[Media] Kiss the Ground

[Media] Kiss the Ground

Resensi Film

Judul                     : Kiss the Ground

Sutradara            : Josh Tickel & Rebecca Harrell Tickel

Pemeran             : Woody Harrelson, Ray Archuleta, Patricia Arqutte, Jason Mraz, Maria Rodale, dll.

Genre                   : Dokumenter, Ilmu Pengetahuan & Alam, Ekologi

Durasi                   : 84 menit

Kategori Usia     : 7+

 

Kiss the Ground: Tanah Lestari, Bumi Berseri

kiss-the-ground-2Konsentrasi CO2 di atmosfer membukukan rekor baru setiap tahun. Observatorium Mauna Loa di Amerika Serikat (AS) melaporkan konsentrasi CO2 di atmosfer telah mencapai 417,2 ppm pada Agustus 2020. Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 12% dalam 20 tahun terakhir. Kenaikan ini bukan semata-mata akibat produksi emisi CO2 baru, namun juga akumulasi warisan CO2 dari periode sebelumnya yang masih berada di atmosfer.

Statistik tersebut mengingatkan kita betapa peradaban modern tak kunjung berdamai dengan alam. Alih-alih bersinergi dan menghormati cara kerja alam, kita malah terus mengeksploitasi dan merusak alam. Sekalipun di satu sisi pengurangan bahan bakar fosil, pemanfaatan energi terbarukan hingga diet plastik sudah dilakukan, namun belum berdampak drastis bagi perbaikan lingkungan. Lantas, apalagi yang bisa kita lakukan untuk bukan saja mengurangi melainkan juga menghilangkan CO2 dari atmosfer bumi? Jawabannya ada pada tanah yang kita pijak.

Itulah gagasan yang disuguhkan film dokumenter Kiss the Ground, karya terbaru pasangan sutradara Josh dan Rebecca Tickel. Dipandu narasi aktor Woody Harrelson, Kiss the Ground membawa kita memahami keterkaitan antara karbon, tanah, kelestarian alam, kesehatan, kesejahteraan hidup hingga perdamaian dunia.

Adalah Ray Archuletta, seorang penyuluh konservasi pertanian yang selama tiga dekade mengabdikan hidupnya mengedukasi petani di AS agar mengubah cara bertani. Menurut Ray, pertanian modern tidak dirancang untuk kebaikan tanah. Membajak lahan, menyemprot pestisida, dan menaburkan pupuk kimia terus-menerus telah mengganggu keseimbangan ekosistem tanah.

Ketika unsur haranya rusak, tanah melepas karbon dan air ke udara, menjadikan tanah kering dan berdebu. Jika dibiarkan, ini dapat memicu desertifikasi atau penggurunan, yaitu ketika lahan yang relatif kering menjadi semakin gersang, kehilangan badan air, vegetasi, bahkan hewan liar. Desertifikasi[1] yang juga berkontribusi pada perubahan iklim ini, telah turut memicu terjadinya kelaparan, kemiskinan, migrasi, bahkan konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, penting bagi para pemimpin negara untuk mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap kelestarian alam. Jika kita tidak berdamai dengan alam, bagaimana perdamaian di bumi dapat tercipta dan terpelihara?

Karbon sang Penggerak

Mari kembali ke karbon, yang pada dasarnya adalah unsur penggerak kehidupan. Ambil contoh manusia. Sekitar 17% tubuh kita terdiri dari karbon. Manusia menyerap oksigen dan melepaskan CO2 melalui pernapasan. Tanaman mengambil CO2 saat fotosintesis. Karbon yang diserap dari proses tersebut lalu disalurkan melalui akar dan menjadi bahan makanan bagi mikroorganisme tanah, yang menyimpan karbon dan menyalurkannya lagi ke tumbuhan, untuk kemudian dimakan oleh manusia dan hewan. Dengan fungsi tanah sebagai penarik karbon berjalan sebagaimana mestinya di seluruh dunia, maka bukan hanya kita menahan laju penambahan CO2 di atmosfer, melainkan juga pelan-pelan menarik warisan CO2 yang masih “menempel” di atmosfer bumi.

ilustrasi-co2

 

Pemaparan tentang konsep penarikan warisan CO2 dan siklus lepas-ambil karbon di alam disajikan dengan visual efek yang menarik dan mengalir, tidak njelimet. Informasi yang disuguhkan membuat film ini cocok sebagai materi belajar untuk siswa tingkat sekolah dasar maupun menengah.

Salah satu solusi yang disampaikan pada film ini terkait upaya menjaga kesanggupan tanah menangkap karbon adalah pertanian regeneratif. Pada dasarnya, metode tersebut menerapkan pola pertanian seperti sebelum era industrial, yaitu dengan tidak menggunakan bahan kimia, menanam berbagai varietas di satu lahan (multikultur/biodiversifikasi), dan membiarkan hewan ternak mencari makan di lahan pertanian/ padang rumput secara alami.

Tanah juga berfungsi menciptakan kelembaban iklim. Tanpa tanah yang subur, tumbuhan akan kesulitan hidup, dan tanpa tumbuhan yang terjadi semakin banyak penguapan dari permukaan air (evaporasi). Padahal, bumi juga membutuhkan transpirasi (pelepasan air oleh tanaman) untuk memberikan kelembaban udara dan turut meningkatkan curah hujan.

Selain memaparkan kisah sukses pertanian regeneratif, Kiss the Ground juga menampilkan contoh pengolahan tanah yang lestari dari sejumlah komunitas dan aktivis lingkungan hidup (termasuk selebritas seperti Jason Mraz dan Patricia Arquette). Langkah-langkah mereka bisa kita tiru dengan cakupan yang lebih sederhana dan disesuaikan dengan kesanggupan kita. Misalnya, bercocok tanam di halaman rumah atau memanfaatkan sampah organik sebagai kompos.

Kendati film ini lebih banyak mengambil konteks di Amerika Serikat, namun tak mengurangi semangat global dan universal soal pelestarian lingkungan, khususnya pelestarian tanah.  Kiss The Ground juga mengingatkan tentang pentingnya peran para pemimpin dan politisi untuk mengeluarkan kebijakan yang pro-lingkungan. Sayangnya, saat ini para pemimpin dunia masih belum juga satu suara soal penanganan perubahan iklim.

Upaya melestarikan alam memang bukan perkara sepele dan butuh komitmen kuat. Maria Rodale, mantan komisaris dan CEO Rodale Institute yang juga menjadi narasumber di film ini mengatakan, upaya menyelamatkan bumi dari pemanasan global bukan tentang politik atau agama, melainkan tentang cinta.

“Jika kita merawat alam, maka alam pun akan merawat kita,” pesan Rodale.

 

*Sumber gambar dari film oleh penulis melalui printscreen

[1] Desertifikasi adalah tipe degradasi lahan berupa kondisi lahan yang relatif kering menjadi semakin gersang, kehilangan badan air, vegetasi, dan hewan liar. Penyebab umum desertifikasi antara lain perubahan iklim dan aktivitas manusia. Keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang berkepanjangan (beberapa bulan hingga bertahun-tahun) ini muncul bila suatu wilayah secara terus-menerus mengalami curah hujan di bawah rata-rata. (sumber: http://green.ui.ac.id/the-world-day-to-combat-desertification/)

Astri Bangun

Astri Bangun

Astri Kharina Bangun adalah seorang copywriter lepas yang sempat menggeluti profesi sebagai jurnalis dan praktisi humas. Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini memiliki ketertarikan pada beragam jenis film, namun baginya film dokumenter memiliki keistimewaan tersendiri karena memadukan aspek jurnalisme dan sinematografi dalam mengangkat isu-isu sosial di masyarakat.

Related Posts

[Media] The Earthing Movie: The Remarkable Science of Grounding

[Media] The Earthing Movie: The Remarkable Science of Grounding

[Media] Radical Forgiveness – Kunci Pendewasaan Jiwa

[Media] Radical Forgiveness – Kunci Pendewasaan Jiwa

[Media] Zootopia: Perubahan Dimulai dari Dirimu Sendiri!

[Media] Zootopia: Perubahan Dimulai dari Dirimu Sendiri!

[Media] New Media dan Kemandirian Berpikir

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 1713

Visitors are unique visitors