[Media] Radical Forgiveness – Kunci Pendewasaan Jiwa

[Media] Radical Forgiveness – Kunci Pendewasaan Jiwa

Konflik seringkali terjadi dalam hubungan antar manusia. Konflik dapat disebabkan oleh kesalahpahaman, keinginan untuk menguasai, maupun keinginan menjatuhkan orang lain. Penyelesaian konflik antar individu dilakukan melalui proses-proses perdamaian, saling memaafkan antara yang berbuat salah(menimbulkan konflik) dan yang menjadi korban kesalahan (yang terdampak konflik).

Proses memaafkan rupanya bukan hal yang mudah bagi kedua belah pihak. Diperlukan kebesaran hati dan kelapangan dada untuk mengakui kesalahannya serta berjanji sepenuh hati untuk memperbaiki diri. Di sisi yang terdampak konflik, juga perlu menerima perbuatan salah tersebut, mempercayai bahwa yang berbuat salah akan memperbaiki perbuatannya di kemudian hari. Masing-masing pihak, terutama pihak yang disakiti, akan berupaya untuk menghilangkan rasa amarah, duka, dendam, yang membuat dirinya tak mampu memaafkan pihak yang berbuat kesalahan.

media-radical-1Proses memaafkan merupakan proses yang luar biasa. Dalam proses tersebut, terjadi pergulatan besar di dalam diri. Pada akhirnya, proses memaafkan sesungguhnya adalah proses pendewasaan jiwa bagi pihak-pihak yang berkonflik. Saya terkesan dengan satu buku yang begitu ekstrem melukiskan proses memaafkan ini. Buku tersebut berjudul Radical Forgiveness. Sesuai dengan judulnya, buku ini telah menjungkirbalikkan pemahaman saya tentang perbuatan ‘salah’ yang dilakukan seseorang terhadap orang lain.

Ilustrasi Kisah di Dalam Radical Forgiveness

Buku Radical Forgiveness (selanjutnya disebut RF) ini diawali dengan sebuah illustrasi pengalaman nyata penulis dalam mengurai makna RF. Di dalam buku tersebut, diceritakan tentang seorang perempuan bernama Jill yang dua kali menikah dengan para suami yang dirasanya tak mencintai dirinya. Pernikahan pertama Jill dengan Henry berakhir dengan perceraian. Sebabnya, Henry kedapatan terus menerus berselingkuh dengan wanita lain.

Suami kedua Jill bernama Jeff. Pernikahan kedua Jill mengalami nasib yang sama dengan pernikahan pertamanya. Namun, keretakan hubungan yang terjadi bukan disebabkan oleh wanita lain, melainkan perhatian Jeff yang teralih kepada putri sulungnya – Lorraine – dari pernikahan Jeff dengan istri terdahulu.

Lorraine telah menikah, namun suaminya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan yang naas. Sepeninggal suami Lorraine, Jeff sebagai ayah, mencurahkan waktu untuk menemani dan mendampingi putrinya. Jill merasa dinomorduakan, tak dianggap lagi oleh Jeff.

Merasa pernikahannya di ambang kehancuran, Jill menemui kakak kandungnya, Colin Tipping, yang merupakan penulis buku RF ini, untuk menceritakan keretakan hubungan antara dirinya dan Jeff.

 

Colin membawa Jill melihat kasus keretakan hubungan dengan Jeff dari sudut pandang yang lain. Ia membawa Jill pada kenangannya tentang ayah mereka. Ketika Jill masih kecil, ayahnya tak pernah menunjukkan sikap sayang kepada Jill. Padahal, Jill menyaksikan sendiri bahwa sang ayah ternyata mampu menunjukkan sikap sayang itu kepada anak lain. Dari pengalaman itu, otak alam bawah sadar Jill menempa keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik untuk dicintai oleh pria.

media-radical-2

Keyakinan diri sebagai seseorang yang tidak cukup baik untuk dicintai tersebut, itulah yang menyeret Jill kepada permasalahan dengan pria-pria yang menikah dengannya. Apa yang diyakini oleh Jill menjadi realita dalam kehidupannya.

We always create our reality according to our beliefs. If you want to know what your beliefs are, look at what you have in your life. Life always reflects our beliefs. – Colin Tipping.

Colin membawa Jill lebih jauh lagi melihat keterkaitan antara kehadiran Henry dan Jeff dalam kehidupan Jill. Kedua suami yang seolah-olah hadir untuk mengonfirmasi keyakinan Jill bahwa ia tidak cukup baik untuk dicintai oleh pria. Namun, bagaimana kalau kehadiran kedua sosok suami ke dalam hidup Jill ini bertujuan sebaliknya?

Bagaimana jika kehadiran Henry dan Jeff dalam hidup Jill dilihat dari sudut pandang pendewasaan jiwa dan penyembuhan bagi jiwa Jill? Jill perlu menyadari dan memperbaiki keyakinannya dari perasaan ‘tidak cukup baik untuk dicintai oleh pria’. Maka di saat itulah Henry dan Jeff hadir untuk ‘melatih’ Jill berkembang secara spiritual. Ketika Jill menganggap dirinya sebagai seorang yang tak layak dicintai, ia menempatkan dirinya ke dalam ‘kesadaran diri sebagai korban’ (victim consciousness). Kesadaran diri sebagai korban ini melemahkan Jill. Ia diselimuti kerapuhan, rasa tak percaya diri, rasa tak aman. Perasaan diri sebagai korban ini menghasilkan relasi yang tidak saling meneguhkan antara Jill dengan pihak lain yang hendak berinteraksi dengan Jill.

Ketika Jill kemudian mampu mengubah perspektif diri dari perspektif korban menjadi perspektif seseorang yang berdaya, layak dicintai, dan percaya diri, pada saat itu, orang-orang yang berhubungan dengan Jill akan merasakan relasi yang nyaman dan meneguhkan. Pada titik ini, Jill telah mencapai Radical Forgiveness di dalam dirinya. Ia berdamai dengan dirinya, dan dengan demikian mampu memancarkan aura kedamaian itu kepada orang-orang di sekitarnya.

media-radical-3

Traditional Forgiveness dan Radical Forgiveness

Colin berkeyakinan bahwa di dalam Radical Forgiveness tidak ada seorang pun yang salah. Oleh karena itu, dalam RF tidak diperlukan sebuah permohonan maaf. Menurut Colin, sikap dan perilaku Henry dan Jeff, tidak salah, karena semesta telah mengatur demikian demi tujuan pendewasaan jiwa Jill.

Penggambaran kisah Jill di bagian awal buku disusul dengan penjelasan Colin mengenai RF dan asumsi-asumsi yang melandasi pemikirannya. Berikut ini poin-poin yang menjadi urat nadi RF:

  1. Tidak ada posisi korban. Kedua belah pihak yang bertikai adalah jiwa-jiwa yang dipertemukan untuk saling mendewasakan. Jiwa mereka menari dalam suatu tarian semesta. Seseorang menjadi lebih berdaya ketika ia tidak lagi memposisikan diri sebagai korban. Ia tidak lagi mencari kesalahan dari orang lain, ia menerima pengalaman ‘pernah’ menjadi korban sebagai bagian dari hidupnya. Namun ia tidak berlama-lama menetap dalam situasi tersebut.
  2. Tidak ada situasi yang salah. Situasi-situasi diatur sedemikian rupa oleh semesta untuk mendewasakan jiwa-jiwa yang berada di dalam situasi tersebut. Sekali lagi, ini juga tentang penerimaan. Situasi yang mengecewakan, menyakitkan, menakutkan dapat terjadi, namun ia akan lewat. Dengan radical forgiveness, situasi yang terjadi tidak perlu diratapi atau disesali. Dengan radical forgiveness, situasi diterima sebagai bagian dari sejarah hidup yang mendewasakan jiwa.

Buku yang luar biasa. Pemikiran Colin yang dituangkan ke dalam buku ini benar-benar menjungkirbalikkan pemahaman saya tentang berbagai perselisihan yang tengah terjadi di dunia ini. Bagaimana jika semua pertikaian, perseteruan, perselisihan yang dihadapi oleh semua manusia di bumi ini, dianggap sebagai proses pendewasaan, latihan bagi jiwa kita untuk berkembang?

Mungkin terasa sulit menerima pandangan Radical Forgiveness ini bagi para perempuan korban pemerkosaan, anak-anak korban bullying, orang-orang korban begal dan perampokan atau para eks tahanan politik jaman G30S/PKI atau bahkan para survivor holocaust dari kamp konsentrasi di Jerman sekalipun. Susan Pollack, seorang survivor dari kamp konsentrasi Auschwitz, Jerman, mungkin salah satu yang telah menerapkan prinsip Radical Forgiveness ini. Ia selamat dari siksaan di kamar gas beracun dan siksaan-siksaan lainnya yang ia terima dari para serdadu Nazi. Ia membentengi dirinya dari hal-hal yang membuat dirinya lemah. Namun ia tak luput dari kenangan traumatis yang disaksikannya selama beberapa waktu di Auschwitz.

Karena ia tidak memposisikan dirinya sebagai korban, ia menjadi lebih kuat daripada tahanan-tahanan lainnya bahkan survivor-survivor yang bersama dengannya setelah diselamatkan oleh tentara Inggris. Kenangan traumatis yang ada, ia terima sebagai bagian dari dirinya. Self-acceptance akan memori masa lalu, telah menguatkan dan meluputkan dirinya dari kerapuhan sebagai korban. Dalam menghadapi kenyataan ini, Colin memberi penjelasan bahwa RF merupakan sebuah pemahaman yang berbeda dengan Traditional Forgiveness (selanjutnya disebut TF).

Penjelasan Colin mengenai distingsi TF dan RF adalah begini: “Kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman sebagai manusia” (We are spiritual beings having a human experience.) Dalam praktiknya, manusia memerlukan TF dan RF di dalam kehidupannya. Di dalam TF, seorang pelaku kejahatan patut disadarkan akan kesalahan yang diperbuatnya, serta diberi ganjaran atau hukuman karena kesalahan yang ia buat. Di dalam RF, meski mengakui bahwa tidak ada yang salah dalam peristiwa kejahatan, namun situasi menerima ganjaran/hukuman pada pelaku kejahatan diyakini sebagai bagian dari porsi pendewasaan jiwanya.

Oleh karena itu, masing-masing TF dan RF bukanlah sesuatu yang bertolak belakang, ia justru berjalan beriringan. TF adalah proses perdamaian yang terjadi dalam dunia fisik manusia, sementara RF adalah proses-proses spiritual seseorang dalam memaknai dan memaafkan konflik yang menimpa diri dengan orang lain.

Tentu saja, ketika mengalami sesuatu yang sangat menyakitkan, seperti pengalaman korban perkosaan, kemarahan yang dialami seseorang yang terdampak perkosaan belum memungkinkan dirinya untuk menerima bahwa secara spiritual ini merupakan rencana ilahi bagi pendewasaan jiwanya.

Jadi, menurut buku Radical Forgiveness ini, dalam kehidupan secara fisik proses maaf memaafkan terjadi melalui TF. Seseorang mengakui perbuatan salahnya dan bersedia menerima ganjaran akan perbuatannya. Sementara di dalam RF, proses-proses spiritual terjadi untuk memaknai maksud dari peristiwa konflik yang terjadi. Setiap peristiwa terjadi untuk sebuah sebab tertentu yang merupakan rencana Ilahi. Bisa jadi, apa yang terlihat di permukaan melalui peristiwa-peristiwa, pesan yang mau disampaikan kepada setiap orang sangat berbeda dengan yang terlihat.

SEKILAS TENTANG BUKU

Buku Radical Forgiveness pertama kali terbit tahun 1997 dengan judul Radical Forgiveness : Making Room for The Miracle. Kemudian seiring dengan perkembangan jaman, buku ini kemudian dapat diunduh secara gratis melalui link berikut :

http://www.radicalforgiveness.com/wp-content/uploads/2013/09/Radical-Forgiveness-EBook.pdf

Pada website yang sama (www.radicalforgiveness.com) kita dapat melihat berbagai hal terkait, yang salah satunya adalah berbagai macam tools untuk latihan sesuai dengan situasi yang sedang kita hadapi. Colin Tipping telah mengembangkan konsep Radical Forgiveness tersebut ke dalam berbagai konteks lain. Untuk lebih jelasnya, silahkan menjelajah melalui link berikut ini :

http://www.radicalforgiveness.com/free-tools/

(Tulisan ini telah diadaptasi dari tulisan awal di blog pribadi penulis: https://navitaastuti.wordpress.com/2017/02/11/radical-forgiveness-kunci-pendewasaan-jiwa/ )

Navita K. Astuti

Navita K. Astuti

Navita Kristi Astuti, sejak kuliah telah memiliki minat pada isu pemberdayaan manusia dan berbagi informasi melalui tulisan. Ia menempuh pendidikan S1di Biologi ITB (1995-2001) dan S2 di Network on Humanitarian Assistance (NOHA) di Rijksuniversiteit Groningen (2004-2005). Tahun 2001-2004, ia mengabdikan diri sebagai relawan di kamp pengungsi Pulau Timor bersama Jesuit Refugee Service. Setelah itu ia berkarya bersama Kuncup Padang Ilalang (2008-2009 di Aceh, 2011-2019 di Bandung). Sejak pertengahan April 2020, ia bergabung dengan Unpar Press.

Related Posts

[Media] Zootopia: Perubahan Dimulai dari Dirimu Sendiri!

[Media] Zootopia: Perubahan Dimulai dari Dirimu Sendiri!

[Media] New Media dan Kemandirian Berpikir

[Media] Belajar Hidup Mandiri dari Film

[Media] Film The Big Short: Bertaruh Melawan Sistem

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors