Tiga Sabtu sudah saya habiskan untuk bolak-balik bepergian Sukabumi-Bandung. Selain tidak murah biaya, juga tidak hemat jejak ekologis. Semua karena arahan (atau keajaiban takdir mungkin) sederhana dari Direktur Eksekutif tempat saya bekerja. ‘Ini ada undangan dari Any, penting untuk hadir’, tulisnya dalam aplikasi pesan bersamaan dengan poster Refleksi Pangan yang diadakan oleh Perkumpulan KAIL dan Komunitas 1000 Kebun dengan dukungan dari Samdhana. Tiga pembicara kondang juga berhasil ditemui sepanjang proses diskusi. Tidak hanya itu, tentu juga ada semangat dari para pegiat dan pengamat topik terkait pangan di kawasan Bandung yang tergabung dengan beberapa “sarang-sarang” agroekologis kalau boleh meminjam istilah Bang Oji.
Tiga Sabtu malam juga saya habiskan untuk merenungi berbagai permasalahan yang dikemukakan selama sesi refleksi. Mulai dari pareumeun obor di sesi minggu pertama, dilanjutkan dengan sekelumit fakta dan masalah terkait gender, disabilitas, dan inklusi sosial dalam sistem pangan dan berbagai rantai pasoknya di sesi minggu kedua, kemudian ditutup dengan betapa peliknya usaha perubahan jika dihadapkan dengan situasi kondisi relasi kuasa yang masih belum adil dan berkeadilan. Semua bermuara pada pertanyaan yang sama: lalu apa peran saya?
Tiga minggu sesudah proses refleksi terkait situasi sistem pangan di kawasan bandung berjalan, rasanya agak dangkal kalau kita berharap akan perubahan yang terjadi dalam satu malam akibat ada pergantian kekuasaan (mengingat beberapa kepala daerah “baru” akan dilantik beberapa bulan ke depan).
Sebagai konsumen tulen sejak kecil, saya merasa sudah jauh dari proses produksi pangan sedari dini. Selain karena saya memang anaknya mageran, kok rasanya topik tentang pangan hanya menarik kalau sudah tersaji di meja makan. Saya kemudian beranjak dewasa dan paham tentang bagaimana makanan menjadi salah satu alat untuk mempertahankan kekuasaan. Lihat saja fakta sederhana bahwa mereka yang punya uang paling banyak di Indonesia kebanyakan bergelut di bidang pangan atau pertanian, mulai dari pengusaha minyak, jagung, kopi, terigu, retail, dan tidak lupa tembakau.
Perjalanan kemudian mengantarkan saya pada kesempatan untuk hidup bersama satu masyarakat di tengah bumi Jawa Barat yang memiliki kesulitan terhadap akses pasar. Sebuah desa bernama Lebaksiuh di Kabupaten Sumedang yang jarak ke pasar desa terdekat (desa tetangga) kurang lebih 5 KM dan jarak ke pasar kecamatan kurang lebih 10 KM.

(Google Map)
Kondisi ini menjadikan saya melihat situasi pangan menjadi salah satu masalah yang penting, Desa Lebaksiuh bukan desa yang miskin. Selain keterpencilan, Desa Lebaksiuh juga dihadiahkan tanah yang subur dan kondisi alam yang mendukung tumbuhnya pohon buah (mangga). Buah mangga ini merupakan salah satu komoditas utama dari Desa Lebaksiuh, Kabupaten Sumedang.
Perputaran uang dari usaha buah di Desa Lebaksiuh tidaklah main-main. Setiap bandar/ pengepul bisa mengedarkan 15-30 juta rupiah setiap harinya atau setara dengan 600-900 kg di harga prima atau sekitar 35 ribu rupiah per kilogramnya?. Sayangnya peredaran finansial yang menyemarakkan desa Lebaksiuh tidak berlangsung sepanjang tahun. Seharusnya fenomena ini hanya terjadi 1 tahun sekali sepanjang 2-3 bulan tetapi sejak awal tahun 2016 lalu beberapa penjahat pintar berkedok ahli-ahli pertanian menawarkan obat-obatan yang dapat “membantu” mempercepat tumbuhnya bunga bakal buah mangga sehingga terciptakan fenomena off-season atau panen di luar musim.
Sejak saat itu para pelaku usaha di bidang mangga benar-benar intensif menggunakan obat-obatan, Off-season adalah impian setiap pemilik pohon mangga. Ketika daerah lain belum mencapai musim mangga, maka buah hasil off season sudah pasti bisa mencapai harga yang fantastis menurut kabar pernah ada rekor mencapai 60 ribu satu kilogramnya dari petani. Sayang, kesenangan ini tidak bertahan lama. Perlahan-lahan kondisi tanah di desa Lebaksiuh dan sekitarnya (beberapa desa lain juga penghasil mangga) mengalami degradasi yang parah. Sebelumnya di sela-sela pohon mangga dapat ditanami tanaman beragam macamnya. Sekarang, yang bertahan hanya kacang tanah. Itupun jika sedang musim hujan saja.
Kejadian ini menciptakan kondisi yang menyulitkan untuk masyarakat Lebaksiuh. Akses akan sayur mayur yang beragam hanya didapatkan dari pedagang yang tidak datang setiap hari. Jika mau memaksakan maka harus membeli ke pasar. Itu pun dengan biaya ongkos perjalanan yang tidak murah. Apabila sedang musim mangga dan orang punya uang, mereka lupa untuk menyetok nutrisi pangan atau sekedar menanam. Ketika sedang sepi dan cuaca tidak menentu perputaran uang tidak bisa diharapkan sehingga bahan pangan menjadi mewah rasanya.
Delapan bulan lamanya saya tinggal di Lebaksiuh, sebagai pendatang yang tidak punya aset lahan (apalagi pohon mangga) saya hanya dapat mengandalkan makanan yang dapat saya simpan sebisanya. Makanan kaleng menjadi penyelamat sementara serta tidak lupa bantuan dari tetangga yang kadang menyediakan berbagai tumbuhan yang bisa disantap seperti daun katuk dan hiris yang masih liar ditemukan di hutan.
Dari sana, pengalaman pangan saya menjadi beragam. Berbekal semangat (dan kebutuhan) saya mengajak kelompok PKK Desa Lebaksiuh untuk menyediakan pangan alternatif untuk nutrisi yang mudah didapatkan. Pilihan paling aman dengan suplai dan harga yang teratur tentunya adalah kacang tanah yang masih bisa tumbuh di sela-sela pohon mangga.
Kacang tanah kemudian diolah dan ditiriskan sampai bisa disimpan lama, dalam bentuk produk uyah gajel, atau uyah untuk mengganjal perut. Selain itu produk ini juga menjadi salah satu penghias di sudut-sudut warung sepanjang Desa Lebaksiuh. Sayang setelah tidak ditempatkan di sana, informasi terbaru mengatakan kalau banyak pelaku usaha dari luar desa yang memanfaatkan momentum dan mengisi stok produk uyah gajel dari luar desa.

Pada akhirnya kebutuhan pangan tetap tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Sebanyak apapun perputaran finansial, jika kebutuhan akan nutrisi tidak bisa kita upayakan, maka kehancuran merajalela di depan mata. Penting untuk setiap pelaku menyadari posisi dan kesempatan yang dimiliki untuk mengambil aksi. Jika saya saat itu memang diharuskan untuk membersamai perjalanan perubahan di suatu desa mungkin hari ini kita bisa membayangkan inovasi yang lebih bermanfaat untuk khalayak yang lebih ramai. Tidak hanya berhenti pada suatu produk, tetapi lebih menyeluruh ada perubahan terhadap sistem yang terlanjur membuai kesadaran diri. Sistem yang mematikan warisan obor kebijaksanaan. Sistem yang menciptakan ketimpangan peran dan inklusi sosial. Sistem yang mengancam keberagaman makhluk Tuhan dan mengancam eksistensi dari humanity itu sendiri.