[Rumah KAIL] Seeds of Change – Berbagi Cerita Tentang Komunitas Kebun Kota di China dan Indonesia

Pada hari Sabtu, tanggal 29 November 2025, Rumah KAIL kedatangan tamu istimewa. Tamu tersebut adalah Linjun Xie, seorang dosen dari…
1 Min Read 0 1

rumah-kail-1-2Pada hari Sabtu, tanggal 29 November 2025, Rumah KAIL kedatangan tamu istimewa. Tamu tersebut adalah Linjun Xie, seorang dosen dari National University of Singapore (NUS). Pada kesempatan tersebut, Linjun hadir atas undangan KAIL (Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang) untuk menjadi pembicara dalam workshop yang bertajuk “Seeds of Change – Insights from Urban Community Gardens in China and Indonesia.” Kunjungan Linjun ke Indonesia merupakan bagian dari kerja sama yang didukung oleh Asia-Pacific Network (APN) terkait  Peningkatan kapasitas untuk memperkuat tata kelola lingkungan alam di wilayah perkotaan China demi ketahanan iklim dan restorasi ekosistem. Kegiatan ini diselenggarakan di Rumah KAIL, yang berlokasi di Kampung Cigarukgak, RT 03/RW 12, No. 37, Desa Giri Mekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Di sesi awal, Linjun memperkenalkan tradisi minum teh sebagai bagian dari keseharian dan perawatan diri di China. Beberapa teh yang disajikan antara lain Fuding White Tea (yang berumur sekitar 10 tahun), chrysanthemum, rose bud, dan Jin Yin Hua (honeysuckle). Fuding White Tea secara tradisional dipercaya dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh, memberikan efek calming dan rileks, dan juga ramah terhadap pencernaan. Jika disimpan dalam kondisi baik, Fuding White Tea ini dapat dikonsumsi hingga 15 tahun, atau bahkan lebih. Teh bunga kuning (Chrysanthemum Tea) juga dipercaya dapat menenangkan mata yang lelah dan diasosiasikan dengan teh yang memberikan rasa yang ‘menyejukkan’. Dalam tradisi minuman herbal China, Jin Yin Hua (Honeysuckle Flower Tea) dipercaya dapat memberi efek menenangkan. Linjun juga mendemonstrasikan penyeduhan dengan air panas sekitar 85-90 °C, lalu peserta meracik seduhan sesuai preferensi. Selain minuman tradisional China, di meja makan juga disediakan penganan lokal Indonesia, antara lain jagung rebus, pisang rebus, kacang tanah rebus, manggis, dan salak. Peserta menikmati perpaduan antara minuman tradisional/lokal China dengan makanan lokal Indonesia, sambil membangun pembicaraan dan berkenalan dengan peserta-peserta yang lain. Jamuan sederhana ini memberi pengantar bahwa pangan lokal masih bisa dekat dengan keseharian – bahkan dalam pertemuan komunitas di wilayah kota maupun peri-urban (wilayah pinggiran kota).

rumah-kail-2-2

Kiri: Linjun Mendemonstrasikan Cara Penyajian Teh China
Kanan: Peserta Workshop Menikmati Teh dan Penganan Lokal Sambil Berinteraksi

Sumber Foto: Dokumentasi Penulis

 

rumah-kail-3-2

Hidangan pagi: Teh China dan Makanan Lokal Indonesia. 

Sumber foto: Dokumentasi Penulis

 

Selanjutnya para peserta berpindah ke lantai atas untuk melanjutkan kegiatan workshop. Acara dimulai dengan cerita Any Sulistyowati, Koordinator KAIL, tentang sejarah KAIL, Rumah KAIL, dan Kebun KAIL. Setelah itu Any memperkenalkan Linjun, lalu mempersilahkan presentasi dimulai. Presentasi Linjun ini dipandu oleh Miqdad sebagai moderator. 

Linjun memulai sesi dengan menceritakan latar belakang akademik dan personalnya sebagai perencana kota yang tumbuh di pedesaan China, kemudian hidup dan bekerja di kota besar. Linjun menyampaikan bahwa urbanisasi di China dan Indonesia menunjukkan pola yang serupa: pertumbuhan kota yang cepat, kepadatan yang tinggi, dan berkurangnya ruang hijau. Urbanisasi dapat membawa manfaat ekonomi dan efisiensi, tetapi juga memunculkan masalah lingkungan, kesehatan mental, keterputusan dengan alam, dan krisis pangan perkotaan. Pengalaman hidup berpindah dari desa ke kota membentuk pandangannya bahwa urbanisasi mengubah relasi manusia dengan alam, pangan, dan komunitas. Pangan makin “jauh” dari sumbernya dan makin sulit dipahami sebagai bagian dari ekosistem sehari-hari. Linjun memberikan contoh bahwa orang-orang tua di desa senang berbelanja di pasar tradisional dan mereka mengetahui jenis bahan makanan yang dibeli, asalnya, serta kualitasnya. Mereka juga suka saling menyapa dan berbicara satu sama lain sambil berbelanja, sementara di kota, orang sudah terbiasa berbelanja dengan mengambil barang yang dibutuhkan dan langsung membayarnya, tanpa harus berinteraksi secara sosial dengan orang-orang di sekitarnya. Di titik inilah krisis pangan kota dipahami bukan semata masalah ketersediaan, tetapi juga masalah keterhubungan: akses, pengetahuan, jejaring sosial, dan ruang hidup.

Salah satu dampak dari urbanisasi adalah hilangnya akses terhadap lahan dan ruang hidup, serta jauhnya sumber pangan dari jangkauan kelompok rentan. Seringkali pemerintah berusaha menyelesaikan berbagai persoalan dengan solusi infrastruktur, padahal ini justru dapat memperparah masalah jika tidak disertai dengan perubahan sistem. Linjun memberikan contoh tentang induced demand, ketika menambah kapasitas justru memicu kebutuhan baru, untuk menunjukkan bahwa solusi berbasis infrastruktur (dengan memperlebar/menambah jumlah ruas jalan dan membangun insinerator untuk mengurangi sampah) bisa menciptakan ketergantungan dan memperbesar masalah apabila tidak disertai perubahan perilaku, tata kelola, dan cara pandang masyarakat. Implikasinya relevan pada sistem pangan yang sering “ditambal” lewat proyek besar tanpa mencari akar persoalan dan memperbaiki sistem. 

Selanjutnya Linjun menceritakan tentang kebun komunitas (community garden)/urban farming, yang diposisikan sebagai “seeds of change” untuk pangan lokal. Beberapa contoh kebun komunitas yang ada di China antara lain:

  • Shenzhen – Rooftop Community Garden

Inisiatif kebun komunitas (community garden) di rooftop ini dimulai oleh NGO yang bekerja sama dengan warga untuk memanfaatkan atap bangunan di kawasan urban village. Awalnya mereka menghadapi tantangan regulasi dan penolakan dari pemerintah lokal, tetapi setelah melalui dialog dan pembuktian teknis, praktik ini kemudian diadopsi ke dalam kebijakan Sponge City dan pedoman green roof kota. Hal ini menunjukkan bagaimana proyek kecil dapat memengaruhi kebijakan kota.

  • Shanghai – Community Garden Berbasis Lingkungan Permukiman

Kebun komunitas di Shanghai dimulai tahun 2016 di lahan sempit dekat kawasan universitas. Dalam penyelenggaraannya mereka mengintegrasikan antara pertanian kota, pendidikan anak, pengelolaan sampah, dan ruang sosial. Kebun komunitas ini menjadi populer secara nasional, yang memicu replikasi kebun komunitas di berbagai kota. Meskipun demikian, saat ini mereka mengalami tantangan utama terkait keberlanjutan pengelolaan dan ketergantungan pada aktor kunci.

  • Nanning – Rooftop Garden Berbasis Kepercayaan Komunitas

Kebun komunitas di Nanning berawal dari program pengelolaan sampah lokal, yang kemudian berkembang menjadi kebun komunitas di atap balai warga. Kebun komunitas ini berfokus pada pembangunan kapasitas warga dan kemandirian komunitas. Dalam perjalanannya, organisasi penggagas akan mundur secara bertahap dan menyerahkan pengelolaan kepada warga.

rumah-kail-4-2

Miqdad Fadhil Muhammad (Moderator) dan Linjun Xie (Narasumber) dalam Workshop Seeds of Change. 

Sumber foto: Dokumentasi Penulis

 

Linjun menegaskan bahwa kebun komunitas bukan sekadar tempat untuk memproduksi pangan, tetapi juga sebagai media edukasi, perubahan pola pikir, ruang membangun jejaring sosial/kepercayaan, serta “laboratorium hidup (living lab)” untuk praktik keberlanjutan, yang pada akhirnya mendukung ekosistem pangan lokal. Dalam kerangka pangan lokal, Linjun menempatkan krisis pangan perkotaan sebagai gejala sistemik urbanisasi, di mana relasi warga kota dengan pangan makin jauh, sementara kebijakan sering terjebak pada solusi infrastruktur yang tidak menyentuh akar. Kebun komunitas dapat menjadi media pemulihan relasi dan tempat membangun pengetahuan, kebiasaan, dan kapasitas kolektif, serta sarana untuk membuka peluang perubahan yang dapat direplikasi dan diadopsi lebih luas. Linjun menyimpulkan bahwa kebun komunitas dan urban farming adalah seeds of change, yaitu inisiatif kecil yang memiliki dampak sosial, ekologis, dan kultural yang luas. Meski menghadapi keterbatasan lahan, kebijakan, dan sumber daya, mereka akan dapat bertahan dan berkembang, karena kekuatan utamanya terletak pada komunitas, jaringan, dan proses belajar kolektif.

Dalam sesi tanya jawab, para peserta dengan antusias mengajukan berbagai pertanyaan dan tanggapan terkait sharing Linjun. Salah satu peserta menceritakan tentang kelelahan dan stagnasi yang dialami ketika menjalankan sebuah inisiatif komunitas berkebun, sekaligus bertanya bagaimana menjaga keberlanjutan ketika energi para penggerak mulai menurun. Menanggapi hal ini, Linjun menegaskan bahwa merupakan bagian alami dari proses belajar, bukan kegagalan; oleh karena itu, inisiatif perlu dirancang agar dapat dilanjutkan oleh komunitas, bahkan ketika peran penggerak utama berkurang. Terkait pertanyaan tentang keterbatasan lahan dan posisi kelompok rentan, Linjun menjelaskan bahwa akses lahan di China dan Indonesia sangat bergantung pada relasi, kepercayaan, serta kreativitas memanfaatkan ruang-ruang sementara seperti atap bangunan atau lahan kosong bekas pabrik. Linjun menekankan bahwa keberlanjutan komunitas tidak harus selalu menunggu kepastian aset lahan. Pertanyaan lain yang muncul adalah mengenai tekanan dari pemerintah yang sering menuntut hasil yang cepat dan terukur. Menanggapi pertanyaan ini, Linjun mengajak peserta melihat pemerintah sebagai kumpulan individu dengan keterbatasan, juga pentingnya untuk memiliki champion di jajaran birokrasi yang dapat membantu mereka dalam memengaruhi kebijakan pemerintah. Selain itu juga komunitas perlu menunjukkan bukti kongkrit berupa praktik kecil, yang diharapkan dapat memengaruhi keyakinan pemerintah untuk membuat kebijakan yang tepat. Dalam merespons pertanyaan tentang optimisme dan pesimisme, Linjun menyampaikan bahwa rasa pesimis sangat wajar dalam menghadapi krisis ekologis saat ini, namun ia memilih untuk tetap melakukan bagiannya sesuai dengan perannya di dunia pendidikan, demikian juga harapannya bagi orang-orang yang bekerja atau beraktivitas di bidangnya masing-masing. Bagi Linjun, inisiatif kecil seperti komunitas kebun adalah benih perubahan (seeds of change) jangka panjang yang menumbuhkan harapan, relasi sosial, dan pembelajaran yang berkelanjutan, meski hasilnya tidak selalu langsung terlihat.

rumah-kail-5

Suasana Workshop Seeds of Change di Rumah KAIL

Sumber Foto: Dokumentasi Penulis

 

Setelah selesai sharing, peserta kembali turun ke lantai bawah Rumah KAIL untuk makan siang bersama. Menu makan siang adalah tumpeng nasi merah ditambah lauk berupa perkedel, telur rebus, pindang, dan urap sayuran. Seluruh makanan yang disediakan di Rumah KAIL adalah makanan yang diolah oleh tim konsumsi KAIL dengan menggunakan bahan-bahan dari hasil panen Kebun KAIL, makanan yang dihasilkan oleh tetangga, dan bahan makanan yang dibeli di warung-warung lokal sekitar Rumah KAIL. 

rumah-kail-6

Hidangan Makan Siang di kegiatan Seeds of Change: tumpeng nasi merah, urap sayuran dari Kebun KAIL dan lauk pauk buatan tetangga

Sumber foto: Dokumentasi Editor

 

Seusai makan siang, acara ditutup dengan berfoto bersama di labirin, lalu saling berpamitan untuk berpisah. Sebagian peserta pulang ke tempat masing-masing, tetapi ada juga yang masih tinggal untuk berdiskusi satu sama lain terkait banyak hal. Semoga acara sharing Seeds of Change ini dapat menjadi inspirasi bagi semua peserta bahwa benih perubahan selalu mungkin untuk tumbuh dan berkembang. Semoga pertemuan ini dapat menyatukan inspirasi, pembelajaran, dan mendorong peserta untuk berjejaring, juga pulang dengan optimisme yang realistis: langkah kecil yang konsisten dapat menjadi benih perubahan yang nyata.

rumah-kail-7

Penulis (paling kiri) bersama Linjun Xie dan Para Peserta Workshop

Sumber foto: Dokumentasi Editor

Agustein Okamita

Agustein Okamita adalah ibu rumah tangga dengan dua anak. Bergabung dengan KAIL sebagai relawan pada tahun 2013, dan saat ini menjadi salah seorang staf KAIL.

Leave a Reply

Your email address will not be published.