[Rumah KAIL] Berdamai dengan Tetangga : Suka Duka Pengelolaan Kebun KAIL

[Rumah KAIL] Berdamai dengan Tetangga : Suka Duka Pengelolaan Kebun KAIL

Salah satu kegiatan yang dikembangkan KAIL adalah Kebun KAIL. Kebun ini terletak di Kampung Cigarukgak di atas lahan seluas 2000 meter persegi. Di dalam lahan tersebut juga terdapat Rumah KAIL. Saat lahan ini dibeli, kebun ini berada di antara kebun-kebun yang lain milik warga sekitar. Namun saat ini Kebun KAIL mungkin merupakan salah satu dari sedikit ruang hijau yang tersisa di kampung ini. Kebun-kebun sisanya, sebagian besar sudah berubah menjadi rumah.

Sebagai salah satu ruang hijau yang tersisa, kebun ini memiliki banyak fungsi. Sebagian dari fungsi tersebut memang ada dalam rancangan kami. Fungsi-fungsi yang diinginkan di antaranya adalah: (1) sebagai sumber pangan dan obat-obatan, (2) sumber kayu dan biomassa lainnya, (3) konservasi keanekaragaman hayati, (4) model ekosistem kebun yang lestari, (5) ruang belajar praktek pola hidup berkelanjutan, serta (6) ruang bermain dan belajar untuk anak-anak. Fungsi-fungsi tersebut sudah berjalan, tetapi belum sepenuhnya tercapai seperti yang diinginkan.

rumah-kail1
Kebun KAIL – tempat anak-anak belajar berkebun (Foto: Dokumentasi KAIL)

Di luar fungsi-fungsi yang disebutkan di atas, ternyata ada dampak-dampak yang tidak diinginkan dari fungsi-fungsi tersebut yang baru kami sadari setelahnya. Sebagai contoh, fungsi sebagai ruang bermain dan belajar untuk anak-anak sudah berjalan dengan baik. Banyak anak-anak datang ke Kebun KAIL untuk bermain layang-layang, lari-larian, memanjat pohon dan memetik buah-buahan, atau sekedar jalan-jalan dan berteduh di bawah pohon-pohon tersebut. Sayangnya, anak-anak tidak sekedar datang dan bermain, tetapi juga membawa makanan-makanan berkemasan dan sering meninggalkan kemasannya di Kebun KAIL. Hal ini cukup memusingkan. Setiap minggu, sampah yang dikumpulkan bisa mencapai satu karung sampah plastik. Hal ini cukup memberikan beban bagi pengelola KAIL. Ada waktu yang perlu dialokasikan untuk membersihkan kebun dari sampah-sampah plastik ini. Jika dibuang di halaman, cukup mudah menyapunya, tetapi kalau diselipkan atau disembunyikan di dalam bed, tentu lebih sulit menanganinya.

Sebetulnya cukup banyak upaya telah dilakukan untuk mengatasi hal ini. Salah satu caranya lewat pesan-pesan dan materi-materi yang disampaikan dalam Program Hari Belajar Anak. Di kelas-kelas HBA, cukup sering anak-anak mendapatkan materi mengenai makanan sehat dan seputar pengelolaan sampah. Sayangnya materi-materi tersebut belum cukup melekat di benak anak-anak. Apalagi di seberang jalan Rumah KAIL terdapat dua warung dan menjadi tempat mangkal para penjaja makanan dalam kemasan plastik yang murah meriah. Sebetulnya kedua warung tersebut sudah menerima kembali sebagian kemasan plastik yang dapat mereka jual kembali. Sayangnya belum semua orang melakukannya dan memilih membuangnya di Kebun KAIL dan juga di tempat-tempat lain di Kampung tersebut.

Contoh persoalan kedua yang terjadi adalah kedatangan ayam-ayam dan binatang peliharaan para tetangga di Kebun KAIL. Ada kucing, anjing dan kadang-kadang kelinci. Sebagai contoh, kehadiran ayam. Sebetulnya kami suka dengan ayam. Masalahnya, ayam-ayam ini suka sekali mengais-ngais tanah di kebun untuk mencari cacing. Ayam-ayam itu juga melalui teras dan membuang hajat di sana. Jadi kami perlu mengeluarkan usaha ekstra untuk membersihkan teras dari kotoran ayam, dan juga merapikan kembali bed-bed yang berantakan, khususnya untuk semaian-semaian yang baru kami tanami.

rumah-kail2-2
Ayam-ayam tetangga yang datang ke Kebun KAIL (Foto: Dokumentasi KAIL)

Ada masa-masa di mana kami melakukan upaya keras untuk mengusir ayam-ayam tersebut. Tetapi masalahnya ayam-ayam tersebut sepertinya akan selalu kembali lagi. Kadang-kadang jumlahnya makin banyak karena ia beranak pinak. Mungkin karena di tempat pemiliknya tidak ada ruang mencari makan yang cukup menarik seperti di Kebun KAIL. Kami telah mencoba beberapa upaya untuk menyelesaikan persoalan ayam ini. Pertama-tama kami perlu mengidentifikasi pemiliknya dan berdialog dengan mereka. Masalahnya para pemilik ayam ini tampaknya tidak mengakui bahwa ayam-ayam tersebut adalah ayam mereka. Mereka saling melemparkan kepemilikan ayam tersebut kepada yang lain. Akhirnya pada satu saat di mana penanggung jawab Kebun KAIL mengatakan kepada mereka satu persatu bahwa, apabila ayam itu bukan milik mereka atau tidak ada yang punya ,maka KAIL akan memotong ayam itu dan memasaknya. Nah, setelah itu  ayam-ayam tersebut menghilang tiba-tiba dan Kebun KAIL menjadi sunyi tanpa suara ayam dan tidak ada lagi ayam yang berkeliaran. Masalahnya, ketika penanggung jawab kebun itu tidak lagi bekerja di Kebun KAIL, ayam-ayam itu kembali lagi dan dalam jumlah yang lebih banyak.

Contoh ketiga adalah sebagai berikut. Untuk membangun modal sosial antara KAIL dan warga sekitar, kami sengaja membuat Rumah dan Kebun KAIL tidak berpagar. Maksudnya agar warga tahu bahwa Rumah KAIL terbuka menerima mereka dan mendukung mereka. Kami ingin mereka bisa mengakses Kebun KAIL dengan mudah, misalnya untuk mencari tanaman obat, bibit, bumbu-bumbu atau tanaman lain yang mereka butuhkan. Masalahnya pemanfaatannya menjadi jauh lebih banyak dari itu, termasuk di antaranya menjadi jalan pintas dari jalan raya ke rumah mereka. Masalahnya jalan pintas tersebut seringkali melalui bed-bed yang semula ditanami dengan berbagai macam tanaman. Tanaman-tanaman tersebut jadi terinjak-injak dan mati. Jadi di tengah bed, ada zona semacam jalan setapak. Ini juga cukup sulit untuk diatasi karena kami tidak bisa dan tidak ingin mengontrol siapapun yang lewat sepanjang waktu. Paling yang dilakukan adalah membuat pagar sementara atau pagar tanaman di sebagian wilayah-wilayah yang rentan dilalui tersebut. Di beberapa bagian ada yang berhasil, ada yang tidak berhasil. Penyebabnya adalah kecepatan tumbuh tanaman-tanaman tersebut lebih lambat sehingga keburu mati lagi terinjak-injak.

rumah-kail3-2
Ganyong – salah satu koleksi umbi di Kebun KAIL Selalu dicari warga untuk sebagai satlah salah satu syarat upacara kehamilan (Foto: Dokumentasi KAIL)

Salah satu hal yang kami hindari dalam urusan dengan warga adalah konflik yang tidak diperlukan. Belajar dari pengalaman bahwa konflik akan menimbulkan masalah-masalah baru yang seringkali bergeser dari isu semula dan penanganan paska konfliknya bisa jadi jauh lebih rumit dari persoalan awalnya. Untuk itu kami memutuskan untuk memperpanjang urat kesabaran dan mempelajari apa yang terjadi dengan lebih seksama, sebelum mengambil tindakan-tindakan untuk penanganannya. Beberapa prinsip yang diterapkan di dalam penanganan masalah-masalah di atas di antaranya adalah: 1) menguntungkan semua pihak, 2) dilaksanakan dengan damai, 3) diantisipasi dengan langkah-langkah preventif, dan 4) biaya murah. Menemukan solusi yang memenuhi keempat kriteria tersebut tidak mudah. Sampai sekarang, kami masih terus mencarinya.

Sebagai contoh, untuk persoalan pertama, kami bekerja sama dengan pemulung yang mengambil sampah kemasan plastik dari Rumah KAIL setiap beberapa waktu. Kami juga memanfaatkan kemasan yang bisa digunakan sebagai wadah semaian. Sisanya yang tidak dapat digunakan kembali, terpaksa kami buang ke TPS. Selain itu kami terus menghimbau anak-anak yang bermain di Rumah KAIL agar tidak membuang sampahnya sembarangan dan memperkenalkan mereka dengan makanan-makanan sehat yang tidak bersampah.

Untuk kasus ayam, kami menyelesaikannya dengan menyesuaikan desain kebun dengan meminimalkan penanaman tanaman-tanaman yang rentan rusak karena ayam. Meskipun untuk hal ini, kami mengorbankan kesempatan penanaman tanaman-tanaman semusim yang dibutuhkan untuk konsumsi berbagai kegiatan di Rumah KAIL. Namun tidak terlalu masalah di masa covid 19 ini, ketika lebih sedikit orang datang ke Rumah KAIL, produksi tanaman pangan semusim, seperti sayur-sayuran tidak terlalu banyak dibutuhkan. Jadi kami memfokuskan energi untuk penanaman tanaman-tanaman jangka panjang yang bibitnya melimpah dan mudah didapat. Jadi kalaupun dirusak oleh ayam, cukup mudah untuk mengganti dan memperbaikinya. Setidaknya kotoran-kotoran ayam yang jatuh ke Kebun akan meningkatkan kesuburan Kebun Kail dalam jangka panjang.

Mengenai jalan setapak di tengah bed, apabila pagar tanaman tidak memungkinkan, kami menyelesaikannya dengan merancang ulang bed-bed tersebut sehingga tetap bagus meskipun ada jalan setapak di antaranya. Atau pasrah untuk sementara waktu sampai ditemukan tanaman yang tepat.

Begitulah proses yang kami lalui dalam pengelolaan Kebun KAIL. Sementara ini status kerukunan dengan warga masih cukup baik. Mereka kerap mengirimkan sisa sayuran ke Kebun KAIL untuk makanan marmut dan menjadi kompos di Kebun KAIL. Mereka juga kerap datang mencari pandan, bunga, rimpang, dedaunan, yang mereka butuhkan untuk obat, bumbu atau memenuhi permintaan ibu-ibu hamil yang ngidam sesuatu dari Kebun KAIL. Mungkin perlu waktu bagi kami dan mereka untuk saling memahami kepentingan dan tujuan masing-masing, dan setelahnya barulah kondisi sinergi bisa dicapai.

***

 

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Rumah KAIL] Mencari Kedamaian di Rumah KAIL

[Rumah KAIL] Mencari Kedamaian di Rumah KAIL

[Rumah Kail] Perjalanan Kail Mempraktekkan Kesadaran Akan Kemandirian

[Rumah Kail] Upaya Dan Tantangan Mewujudkan Kemandirian Hidup Melalui Rumah Kail

[Rumah Kail] Belajar Mandiri di Rumah dan Kebun Kail

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors