok tanam ramah lingkungan, seharusnya kita sudah dapat menabung dari berkurangnya membeli kebutuhan pangan, hingga dapat membuat kolam ikan yang makan daun-daunan sebagai upaya melengkapi ekosistem (luas lahan menjadi 400 m2 sama dengan perhitungan John Jeavons). Hal ini dikarenakan rasa dan keberagaman hasil kebun lebih baik jika dibandingkan dengan membeli bahan-bahan untuk olahan pangan dari pasar. Pelajaran berikutnya, hasil kebun yang berlimpah ternyata tidak habis dimakan oleh enam orang anggota keluarga. Dengan demikian kita dapat membagi atau menjual kelebihan panen yang tidak diolah menjadi makanan sehari-hari.

Hikmah lainnya dari mengolah kebun berukuran kecil adalah waktu pengelolaan yang sebentar, namun maksimal pemeliharaannya (terutama dalam hal pemberian kompos). Walaupun hasilnya tidak terlalu banyak, namun berkesinambungan setiap hari. Kenyataan ini bertentangan dengan kepercayaan umum bahwa semakin luas kebun yang dikelola akan menghasilkan lebih banyak keuntungan, justru karena semakin luas lahan, akan semakin besar waktu, tenaga serta anggaran pembiayaan yang diperlukan untuk mengolahnya. Pada akhirnya ketika waktu panen bersamaan secara serempak, hasil penjualan yang didapatkan tidak sebanding dengan modal awal untuk mengolahnya, karena di pasar terlalu banyak suplai daripada permintaan.

Kesimpulannya, berpikirlah sederhana dan bertahap, jika kita konsisten, In Syaa Alloh Kemerdekaan dan Kedaulatan Pangan Ramah Lingkungan Menuju Penyembuhan Komunitas akan terwujud. Sebagai penutup, saya mengajak Anda berkunjung ke tautan ini sebagai bahan pembanding lainnya.

Selamat Beraktivitas Ramah Lingkungan.

Referensi :

https://proaktif.kail.or.id/2020/12/opini-mari-bercocok-tanam-ramah-lingkungan/

https://www.youtube.com/watch?app=desktop&v=quuu8I1w5Cs

www.punpunthailand.org

https://www.growveg.com/guides/growing-enough-food-to-feed-a-family/

www.growbiointensive.org

https://rikornel.wordpress.com/2020/12/23/bercocok-tanam-sesuai-kebutuhan-bagian-pertama/

https://rikornel.wordpress.com/2020/12/23/bercocok-tanam-sesuai-kebutuhan-bagian-kedua/

https://kampongfarm.wordpress.com/2018/12/15/kebun-rumah-3-5-ton-lebih-per-tahun/

Rio Kornel

Rio Kornel

Rio Kornel Lahir di bandung 25 april 1976, rio kornel lebih banyak tumbuh dan besar di alam terbuka. Berkebun, memancing dan berburu bersama almarhum kakek tercinta menjadi rutinitas masa kecilnya. Kegiatan alam terbukanya berlanjut di WAPATALA SMP N 28 Bandung, Apis Indica SMA N 6 Bandung hingga Sekolah Panjat Tebing SKYGERS dan kursus menyelam PADI. Selain itu juga, Rio merupakan salah satu Pendiri aktivitas penyelamatan satwa JAAN. Setelah belajar ekologi di jurusan Antropologi UNPAD, serta menjadi manajer jungle training OPWALL selama 5 tahun, kemudian belajar Permakultur dan tinggal di Bumi Langit selama setahun, lengkaplah konsep bercocok tanam ramah lingkungan yang mengantarkannya menuju Ekoteologi.

Related Posts

[Opini] Self-Healing: Behind the Scenes

[Opini] Self-Healing: Behind the Scenes

[Opini] Mau Miskin

[Opini] Mau Miskin

[Opini] Mari Bercocok Tanam Ramah Lingkungan

[Opini] Mari Bercocok Tanam Ramah Lingkungan

[Opini] Bisakah Kita Bebas dari Perilaku Diskriminatif?

[Opini] Bisakah Kita Bebas dari Perilaku Diskriminatif?

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 5
Total Visitors: 3279

Visitors are unique visitors