[Tips] Yang Lalu Tinggallah Di Masa Lalu : Sebuah Refleksi Tentang Belajar Memaafkan Pasangan

[Tips] Yang Lalu Tinggallah Di Masa Lalu : Sebuah Refleksi Tentang Belajar Memaafkan Pasangan

Memaafkan sungguh adalah kata yang mudah diucapkan namun susah dilakukan, apalagi memaafkan pasangan hidup. Tak berapa waktu lalu, ramai dibicarakan K-drama The World of Married, VIP, yang kisahnya banyak menjadi perbincangan. Kisah-kisah suami istri banyak diangkat di berbagai cerita keluarga diangkat dalam cerita drama dengan diwarnai tragedi yang melibatkan ketidakjujuran, perselingkuhan, dan pengkhianatan. Banyak pelajaran berharga dari peristiwa para pasangan ini. Bagaimana kita memperoleh makna hidup yang sangat dalam dari guru sejati, yaitu pasangan yang memberikan banyak pelajaran hidup melalui sebuah pengkhianatan?

Cinta Yang Bertanggung jawab

Diawal-awal saling mengenal dan akhirnya memutuskan sebuah hubungan yang serius, sebenarnya yang sedang dibangun pasangan adalah rasa percaya satu-sama lain. Rasa saling percaya menjadi fondasi proses saling mencintai untuk menerima kesadaran bahwa kekurangan dan kelebihan pasangan, adalah miliknya juga.  Kita umumnya mengalami bias keyakinan yakni terlalu optimis dan bersemangat dalam menjalani cinta. Kita mengenakan rose-coloured glasses sehingga semua tampak indah adanya ketika begitu saling menginginkan.

Cinta dalam tataran hubungan yang sehat mengandung kuat unsur kepedulian, tanggung jawab, saling menghormati, dan saling memahami satu sama lain dengan baik. Memahami, menghormati dan menghargai keunikan pasangan, adalah proses memberi keyakinan bahwa pasangan kita dapat bertumbuh dengan keunikannya, tujuan hidupnya, panggilan hidupnya, termasuk mengenali kebutuhan-kebutuhannya dalam lingkungan yang nyaman. Rasa hormat akan keutuhan pribadi masing-masing ini perlu disertai dengan tanggung jawab untuk peduli terhadap pasangan, maka cinta kita dapat membuat pasangan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Kejujuran dan keterbukaan adalah syarat sebuah relasi yang sehat dan hebat.

Namun kehidupan rumah tangga tidak selalu seperti yang kita inginkan. Kita perlu menggunakan waktu yang cukup untuk mengenal pasangan kita terlebih dahulu sebelum komitmen untuk pacaran dan menikah itu diambil. Karena hasrat dalam cinta bisa mengalami fase yang naik dan turun, bahkan ketika proses mengenal. Kita perlu mengenali emosi-emosi yang timbul, mengalami kejadian-kejadian yang memperkaya relasi dengan emosi. Begitupun dalam perkawinan, bertahan dengan kehangatan, mungkin ini adalah pengalaman indah di lima tahun pertama. Namun memasuki fase rutinitas dan cinta tidak senantiasa terus menyala, akan memberikan tantangan dan kesetiaan cenderung goyah ketika api cinta meredup. Bahkan yang awalnya sebuah kelebihan kini kita rasakan sebagai berlebihan, sehingga kelebihan itu pun kini menjelma menjadi suatu kekurangan di mata kita. Kekurangan-kekurangan yang awalnya dapat ditoleransi kini terasa melampaui kekuatan kita untuk menerimanya. Untuk itu kita perlu melengkapi cinta dengan persahabatan dan komitmen.

Cinta Yang Menjerat

Sebuah relasi tentu akan mengalami fase up and down ketika dijalani. Penting untuk sering menciptakan tabungan ‘memori yang indah’ sebagai tabungan ‘emergency’ di kala krisis komitmen dalam sebuah relasi. Maka menghargai hal-hal kecil dan besar yang dilakukan pasangan pada kita, mengajarkan kita bisa selalu mensyukuri keberadaan pasangan dengan keterbatasan. Dan saat pasangan tidak lagi setia atau ketidakjujuran lain, fondasi hubungan harus diletakkan dengan sisa-sisa kenangan baik, agar bisa mengalami dan bertahan setidaknya hingga ujian dalam sebuah relasi, bisa kita selesaikan. Yang harus menjadi perhatian adalah apabila evaluasi relasi yang dibangun selama ini sebenarnya masihkah sehat atau tidak? Apakah sudah mengarah kepada relasi yang toxic atau sekedar konflik-konflik yang memang bisa terjadi di relasi manapun? Toxic relationship ditandai dengan perilaku yang berpotensi merusak emosional sendiri maupun pasangan bahkan hingga merusak fisik.

Perilaku pengkhianatan kadang juga tidak berdiri sendiri. Bisa saja diawali dengan berbagai perilaku toxic yang menekan pasangan, misalnya cemburu buta dengan curiga, perilaku berlebihan dalam mengontrol pasangan sehingga pasangan menjadi tidak memiliki waktu dan ruang untuk bertumbuh sebagai individu. Saling menyalahkan yang terus-menerus sehingga masing-masing mengalami kelelahan relasi tanpa ruang perbaikan yang berarti. Atau justru saling menghindari konflik, tidak membicarakan dengan tuntas permasalahan namun menyelesaikan masalah dengan instan dengan kesenangan sesaat atau kekerasan. Hal ini harus dievaluasi sebagai pasangan, apakah relasi selama ini sudah mengarah pada ketidakseimbangan, ketidakharmonisan, dan perasaan saling tergantung yang malah mengganggu. Atau justru malah ketidaksadaran bahwa relasi yang dibangun sudah sedemikian toxic adanya. Semua perilaku di atas memberikan kontribusi pada krisis komitmen, sehingga ada kalanya semua hal di atas bisa menjadi pemicu pengkhianatan. Namun ada juga yang sifatnya coba-coba tapi malah kebablasan karena lemahnya komitmen salah satu pasangan yang tidak menjalani peran dan tanggung jawab semestinya sebagai pasangan dalam perkawinan. Alasan-alasan lain tentu juga bisa berkontribusi pada ketidaksetiaan pasangan, misalnya tidak terpenuhinya kebutuhan finansial, komunikasi yang tidak sambung, dan lain sebagainya.

Luka dalam Pilihan

Ketika ketidakjujuran dan ketidaksetiaan terungkap, kita akan dihadapkan pada dua pilihan:    membangun kembali kepercayaan itu dengan melanjutkan hubungan atau memilih untuk mengakhiri hubungan? Kecenderungan kita jika diajukan pilihan tersebut, maka akan memilih untuk mengakhiri hubungan. Namun ketika kita dihadapkan langsung pada situasi tersebut, proses pengambilan keputusan untuk mengakhiri suatu hubungan tidak sesederhana yang diduga.

Cinta yang mungkin masih ada akan menjadi faktor pendorong utama bagi pasangan yang dikhianati kepercayaannya untuk memilih melanjutkan hubungan. Tidak mengambil keputusan dalam keadaan penuh emosi negatif menjadi penting sekali. Kita perlu merangkul emosi yang ada karena kenangan selalu diingat sesuai keinginan, baik itu kenangan manis  maupun buruk. Cinta yang dicederai hanya akan meninggalkan bekas luka yang buruk. Bahkan, seburuk apapun relasi dengan pasangan, mengetahui bahwa pasangan telah berkhianat tetap akan mengguncang kondisi psikis seseorang. Rasa tidak terima, kemarahan yang dalam, kebingungan dalam memahami situasi relasi, umumnya mendominasi di awal ketidaksetiaan itu terbongkar. Perasaan terguncang, terluka, kecewa, tidak berharga dan rendah diri adalah emosi-emosi negatif yang lebih ditujukan ke dalam diri. Harga diri pasangan yang dikhianati akan tercabik karena pada umumnya kemudian akan membandingkan diri dengan pihak ketiga yang hadir. Pihak yang dikhianati cenderung merasa tidak semenarik secara fisik, tidak menantang secara intelektual, perbedaan karakter yang tak sejalan ataupun kesuksesan pihak ketiga. Akibatnya kepercayaan diri semakin rendah dan tidak lagi menjadi dirinya sendiri. Kalaupun ada kelebihan pihak ketiga, tentu juga tidak serta merta akan lebih baik karena waktu belum secara utuh membuka kualitas personalnya. Padahal, memang pasangan yang tidak setia biasanya mencari apa yang tidak dimiliki pasangannya atau yang tidak bisa diberikan pasangannya. Ketertarikan pasangan pada orang lain karena satu atau sebagian kebutuhan emosional, intelektual dan fisikal yang tidak terpenuhi bersama pasangannya, terasa bisa dipenuhi oleh orang lain.

Keterguncangan semakin terasa bila hubungan dengan pasangan sebelumnya baik-baik saja, atau setidaknya itulah yang dipersepsikan pihak yang dikhianati. Berbagai pertanyaan akan muncul seakan tidak mempercayai peristiwa pahit tersebut. Pertanyaan, apakah kamu sungguh mencintaiku?, apa artinya aku untukmu?, apakah aku tidak cukup untukmu, apa yang salah denganku dengan menjadi diriku? akan semakin sering diajukan. Emosi-emosi bersama dengan pikiran ini muncul, merusak sama hebatnya dengan emosi yang ditujukan ke luar diri terhadap pasangan yang mengkhianati. Emosi dapat berupa rasa marah, rasa jijik, disrespek apalagi bila sudah melibatkan aktivitas seksual berulang kali. Terutama muncul jika pengkhianatan itu diketahui dari orang lain dan awalnya pasangan tidak mengakuinya. Emosi negatif yang paling membahayakan hubungan adalah hilangnya rasa kepercayaan kepada pasangan. Pasangan yang dikhianati cenderung tidak mampu memahami bila selama ini ia merasa bahagia dengan hubungan mereka, bagaimana mungkin pasangannya justru mencari kepuasan dari orang lain.

Rasa tidak percaya akan terus mendera, mempertanyakan bagaimana mungkin orang yang dikagumi dan disayangi dapat melakukan hal semacam itu terhadapnya. Apalagi bila selama ini pasangan tampil sebagai sosok yang baik, setia,  dan bertanggung jawab, seolah sangat tidak mungkin ia dapat melakukan hal itu. Rasa tidak percaya ini akan membuatnya terus menyangkal bahwa memang ketidaksetiaan itu telah terjadi. Rasa terluka akan hadir, kemudian seiring dengan mulai munculnya penerimaan bahwa ketidaksetiaan itu memang terjadi. Secara otomatis, pihak yang dikhianati akan merangkaikan jalinan peristiwa dalam benaknya. Ia mulai mereka-reka kapan, bagaimana bisa terjadinya perselingkuhan dengan orang lain. Kadang tidak bisa dihindari pula meningkatnya sensitivitas ingatan yang bisa membangkitkan kenangan buruk yang tetiba menyadarkan kejadian yang seharusnya sudah menjadi pertanda baginya. Bahkan muncul rasa ingin membalas dendam karena ingin membuat pasangan terluka sama seperti dirinya atau merasakan lebih buruk. Demikian seterusnya, pemikiran-pemikiran semacam ini sulit dihentikan dan justru semakin melukai perasaan pihak yang dikhianati.

Ketika Harus Memilih

Sedemikian menyakitkannya sebuah pengkhianatan, sehingga ketika dia meminta maaf sekalipun rasanya sulit sekali bagi kita memberikan maaf.  Bahwasanya, pasangan kita dapat berbuat salah dan betapapun mengecewakan dirinya, tidak terbayangkan rasa sakit sedemikian hebat didapat dari orang yang pernah sangat dicintainya. Namun mungkin kita dapat mulai dengan belajar menerima kesalahannya, merangkul setiap kesalahan sebagai bagian dari proses belajar mencintai, menerima perasaan sakit sebagai bagian dari penyembuhan. Selain itu, kita perlu menghargai pasangan yang benar-benar tulus meminta maaf. Karena meminta maaf bukanlah hal yang mudah terutama jika sudah didera perasaan bersalah dan malu yang sangat kuat.

Tindakan memaafkan pada dasarnya merupakan tindakan internal, bukan eksternal. Memaafkan lebih terkait dengan diri sendiri, bukan orang lain. Ketika memaafkan, maka kita sebagai si pemaaf juga akan ‘tersembuhkan’. Bahkan meskipun pasangan tidak meminta maaf dan lebih memilih bersama pihak ketiga, kita dapat memaafkannya dalam artian untuk berdamai dengan diri sendiri. Memaafkan dapat memberi kelegaan karena kita tidak lagi berfokus pada hal-hal negatif. Berpikir negatif membutuhkan energi psikologis yang besar, yang dapat membuat kita lelah mental dan sulit melakukan hal positif lainnya. Hanya dengan memaafkan, kita dapat melangkah ke depan dengan lebih baik, sekalipun tidak lagi melanjutkan hubungan dengan orang yang sama.

Namun dengan luka-luka pengkhianatan yang ada, wajar jika kita meragukan kemampuan kita untuk dapat memaafkan. Apalagi jika kita memilih untuk tetap melanjutkan hubungan dengan orang yang jelas telah menyakiti kita. Karena melanjutkan kembali hubungan pasca pengkhianatan tidak sekedar membutuhkan maaf, melainkan juga upaya membangun kembali kepercayaan terhadap pasangan.  Dalam kondisi kita tetap bersamanya, baik untuk memaafkan maupun melayakkan diri untuk dimaafkan akan menjadi sebuah proses yang harus diupayakan bersama.

Lahir Baru Untuk Mencinta

tips-yang-lalu2
http://www.empoweringeverydaywomen.com/images/taping-together-a-broken-heart.jpg

Bagi sebagian orang, ada yang terpaksa melanjutkan hubungan karena berbagai aspek luar yang sifatnya struktural. Misalnya mempertimbangkan nama baik, status, kondisi finansial, dan anak-anak. Lemahnya pasangan kita jatuh dalam perasaan pada orang lain mengingatkan kita bahwa dia bukanlah manusia sempurna yang memiliki segalanya. Namun apapun faktor yang mendasari, keputusan apapun yang dipilih, ada satu hal yang harus dilakukan saat kita dikhianati, yakni belajar memaafkan untuk dapat melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.

Pasangan yang berkhianat harus terlebih dahulu menerima bahwa pengkhianatan yang dilakukan adalah sepenuhnya kesalahannya. Dengan dimilikinya rasa tanggung jawab personal seperti ini akan membantunya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Selain itu, pihak yang berkhianat juga harus menyadari bahwa hati pasangannya telah terluka. Akan ada saat-saat di mana pasangan teringat akan pengkhianatan tersebut, dan ingatan itu akan memunculkan kembali amarah dan emosi negatif lainnya. Ini adalah konsekuensi yang harus diterima dengan mengatasi kekacauan yang telah dilakukan. Pihak yang melukai memegang peranan lebih besar untuk mengambil sepenuhnya tanggung jawab personal atas pengkhianatan yang telah terjadi dan tidak lari dengan justru mempermasalahkan bahkan menuduh kekurangan pasangan sebagai penyebabnya atau bahkan menganggap keberadaan pihak ketiga sebagai penyebab. Kita boleh merasa tidak puas, tidak bahagia dengan pasangan, tetapi pengkhianatan bukan sesuatu yang dapat dibenarkan apapun alasannya. Sepanjang proses itu dan di saat-saat seperti itulah, pihak yang melukai harus dapat dengan rendah hati menerimanya sebagai bagian dari proses penyembuhan. Perlu diingat bahwa memaafkan adalah sebuah proses yang (mungkin) akan membutuhkan waktu lama. Melakukan permintaan maaf yang tulus setiap pasangan yang terluka mengingat kembali peristiwa itu mungkin tidak akan cukup hanya sekali. Walaupun demikian, menerima dan belajar memahami situasi batin pasangan bukan berarti menerima kemarahan pasangan bila sudah berlebihan. Anda perlu menghormati usaha Anda sendiri dan pasangan juga harus diingatkan agar tujuan memperbaiki hubungan bisa tercapai.

Di sisi lain, pihak yang terluka harus benar-benar berkeinginan untuk memaafkan. Memang, memiliki keinginan untuk memaafkan sangatlah susah karena traumatik, dimana emosi-emosi negatif menumpuk dan membadan dalam diri. Seakan kita ingin menghabiskan seluruh rasa kecewa, malu, meluapkan kemarahan yang masih membara dan luka yang demikian dalam sebelum benar-benar bisa memaafkan. Untuk memaafkan, memang ada yang membutuhkan waktu untuk bisa berjarak dengan perasaan yang ingin menghukum, mengumbar kekecewaan dan kemarahan. Sayangnya, mengulangi berbicara kesalahan pasangan dapat membuatnya merasa tidak mampu memperbaiki dirinya. Kesalahan yang pernah dilakukan pasangan tidak dapat kita jadikan alasan untuk terus memakinya dan menghukumnya. Mengungkit kembali malah akan membuat dirinya terus terpapar pada kesalahan yang dia lakukan. Kekhilafan yang pernah dilakukan terus diputar di hadapannya. Kita harus tahu kapan untuk menghentikannya demi alasan apapun, termasuk untuk meneruskan hidup kita dengan lebih baik. Belajarlah mengelola pikiran dengan lebih perlahan, mengolah perasaan dengan kelemahlembutan dan mengambil tindakan maupun perkataan dengan tidak reaktif. Karena ketika kita memutuskan untuk memaafkan, berarti juga belajar merangkul kesalahan untuk akhirnya belajar tidak lagi mengungkit kesalahan pasangan. Kita akan tetap bisa membicarakan akar masalahnya, bagaimana memperbaikinya, atau bagaimana mengakhirinya, bagaimana  menuju ke depan yang lebih baik bersama pasangan, namun tidak lagi dengan emosi negatif yang mengikutinya. Dan mantra “yang berlalu, tinggallah di masa lalu” menjadi tantangan yang bisa ditaklukkan.

Memaafkan memang tidak mudah, namun juga tidak sesulit yang kita duga. Kita dapat memulainya dengan mengecilkan rasa kebencian sedikit demi sedikit pada hati kita. Dalam proses memaafkan ini, akan jauh lebih baik jika masing-masing pihak melakukan introspeksi diri. Perlu disadari bersama, untuk dapat melakukannya, pasangan perlu saling menyadari bahwa ada kontribusi kedua belah pihak dimana rasa ketidakpuasan pada satu sama lain bisa berlangsung hingga menjauhkan harapan untuk bisa saling memenuhi apa yang  menjadi kebutuhan bersama pasangan.

Pengkhianatan dapat pula menjadi kesempatan untuk tumbuh kembali secara lebih baik dalam kehidupan pasangan tersebut selanjutnya. Mulailah berpikir positif dan hargai semua upaya yang telah dilakukan pasangan. Berfokuslah pada masa kini dan yang akan datang. Jangan berpikir ”yang dulu bisa dan sekarang pasti tidak bisa”, walaupun pasti tidak akan sama. Tentu semua butuh waktu untuk saling menyesuaikan. Kedua pasangan perlu belajar menemukan kebutuhan masing-masing pihak yang selama ini mungkin tidak terpenuhi. Membuka diri pada satu sama lain, termasuk mengakui bagaimana  ketertarikan pada satu sama lain bisa dimulai kembali. Justru penting untuk melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa dilakukan sebagai pasangan. Mulailah membuat memori kebaikan dari hal-hal kecil bersama pasangan. Saling berpegangan tangan, mengucapkan kata sayang, memeluk setiap bangun pagi atau sebelum kerja. Bila hal ini dilakukan, bagaimanapun ‘chemistry’ akan terbangun kembali. Membicarakan dengan afirmasi atau menuliskan hal-hal yang indah yang dikenang bersama sebagai simbol perjalanan indah yang pernah dilalui. Belajar dari pasangan-pasangan yang sehat dan bahagia dalam relasinya maupun mereka yang sedang berjuang dalam relasinya. Kita bisa bercermin bagaimana situasi dengan pasangan bisa menjadi lebih baik dengan belajar saling menenggang rasa dengan pasangan. Bersepakatlah dalam hal ini untuk sama-sama bisa dijalani walaupun berat dan canggung di awal-awal, sehingga tujuan melanjutkan relasi berarti menyetujui kesempatan kedua yang lebih indah dengan pemahaman baru. Namun di atas segalanya, semua bergantung pada diri sendiri: beranikah kita memaafkan?

Tidak mudah bagi seseorang untuk berubah menjadi lebih baik. Jika pasangan kini dapat melakukannya, terimalah dengan besar hati. Ketimbang menyesali kenapa tidak terjadi sejak dulu, lebih baik bersyukur karena pengkhianatan itu bisa ditransformasikan menjadi pencerahan dalam hubungan dan trauma dari pengkhianatan telah membawa pelepasan. Manusia dewasa adalah manusia yang bisa memahami emosinya dan melepasnya di saat pemahaman hadir dalam setiap peristiwa di hidup untuk menjadikan kita menjadi manusia yang lebih baik. Seperti Desmond Tutu pernah menuliskan forgiveness says you are given another chance to make a new beginning, pengampunan memberikanmu satu kesempatan lagi untuk memulai awal yang baru.

 

Dominika Oktavira Arumdati

Dominika Oktavira Arumdati

Dominika Oktavira Arumdati, ibu rumah tangga dari 2 remaja yang menaruh kepedulian pada isu kesehatan mental dan saat ini senang belajar tentang pengembangan diri untuk menyembuhkan diri dan keluarganya. Belajar tentang pangan sehat, pendidikan lingkungan dan mengembangkan usaha produksi perawatan tubuh yang ramah lingkungan adalah kegiatan lain yang sedang digelutinya. Saat ini sedang melakukan studi di Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta.

Related Posts

[Tips]  Berdamai Dengan Dunia

[Tips] Berdamai Dengan Dunia

[Tips] Mencapai Kedamaian Batin

[Tips] Mencapai Kedamaian Batin

[Tips] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Tips] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Tips] Self Awareness dalam Konflik

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors