[Jalan-jalan] Kampung Naga

[Jalan-jalan] Kampung Naga

Salah satu identitas manusia adalah berpegang teguh pada nilai yang mereka yakini. Seperti Warga Kampung Naga yang berpegang teguh pada nilai leluhur untuk menjaga alam, maka warga kampung ini tidak pernah kehilangan identitasnya.

 

Kamis pagi itu cukup cerah, tidak ada tanda akan turun hujan. Saat yang tepat untuk memulai jalan-jalan singkat ke daerah Tasikmalaya. Konon di sana ada sebuah dusun yang masih asri dengan alam yang terjaga. Tempat itu dikenal dengan Kampung Naga.

kampung-naga
Kampung Naga, Tasikmalaya

 

Kampung Naga berada di wilayah Desa NeglasariKecamatan SalawuKabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Kampung ini terletak di lembah tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Garut dan Tasikmalaya. Sepanjang jalan menuju kampung ini, mata akan disuguhi pemandangan alam yang sejuk perpaduan antara alam hijau dan aliran sungai Ciwulan.

 

Saat sampai di jalan masuk menuju Kampung Naga, pengunjung harus menuruni tangga sebanyak 439 anak tangga. Tangga ini juga merupakan jalan untuk pulang dari kampung Naga. Saat menuruni tangga, beberapa warga sekitar menggunakan tangga ini untuk berolahraga. Tidak lupa saya pun bertegur sapa dengan para warga.

tangga-menuju
Tangga menuju Kampung Naga

 

Sesampainya di tangga paling akhir, pengunjung masih harus berjalan menyusuri sawah-sawah penduduk kampung dan melewati dua curug (air terjun) kecil hingga tiba  di rumah penduduk pertama. Kebetulan saat sampai sedang musim panen dan para warga sedang bergotong royong menumbuk beras di salah satu saung di tengah kolam. “Mun bade tuang kedah sésah heula”, (Kalau mau makan harus susah dulu (numbuk dulu) kata salah satu warga. Tidak lupa para ikan di kolam juga ikut berkumpul mengitari penduduk yang sedang menumbuk padi.

kegiatan-menumbuk-padi
Kegiatan menumbuk Padi

 

Hal yang paling diingat Ketika masuk ke Kampung Naga adalah air bersih yang berlimpah. karena kampung ini berada tepat si samping sungai Ci Wulan, suara aliran air sangat dominan, ditambah suara serangga kecil dari hutan di sekitar kampung Naga sangat memanjakan telinga kita.

sungai-di-dekat-kampung
Sungai Ci Wulan persis sebelah Kampung Naga

 

Terdapat 113 bangunan yang ada di kampung Naga termasuk masjid, bale warga dan lumbung padi. Semua bangunan itu terbuat dari kayu yang beratapkan ijuk dan lantai panggung. Warga di sini masih percaya pada pantangan-pantangan leluhur saat membuat rumah seperti pintu yang menghadap ke utara atau selatan dengan bentuk bangunan yang memanjang ke barat dan timur. Karena pantangan tersebut rumah penduduk tertata rapi jika dilihat dari kejauhan.

kampung-naga-yang-dikelilingi-hutan
Kampung Naga yang dikelilingi hutan

 

Salah satu pantangan yang paling terkenal adalah tentang hutan terlarang. Jadi kampung Naga ini di kelilingi hutan yang tidak boleh dimasuki warga. Ada pamali untuk warga masuk ke hutan. Bahkan Ketika warga membutuhkan kayu, warga lebih memilih untuk membelinya di kampung lain daripada menebang dari hutan terlarang. Berkat pamali ini hutan yang ada disekitar kampung masih asri dan tidak terjamah. Warga juga tidak pernah kekurangan air bersih untuk dialiri ke setiap rumah. Bahkan air wudhu di masjid pun dibuat selalu mengalir tanpa adanya keran penutup. Untuk sampah warga sekitar sudah mulai menggunakan sampah plastik, walau jumlahnya masih sangat sedikit. Sampah-sampah itu disimpan dan dikumpulkan untuk dibakar setiap minggu.

depan-bale-kampung-naga
Depan Bale Kampung Naga

 

Warga Kampung Naga dan tentu kampung-kampung lain yang masih memegang teguh adat istiadat merupakan teladan dan contoh bagi kiya, bagaimana sebuah komunitas manusia dengan sistem yang baik dapat hidup berdampingan dengan alat sambil tetap menjaga dan merawatnya. Walau beberapa orang merasa sudah mulai ada perubahan pada warga di Kampung Naga. Penduduk sekitar berharap, 10 atau 20 tahun kedepan Kampung Naga masih terjaga keasriannya.

 

 

(Sumber: refleksi pengalaman penulis)

 

Liesna N. Widyaningrum

Liesna N. Widyaningrum

Guru dan IT support di Peacesantren Welas Asih, Garut. Selain guru, Liesna dikenal sebagai Game Master yang suka bermain permainan papan dan kartu. Dia juga merupakan system thinker di Kitaja! Studio, studio yang bergerak dalam teknologi dan media pendidikan, Anda bisa menghubunginya di email nw.liesna@gmail.com.

Related Posts

[Jalan-jalan] Jalan-jalan di alam – sarana untuk memulihkan diri

[Jalan-jalan] Jalan-jalan di alam – sarana untuk memulihkan diri

[Jalan-jalan] Salam Damai dari Kami, Peacesantren Welas Asih

[Jalan-jalan] Salam Damai dari Kami, Peacesantren Welas Asih

[Jalan-Jalan] Jalan-Jalan Bersama Air

[Jalan-Jalan] Jalan-Jalan Bersama Air

[Jalan-Jalan] Tradisi dan Filosofi Masayarakat Belu Tentang Kemandirian dan Self Awareness

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 3
Total Visitors: 2370

Visitors are unique visitors