[Jalan-jalan] Jalan-jalan ke Kebon Hiris
Pada tanggal 23-24 Maret 2024, Mbak Mia Siscawati dari Kebon Hiris mengundang Seni Tani untuk datang ke kebun yang dikelola bersama keluarganya di Bogor, Jawa Barat. Kami menginap selama dua hari di Wisma BPI yang terletak tidak jauh dari Kebon Hiris tersebut. Selain sebagai pengelola Kebon Hiris, Mbak Mia juga berprofesi sebagai dosen di Prodi S2 Kajian Gender – Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia, di Jakarta.
Para peserta kunjungan kali ini terdiri dari teman-teman KAIL dan teman-teman dari SENI TANI. Kami bersama-sama naik mobil dari Bandung ke Bogor. Waktu itu bulan puasa. Jadi kami berangkat dari Bandung setelah sahur. Setibanya di Kebon Hiris, Mbak Mia mengajak kami berkeliling. Ia menceritakan sejarah Kebon Hiris dan informasi tentang berbagai tanaman yang ada di sana, cara mendapatkannya, serta pemanfaatannya. Kami membahas banyak topik terkait jenis-jenis tanaman serta tantangan dalam mengembangkan kebun pangan berkelanjutan.
Di Kebon Hiris ada beragam jenis tanaman. Ada berbagai jenis sayuran, tanaman obat, tanaman buah, bunga dan pohon. Ada juga kolam ikan dan miniatur sawah berisi genjer. Yang paling menarik perhatian teman-teman adalah pisang seribu yang setelah dihitung dengan seksama dengan menggunakan konsep limit oleh seorang alumni ITB dan seorang alumni UGM, jumlahnya ternyata malah lebih dari seribu buah! Jadi nama pisang ini sudah sesuai dengan kenyataannya. Dengan antusias kami berkeliling kebun dan mempelajari apa saja yang ada di sana.

Foto: Koleksi KAIL
Setelah puas berkeliling Kebon Hiris, kami berjalan kaki ke Wisma BPI. Di sana kami duduk-duduk di ruang pertemuan yang nyaman untuk berdiskusi. Di ruang tersebut, kami membahas berbagai hal seputar gender, disabilitas dan inklusi sosial (GEDSI) bersama dengan Mbak Mia, diikuti dengan sesi refleksi pada pagi hari berikutnya. Kami belajar bersama dan saling berbagi cerita. Dalam sesi ini Mbak Mia memperkenalkan konsep-konsep dasar dengan metode yang partisipatif. Diskusi dikembangkan berangkat dari pengalaman kami masing-masing, dan kemudian ditarik ke fenomena yang lebih makro. Sesi diadakan pada siang dan malam hari pada hari pertama. Meskipun bulan puasa, para peserta berusaha mengikuti kegiatan dengan sebaik-baiknya. Ada waktu-waktu di mana udara terasa sangat panas sehingga energi kami terasa drop. Jadi kami mengambil waktu untuk istirahat dulu. Setelah berbuka puasa, kami melanjutkan kembali diskusi tersebut sampai malam hari.

Kami menutup sesi dengan mengunjungi Kebon Hiris lagi dan melakukan diskusi penutup di sana. Diskusi penutup membahas tidak hanya soal pertanian dan kebun, tetapi juga soal tips-tips studi lanjut di luar negeri karena Mbak Mia dan Kang Asep, suaminya, pernah bertahun-tahun tinggal di Amerika Serikat untuk menempuh studi paska sarjana sampai keduanya meraih gelar S3. Teman-teman dari Seni Tani sangat tertarik untuk mendengarkan cerita tersebut, karena mereka juga memiliki rencana untuk melanjutkan studi di luar negeri.
Setelah selesai berdiskusi kami bersiap-siap pulang. Kami pulang dengan membawa oleh-oleh berupa hasil panen dari Kebon Hiris, seperti pisang, singkong dan pohon pisang. Mobil kami sampai penuh dengan oleh-oleh. Di antara bibit pisang tersebut adalah bibit pisang seribu. Bibit tersebut akan kami tanam di Kebun KAIL dan di kebun Seni Tani. Semoga pohon-pohon tersebut bisa tumbuh dengan subur.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, teman-teman Seni Tani mengadakan pengumpulan donasi pangan berupa sayur segar untuk teman-teman disabilitas di Kota Bandung. Mereka sungguh berharap agar pangan yang sehat dapat diakses oleh semua orang, termasuk para penyandang disabilitas. Banyak sekali yang kami pelajari dalam kunjungan yang singkat ini. Semoga bermanfaat bagi para peserta. Terima kasih Kebon Hiris!


No Comment