[Rumah KAIL] Membangun Kedaulatan Pangan lewat Rumah dan Kebun KAIL

[Rumah KAIL] Membangun Kedaulatan Pangan lewat Rumah dan Kebun KAIL

Saat ini, kita berada di masa ketika pangan hanya hadir sebagai hasil akhir: tersaji di meja, dibeli dengan uang, dikonsumsi tanpa banyak pertanyaan. Bahkan, beragam jenis makanan bisa tersaji hanya dengan mengetuk gawai. Di tengah kepraktisan tersebut, yang hilang justru prosesnya. Bersama dengan hilangnya proses itu, hilang pula relasi kita dengan tanah, petani, tukang masak, dan sesama. Menyadari hal ini membuat saya gelisah dan mencari makna yang lebih luas dari Rumah dan Kebun KAIL.

Rumah dan Kebun KAIL bukan rumah dan kebun yang mapan. Rumah dan Kebun KAIL tumbuh bertahap, seiring dengan mereka yang terlibat di dalamnya. Ada tukang kayu, tukang tembok, arsitek, tukang kebun, staf KAIL, para relawan yang membantu bekerja, para tamu yang mampir, para tetangga yang mencari bumbu dan tanaman obat, serta anak-anak yang berlarian di parkiran setelah memetik markisa. Mereka semua turut membentuk Rumah dan Kebun KAIL. 

Di Rumah dan Kebun KAIL, isu pangan tidak berhenti sebagai bahan diskusi, tetapi dijalani dalam praktik sehari-hari. Di sini, pangan tidak dibicarakan dari kejauhan, melainkan disemai, ditanam, disentuh, diolah, dimasak, dibagikan, dan dimakan. Sisanya dijadikan kompos untuk menyuburkan tanah yang memproduksi pangan untuk dikonsumsi dalam kegiatan-kegiatan di Rumah KAIL. Kalau ini dapat terus berlanjut, maka terjadilah kedaulatan pangan di Rumah dan Kebun KAIL.

Tidak seperti di luar sana, di mana kedaulatan pangan terdengar besar, berat dan sulit; di Rumah dan Kebun KAIL, kedaulatan pangan justru dipahami lewat hal-hal kecil. Dari mana bahan makanan berasal, siapa yang menanamnya, bagaimana cara merawatnya? Apa konsekuensi dari pilihan-pilihan konsumsi pangan kita? Seberapa banyak kita dapat memproduksi pangan kita sendiri? Seberapa jauh benih-benih dapat kita hasilkan sendiri? Berapa persen dari yang kita makan, kita hasilkan di kebun kita sendiri? Itulah pertanyaan-pertanyaan sederhana seputar kedaulatan pangan kita.

Kita mau makan apa dan kapan adalah sebuah proses panjang. Di Rumah KAIL, kalau kita mau makan sayur bayam pada satu waktu, maka sebulan sebelumnya, benih-benih bayam super kecil perlu disemai di Kebun KAIL. Jika tidak ada halangan, maka sekitar dua puluh lima hari kemudian, kita bisa panen bayam-bayam tersebut dan mengolahnya menjadi sayur bening bayam atau keripik bayam. Begitu juga ginseng, sawi, markisa, pepaya dan puluhan jenis tanaman pangan lain yang ada di Kebun KAIL. Semua tumbuh dan dipanen sesuai dengan masanya.

rumah-kail1-2

Anak-anak Kampung Cigarukgak memasak keripik bayam dari Kebun KAIL

 

Kedaulatan pangan adalah sebuah proses. Ia menuntut kerja-kerja sistematis, mulai dari perencanaan sampai eksekusinya. Untuk dapat melakukan kerja itu, kita perlu memiliki sejumlah pengetahuan tentang jenis dan karakteristik tanaman, jangka waktu penanamannya, jenis tanah yang dibutuhkan agar dapat tumbuh baik dan berbagai hal lain yang secara umum disebut sebagai pengetahuan tentang ekosistem pertanian. Kualitas ekosistem pertanian ini ikut menentukan seberapa sulit kita mencapai kedaulatan pangan. Untuk mengembangkan ekosistem pertanian tersebut, kita perlu banyak belajar. Proses belajar itu tidak selalu mulus. Tidak hanya teori tapi juga praktik. Prosesnya menuntut waktu dan kesabaran. 

Saya semakin menyadari bahwa membangun kedaulatan pangan adalah sebuah kerja perawatan. Ia melelahkan, berulang, sering tak terlihat, dan kadang membosankan. Ada kerja menanam, merawat, menyimpan, mengolah, dan memastikan semua orang bisa makan bersama. Di Rumah KAIL, kerja-kerja ini tidak dipisahkan dari kerja membangun gerakan. Justru dari sinilah saya memahami bahwa merawat pangan berarti juga merawat tubuh, relasi, dan keberlanjutan gerakan itu sendiri. Di dalam kerja-kerja perawatan tersebut ada kepedulian dan keberpihakan. Pada tanah. Pada tanaman. Pada orang-orang yang mengonsumsi pangan tersebut. Pada keseimbangan ekosistem. Ini adalah sebuah posisi politik, yang berpihak pada keberlanjutan kehidupan itu sendiri.  

Bagi para aktivis, Rumah dan Kebun KAIL mungkin terasa seperti sebuah ruang yang biasa. Ruang ini seperti rumah nenek kita di kampung dengan makanan rumahan yang sederhana. Rumah dan Kebun KAIL belum pernah menghasilkan rekomendasi kebijakan, kertas posisi, atau pernyataan sikap. Meskipun demikian, Rumah dan Kebun KAIL menyediakan sesuatu yang tak kalah penting: ruang untuk merawat, sebuah alasan penting untuk memperjuangkan isu pangan. Sebuah ruang untuk pulang, sebuah ruang di mana kita merasa aman menjadi diri sendiri. 

rumah-kail2-3

Makan siang di Rumah KAIL – sederhana tapi sehat

 

Dalam hiruk pikuk gerakan membangun kedaulatan pangan, target-target advokasi dan tuntutan output menjadi fokus perjuangan para pihak. Di antara keramaian itu, Rumah dan Kebun KAIL mengingatkan bahwa gerakan tersebut membutuhkan ruang perawatan, bagi tubuh, relasi, dan harapan. Untuk memperkuat gerakan, sangat penting bagi kita semua untuk tetap sehat, yang antara lain dirawat dengan mengonsumsi pangan yang sehat pula. Untuk memperkuat gerakan, penting bagi kita untuk memiliki relasi yang baik dengan orang-orang yang kita cintai dan dengan alam, yang menjadi sumber kehidupan kita. 

Di tengah krisis iklim dan ketidakpastian sistem pangan global, Rumah dan Kebun KAIL tidak menawarkan solusi besar atau sebaliknya solusi instan. Rumah dan Kebun KAIL justru mengajak kita kembali ke skala perubahan yang bisa disentuh: rumah, komunitas, dan praktik sehari-hari. Dari sana, kedaulatan pangan mungkin tumbuh pelan, tidak selalu terlihat, tetapi berakar dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan semoga, dari ruang-ruang kecil inilah kerja besar membangun kedaulatan pangan itu bisa terus dijaga agar tetap hidup dan kemudian menyebar ke segala penjuru.

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Rumah KAIL] Seeds of Change – Berbagi Cerita Tentang Komunitas Kebun Kota di China dan Indonesia

[Rumah KAIL] Seeds of Change – Berbagi Cerita Tentang Komunitas Kebun Kota di China dan Indonesia

[Rumah KAIL] Memperkuat Generasi Pangan Lokal yang Adil dan Lestari

[Rumah KAIL] Memperkuat Generasi Pangan Lokal yang Adil dan Lestari

[Rumah KAIL} Seri Refleksi Pangan di Rumah KAIL

[Rumah KAIL} Seri Refleksi Pangan di Rumah KAIL

[Rumah KAIL] Pertanian Regeneratif di Kebun KAIL

[Rumah KAIL] Pertanian Regeneratif di Kebun KAIL

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 3
Total Visitors: 94833

Visitors are unique visitors