[Media] Menerawang Masa Depan Pertanian dari Struktur Ekonomi Politik Pangan dan Eksplorasi Ruang Kolaborasi
Penulis Naskah Asli: Topik Hidayat
Pada akhir bulan November 2024, KAIL mengadakan sesi diskusi yang berjudul Refleksi Pangan, yang membahas tentang Agroekologi yang dibawakan oleh Bapak Noer Fauzi Rachman, Ph.D. Sesi tersebut merupakan sesi pertama dari Serial Refleksi Pangan yang diselenggarakan di Rumah KAIL. Sesi kedua pada tanggal 7 Desember 2024 membahas tentang perspektif GEDSI yang dibawakan materinya oleh Ibu Mia Siscawati, Ph.D. dan di sesi terakhir pada tanggal 14 Desember 2024 membahas tentang Struktur ekonomi politik pangan dan eksplorasi ruang kolaborasi yang dibawakan materinya oleh Ibu Suraya Afiff, Ph.D. Pada kesempatan kali ini penulis akan mengulas materi tentang Struktur Ekonomi Politik Pangan dan Eksplorasi Ruang Kolaborasi.
Isu pertanian masih menjadi isu terbesar di dunia ini. Masalah sistem pertanian tidak hanya di tingkat lokal melainkan di tingkat nasional atau bahkan tingkat global juga. Itu semua terjadi karena adanya pengaruh dari relasi kapitalisme. Sistem pertanian yang kita lihat sekarang itu, semua adalah hasil dari Revolusi Industri yang juga berkaitan erat dengan revolusi pertanian. Melihat dari data pendapatan di dunia, pendapatan sektor pertanian adalah yang paling rendah karena pendapatan dari pertanian itu sendiri memanglah rendah. Namun demikian, hebatnya masih terdapat para petani kecil yang bertahan. Kita tetap membutuhkan jasa para petani untuk keberlangsungan hidup kita meskipun pertanian itu sendiri tidak bisa mengentaskan kemiskinan.
Sistem pertanian di Eropa rata-rata mendapat subsidi dari pemerintah. Bahkan ada beberapa negara yang pemerintahnya memberikan subsidi penuh. Artinya, pertanian memiliki anggaran yang cukup dan kita tidak kekurangan uang. Dari sini saya jadi tahu mengapa negara China dapat menjual barang-barangnya dengan harga murah? Itu dapat terjadi karena di China pemerintahnya melakukan subsidi secara besar -besaran. Mereka melakukan itu karena mereka butuh lapangan pekerjaan. Jika masyarakat banyak yang menganggur, maka mereka akan protes. Mereka menjual secara murah kepada negara yang membutuhkan sampai negara tersebut memiliki ketergantungan terhadap barang yang di produksi dari China. Jika sudah terjadi ketergantungan maka mereka akan menaikan harganya. Kita bisa saja bertani secara mandiri dan tidak bergantung kepada subsidi dari pemerintah. Kita pun sebenarnya bisa bersaing secara alami dalam artian memberlakukan pertanian tanpa pupuk pestisida dan hasilnya bisa dijual di pasar. Namun yang terjadi adalah kita selalu kalah bersaing dengan pertanian konvensional dengan pupuk dan pestisida yang bersubsidi. Itu semua terjadi karena adanya paksaan dan nantinya menjadi hegemoni.
Sebetulnya ada sebuah contoh di mana petani bisa menjadi pintar dan berdaya. Salah satunya adalah melalui Program Sekolah Lapang Petani. Awalnya petani dibuat shock dulu, karena menyadari bahwa ternyata pestisida itu berbahaya. Setelah itu mereka belajar mengamati lahan mereka dan menemukan apa yang harus mereka lakukan untuk bertani dengan memperhatikan keseimbangan alam. Tapi yang protes itu dari scholar, karena kalau petani itu jadi pintar, lalu tugas mereka sebagai scholar jadinya apa. Kedua, yang protes perusahaan pestisida karena kalau petani bisa bertani tanpa pestisida, maka mereka akan rugi. Kemudian mereka lobby dengan pemerintah akhirnya program itu tidak dilanjutkan. Padahal kalau itu dilanjutkan, petani akan punya sistem, petani jadi lebih pintar, pestisida bisa tidak dipakai. Kalau seperti itu, perusahaan rugi kan, jadi mereka membayar pemerintah dan penyuluh untuk mempromosikan produknya. Akhirnya terbentuklah sistem nilai yang hegemoni. Jadi tidak mungkin petani itu keluar dari sistem ini tanpa ada sistem yang melawannya. Masalahnya, kalau ada sistem yang melawannya, perusahaan pestisida pun akan melawan balik.
Revolusi Hijau menjadi salah satu alasan mengapa pertanian yang kita lihat sekarang seperti ini. Itu semua terjadi akibat rentetan sejarah sebagai berikut. Setelah perang dunia ke-dua pada sekitar tahun 1950-1960, terjadi kelebihan bahan-bahan kimia yang digunakan untuk keperluan perang. Bahan-bahan ini adalah bahan dasar untuk membuat pupuk kimia dan pestisida kimia. Dalam Revolusi Hijau, dibentuk paket-paket yang terdiri dari bibit unggul, pupuk kimia, dan pestisida kimia. Ini menjadi awal mengapa pertanian saat ini menganut sistem konvensional atau pertanian yang memakai bahan kimia.
Masalah ekonomi politik ini sangat penting bagi generasi muda karena mereka harus tahu asal muasal pangan itu seperti apa, mengapa harga kangkung itu di pasar se ikat bisa 2 ribu itu? Apakah adil bagi petani? Saya rasa kalau direfleksikan ini tidak adil karena petani harus bersusah payah menanam sekitar satu bulan lebih untuk bisa dipanen. Ditambah lagi prosesnya sangatlah tidak mudah. Ada ke-konsistenan yang harus mereka jaga seperti harus menyiram setidaknya dua kali sehari yang dilakukan secara rutin setiap pagi dan sore. Ada skill dan perawatan yang harus dijaga agar tanaman tidak mudah terkena hama dan gangguan lainnya.
Dengan sedikit merefleksikan kejadian tersebut dapat digambarkan kalau petani bersusah payah menghasilkan pangan namun yang menjadi permasalahan itu hasilnya dijual sangat murah. Mengapa itu terjadi? Ekonomi politik ini yang mengaturnya. Oleh sebab itu, saya merasa penting sekali untuk generasi muda belajar lebih dalam akan hal ini. Apalagi, bila kita mengingat bahwa semua yang kita makan adalah hasil kerja keras petani.
Salah satu hal yang harus dilakukan oleh generasi muda untuk membangun semangat atau merasakan jerih payah petani adalah mencoba menanam. Proses ini akan membuat mereka belajar bahwa menanam itu tidaklah mudah sehingga mereka nantinya bisa menghargai jasa para petani. Yang kedua mereka perlu berorganisasi atau mungkin mengikuti program edukasi agar mengetahui bahwa yang sedang terjadi saat ini tidaklah baik-baik saja. Dan yang paling penting, jika kita generasi muda tidak peduli akan hal ini, yang meneruskan jasa mereka itu siapa? Atau bahkan isu tentang 2045 petani punah itu bisa dikatakan nyata mengingat minimnya minat para pemuda untuk terjun ke dunia pertanian saat ini dan di masa depan.
Penulis Konversi Babad : Hisyam Adhisatrio
Dalam proses Refleksi Pangan di Perkumpulan KAIL November-Desember ini terdapat satu diskursus yang dibahas oleh salah satu pemantik, tentang bagaimana aksara membuat kita melupa cara-cara menutur yang sebenarnya diwariskan oleh para leluhur. Oleh karena itu izinkan kami dalam tulisan ini sebagai bagian dari refleksi pribadi berusaha menyampaikan gagasan dalam bentuk babad sebagaimana dulu para karuhun menjaga kisah tentang asal usul suatu tempat atau kejadian. Hatur nuhun. Ulah lali ka purwadaksi, sing inget ti mana asal, keur di mana cicing, rek kamana balik.
Kanggo urang Arcamanik pituin mah, ngadangu istilah Tani Sauyunan tantos émutan téh ngalayang kana Jalan Ski Air anu aya di handapeun tiang listrik ageung . Numutkeun saur sepuh mah, seer barudak ngora ngamumule lembur jeung mangpaatkeun pakarangan kanggo tatani sareng sajabana, salah sahijina mangrupakeun ngompos, ngabibit, sareng itu ieu na anu matak rame ngarumpuyug.
Ari salah sahijina anu ngalalakon dina tani sauyunan teh, budak ngora anu alit Jang Opick, manehna gaduh emutan perkawis salah sahiji pimasalaheun anu aya di alam dunya ieu nyaeta pangan atanapi kadaharan atanapi tuangeun. Ari nu jadi cukang lantaran Opick seueur emutan, kusabab ngiringan Refleksi Pangan anu diayakeun ku Perkumpulan KAIL sareng Komunitas 1000 Kebun sareng dirojong ku Samdhana.
Inggis ku bendu Sinuwun Opick jeung ngadenge beja yen pangan urang teu lepas ti masalah intrik politik anu lick, Opick sareng rengrengan sabondoroyot dibaturan ku Bu Suraya Afiff ti Antropologi UI teras mentas ngawawangkong perkawis masalah-masalah di bidang pangan, tatani, jeung hubunganna sareng kumaha politik tiasa ngaruhan kondisi situasi pangan anu ayeuna nuju dialaman ku baraya urang sadaya saalam dunya.
Hariwang ku kaayaan ayeuna, yen kondisi pangan urang sadaya tos matak ruksak sagagalana rehna tinu nutrisi sareng sumber panganna. anu janten salah sahiji musabab yen kondisi pangan urang sadaya janten kieu ayana teh yen pasti nyaeta relasi kapitalisme, naon ari kapitalisme teh lamun hese ngabayangkeun mah kapitalisme teh anu matak nyieun urang sadaya kudu ngurus surat tanah ka kantor juragan (akibat enclose atau pemagaran oleh sedikit elit) kaditu kadieu lieur pokokna mah. ari rek neangan tempat pinagaraeun, pikebonen, piimaheun baheula mah kari nagbugbag leweung tapi geus eweuh nu suwung subur deui ayeuna mah, kusabab kapitalisme eta matak nyieun urang hese ngagaduhan akses ka tanah, air, sareng nutrisi-nutrisi penting kanggo tatani sareng ngebon pikeun urusan pangan urang sadaya.
Kondisi ieu dimulai tina Revolusi Industri anu nyababkeun tatani ayeuna kedah nganggo berak anu teu saetik. Kunaon matak kudu nganggo berak kusabab binih anu diangge ku patani jaman ayeuna mah tos mangrupakeun binih ti pabrik anu ngabutuhkeun kondisi hidup spesifik anu teu tiasa ditangtayungan deui ku kondisi tanah nu benten ngarupi-rupi. Padahal lamun seueur teuing ngaberak eta teh matak ruksak kanu kondisi tanah sareng mikroba-mikroba hidup anu aya di jerona.
Ari anu matak waas kangge Opick mah kumaha kondisi baraya urang anu janten patani atanapi tukang ngebon. Kusabab upami meser kangkung saiketna 2000 di pasar ari ka patani mah teu pira sabaraha atuh saiketna teh. teras eta kangkung lamun diregepkeun dieling-eling mah moal matak cekap kesang saleter. Tina masa tanamna wae aya anu nepika sa sasih atanapi dua sasih. Proses ieu mangrupakeun salah sahiji refleksi penting kanggo baraya ngora yen hargi barang hasil tani teh aya pangaruhna tinu kondisi situasi politik urang sadaya.
Lamun dibuka deui ka informasi anu leuwih luhur juntrungan nana. Kondisi pendapatan profesi tani mangrupakeun salah sahiji pedamelan anu pendapatanna pang saeutik saeutikna saalam dunya ayeuna. Matak seeur nagara-nagara di Eropa mere subsidi kanggo industri pertanianna. Matak lamun dek tatani mah mending ge di Eropa. Aya sababaraha nagara anu subsidi 100% upami anjeun daek tatani bobolokot. Hal ieu mangrupakeun salah sahiji buktos anu nyata yen pertanian atanapi urusan pangan janten salah sahiji hal penting anu dibutuhkeun tapi da di nagara urang mah teu diperhatikeun.
Teras eta lamun dibadamikeun sangkan ngadehes ka juragan anu kagungan nagara, ari janten patani mah sesah obah tinu nasib anu sangsara kusabab dicekek ku kagungan kuwasa. Teu kudu hese-hese ayeuna bayangkeun weh lamun patani tos dipaksa nganggo binih ti nagara batur, dipaksa nganggo pupuk anu diciptakeun ku batur moal lila deui patani urang bakal sangsara dipaksa tani teu aya hasil ngusahakeun ereun teu meunang da eweuh deui panghirupan tinu salain partanian. Kebergantungan nyebabkeun hal ieu kusabab politik jual beli beberapa nagara sapertos Cina nyebabkeun urang dapat barang murah anu disubsidi. Engke na lamun urang tos kebergantungan moal tiasa deui protes lamun tos ngabutuhan.
Salah sahiji solusi anu nuju dilalanyah ku Opick sareng rengrengan teh nyaeta pertanian anu tanpa pupuk pestisida, Ngarasa mantep di jero hate, terus Opick sareng rengrengan ngusahkeun ngajualna ngangge sistem anu teu biasa nyaeta unggal konsumen kedah berkomitmen babarengan nanggung usaha tani ieu kucara mayar tipayun hasil tani anu nuju direncanakeun ku Opick sareng rengrengan.
Salah sahiji carita anu napel dina manah Opick ti acara Refleksi Pangan nyaeta kondisi hegemoni yang menjadi-jadi di masyarakat. Naon ari hegemoni teh ah sok weh pilarian nyalira di google. Salah sahijina conto tinu hegemoni anu dicarioskeun ku Ibu Suraya nyaeta penolakan ti akademisi-akademisi kanu program pelatihan kanggo nyieun pinter patani-patani urang. akademisi-akademisi ieu anu ceunah mah gaduh titel pinter ti nagara ngarasa sia-sia lamun patani butani tos pinter di luar kepala. Aranjeunna anu janten jalmi pinter teh kasieunan deui moal dapet proyek atanapi padamelan lamun patani sareng butani tos pinter kanu tatani na. Anu kaduana penolakan kanggo ngadidik patani teh mangrupakan protes ti perusahaan pestisida, saterasna anjeunna ngalobby-lobby pamarentah ambeh teu aya deui program kanggo nyieun patani pinter tur bener dina ngurus tatani na.
Padahal mah lamun saumpamana eta program anu matak nyieun pinter patani dilanjutkeun. Patani bakal kagungan sistem anu tiasa ngabebaskeun patani ti belenggu obat-obatan pestisida berak anu tadi tos disayogikeun ku perusahaan-perusahaan ageung.
Saur Opick ayeuna mah tos waktosna barudak ngora sina nyobaan heula, ngarasakeun nyalira yen tatani sareng kekebonan teh matak cape jeung hese. tidinya harapanna barudak ngora tiasa ngartos kanu janten cariosan kolot, tiasa ngahargaan kanu usaha pepelakan, tiasa hormat ka patani sareng butani anu tos usaha hese tur cape. Salian ti eta penting oge barudak ngora memahami yen usaha nyalira nyorangan moal matak nyieun urang bebas ti keterbatasan. Penting urang ngumpul ngarumpuyug, duduk babarengan salonjoran, ngobrolkeun masalah-masalah anu aya sangkan tiasa midamel solusi babarengan kanggo masalah anu janten penting dina hirup urang. Sok ayeuna lamun teu aya budak ngora deui anu daek tatani dek kumaha hirup urang. dek punah wae kitu patani indonesia raya? Sok regepkeun deui di mana gemah ripah loh jinawi anu baheula lamun ebrehna barudak ngora kalahkah genah repeh teu barang gawe.


No Comment