[Jalan-Jalan] Jalan-Jalan Bersama Air

[Jalan-Jalan] Jalan-Jalan Bersama Air

Sejak kecil saya punya masalah dengan air. Entah mengapa saya takut berada di dalam air. Dalam pelajaran ekstrakurikuler renang, saya murid paling payah. Tiga tahun belajar berenang saya hanya berhasil naik tingkat dari takut nyemplung menjadi berhasil bergerak maju dengan menggunakan pelampung. Pada tahun-tahun awal, guru renang saya masih semangat mengajar. Pada tahun-tahun selanjutnya, saya dibiarkan sendiri melakukan apapun yang saya mau, sementara teman-teman yang lain berenang bolak balik di kolam renang. Itu sekitar tiga puluh lima tahun yang lalu!

Kalau sekarang, saya sudah berani berenang cukup jauh. Sudah bisa bolak-balik di jalur yang panjang. Bisa gaya bebas dan gaya katak. Bisa dengan rileks mengapung di air. Saya merasa bahagia kalau diajak snorkeling atau main kano, tetapi belum siap mental kalau diving. Meskipun berenang tampak biasa buat kebanyakan orang, buat saya berenang merupakan salah satu capaian terbesar dalam hidup saya. Mengapa?

Sedikit banyak, itu karena saya merasa bahwa lewat berenang saya berhasil mengatasi ketakutan saya sendiri. Mengapa saya takut berenang? Karena saya takut berada di dalam air? Mengapa saya takut berada di dalam air? Karena saya takut tenggelam? Mengapa saya takut tenggelam? Karena kalau tenggelam saya takut tidak bisa bernapas? Mengapa saya takut tidak bisa bernapas? Karena kalau saya tidak bernapas, maka saya akan mati? Mengapa saya takut mati? Karena saya tidak mau meninggalkan orang-orang yang saya cintai sekarang. Mengapa? Karena bersama mereka, saya masih punya banyak hal baik dan menarik yang ingin saya kerjakan di dunia ini. Mengapa? Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya lebih sulit dijawab, karena setelah itu ada banyak perjalanan menjelajah ke dalam yang perlu saya jalani untuk menjawabnya.

Perjalanan-perjalanan itu sangat panjang dan beberapa di antaranya kembali berurusan dengan air!

Dua puluh lima tahun yang lalu, saya liburan di pantai bersama beberapa kawan. Salah satu kawan membawa kano. Mereka berkano setiap sore sambil menikmati matahari sore. Saya mengamati mereka sambil duduk di pantai menikmati matahari terbenam. Begitu terus setiap hari. Sampai hari terakhir, akhirnya saya penasaran dan ikut berkano. Saya belajar menggunakan dayung dan menyeimbangkan badan sehingga akhirnya kano bisa bergerak maju. Singkat kata, kano memang bergerak maju. Angin sore mendorong ombak dan kano melaju makin cepat. Semula saya merasa senang. “Oh… ini yang namanya kano, asyik juga.” Saya menikmati matahari terbenam dari atas kano. Indah sekali. Bersyukur sekali saya mengambil kesempatan ini.

Makin sore, langit mulai gelap. Kegelapan membuat saya kuatir dan kekuatiran membuat saya mulai mencari tahu posisi saya saat itu. Alamak! Jauh sekali dari garis pantai. Rasa takjub lenyap dan berganti dengan rasa takut. Dalam ketakutan saya berusaha mengubah arah kano dengan dayung. Masalahnya, semakin keras saya berusaha, kano malah semakin menjauhi pantai. Ombak mendorong kano saya makin ke tengah. Saya lelah dan frustasi, takut tenggelam dan mati. Rasanya sama dan bahkan lebih kuat daripada rasa yang saya alami di kolam renang selama tiga tahun ekstrakurikuler.

Dalam kelelahan dan ketakutan saya memasrahkan segalanya kepada Sang Pencipta. Kalau saya masih hidup dan selamat sampai di pantai, saya akan jadi orang baik. Begitu janji saya waktu itu. Akhirnya saya memang selamat. Caranya kurang lebih sebagai berikut. Dalam kelelahan dan kepasrahan, saya mengamati ombak. Ternyata ombak berjalan maju mundur. Ke tengah laut dan kemudian ke pantai. Bolak balik. Saya mengenali pola tersebut dan menyesuaikan kano saya dengan tariannya. Tenaga yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit. Saya tidak ingat apa yang persisnya saya lakukan. Kemungkinan yang saya lakukan ketika itu adalah, ketika ombak berjalan ke tengah laut, saya beristirahat, berhenti mendayung dan membiarkan ombak menyeret kano. Kemudian ketika ombak berbalik, saya mendayung sekuat tenaga sehingga kano bisa bergerak ke tepi pantai dengan lebih cepat. 

Akhirnya saya sampai ke pantai. Disambut oleh kawan-kawan saya, “Asyik banget lu main kano!”. Saya terdiam tanpa kata, mereka tak tahu apa yang berkecamuk di dalam dada selama bermain kano tadi.

Sekitar lima belas tahun yang lalu saya menjadi fasilitator untuk kelompok para nelayan ikan hias di Bali Utara. Mereka berdiskusi tentang bagaimana mereka dapat menjaga laut dan terumbu karang agar tetap lestari. Saat itu, banyak nelayan menggunakan bom untuk mendapatkan ikan. Dengan bom mereka akan mendapatkan lebih banyak ikan, tapi bom itu juga merusak terumbu karang. Terumbu karang itu akan mati. Tanpa terumbu karang ikan-ikan kecil kehilangan rumahnya dan tidak akan ada ikan besar di masa depan.

Dalam beberapa kesempatan, saya melakukan fasilitasi tandem dengan seorang fasilitator dari Inggris, Andrea Deri. Di akhir acara, ia menyempatkan diri snorkeling untuk melihat kondisi terumbu karang di kawasan itu. Saya menemaninya. Dia sungguh kaget ketika tahu saya belum pernah snorkeling dan tidak bisa berenang. Tapi dia menyemangati saya untuk mencoba snorkeling. “How can you encourage people to save coral reef if you never see coral reef before? Try and you will know why we need to conserve it!” demikian kata Andrea waktu itu. 

Setelah mengetahui bahwa kita akan berenang dengan pelampung dan dengan pelampung kita tidak akan tenggelam, maka saya mulai mengamati cara kerja alat yang kita gunakan ketika snorkeling. Dan setelah mengetahui bahwa kita tetap bisa bernapas sambil snorkeling, maka saya memberanikan diri untuk mencoba alat itu. Dan setelah mengetahui bahwa kita dapat didampingi oleh seorang guide, yang berjanji akan menolong kalau sesuatu yang buruk terjadi pada saya selama snorkeling, akhirnya saya ikut kegiatan snorkeling itu.

Mencoba alat snorkling di Pulau Menjangan, Bali

Perasaan yang pertama-tama muncul adalah takut. Takut yang sama, yang sudah saya kenali selama puluhan tahun hidup saya. Saya menerimanya, “Welcome. I know you and I will go to see coral reef with you!” Itulah yang saya katakan kepada ketakutan saya. Rasa takut itu mendadak lenyap berganti dengan rasa kagum yang luar biasa ketika bapak guide menunjukkan kepada saya terumbu karang yang masih sehat. Kelihatannya jauh lebih indah dari yang saya lihat dalam buku dan televisi. Ikan-ikan aneka warna berenang ke sana ke mari, di antara karang aneka warna. Saya melihat bahwa warna-warna di sana, jauh lebih terang daripada warna-warna yang ada di darat. Sungguh sebuah kehidupan yang luar biasa! Rasanya, kalau saya harus mati saat itupun, saya rela mati bersama terumbu karang yang indah itu.

Kemudian, saya juga diajak melihat terumbu karang yang sudah rusak, warnanya coklat dan di sana lebih sedikit kehidupan yang tampak. Dan untuk mengembalikan terumbu karang yang sudah rusak menjadi sehat kembali dibutuhkan waktu yang sangat lama, sampai ratusan tahun. Wow! Keserakahan dan keinginan manusia untuk mendapatkan hasil yang banyak dalam waktu singkat ternyata harus dibayar dengan hilangnya terumbu karang dan juga sumber penghidupan bagi para nelayan itu sendiri di masa depan. Snorkeling bersama Andrea memperkuat motivasi saya untuk menjaga kelestarian alam ini. 

Pengalaman dengan air lainnya terjadi sekitar sebelas tahun yang lalu. Ketika saya ke Amerika, saya mengunjungi kawan saya Betty Miller. Dalam kunjugan itu, saya diajak untuk berkayak di Sungai Connecticut, New Hampshire. Menganggap bahwa kayak mungkin mirip dengan kano di pantai,  saya menyambut baik ajakan itu.

Berkayak di Sungai Connecticut, USA, 2009

Kami pergi bertiga. Saya, Betty dan suaminya Douglas. Namun, berkayak di sungai ternyata agak berbeda dengan berkano di laut. Awalnya kami berkayak mengikuti aliran sungai, sehingga lebih mudah. Awalnya, sungai tenang dan tidak banyak batu di dalamnya. Masalah mulai muncul ketika kami berada di aliran sungai yang deras dan penuh dengan batu-batu besar. Kayak saya beberapa kali tersangkut. Terjebak di tengah-tengah batu dan tidak bisa bergerak. 

Segala cara digunakan, termasuk akhirnya, keluar dari kayak dan menggeser kayak itu keluar dari kepungan batu. Saya sudah mengatasi banyak ketakutan di pengalaman-pengalaman saya dengan air sebelumnya, jadi saya lebih bisa menggunakan akal sehat di dalam proses ini. Lagi pula, air sungainya tidak terlalu dalam, jadi saya yakin bahwa saya tidak akan tenggelam. Kalau sekedar basah sampai batas lutut atau maksimal sepinggang sepertinya masih bisa dinikmati.

Kembali lagi dengan ‘berenang’, mengapa saya akhirnya bisa berenang? Sebagai orang yang memiliki latar belakang ilmu pasti, saya memerlukan kepastian. Saya memerlukan rumus, bagaimana saya dapat berenang. Saya pernah mendapatkan banyak penjelasan dan contoh praktek dari banyak orang dalam tiga tahun kelas renang saya. Tetapi semua itu sepertinya tidak bisa berjalan pada saya. Hidung saya tetap kemasukan air, saya kehabisan napas, dan saya yakin bahwa saya akan tenggelam lalu mati! 

Saya sangat terbantu ketika seorang kawan dengan latar belakang sains menjelaskan kepada saya. Dalam kondisi alamiah, kita tidak akan tenggelam, karena kita memiliki daya apung. Daya apung itu kita dapatkan dari udara yang kita hirup dan disimpan di dalam paru-paru. Selama masih ada udara di paru-paru kita, maka kita akan tetap terapung. Jadi kuncinya adalah mengatur napas kita – napas masuk dan keluar – dengan gerakan kepala kita. Sehingga setiap gerakan menjadi selaras. Saya tetap dapat bernapas dan secara rutin dapat mengganti karbondioksida di dalam paru-paru dengan oksigen yang baru.

Hal ini membutuhkan kesadaran tentang kapan dan bagaimana saya harus bertindak memposisikan setiap bagian tubuh saya untuk melakukannya. Semula memang tampaknya rumit, apalagi kalau kita harus mengingat seluruh detil prosesnya. Tetapi sekali kita dapat melakukannya, tubuh kita akan tahu secara otomatis apa yang harus dilakukannya. Selanjutnya, kita tidak perlu lagi mengingat bagaimana seharusnya dan kita tetap dapat melakukannya. 

Sekarang saya tidak terlalu bermasalah dengan air. Ketakutan saya pada air sudah jauh berkurang. Demikian juga ketakutan saya pada kematian. Kalau dipikir-pikir, semua ketakutan itu pada akhirnya membawa saya pada pembelajaran-pembelajaran penting dalam hidup saya. Setidaknya ada beberapa pembelajaran yang saya dapatkan dari proses berinteraksi dengan air ini, yaitu:

  • Dalam kondisi emosi yang intens, saya sering kehilangan akal sehat, dan akhirnya saya malah mengambil tindakan yang berlawanan dengan yang saya inginkan.
  • Emosi tersebut perlu dikenali, diakui, diterima dan diapresiasi. 
  • Untuk menyelesaikan persoalan, saya perlu mengenali bagaimana hukum alam bekerja dan untuk dapat mencapai tujuan akhir, saya perlu menyesuaikan gerak saya dengan tarian alam.
  • Saya perlu membedakan mana yang merupakan tujuan akhir dan mana yang merupakan tujuan antara. Tujuan akhir adalah yang tetap. Tujuan antara dapat diubah. Seringkali saya terjebak pada tujuan antara dan lupa bahwa ada cara lain yang dapat dipilih untuk mencapai tujuan akhir. Tidak fleksibel pada tujuan antara sering membuat saya buta melihat pilihan-pilihan cara baru yang lebih efektif untuk mencapai tujuan akhir.
  • Kadang-kadang beristirahat dan pasrah merupakan hal terbaik yang perlu dilakukan, terutama ketika saya merasa lelah.

Demikianlah sharing jalan-jalan sepanjang hidup saya bersama air. Saat ini saya merasa hubungan saya dengan air sudah jauh lebih baik. Demikian pula dengan hubungan saya dengan diri sendiri. Lewat jalan-jalan bersama air, saya dapat menyelami kehidupan saya dengan lebih mendalam. Perbaikan hubungan dengan air berjalan selaras dengan peningkatan rasa damai dalam hidup saya. Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih pada air untuk mendukung hidup saya dengan berbagai cara.

 

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Jalan-jalan] Salam Damai dari Kami, Peacesantren Welas Asih

[Jalan-jalan] Salam Damai dari Kami, Peacesantren Welas Asih

[Jalan-Jalan] Tradisi dan Filosofi Masayarakat Belu Tentang Kemandirian dan Self Awareness

[Jalan-Jalan] Mengintip Kehidupan di Kebun Belakang

[Jalan-Jalan] Piknik Semalam Ke Baduy Dalam

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 3
Total Visitors: 851

Visitors are unique visitors