[Jalan-Jalan] Tradisi dan Filosofi Masayarakat Belu Tentang Kemandirian dan Self Awareness

Oleh: Eventus Ombri Kaho

Tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan daerah merupakan sebuah kekayaan hakiki yang dapat membentuk karakter dasar kehidupan manusia. Kebudayaan manusia mengandung berbagai  nilai luhur yang dapat menentukan eksistensi manusia itu sendiri. Melalui sebuah budaya, pribadi dan cara hidup manusia bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang arif, bijaksana, bermoral, dan bernilai. Dalam hal ini, boleh dikatakan bahwa kebudayaan dapat  melahirkan sekaligus menunjukkan harkat, derajat, dan martabat manusia sebagai pribadi  yang unik dan berbeda dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Identitas itulah yang menentukan siapa sebetulnya subyek tersebut. Identitas itu pun turut memengaruhi kemandirian dan selfawarenessdari pribadi tersebut misalnya dalam kebudayaan orang Timor yang menjunjung tinggi budaya persahabatan penyerahan diri kepada Yang Ilahi dalam dinamika hidup. Mereka mandiri dengan identitas itu, tanpa campur tangan atau doktrinisasi dari mana pun. Maka wajar jika ada klaim bahwa ini adalah suatu budaya yang original di dalam masyarakat Timor dan Belu pada umumnya.

Masyarakat Belu, menyadari relasi antara manusia dengan Rai Klaran, Rai Kukun dan Ama Maromak. Kesadaran tersebut membentuk perilaku mandiri yang tercermin dalam adat istiadat yang mereka jalani.
Orang Belu yang tinggal di pulau Timor memiliki budaya dan kepercayaan asli. Maka mereka selalu berusaha dan berjuang untuk menciptakan suatu kehidupan yang baik, sejahtera,dan bahagia dalam dinamika keharmonisan hidup. Hal ini tampak dalam penghayatan konsep Tri-relasi yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka. Konsep Tri-relasi itu yakni pertama, orang  Belu hingga saat ini sangat menjaga dan menjunjung tinggi relasi dengan sesamanya yang ada di sekitar mereka. Relasi ini terjadi di dunia nyata yang disebut mikrokosmos atau Rai Klaran.[1]Kedua, orang Belu menjalin relasi yang harmonis dengan alam semesta dan roh-roh nenek moyang yang diyakini ada dan mendiami dunia yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra manusia. Dunia ini dalam bahasaTetun Timor disebut  Rai Kukun.[2]Ketiga, mereka menjalin relasi dengan Wujud Tertinggi atau Ama Maromakyang berada di dunia sakral, jauh di atas lapisan langit ketujuh. Dunia ini disebut sebagai makrokosmos yang dalam Bahasa Tetun Timor disebut Lalean.[3]

Konsep tersebut dilatarbelakangi oleh sebuah filosofi kata Belu itu sendiri. Kata Belu berarti sahabat, teman, kawan. Masyakat suku Belu adalah sekelompok orang yang mendiami Kabupaten Belu yang merupakan sebuahkabupaten dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timor (NTT). Wilayah Kabupatan Belu ini terletak pada bagian tengah pulau Timor yang sekarang ini telah terpecah menjadi dua wilayah di bawah negara berbeda, yakni daerahTimor Barat, adalah wilayah negara Indonesia dan daerah Timor Timur, yang sekarang ini dikenal dengan sebutan Negara Timor Leste. Wilayah Belu tersebut hingga saat ini dibagi menjadi empat rumpun besar berdasarkan suku-suku yang memiliki kesamaan budaya dan tradisi–tradisi tertentu. Ada empat rumpun budaya terbesar yang mendiami pulau Timor yang menggunakan rumpun bahasa Tetun. Keempat rumpun besar itu sebenarnya dibagi berdasarkan bahasa daerah yang dimilikinya, yakni daerah yang berbahasa Tetun (Ema Fehan), berbahasa Bunak (Marae), berbahasa Kemak,  dan berbahasa Dawan (khususnya Dawan R Manulea). Meskipun di Belu terdapat empat bahasa daerah, namun bahasa Indonesia telah menjadi bahasa yang pemersatu yang digunakan dalam kehidupan sehari–hari. Bahasa Tetun merupakan bahasa universal yang dapat diterima dan digunakan oleh 90% penduduk di kabupaten Belu dan Malaka. Bahkan bahasa Tetun ini pun  digunakan juga oleh masyarakat di negara Timor Leste.Berkat bahasa Tetun inilah maka orang Belu dan Malaka dapat disebut sebagai Ema Tetun.

Allah, alam,dan manusia merupakan sebuah konsep budaya yang membuat kata “Belu itu kian utuh dan integral. Konsep Tri-relasi  dalam masyarakat Belu tersebut memiliki ruh yang dahsyatyang membuat masyarkat Belu selalu percaya bahwa tiga hal tersebut selalu ada di dalam kehidupan sehari hari. Konsep ini bisa diamati pada tungku untuk masak dan tempat untuk menyimpan sesajen atau dalam istilah orang Belu adalah  te’in tula.

Tradisi Hamis Batar pada masyarakat Belu


Kemanusiaan perlu dimurnikan dalam sebuah konsep budaya yang jelas. Ketika saya masih berumur delapan tahun, ibu saya selalu mengingatkan untuk memberikan sesuatu ke orang lain dalam jumlah tiga. Mungkinkah karena itu menyimbolkan tiga elemen itu? Atau karena konsep lain?Pencarian akan makna itu, muncul sebuah pertanyaan yang paling hakiki, yakni apakah saya sanggup untuk melebihi dua aspek lainnya? Konsep Tri-relasi direalisasikan dalam kehidupan kebudayaan. Salah satu tradisi yang setiap tahun dirayakan besar–besaran adalah tradisi hamis batar. Tradisi hamis bataradalah sebuah tradisi yang dilakukanketika jagung sudah mulai matang dan sebelum menjadi kering, yang harus dipersembahkan kepada para leluhur terlebih dahulu. Praktiknya adalah setiap kepala suku akan berkumpul untuk memutuskan tanggal dan hari yang tepat untuk merayakan tradisi keagamaanitu. Setelah diputuskan kapan akan dilaksanakan, maka langkah selanjutnya adalah membersihkan setiap rumah adat. Ketika tiba hari yang telah ditentukan oleh para kepala suku tersebut, maka setiap orang wajib membawa jagung muda yang layak untuk dipersembahkan kepada para leluhur dan Super Being. Jagung itu kemudian dimasak pakai sasanan  (periuk). Sasanan  yang dimaksudkan di sini adalah sasanan dari tanah liat alias wajan. Alasan utama untuk memakai wajan ini adalah karena masakannya jauh lebih gurih dan tidak ada bahan kimia. Alasan berikutnya ialah karena wajan selalu dibuat dari tanah liat dan tanah sebagai bagiandari kosmologi. Langkah selanjutnya ketika semua masyarakat sudah memasak dan mempersembahkan kepada para leluhur dan Super Being itu, maka saatnya jagung dipersembahkan di setiap kuburan (terutama untuk keluarga) dan setelah disimpan di kuburan,semua orang punya hak untuk mengambil jagung muda yang tadi dipersembahkan di kuburan tersebut. Jagung yang dipersembahkan masih dalam keadaan mentah. Setiap orang yang sudah diinisiasi dalam ritual di rumah adat wajib mengikuti acara hamis batar. Karena proses inisiasi itu melibatkan para leluhur, maka perjanjian itu harus cara ini, maka mereka tidak boleh makan jagung muda selama masa di mana jagung masih muda.

Uma mane, rumah adat masyarakat Belu, tempat pelaksanaan tradisi Hamis Batar

Konsep ini membuat orang Belu pada umumnya menjadi pribadi–pribadi yang semakin tahu siapa identitas mereka. Ada dua aspek refleksi yang paling penting, yakni:
1.      Aspek personal-komunal

Apa yang dimaksud  dengan aspek personal? Maksud utama dari aspek personal-komunal tersebut adalah sikap untuk mempertahankan identitas kebudayaan di tengah arus modern yang semakin canggih sekaligus menghilangkan identitas siapa aku sebenarnya. Pluralitas membuat setiap individu semakin tidak percaya dengan budayanya, terutama identitas yang melekat pada dirinya. Dengan kata lain kemunduran atas pengakuan identitas itu semakin menghilangkan sebuah pengakuan akan identitas yang seharusnya sudah mandiri. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh masyarakat Belu. Kesadaran diri dan kemandirian menjadi sebuah pilar besar dari sebuah kebudayaan. Orang Belu punya kesadaran yakin dan percaya bahwa hidup mesti ada dasar yang kuat baik itu kemandirian, kesadaran diri, atau kepekaan. Aspek-aspek itu pada akhirnya akan menciptakan suatu kehamonisan dalam dinamika hidup. Dan itulah sesungguhnya hidup. Makna kemandirian bagi orang Belu adalah ketika identitas mereka melebur dalam keberagaman tanpa menghilangkan identitas mereka. Kesadaran diri bahwa identitas mereka unik dan berbeda dengan yang lain menjadi aspek untuk menciptakan sebuah relasi yang kemudian mereka sebut sebagai beluyang artinya sahabat.

2.      Aspek antropologis-relijius

Aspek antropologis dan relijius menjadi dua faktor yang juga penting di dalam kebudayaan orang Belu. Sudah seharusnya setiap kebudayaan memiliki dua aspek ini. Kesadaraan diri orang Belu akan kehadiran orang lain dan Super Being menjadi sangat penting di dalam dinamika kehidupan sehari-hari.  Kemandirian mereka sebagai subjek akhirnya tampak dalam perilaku mereka setiap saat. Sedangkan kesadaran diri yang tampak nyata adalah dalam kegiatan kebiasan relijius dan konsep yang dihayati, yakni bahwa kosmos adalah aku dan aku adalah kosmos. Maka kepemilikan kosmos adalah sebuah korelasi panjang yang saling menyatu.

Masyarakat Belu  kaya akan sebuah kebudayaan yang berlimpah makna filosofis. Semua aspek kehidupan selalu dikaitkan dengan aspek filosofis. Semua dapat dijelaskan dengan rasional. Bukankah itu kinerja dari filsafat? Orang Belu kini tidak lagi menjadi objek tapi menjadi subjek di dalam mempertontonkan kebudayaan yang kaya akan nilai antropologisnya sekaligus aspek relijiusnya. Refleksi yang mendalam ini membuat orang Belu menjadi human being yang memiliki perjuangan yang tak kunjung selesai. Mereka masih bisa bertahan dengan konsep tersebut walaupun dunia semakin modern, dan egoisme yang mulai merasuki kehidupan banyak orang.  . Orang Belu tetap menjadikan kata belu sebagai sebuah identitas untuk menjalin kerjasama yang baik, serta rasa perhatian terhadap sesama, lingkungan,dan  Super Being. Zaman modern menamai konsep ini sebagai kolaborasi.


[1] Rai Klaran  terdiri dari dua suku kata  Rai  yang artinya tanah dan Klaran  yang artinya tengah.  Rai Klaran  adalah sebutan untuk Bumi, tempat hidup dan dunia hidup manusia yang nyata. Di sebut sebagai Rai Klaran  karena memakai konsep “ langit-bumi- di bawah bumi “.
[2] Rai Kukun  kalua ditrejamahkan secara harafiah berarti suatu dunia yang gelap. Tetapi dalam konteks Bahasa kepercayaan asli orang Belu, Rai Kukun  dipahami sebagai dunia yang berbeda dengan dunia manusia. Dunia ini tidak diplihat dengan panca indra manusia.  Rai Kukun  diyakini sebai tempat berdiamnya makhluk-mahkluk halus seperti jin – jin,  dan roh – roh arwah nenek moyang yang telah meninggal dunia.
[3] Laean adalah suatu dunia yang melebihi  Rai Klaran  dan Rai Kukun. Lalean  adalah suatu dunia yang berada di atas sana dan dihuni oleh Wujud Tertinggi.

Eventus Ombri Kaho

Eventus Ombri Kaho

Eventus Ombri Kaho. Ia lahir pada tahun 1995 di sebuah desa kecil tepatnya di desa Alkani, kecamatan Wewiku kabupatan Belu-Nusa Tenggara Barat. Ia mengawali pendidikan Sekolah Dasar Katolik (SDK) di Hanemasin (2000 – 2007), kemudian lanjut ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 2 Malaka Barat (2007 – 2010). Ia menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA) Bina Karya Atambua (2010 – 2013). Pada tahun 2014 ia masuk di Universitas Katolik Parahyangan dengan mengambil jurusan Filsafat. Saat ini, ia menerjuni dunia pendidikan dan menjadi bagian dari staf pengajar SD Santa Ursula Bandung.

Related Posts

[Jalan-jalan] Salam Damai dari Kami, Peacesantren Welas Asih

[Jalan-jalan] Salam Damai dari Kami, Peacesantren Welas Asih

[Jalan-Jalan] Jalan-Jalan Bersama Air

[Jalan-Jalan] Jalan-Jalan Bersama Air

[Jalan-Jalan] Mengintip Kehidupan di Kebun Belakang

[Jalan-Jalan] Piknik Semalam Ke Baduy Dalam

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 3
Total Visitors: 851

Visitors are unique visitors