[Masalah Kita] Merajut Damai

[Masalah Kita] Merajut Damai

~ Karena perdamaian adalah proses dan bukan tujuan akhir ~

 

Alkisah di suatu komunitas alumni sebuah perguruan tinggi, terjadi pertengkaran hebat tentang siapa calon presiden yang paling mumpuni. Fenomena  yang juga terjadi di banyak komunitas saat pemilihan presiden lalu. Masing-masing mengunggulkan jagoannya seindah surga dan merendahkan lawannya sekelam neraka. Perdebatan yang mengarah ke kebencian terus berlanjut, meski pemenang sah telah ditetapkan.

Beberapa orang yang jengah dengan situasi ini menggagas ide brilian. Mereka membentuk komunitas baru. Sebut saja namanya Grup Alumni Ria Jenaka (ARJ). Di ARJ alumni bebas bercerita apa saja, kecuali politik. Anggota diberi ruang untuk bercerita tanpa batas, bahkan curhat rahasia terdalam dan terkelamnya sekalipun.

Mencurahkan hati  melalui cerita adalah salah satu cara untuk mengurai stres. Curhat itu bagaikan meluapkan energi besar yang selama ini menghimpit. Hati dan pikiran akan terasa ringan setelahnya. Mood atau suasana hati seketika bangkit.

masalah-kita-merajut4
https://images.pexels.com/photos/2954199/pexels-photo-2954199.jpeg?cs=srgb&dl=photo-of-person-holding-book-2954199.jpg&fm=jpg

Orang  yang mendengarkan curhat, membalas dengan memberi solusi atau sekedar memberi semangat. Kata-kata dan emoticon sudah lebih dari cukup untuk menjadi sumber kekuatan baru bagi pencurhat, sehingga ia termotivasi untuk mampu mengatasi masalahnya.

Sebegitu banyaknya yang merasakan manfaat curhat di ARJ, sehingga semakin banyak anggota yang mau bercerita tentang kisah-kisah yang sebelumnya dianggap tabu. Tanpa tedeng aling-aling. Pembaca pun bahagia ketika dukungannya bisa membantu pencurhat mendapat pencerahan. Maka semakin banyak pula pemberi dukungan pada pencurhat, meski mereka tak saling mengenal.

Admin pun sigap memberi jaminan kerahasiaan. Aturan emas dibuat: Dilarang meneruskan cerita apapun di ARJ ke luar grup! Admin menjaga ketat segala kemungkinan  teknis bocornya cerita. Lolos dari pengawasan ketat ini, hukuman berat menanti: dikeluarkan dari grup!

Sejenak ARJ serasa surga di dunia. Aman. Guyub. Bahagia. Penuh Tawa. Damai di hati, damai di ARJ.

Tetapi begitulah… saat kita menanam padi, rumput pun ikut tumbuh, tapi saat kita menanam rumput, tidak pernah tumbuh padi.

Curhat lama-lama jadi bergosip. Yang tadinya bercerita untuk mendapat solusi, lama-lama membicarakan orang lain. Yang tadinya curhat tentang aib sendiri, lama-lama aib orang lain. Sorak-sorai pembaca bak menyiram bensin pada bara api. Pembaca tidak terlalu peduli apakah pencurhat cover both stories. Sekelompok pembaca punya kegemaran membuat komentar sebanyak-banyaknya agar curhatan mendapat ribuan komentar dan menjadi trending topic. Mereka bahagia meski komentar tidak ada hubungan dengan isi cerita. Meski mendapat dukungan ‘kosong’ seperti ini, tak ayal euphoria trending topic menelusup masuk ke relung kesombongan pencurhat. Bagaikan candu yang tak dapat dilukiskan nikmatnya, membuatnya menulis lagi dan lagi. Yang tadinya bercerita untuk melegakan hati, lama-lama bercerita demi menjadi trending topic. Demi dielu-elukan seantero negeri ARJ.

masalah-kita-merajut5
https://www.dallasnews.com/opinion/commentary/2019/12/02/as-americans-fight-each-other-lets-make-dallas-a-peaceful-community-of-conscien

Maka curhat yang tadinya menimbulkan kedamaian, lama-lama justru memperbesar kebencian dan rasa malu untuk beberapa orang di dalamnya.

Proses ini berjalan tanpa disadari. Persis seperti fenomena boiling frog. Katak yang dimasukkan ke dalam air panas, pasti langsung meloncat menjauh. Sementara katak yang direndam dalam panci berisi air dingin lalu dipanaskan di atas api, tidak akan menyadari perubahan suhu secara gradual dari dingin ke mendidih. Katak tetap diam lalu mati tanpa pernah menyadari bahaya.

Rasa senang, lega, bahagia, bangga adalah energi; sebagaimana rasa marah, sedih, kecewa, dan malu.  Energi positif dan negatif yang disebarkan melalui cerita pencurhat tidaklah hilang. Dia hanya berpindah tempat ke pembaca. Maka sangatlah wajar bila pembaca juga ingin membaginya kepada orang lain. Di sinilah masalah muncul.

Tidak semua orang mampu menyadari dan mengelola energi positif dan negatif yang memaparnya. Secara sadar atau tidak, sengaja atau tidak, dengan beragam motivasi, pembaca mulai membagikan cerita curhat ke luar. Entah apatah ada yang bermaksud buruk – semisal ingin merusak nama baik pencurhat – namun sebagian melakukannya hanya demi melepaskan beban yang kini melekat padanya. Sayangnya semua tindakan berbagi terlanjur didefinisikan sebagai kriminal, menurut aturan emas ARJ. Pelaku langsung dieksekusi. Dikeluarkan dari grup.

Admin menggunakan indikator unik untuk menjatuhkan ‘hukuman mati’. Ucapan korban (yaitu pencurhat yang ceritanya diteruskan ke luar ARJ) adalah kata-kata sakti. Ketika mereka merelakan ceritanya diteruskan, maka pelaku aman. Ketika mereka tidak rela – walaupun ceritanya biasa saja – pelaku segera dieksekusi. Beberapa kali terjadi salah eksekusi.

Pada suatu kasus, seorang pencurhat melaporkan si Lebah (bukan nama sebenarnya). Tanpa cek dan ricek, admin langsung mengeksekusinya. Belakangan muncul si Angsa yang mengklarifikasi bahwa dialah sang pelaku. Angsa lalu keluar, namun si Lebah tak kunjung dimintai maaf dan direhabilitasi nama baiknya oleh admin.

Anggota diam.

Pada kasus lain, sebuah cerita tentang PISANG yang pernah diposting di ARJ, dibagikan oleh penulisnya sendiri, sebut saja Gelatik, di salah satu WA grup yang diikutinya. Di sini dia tidak melanggar aturan ARJ. Kesalahan dia adalah karena terbawanya nama seseorang, sebut saja Pipit, dalam cerita tsb.  Cerita PISANG memang mengambil latar belakang salah satu cerita Pipit di ARJ. Hanya background. Bukan cerita tentang Pipit. Pun tidak ada yang memalukan dan berpotensi merusak nama baik Pipit.

Pipit dan Gelatik yang adalah teman baik, mempercakapkannya. Gelatik segera meminta maaf begitu menyadari Pipit keberatan. Lalu ia menawarkan diri untuk menjalani hukuman yang dipilih Pipit atau mengundurkan diri dari ARJ sebagai tanda pertanggungjawaban. Pipit menolak. Tidak usah, katanya. Tetapi entah apa yang terjadi. Konon kabarnya Pipit menyampaikan keberatannya pada Admin. Admin mengeksekusi Gelatik, tanpa sedikitpun memberi ruang padanya untuk bicara, didengarkan, dan membela diri.

Di hadapan hampir 3000 anggota, admin mengumumkan eksekusi Gelatik tanpa info memadai tentang apa yang dilanggarnya. Mulai detik itu, Gelatik tidak lagi menjadi anggota ARJ.

masalah-kita-merajut2
https://i.pinimg.com/originals/cd/cb/1b/cdcb1b06d2389bf48031a807806b9fc6.jpg

Kali ini anggota tidak diam. Mereka menuntut transparansi dan penghormatan pada hak asasi manusia. Admin bukan segera mengoreksi tindakannya, malah melakukan kesalahan yang makin fatal. Mereka melangkah terlalu jauh. Alih-alih fokus pada masalah yang ada, mereka malah mengembangkan cerita bernada fitnah dan intimidasi pada Gelatik. Mungkin mereka ingin membela diri. Mungkin ingin menunjukkan bahwa Gelatik memang kriminal yang pantas dihukum.

Aturan dan hukuman  yang semestinya merupakan alat untuk mencapai tujuan, sekarang digunakan admin sebagai tujuan.

Gelatik tidak hendak menampik hukuman itu. Yang tidak ia terima adalah pelanggaran HAM yang ia alami. Surat protes ia layangkan secara pribadi pada seorang anggota admin, yang ia tahu persis adalah pendukung demokrasi dan HAM. “Matikah HAM?” tanya Gelatik padanya.

Surat lain ia layangkan setelah membaca postingan admin yang bernada fitnah dan intimidasi itu. “Surat terbuka untuk admin ARJ: Stop framing dan intimidasi saya” begitu Gelatik memberi judul pada surat elektronik yang dititipkan pada sahabatnya untuk ditayangkan di ARJ.

Berminggu-minggu kasus ini dibahas di ARJ. Sebagian admin mulai membuka diri, membuat AD/ART baru yang lebih adil dan transparan, dengan menyertakan anggota. Separuh admin lain masih bertahan pada pola lamanya. Tak lama, mereka mengundurkan diri, lalu membuat grup baru: ARJ Perjuangan. Tepat menjelang satu tahun berdirinya ARJ.

Ironis. Grup yang dibentuk agar terjadi perdamaian, nyatanya membuat pola pertengkaran yang sama. Pola pertengkaran yang terjadi karena merasa eksklusif, paling benar, paling berkuasa, dan paling berhak. Perdamaian mustahil terjadi bila aliran komunikasi hanya searah. Mendengarkan, mendengarkan dan mendengarkan, adalah kunci dalam perdamaian.

Perdamaian itu ibarat orang merajut. Selain menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan indah, proses menuju perdamaian mestinya membawa ketenangan dan suasana meditatif bagi orang-orang di dalamnya. Sebagaimana dalam merajut, kedisiplinan dan aturan diperlukan untuk membentuk pola dan wajah akhir perdamaian yang dicita-citakan. Maka pendisiplinan dan koreksi dilakukan semata untuk meluruskan arah perdamaian, bukan untuk mencerabuti rajutan yang setengah jadi. Benang putus dalam merajut adalah hal biasa. Solusinya adalah segera menyambung kembali, bukan membakarnya.

masalah-kita-merajut3
https://images.pexels.com/photos/305530/pexels-photo-305530.jpeg?cs=srgb&dl=hands-heart-love-305530.jpg&fm=jpg

Perdamaian bukanlah tujuan akhir. Ia adalah proses yang tak kunjung usai. Kesalahan, pelanggaran, kerukunan, kebahagiaan, adalah fenomena sepanjang jalan untuk dikenali, diiyakan, diselami dan dilalui.

 

Mari merajut perdamaian!

 

Maria Dian Nurani

Maria Dian Nurani

Maria Dian Nurani, biasa disapa Maya, sehari-hari bekerja sebagai konsultan, trainer dan dosen di bidang sustainability. Perhatian dan minatnya pada spiritualitas dan keseimbangan mind-body-soul membawanya pada praktik yoga sejak 1997. Akhir 2018 ia memperoleh sertifikasi yoga teacher RYT-200 dari Yoga Alliance. Pranic healing yang dikembangkan oleh Master Choa Kok Sui mulai ia pelajari dan praktikkan sejak akhir 2018.

Related Posts

[Masalah Kita] Etnis Tionghoa-Indonesia: Cerita Benci-Cinta di Nusantara

[Masalah Kita] Etnis Tionghoa-Indonesia: Cerita Benci-Cinta di Nusantara

[Masalah Kita] Berhenti Bermusuhan dengan Diri Sendiri

[Masalah Kita] Berhenti Bermusuhan dengan Diri Sendiri

[Masalah Kita] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Masalah Kita] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Masalah Kita] Kesehatan Mental Remaja Berawal dari Keluarga

[Masalah Kita] Kesehatan Mental Remaja Berawal dari Keluarga

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors