[Masalah Kita] Gerakan Pangan di Tengah Kapitalisme

Di Kota Bandung, berbagai inisiatif pangan tumbuh dari keresahan yang sama: sistem pangan yang rapuh, tidak adil, dan makin tunduk…
1 Min Read 0 1

Di Kota Bandung, berbagai inisiatif pangan tumbuh dari keresahan yang sama: sistem pangan yang rapuh, tidak adil, dan makin tunduk pada logika pasar. Dari kegelisahan itulah berbagai inisiatif pangan bermunculan sebagai upaya konkret menjawab krisis—sekaligus menghadapi batas-batas struktural yang tidak ringan. Namun, di balik semangat dan kreativitas para aktivis ada tembok sistemik yang berulang kali menghadang upaya mereka untuk benar-benar mengubah sistem yang tidak adil tersebut.

Food Bank Bandung dan Millennials Farmer adalah dua contoh gerakan yang menjadi wajah “alternatif” sistem pangan kota di Kota Bandung. Keduanya berangkat dari kritik terhadap kapitalisme pangan: Food Bank Bandung melawan logika pemborosan dan distribusi yang timpang, sementara Millennials Farmer mencoba keluar dari sistem pertanian industrial dengan menghidupkan kembali praktik bertani skala kecil dan komunitas. Namun, justru di titik ini masalah mereka bermula. 

Artikel ini bertujuan untuk melihat tantangan apa yang dihadapi para aktivis pangan sehingga gerakan yang mereka bangun belum mampu mengubah sistem yang menimbulkan masalah pangan selama ini. Mengambil studi kasus dari dua gerakan pangan di Kota Bandung, artikel ini membandingkan jenis tantangan yang kedua gerakan itu hadapi, lalu apa yang bisa dipelajari dari keduanya. Seluruh informasi yang digunakan pada tulisan ini didapatkan dari proses wawancara dengan kedua organisasi yang dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2024.

 

Food Bank Bandung merupakan organisasi yang didirikan untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat dan mengurangi food waste (limbah pangan) dari makanan berlebih. Aktivitas utama mereka adalah mengambil makanan berlebih dari tempat-tempat seperti hotel, restoran, serta bisnis ritel untuk selanjutnya didistribusikan ke masyarakat prasejahtera. Makanan yang akan dibagikan tersebut dipastikan masih memiliki kualitas yang baik, dengan cara mencoba beberapa sampel makanan di gudang yang mereka miliki. Setelah dipastikan baik, makanan tersebut didistribusikan ke penerima manfaat yang telah diseleksi menggunakan beberapa kriteria seperti assessment livelihood yang digunakan FAO. Beberapa kelompok penerima manfaat dari Food Bank Bandung adalah masyarakat kampung kota, murid sekolah nonformal, serta panti asuhan dan panti werdha.

Food Bank Bandung bekerja dengan prinsip solidaritas: menyelamatkan pangan berlebih lalu mendistribusikannya kepada kelompok rentan. Di atas kertas, model ini tampak radikal—ia menolak logika pasar yang menganggap makanan hanya bernilai jika bisa dijual. Akan tetapi, dalam praktik sehari-hari, Food Bank Bandung bergantung pada surplus dari sistem yang sama-sama mereka kritik. Ketika industri perhotelan lesu atau acara besar berkurang, pasokan pangan ikut tersendat. Gerakan ini hidup di celah-celah kapitalisme, tetapi belum sepenuhnya mampu keluar darinya. Food Bank Bandung menyadari posisi mereka hanya membangun jaring pengaman bagi orang-orang yang paling terdampak dari sistem pangan saat ini. Aktivitas food rescue dan distribusi pangan berlebih yang mereka lakukan pada akhirnya tidak mengubah sistem yang menghasilkan kelompok-kelompok marjinal tersebut. 

 

Berbeda dengan Food Bank Bandung, Millennials Farmer (MILFA) berhadapan langsung dengan soal produksi. Gerakan ini berupaya menjawab krisis regenerasi petani dengan mengajak orang muda kembali ke lahan. Mereka membentuk koperasi pertanian sebagai wadah pemberdayaan petani yang bertindak bukan hanya sebagai produsen tetapi juga konsumen. Konsumen yang dimaksud adalah konsumen dari input-input pertanian. MILFA mendorong agar petani-petani yang tergabung ke dalam koperasi menggunakan input pertanian yang memanfaatkan unsur-unsur organik. 

Narasi yang dibangun optimistis: bertani bisa keren, inovatif, dan relevan dengan masa depan. Namun, di balik narasi itu, realitas yang dihadapi para aktivis jauh dari romantis. Akses terhadap tanah menjadi masalah paling mendasar. Petani yang tergabung ke koperasi pertanian MILFA harus menyewa lahan dengan biaya tinggi atau bergantung pada izin sementara. Dalam sistem kapitalisme agraria, tanah adalah komoditas, bukan ruang hidup. Tanpa kepastian akses, bertani menjadi aktivitas yang selalu berada di ujung risiko. Belum lagi tekanan pasar: harga hasil panen sering kali tidak sebanding dengan biaya produksi, sementara pasar menuntut standar kualitas yang seragam. Di sinilah kontradiksi terasa. Di satu sisi, Millennials Farmer ingin membangun sistem pangan yang adil dan berkelanjutan. Di sisi lain, mereka tetap harus bernegosiasi dengan pasar yang menuntut efisiensi produksi. Banyak inisiatif akhirnya bergeser menjadi niche market: pangan organik untuk segmen tertentu, bukan alat transformasi sistemik.

 

Jika dilihat lebih jauh, baik Food Bank Bandung maupun Millennials Farmer menghadapi masalah yang sama: fragmentasi gerakan. Mereka bekerja keras di wilayah masing-masing, tetapi jarang terhubung dalam strategi politik yang lebih luas. Energi habis untuk bertahan hidup sebagai gerakan, bukan untuk menekan perubahan kebijakan. Hal ini menunjukkan bahwa perlawanan masih bersifat mikro, belum diartikulasikan sebagai kekuatan kolektif. Ada pula persoalan bahasa dan imajinasi. Banyak gerakan pangan masih terjebak pada narasi individual: relawan baik hati, petani muda inspiratif, konsumen sadar. Narasi ini penting, tetapi sering kali menutupi fakta bahwa sistem pangan dibentuk oleh struktur ekonomi-politik yang timpang. Tanpa analisis kelas, gerakan pangan mudah dikooptasi menjadi bagian dari kapitalisme hijau—tampak progresif, tetapi tidak mengganggu status quo.

Namun, bukan berarti tidak ada pelajaran yang bisa diambil. Food Bank Bandung menunjukkan bahwa solidaritas lintas kelas dan sektor mungkin dibangun, meski rapuh. Millennials Farmer memperlihatkan bahwa orang muda masih mau bertani jika ruang dan dukungan tersedia. Masalah utama aktivis pangan di Bandung bukan kurangnya ide atau semangat, melainkan keterbatasan daya tawar terhadap sistem yang lebih besar. Selama gerakan pangan berjalan sendiri-sendiri dan bergantung pada celah kapitalisme, perubahan yang dihasilkan akan selalu parsial. Tantangannya ke depan adalah berani melampaui proyek, menuju gerakan politik pangan yang menghubungkan produksi, distribusi, dan konsumsi dalam satu perjuangan bersama. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya bagaimana menyelamatkan makanan atau menanam sayur di kota, tetapi bagaimana merebut kembali sistem pangan dari logika akumulasi modal. Di situlah perjuangan para aktivis pangan diuji: antara bertahan dalam sistem, atau bersama-sama mengubahnya.

Miqdad Fadhil Muhammad

Miqdad Fadhil Muhammad, akrab dipanggil Miqdad, peneliti sosial agraria yang juga mendalami metode pemetaan partisipatif. Memiliki beberapa pengalaman mengorganisir masyarakat untuk melakukan pemetaan wilayah dan sumber daya alam untuk digunakan dalam perencanaan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.