[Jalan-jalan] Membangun Kesetaraan Gender di Masyarakat Sumba

[Jalan-jalan] Membangun Kesetaraan Gender di Masyarakat Sumba

Suatu siang di 20 September 2015, terik matahari menyinari gubuk-gubuk pembuatan garam di pantai Desa Pamalala, Waingapu, Sumba Timur. Panasnya membuat kami keringat. Kami berjalan mengikuti beberapa ibu pembuat garam. Kami mengikutinya masuk ke sebuah gubuk. Semilir angin pantai sedikit menyejukkan kami yang kepanasan. Di gubuk itu terdapat tungku untuk memasak garam dan sejumlah peralatan lainnya. Trouce Landukara (Ibu Oce), Ketua Yayasan Peduli Kasih (Sandika), LSM pendamping kelompok ibu-ibu pembuat garam menerangkan kepada kami proses pembuatan garam. Ternyata panjang juga prosesnya, dari sejak air laut sampai menjadi garam yang putih bersih. Kami bergantian mencicipinya. Rasanya asin. Jadi betul, itu memang garam.

 

1-6
Rumah Garam di Pamalala, Sumba Timur (Sumber: Dokumentasi KAIL)

 

Setelah berkeliling tempat pembuatan garam, kami berjalan ke sebuah saung. Di sana, kami semua berkumpul. Ibu Oce memperkenalkan kami semua dan menjelaskan maksud kedatangan kami. Intan, fasilitator gender dari KAIL, dan Chusana, konsultan gender dari Hivos, memandu para peserta untuk menggambar sebuah pohon. Di gambar pohon itulah para peserta memetakan pekerjaan pembuatan garam, mana yang pekerjaan laki-laki dan mana yang pekerjaan perempuan. Setelah menggambar, mereka diajak untuk menganalisis apakah pohonnya sudah seimbang atau masih timpang. Jika pohonnya timpang, maka peserta diajak untuk melihat bersama, adakah bagian pohon yang ingin mereka ubah untuk membuat pohon tersebut menjadi lebih seimbang.

 

kesetaraan-gender-2
Para petani garam mendiskusikan gambar mereka. (Sumber: dokumentasi KAIL)

 

Proses yang dilakukan di atas adalah bagian dari GALS (Gender Action Learning System). Proses ini diperkenalkan oleh HIVOS untuk membangun kesetaraan gender di dalam masyarakat. Di Sumba mereka bekerja dalam payung proyek Sumba Iconic Island. Melalui GALS ini, para peserta diajak untuk melihat (1) pembagian peran di rumah tangga, (2) proses pengambilan keputusan yang terjadi di rumah tangga mereka, dan (3) bagaimana pembagian kepemilikan atas aset yang ada di rumah tangga mereka. Proses ini tidak hanya dilakukan oleh para fasilitator HIVOS, tetapi oleh para pendamping yang telah dikader secara khusus untuk memfasilitasi proses ini.

Sebagai contoh, para pendamping Sandika telah memfasilitasi proses di desa-desa dampingan mereka sejak tahun 2015. Salah satu contohnya adalah pelatihan pengarusutamaan gender  yang diselenggarakan pada tanggal 16 Januari 2015 di Sekretariat KWT Serba Guna Pamalala, Sumba Timur. Pelatihan ini bertujuan untuk mengidentifikasi pembagian peran antara suami dan istri di dalam proses pembuatan garam.

 

Kegiatan ini diikuti oleh para anggota kelompok perempuan petani garam Serba Guna dampingan Sandika di Pamalala. Tujuan pelatihan ini adalah untuk mengidentifikasi proses yang selama ini sudah dilakukan, sampai sejauh mana peran yang dilakukan oleh suami dan istri dalam mendukung kegiatan memasak garam. Melalui pelatihan ini diharapkan dapat disimpulkan mengenai siapakah yang memiliki peran yang lebih dominan antara perempuan dan laki-laki, dan dalam proses apa saja mereka lebih berperan. Dari temuan tersebut, mereka meninjau kembali pembagian peran tersebut dan membuat kesepakatan baru tentang pembagian peran yang dianggap lebih adil bagi keduanya.

 

kesetaraan-gender-3
Ibu Mariana Kahi Leba, Sekretaris KWT Serba Guna menunjukkan gambar pembagian perannya. (Sumber: dokumentasi Sandika)

 

Proses yang berlangsung dalam pelatihan tersebut cukup ramai. Mama-mama dengan penuh semangat menggambar peralatan pembuatan garam yang mereka gunakan selama ini. Mereka saling mengintip dan membandingkan gambarnya dengan peserta yang lain. Ada juga yang dibantu oleh para pendamping dari Sandika. Lewat proses ini mereka merefleksikan kembali, kondisi kerja yang mereka jalani sehari-hari. Mereka kemudian mendiskusikannya dengan suami mereka dan menghasilkan kesepakatan-kesepakatan baru tentang pembagian kerja yang lebih adil.

 

Di banyak lokasi, HIVOS dan para mitra lembaga lokal mengganti prosesnya, tidak hanya melibatkan perempuan, tetapi juga perempuan dan laki-laki. Jadi mereka bisa langsung berdiskusi mengenai kondisi yang terjadi dan menyepakati hal-hal yang perlu bersama-sama mereka ubah. Menurut Ibu Rita Kefi, konsultan gender HIVOS di Waingapu, proses bersama ini jauh lebih efektif. Hal yang sama juga disampaikan oleh Bapak Yulius Opang dari Lembaga Pelita Sumba dan Ibu Imelda Sulis dari Yayasan Sosial Donders.

 

kesetaraan-gender-4
Komitmen Anggota Kelompok Tenun Wali Ate, Sumba (Sumber: dokumentasi KAIL)

 

Lewat proses ini terjadilah perubahan-perubahan di masyarakat. Pertama, perubahan yang terkait dengan pembagian peran di dalam rumah tangga. Laki-laki mulai terlibat di dalam kerja-kerja yang semula hanya dilakukan oleh perempuan saja, seperti menjual sayur di pasar, terlibat dalam kegiatan tenun dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Sebaliknya perempuan juga mulai terlibat di dalam pekerjaan-pekerjaan yang semula terbatas menjadi peran laki-laki, seperti menjadi kader-kader pembangunan, ketua RT dan bahkan kepala desa.

 

Proses yang terjadi di Sumba ini adalah sebuah langkah pembaruan di masyarakat. Selain persoalan gender, masyarakat Sumba masih mengalami banyak persoalan ketimpangan lainnya. Itu merupakan PR panjang yang harus diselesaikan bersama-sama. Masih banyak tantangan yang dihadapi untuk mentransformasi Sumba menjadi masyarakat yang lebih setara. Semoga proses membangun kesetaraan gender ini membawa Sumba kepada kondisi masyarakat baru yang lebih setara dan berkeadilan.

 

 

 

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Jalan-jalan] Jalan-jalan di alam – sarana untuk memulihkan diri

[Jalan-jalan] Jalan-jalan di alam – sarana untuk memulihkan diri

[Jalan-jalan] Kampung Naga

[Jalan-jalan] Kampung Naga

[Jalan-jalan] Salam Damai dari Kami, Peacesantren Welas Asih

[Jalan-jalan] Salam Damai dari Kami, Peacesantren Welas Asih

[Jalan-Jalan] Jalan-Jalan Bersama Air

[Jalan-Jalan] Jalan-Jalan Bersama Air

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 5
Total Visitors: 3279

Visitors are unique visitors