[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

Setiap luka memerlukan pemulihan. Jika luka fisik saja memerlukan penanganan khusus agar tak merembet jadi infeksi, apalagi luka batin yang jika dibiarkan berlarut-larut bisa sampai meredupkan semangat hidup.

Menyembuhkan luka batin membutuhkan penanganan yang lebih personal. Prosesnya melibatkan dorongan serta motivasi kuat dari diri sendiri untuk bisa menyembuhkan diri sendiri (self-healing). Seberapa intens dan lamanya penyembuhan itu bisa bervariasi bagi setiap individu.

Saya berbincang dengan dua psikolog pengasuh situs ruangpeppermint.web.id dan Instagram @parasut.ide, yaitu Mia Marissa dan Dian Nirmala mengenai proses self-healing. Apa yang perlu diperhatikan dalam menjalani self-healing dan bagaimana kita perlu menyiapkan diri sebelum melakukannya?

Menyadari Luka itu Ada

Berbeda halnya dengan luka fisik yang bisa kita kenali langsung dengan indra peraba maupun penglihatan kita, luka batin bersifat tak kasat mata. Kadang, kita bahkan tak menyadarinya atau menyadari namun memilih mengabaikannya karena berbagai alasan.

Mia menjelaskan, luka batin berasal dari cedera atau trauma terhadap mental kita. Trauma itu bisa jadi sesuatu yang menimbulkan sakit hati, unfinished business maupun keresahan yang terus terbawa sepanjang perjalanan hidup, dan menciptakan ketidaknyamanan bagi pribadi yang membawanya.

Dian menambahkan, luka-luka batin juga dapat timbul karena terusiknya konsep diri seseorang. Ketika konsep diri terusik dan membuat seseorang merasa dirinya tak berharga, di situlah luka batin menguak.

“Mengapa perasaan tidak berharga ini muncul? Ini perlu ditelusuri. Mungkinkah di masa lalu ada peristiwa yang merusak rasa percaya dirinya?” ungkap Dian.

Kendati tatarannya ada di alam bawah sadar, namun luka batin akan “menampakkan” diri dari cara seseorang merespon suatu masalah atau peristiwa. Misalnya, muncul ledakan emosi ketika menghadapi masalah atau konflik dengan orang lain.

“Pertama-tama ada usaha dari diri kita untuk mau tahu. Memang tidak mudah bagi semua orang untuk bisa ngeh. Harus masuk ke level-level yang mendalam,” jelas Dian.

Kemauan dan kebutuhan untuk mendalami luka tersebut bisa saja tak muncul di setiap pribadi. Oleh karena itu, self-healing hanya akan berdampak bagi individu yang mau dan merasa perlu untuk mengenali atau mengidentifikasi luka batinnya.

“Biasanya orang yang punya kebutuhan itu merasakan ada luka batin, tapi tidak tahu penyebabnya apa. Misalnya, ada rasa cemas menghadapi figur tertentu.  Berusaha mengatasi itu, tapi kok nggak bisa-bisa. Muncul keresahan. Mungkin itu sebenarnya adalah sinyal dari diri kita, bahwa ada masalah. Dari situ, seseorang tergerak mencari tahu lebih jauh, ingin lebih tenang, lebih damai,” tutur Mia.

Dengan menyadari saja, lanjut Mia, sudah satu langkah ke penerimaan diri untuk memulihkan dan berdaya menjalani perannya. Tidak terseret sesuatu di bawah sadar, yang kemudian mencuat menjadi keresahan yang tidak tepat sasaran. Untuk bisa berdamai dengan diri sendiri yang menjadi tujuan dari self-healing, kita harus menerima (self-acceptance) dan memahami diri (self-understanding).

Mengenali Emosi yang Dirasakan

Ketika luka sudah disadari dan kita ingin berdamai dengan hal itu, maka kita harus siap menggali informasi dari diri sendiri. Menuliskan pikiran, perasaan dan pengalaman pribadi ke dalam jurnal adalah langkah awal untuk mengumpulkan informasi tersebut.

“Kita akan bisa menyembuhkan luka-luka ini sambil berproses memahami siapa diri kita. Apa yang membuat kita resah, digali lebih dalam lagi. Dengan siapa kita resah? Sumbernya apa? Hal ini bisa dikonkritkan lewat journaling,” ujar Dian.

Catatan di jurnal juga bisa menjadi semacam “monitor” pribadi untuk memantau bagaimana perubahan emosi kita. Sebuah sarana untuk mengambil jarak dari diri sendiri dan menjadi pengamat bagi diri sendiri.

Bicara mengenai emosi, Dian dan Mia mengingatkan bahwa identifikasi emosi juga perlu dilakukan dengan tepat agar kita bisa mengelolanya dengan tepat pula. Tak jarang, kita salah mengartikan emosi. Misalnya, kita beranggapan bahwa yang kita rasakan adalah marah, namun sebetulnya kita sedih. Padahal, mengatasi marah berbeda dengan mengatasi sedih.

memandu-diri
Roda Emosi – amazon.com

Dian menjelaskan, setiap emosi punya fungsi masing-masing. Misalnya, ketika merasa sedih, kita sebetulnya ingin orang lain membantu kita. Ketika marah, artinya ada sesuatu yang tidak aman bagi diri kita. Maka, ketika ada suatu pengalaman, cobalah menanyakan kepada diri sendiri: apakah emosi ini terjadi karena kita butuh bantuan atau ingin mempertahankan sesuatu di dalam diri?

Pada dasarnya, emosi terbagi dalam enam rupa, yaitu sedih, senang, kaget, takut, marah dan jijik. Dari keenam hal ini, masing-masing memiliki irisan lagi yang lebih spesifik. Untuk memandu mengidentifikasi emosi, kita dapat menggunakan Roda Emosi.

 

 

Menakar Kedalaman Luka

Mungkin saja ada banyak luka batin yang kita alami. Coba tanyakan kepada diri sendiri, dari luka-luka itu, mana yang ingin kita  hadapi dan pulihkan lebih dulu. Dian mengajak kita untuk menakar kedalaman luka tersebut berdasarkan seberapa besar luka tersebut berdampak pada diri sendiri.

“Setelah itu baru mulai mengidentifikasi apa yang terjadi, sambil melihat catatan pribadi kita.  Tapi kembali lagi, apakah orang itu punya minat, kesiapan serta kemampuan untuk merasakan dan menuliskan,” ujar Dian.

Penakaran kadar atau level luka ini, tambah Mia, juga berperan untuk membantu kita menentukan apakah self-healing ini bisa kita lakukan secara pribadi atau butuh pendampingan profesional.

Mengkondisikan Diri dan Situasi

Baik melakukan secara pribadi maupun dengan pendampingan profesional, Dian mengingatkan hal mendasar dalam self-healing adalah kejujuran. Jujur menuliskan atau mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh diri sendiri. Selain itu, yang juga tak kalah penting adalah kesiapan diri untuk membuka memori yang bisa jadi membuka luka lebih lebar.

“Mungkin akan memunculkan trauma dan emosi negatif. Tapi itu harus dihadapi. Kalau tahu itu sesuatu yang berat, sebaiknya kita jangan sedang pada situasi atau kondisi yang lemah. Carilah situasi dan lingkungan yang dirasakan aman dan nyaman,” terang Mia.

Menciptakan situasi yang kondusif ini bisa dengan berbagai cara. Misalnya, memilih tempat yang tenang, hening, atau dekat dengan alam. Ambil waktu khusus untuk melakukan self-healing. Jangan paksa melakukannya pada saat kita sedang berkutat dengan pekerjaan atau kesibukan lain, yang bisa menyita maupun mengalihkan perhatian dan pikiran.

“Suasana perlu diatur sedemikian rupa karena untuk self-healing kita perlu memusatkan perhatian kita secara psikologis dalam wadah yang rapi. Tergantung preferensi masing-masing. Misalnya, mau pakai musik instrumental atau soundtrack drakor. Set harus dibangun agar pikiran kita bisa tercurahkan dalam satu waktu itu,” Dian menjelaskan.

Mengutip Rumi, sang penyair sufi yang rangkaian kata-katanya kerap menginspirasi proses healing, “The wound is the place where the light enters you”. Sudah siapkah Anda membiarkan cahaya itu menuntun Anda memasuki relung-relung batin, menemukan luka dan memulihkannya?

Astri Bangun

Astri Bangun

Astri Kharina Bangun adalah seorang copywriter lepas yang sempat menggeluti profesi sebagai jurnalis dan praktisi humas. Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini memiliki ketertarikan pada beragam jenis film, namun baginya film dokumenter memiliki keistimewaan tersendiri karena memadukan aspek jurnalisme dan sinematografi dalam mengangkat isu-isu sosial di masyarakat.

Related Posts

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Kebunku Sekolahku

[Tips] Kebunku Sekolahku

[Tips] Berdamai dengan Alam

[Tips] Berdamai dengan Alam

[Tips]  Berdamai Dengan Dunia

[Tips] Berdamai Dengan Dunia

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 1
Total Visitors: 2140

Visitors are unique visitors