[Jalan-jalan] Jalan-jalan di alam – sarana untuk memulihkan diri

[Jalan-jalan] Jalan-jalan di alam – sarana untuk memulihkan diri

Dalam menjalani kehidupan, kita kerap mengalami kelelahan fisik dan mental. Kelelahan ini terjadi baik karena beban pekerjaan maupun berbagai persoalan pribadi yang dihadapi. Setiap orang memiliki berbagai cara untuk mengatasi kelelahan tersebut. Salah satu cara yang banyak dilakukan orang untuk pemulihan diri adalah dengan berjalan-jalan di alam.

Saya termasuk dari sekian banyak orang yang mendapatkan pengalaman pemulihan diri dari alam. Bagi saya, alam sungguh ajaib. Memandang alam yang indah saja dapat membuat saya senang dan sejenak melupakan segala persoalan yang sedang saya hadapi. Kembali dari perjalanan ke alam membuat saya bahagia. Meskipun mungkin ada kelelahan fisik, tetapi saya merasa segar dan mendapatkan kembali energi untuk melakukan kerja-kerja saya sehari-hari.

jalan-jalan1-2
Bunga lengkuas

Berikut ini adalah cerita tentang beberapa lokasi yang telah membantu saya pulih kembali. Salah satu tempat itu adalah laut. Saya tidak masalah dengan laut yang mana, entah itu pantai berpasir putih di Bali, pantai dengan tebing karang di Sumba, atau pantai-pantai lainnya. Saya suka laut – dengan deburan ombaknya yang memecah pantai. Tidak masalah saya tinggal di tenda, atau di hotel yang mahal. Laut menghasilkan emosi yang sama untuk saya. Bahagia.

Dalam salah satu perjalanan saya ke Sumba, saya mendapatkan kesempatan tinggal di sebuah cottage yang lokasinya di tepi pantai. Di pantai itu ada meja dengan colokan listrik, jadi saya bisa bekerja di sana. Dengan kaki telanjang menapak di atas pasir, saya bekerja di meja itu. Biasanya saya mulai duduk di sana pagi-pagi sekali sampai sebelum sarapan dan setelah makan malam sampai menjelang tidur. Selain laporan proyek, meja itu menghasilkan berhalaman-halaman catatan harian, gambar-gambar ilustrasi, dan refleksi tentang bagaimana saya ingin menjalani hidup. Beberapa di antaranya, saya gunakan sampai sekarang.

Selain bekerja di meja itu, saya juga suka berjalan-jalan bolak balik di sepanjang pantai atau sekedar berdiam diri keheningan. Entah duduk atau berbaring. Singkat kata saya suka berada sendirian. Saya menikmati kesendirian ditemani oleh deburan ombak dan bintang-bintang di langit. Di masa itu, hidup saya memang selalu dikelilingi orang-orang. Hiruk pikuk rasanya. Jadi bisa berada sendirian ibarat mendapatkan kemewahan yang luar biasa.

Pengalaman dengan laut lainnya yang sangat berkesan adalah pengalaman berkunjung ke Kepulauan Derawan. Di Pulau Derawan, kami berkesempatan berpatroli jalan kaki tengah malam keliling pulau untuk menunggu penyu yang akan bertelur. Saat ada penyu bertelur, telur-telur itu kemudian kami angkut dan amankan untuk kemudian dipijahkan. Jika hal itu tidak dilakukan maka telur-telur penyu itu akan habis dimakan hewan-hewan pemangsa atau diambil manusia untuk dimakan atau dijual.

Kami berpatroli menemani Pak Ading, istrinya, dan dua orang pemuda desa di Pulau tersebut. Pak Ading dan istrinya telah melakukan patroli itu selama bertahun-tahun. Mereka adalah penduduk Pulau Derawan yang peduli pada keberlanjutan hidup penyu di sana. Mereka melakukannya secara sukarela. Kadang-kadang mereka juga mengajak anak-anak muda yang ada di sana untuk bergabung dan membantu. Seperti yang kami alami malam itu. Kerja-kerja yang mereka lakukan telah mendapatkan pengakuan dari beberapa organisasi lingkungan lokal, nasional dan global.

Setelah menetas, bayi-bayi penyu yang masih kecil, tukik namanya, akan dilepaskan kembali ke laut. Dari ratusan tukik yang dilepaskan ke laut, mungkin hanya beberapa saja yang akan bertahan sampai dewasa. Suatu saat, penyu dewasa itu kembali lagi ke pantai tersebut untuk bertelur. Memegang tukik dan mengantarkannya kembali ke laut memberikan perasaan tersendiri. Rasanya aneh merasakannya merayap di atas telapak tangan. Setelah itu, perlahan-lahan meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas permukaan air laut dan membiarkan laut merangkulnya. “Semoga kamu selamat. Semoga kapan-kapan datang kembali untuk bertelur di sini”.

Penyu memiliki siklus hidup yang luar biasa. Sejak menetas hingga dewasa, seekor penyu akan berkelana menjelajahi samudra. Sampai jauh sekali. Penyu yang lahir di Pulau Derawan, mungkin akan berenang sampai ke Amerika, begitu terus, sampai akhirnya ketika bertelur mereka pulang kembali ke Pulau Derawan. Entah apa yang membuatnya begitu masih menjadi subyek kajian para ahli Biologi.

Bagi saya, laut adalah tempat istimewa. Laut menyediakan dunia yang tidak bisa saya nikmati setiap hari. Sebagai contoh. Di laut saya bisa snorkeling. Meskipun tidak bisa berenang, saya suka snorkeling. Snorkeling pertama di Taman Nasional Bali Barat membuka pandangan saya akan warna-warni yang luar biasa kaya di balik birunya permukaan air laut. Terumbu karang aneka warna itu ternyata menyimpan jutaan kehidupan. Ditambah ikan-ikan beraneka bentuk, corak dan warna. Warna-warna itu berbeda dengan yang ada di darat.

Kalau kita masuk ke dalam laut, kita seperti menyatu dengan semesta. Tidak ada orang lain. Tidak ada manusia lain yang menjadi musuh. Hanya damai saja di tengah ketakjuban melihat ciptaan yang luar biasa indah. Ketakjuban itu semakin menguat ketika dalam salah satu pekerjaan saya di kemudian hari, saya menjadi tahu bahwa untuk menghasilkan terumbu karang yang saya lihat ketika snorkeling itu dibutuhkan waktu yang sangat lama. Mungkin puluhan bahkan ratusan tahun. Saya sedih ketika mengetahui kenyataan bahwa ternyata ada orang yang terpaksa merusak terumbu karang hanya untuk menyambung hidup. Ini adalah pekerjaan rumah yang berat untuk Indonesia dalam menyediakan penghidupan bagi seluruh rakyat tanpa merusak keberlanjutan alam.

Perjalanan saya ke laut adalah perjalanan panjang dan jauh menuju alam. Suatu tempat yang jarang saya kunjungi tetapi saya memiliki hubungan khusus dengannya. Karena saya tinggal di daerah pegunungan, laut menjadi istimewa bagi saya. Kunjungan sesekali itu telah menjadi sumber energi yang kuat dan bertahan lama. Bahkan mengingat pengalaman itu saja menjadi sumber energi yang menguatkan. Kenyataan ini saya alami di masa pandemi, ketika saya hampir tidak pernah bepergian kemanapun dalam lebih dari satu tahun terakhir ini. Mengenang kunjungan ke laut saat berada di rumah di masa pandemi ini menjadi kenangan tersendiri yang selalu membahagiakan.

Untungnya, alam bukan hanya laut yang jauh. Alam bisa juga sesuatu yang dekat. Misalnya tanaman di halaman dekat dapur rumah. Alam juga bisa sesuatu yang saya tatap melalui jendela kamar tidur saya di malam hari. Bintang yang saya lihat dari jendela kamar tidur bisa jadi adalah bintang yang sama dengan yang saya lihat di Sumba dan Derawan. Alam juga bisa berupa pohon-pohon yang saya pandangi di luar jendela ruang kerja saya. Meski efeknya berbeda dengan laut, alam-alam yang ada di sekitar rumah saya juga punya energi sendiri. Energi yang mengalir setiap hari. Menambah kebahagiaan dalam keseharian hidup saya – kalau saya menyadarinya.

jalan-jalan2-2
Kebun di dekat dapur – alam yang dekat dengan rumah

Bunga lengkuas yang mekar. Buah arben yang matang. Ributnya suara tonggeret di kebun. Dengung lebah, kepak sayap kupu-kupu, kicauan burung dan kokok ayam. Juga desau rumpun bambu tertiup semilir angin. Semua itu adalah alam. Suaranya memompa nadi kehidupan. Suara alam yang mengisi jiwa. Ketika saya sadari suara itu masih ada setiap hari, saya tahu, saya masih punya satu hari lagi untuk menikmati hidup ini. Terima kasih dan puji syukur kepada Sang Maha Pencipta untuk seluruh pengalaman kehidupan ini.

 

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Jalan-jalan] Membangun Kesetaraan Gender di Masyarakat Sumba

[Jalan-jalan] Membangun Kesetaraan Gender di Masyarakat Sumba

[Jalan-jalan] Kampung Naga

[Jalan-jalan] Kampung Naga

[Jalan-jalan] Salam Damai dari Kami, Peacesantren Welas Asih

[Jalan-jalan] Salam Damai dari Kami, Peacesantren Welas Asih

[Jalan-Jalan] Jalan-Jalan Bersama Air

[Jalan-Jalan] Jalan-Jalan Bersama Air

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 2797

Visitors are unique visitors