[Jalan-Jalan] Kelana Selatan Jawa Barat: Melawan Kutuk “Tikus Mati di Lumbung Padi”

Jawa Barat Selatan adalah paradoks yang nyata. Di atas tanahnya yang subur, kemiskinan seringkali bersembunyi di balik hijau hamparan teh…
1 Min Read 0 2

Jawa Barat Selatan adalah paradoks yang nyata. Di atas tanahnya yang subur, kemiskinan seringkali bersembunyi di balik hijau hamparan teh dan rimbunnya hutan. Kita sering mendengar pepatah lama tentang “tikus yang mati di lumbung padi”—sebuah ironi bagi masyarakat yang dikelilingi kekayaan alam namun tak berdaya secara ekonomi. Namun, di sudut Priangan Timur, tepatnya di Karangkamal dan Bojonggambir, narasi itu mulai dipatahkan. Mereka membuktikan bahwa kemakmuran tidak lahir sekadar dari keberadaan komoditas, melainkan dari keberanian warga untuk merancang kedaulatan mereka sendiri melalui peta jalan yang melampaui sekadar urusan jual-beli produk.

Menyusuri jalanan berkelok di selatan Jawa Barat adalah tentang merayakan ingatan. Ada semacam magis yang tertinggal saat desir angin Pantai Cijulang di Pangandaran menerpa wajah, atau ketika kabut tipis menyelimuti tegakan pohon endemik di Leuweung Sancang, Garut. Namun, perjalanan ini bukan sekadar tentang estetika lanskap. Bagi siapa pun yang ingin menyelami jantung Priangan Timur, perjalanan ini adalah upaya memahami bagaimana pangan dan alam menjadi napas sekaligus pertaruhan hidup bagi warga Bojonggambir hingga Karangkamal. Kita sedang berjalan di atas lumbung yang melimpah, tempat di mana pepatah “tikus mati di lumbung padi” bisa menjadi kenyataan pahit jika kita salah mengasuh potensi yang ada.

Karangkamal: Manisnya Madu, Tegaknya Ekologi

Perjalanan membawa saya ke Desa Margacinta, tepatnya di Dusun Karangkamal. Di sini, saya belajar bahwa ketertekanan sering kali menjadi rahim bagi inovasi yang luar biasa. Dusun ini dulu terisolasi, tanahnya berbatu, dan air tanah adalah kemewahan yang langka. Namun, keterbatasan itulah yang memaksa warga memutar otak. Mereka tak menyerah pada nasib, melainkan bersahabat dengan apa yang disediakan alam: kelapa dan lebah hutan.

Kini, Karangkamal telah bersalin rupa menjadi “Kampung Madu”. Di bawah kibaran bendera Kelompok Tani Hutan (KTH) Taruna Karya, hampir 2.000 setup (stup) madu menjadi mesin ekonomi baru.

jalan-jalan1-3

Foto: bengkel setup/stup madu karangkamal (Dokumentasi Pojok Rakyat)

 

Keberhasilan perkembangan Kampung Madu Karangkamal tentu tidak terlepas dari dukungan dan semangat kerja sama berbagai pihak. Terlepas dari dukungan finansial, apa yang membuat Dusun Karangkamal akhirnya bertransformasi menjadi satu kampung tematik adalah bagaimana visi besar itu diterjemahkan dalam semangat berkelanjutan. Hal ini membantu siapa pun yang ingin berkontribusi memiliki pegangan sehingga dukungan dari mana pun dapat dikelola dengan baik. Saat ini, setiap tahunnya Dusun Karangkamal dapat mengelola lebih dari 1.000 botol madu asli melalui kerja sama antara BUMDes dan KTH. Selain itu, profesi lain juga berkembang seiring harumnya nama Kampung Madu Karangkamal yang tersebar ke seantero Jawa Barat. Pesanan stup datang bergantian dari dalam maupun luar kota, belum lagi pesanan koloni lebah, dan tidak lupa kedatangan tamu wisatawan yang berkunjung menikmati paket lengkap wisata Kampung Madu Karangkamal.

jalan-jalan2-3

Foto : Bagian dari Dokumen Cetak Biru Kampung Madu Karangkamal (Hanifah, 2022)

 

Pengembangan Kampung Madu sendiri sebenarnya bukan tanpa alasan. Pada dasarnya, ini adalah usaha  warga Karangkamal dalam menjaga dan mengelola Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang harus mereka pertahankan untuk menjaga ketersediaan air di kawasan kampung. Keberadaan Kampung Madu tidak bisa dilepaskan dari bagaimana rekan-rekan di Karangkamal mempersiapkan apa yang mereka bayangkan sebagai peta jalan dan cetak biru tentang bagaimana masyarakat desa memiliki semangat ekologi yang kuat. Mereka tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga mengembangkan profesi yang akan mendukung keberlangsungan dari suatu kebiasaan dan semangat Masyarakat Desa Ekologi (MDE).

 

Bojonggambir: Melawan Hegemoni di Kebun Teh Rakyat

Meninggalkan pesisir, saya bergerak menuju dataran tinggi Bojonggambir di Kabupaten Tasikmalaya. Pandangan mata segera dimanjakan oleh hamparan hijau kebun teh yang seolah tak bertepi. Namun, ada yang berbeda di sini. Ini bukan kebun teh rapi milik perusahaan besar (PTPN atau swasta); ini adalah Teh Rakyat. Di sini, setiap jengkal tanah adalah milik warga, dan setiap pucuk teh adalah gantungan hidup.

Sayangnya, pemandangan indah ini menyimpan luka lama. Selama puluhan tahun, petani Bojonggambir terjebak dalam posisi produsen barang setengah jadi yang tak berdaya. Teh mereka dikirim ke pabrik-pabrik besar di Jawa Tengah tanpa proses grading, dihargai murah, dan seringkali dicampur dengan batang-batang sisa. Mereka adalah pemilik lahan, namun nasib mereka ditentukan oleh timbangan orang lain.

jalan-jalan3-3

Foto : Brosur wisata Kampung Teh Bojonggambir 2018-2019

 

Berkumpulnya orang-orang muda di Kecamatan Bojonggambir kemudian mengantarkan kita pada usaha dan semangat nyata dalam mengelola apa yang ada di sekitar kita. Tidak hanya meningkatkan nilai jual produk teh kebanggaan Bojonggambir, tetapi perbaikan tata kelola kelembagaan juga tidak luput dari pembenahan yang dilakukan rekan-rekan di Bojonggambir.

jalan-jalan4-2

Foto : Bogateh – Teh premium inovasi orang muda kawasan bojonggambir

 

Puncaknya, pada tahun 2022 berdirilah Koperasi Bumi Teh Mandiri yang diinisiasi oleh orang muda dan didukung para pengusaha serta pemilik pabrik teh di Kecamatan Bojonggambir dan sekitarnya yang notabene berasal dari generasi sebelumnya. Momentum berharga tersebut menjadi titik balik dari semangat perubahan yang sebelumnya berbasis produk menjadi gerakan yang dikelola dengan semangat gotong royong. Semangatnya sama: mengelola sendiri hasil alam yang berharga dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Bojonggambir.

Kisah Karangkamal dan Bojonggambir memberikan satu pelajaran penting: produk hanyalah bonus dari sebuah sistem yang sehat. Jika kita hanya berfokus pada “penciptaan produk UMKM” tanpa memperbaiki tata kelola kelembagaan dan rencana jangka panjang, maka bantuan dari luar hanya akan menjadi pemadam kebakaran sesaat.

Kejayaan pangan di Jawa Barat Selatan tidak boleh berhenti pada angka penjualan botol madu atau kemasan teh. Ia harus berakar pada dokumen rencana yang matang, penguatan koperasi, dan kesadaran ekologi yang diwariskan. Tanpa perencanaan strategis—seperti yang dilakukan KTH Taruna Karya dengan cetak birunya atau Koperasi Bumi Teh Mandiri dengan semangat gotong-royongnya—potensi alam yang melimpah ini hanya akan berakhir sebagai komoditas yang diperas pihak luar.

Pemberdayaan sejati bukanlah membuat warga bisa berjualan hari ini, melainkan memastikan mereka memiliki “peta” untuk menentukan nasib mereka sendiri hingga puluhan tahun ke depan. Hanya dengan cara itulah, kita bisa memastikan tidak ada lagi tikus yang mati kelaparan di tengah megahnya lumbung pangan Jawa Barat.

 

Dokumen Blue Print Karangkamal : link

Video Bojonggambir : bit.ly/BangkitBogamku

Gagasan Masyarakat Desa Ekologis : link

Hisyam Adhisatrio

Pria, Tampan (terbukti karena sudah punya istri), berani, belum punya rumah, semoga ada yang baik hati mendoakan agar kita semua mencapai kehidupan yang bahagia dan saling membahagiakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.