[Media]  Cara Berpikir Sistem untuk Menyelesaikan Persoalan di Komunitas

[Media] Cara Berpikir Sistem untuk Menyelesaikan Persoalan di Komunitas

Sejak tahun 2002, KAIL telah menyelenggarakan pelatihan Cara Berpikir Sistem (CBS). Pelatihan tersebut bertujuan untuk membantu para agen perubahan agar dapat lebih efektif di dalam kerja-kerja perubahan sosialnya. Di dalam pelatihan CBS, para peserta diajak untuk memetakan persoalan-persoalan yang mereka hadapi, memahami kaitan persoalan-persoalan tersebut dalam kerangka yang lebih luas, kemudian menemukan ruang-ruang intervensi strategis dan dengan sadar memilih intervensi strategis yang sesuai dengan lingkaran pengaruh masing-masing.

 

Di awal-awal tahun berdirinya KAIL, CBS dilaksanakan dengan meminjam ruang-ruang publik, seperti kelas-kelas di kampus, sekretariat salah satu organisasi, maupun rumah salah satu anggota atau teman di jaringan KAIL. Sejak tahun 2014, KAIL memiliki sekretariat sendiri, yaitu Rumah KAIL. Sejak saat itu sampai dengan Februari 2020, Pelatihan Cara Berpikir Sistem dilaksanakan secara rutin di Rumah KAIL. Dengan adanya pandemi COVID-19, Rumah KAIL tidak lagi mengadakan pelatihan-pelatihan offline dan KAIL mengembangkan berbagai metode pembelajaran jarak jauh berbasis internet untuk pelatihan Cara Berpikir Sistem ini.

 

Lepas dari online atau offline, di dalam pelatihan CBS peserta diajak untuk masuk ke dalam “gunung es” persoalan. Di permukaan gunung es yang paling atas, peserta diajak untuk melihat kejadian-kejadian yang menjadi kepedulian atau keprihatinan mereka. Misalnya, sampah menumpuk, banjir, pencurian motor, mahasiswa stress, petani bangkrut, buruh di PHK ataupun masalah-masalah lain yang menjadi kepedulian mereka. Di tahap ini seluruh kejadian yang menjadi keprihatinan dituliskan.

 

Dari kejadian-kejadian tersebut, para peserta diajak untuk mengenali pola yang terkait dengan kejadian-kejadian tersebut. Misalnya persoalan banjir. Apakah banjir itu hanya terjadi sekali saja? Atau apakah terjadinya setiap periode waktu tertentu? Bagaimana pola kejadiannya? Misalnya kasus banjir terjadi di setiap musim hujan, dan setiap lima tahun banjirnya lebih besar daripada tahun-tahun yang lain. Dan misalkan diketahui dari data bahwa setiap tahun ke tahun tingkat keparahan banjirnya meningkat. Hal yang sama dilakukan untuk kejadian-kejadian yang lain.

 

2-4
Analisis Gunung Es (Iceberg Analysis) yang digunakan dalam Pelatihan Cara Berpikir Sistem KAIL (Sumber: Dokumentasi KAIL)

 

Setelah mengenali pola, mereka diajak untuk memetakan struktur sistem, yaitu pola hubungan sebab akibat yang membentuk sistem. Tahap ini dilakukan dengan mengajukan dua pertanyaan kepada setiap kejadian, yaitu mengapa terjadi dan apa akibatnya. Mengapa terjadi dan apa akibatnya ini bisa dipecah untuk kelompok sosial yang berbeda karena bisa jadi setiap aktor menyebabkan dan mengalami akibat dari kejadian secara berbeda. Berdasarkan struktur sistem tersebut, peserta diajak untuk memahami persoalan dalam kaitannya dengan berbagai persoalan lainnya yang saling terhubung membentuk satu hubungan yang kompleks. Di dalam kompleksitas ini, para peserta diajak untuk mengenali leverage points, yaitu titik-titik strategis yang apabila diintervensi maka akan besar pengaruhnya terhadap sistem.

 

Donella Meadows merumuskan ada 11 tingkatan leverage points, di mana kita dapat membuat perubahan. Di dalam pelatihan CBS Dasar KAIL, peserta berkenalan dengan dua di antaranya, yaitu Reinforcing Loop dan Balancing Loop. Di dalam Reinforcing Loop, segala sesuatu tumbuh dengan sendirinya, makin lama makin kecil atau makin lama makin besar. Di dalam Balancing Loop, segala sesuatu akan mencari kesetimbangan, misalnya jadi stabil, atau berosilasi secara periodik yang menghasilkan kesetimbangan dalam jangka panjang. Dengan mengenali adanya Reinforcing dan Balancing Loop, para peserta dapat memahami struktur-struktur yang mempengaruhi masalah yang menjadi keprihatinan mereka. Dengan pemahaman tersebut, mereka dapat membuat strategi intervensi untuk perubahan yang diinginkan.

 

Sebagai contoh, mereka ingin menyelesaikan persoalan sampah. Misalkan di dalam persoalan sampah ini ada reinforcing loop berupa produksi sampah yang terus bertambah dihasilkan dari konsumsi manusia. Di sisi lain, terdapat balancing loop berupa keterbatasan daya dukung alam, misalnya dalam bentuk keterbatasan lahan untuk tempat pembuangan akhir (TPA). Jika mereka merumuskan penyelesaian persoalan sampah dilakukan hanya dengan pemilahan saja, maka dari struktur sistem kita tahu bahwa itu tidak akan menyelesaikan masalah. Dari struktur sistem tersebut, kita tahu bahwa kita perlu memperhatikan batas daya dukung alam untuk mengolah sampah kita dan pada saat yang sama kita juga perlu melakukan intervensi terhadap pola konsumsi manusia yang menghasilkan banyak sampah agar menjadi pola konsumsi yang sedikit atau bahkan tidak menghasilkan sampah. Hanya dengan cara demikian, maka perubahan sistemik dapat terjadi.

 

1-8
Suasana Pelatihan Cara Berpikir Sistem di Rumah KAIL (Sumber: Dokumentasi KAIL)

 

Di dalam membuat perubahan sistemik, seringkali kita perlu bekerja sama dengan berbagai pihak yang berbeda keahliannya dengan kita. Hal ini sangat wajar mengingat persoalan-persoalan yang menjadi keprihatinan merupakan persoalan kompleks yang memerlukan berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikannya. Ini membutuhkan keterampilan yang lain, yaitu berkolaborasi dengan para pihak dari berbagai disiplin ilmu.

 

Setelah memahami struktur dan menemukan ruang-ruang intervensi strategis, pertanyaan yang lebih mendalam yang bisa diajukan adalah pola pikir apa yang menyebabkan perilaku sistem tersebut? Mengapa pola pikir tersebut muncul? Bagaimana prosesnya? Pemahaman akan pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membawa kita pada gagasan-gagasan untuk mentransformasi sistem ke arah kondisi yang lebih diinginkan. Sebagai contoh, di dalam persoalan sampah, pola pikir yang mungkin berkembang di masyarakat adalah plastik lebih bersih dari daun pisang, jadi akan lebih baik untuk kesehatan jika kita membeli makanan dengan kemasan plastik daripada kemasan daun pisang. Berdasarkan persepsi tersebut, konsumsi makanan berbungkus plastik lebih banyak daripada yang berbungkus daun. Untuk mentransformasi hal ini, kita perlu tahu persis, apakah memang plastik lebih bersih dari daun pisang? Apakah yang dimaksud dengan bersih? Apakah bersih ini terkait dengan kesehatan? Apakah yang dimaksud dengan sehat? Apakah bersih memang berarti sehat di dalam konteks kemasan makanan? Apa sebetulnya yang mempengaruhi kebersihan dan kesehatan makanan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab dan dicari rujukannya. Dan setelah dipahami dengan baik, dapat dijadikan bahan untuk mempromosikan pola pikir baru yang lebih mendukung visi kita.

 

Itu adalah sekilas contoh proses di dalam pelatihan Cara Berpikir Sistem yang diselenggarakan oleh KAIL. Proses berpikir ini tentu saja tidak akan selesai dalam satu hari pelatihan. Meskipun demikian, para peserta diharapkan dapat memahami prinsip-prinsipnya dan menerapkannya sendiri dalam konteks masing-masing setelah pelatihan selesai. Para peserta disarankan untuk membentuk kelompok-kelompok di mana mereka dapat mendiskusikan persoalan-persoalan mereka bersama-sama sesuai dengan minat masing-masing. Jika dibutuhkan, para tim pendamping KAIL dapat dihubungi untuk memberikan bantuan. Tim Fasilitator KAIL juga memberikan layanan fasilitasi untuk membahas persoalan dan mencari penyelesaian persoalan tersebut untuk kelompok tertentu, misalnya komunitas relawan, organisasi, pokja maupun instansi.

 

Semoga pelatihan-pelatihan CBS dapat menjadi media untuk membantu para peserta menyelesaikan persoalan-persoalan masing-masing serta menjadi salah satu cara bagi mereka untuk memfasilitasi penyelesaian persoalan-persoalan di masyarakat.

 

Apakah Anda tertarik untuk  mengetahui lebih lanjut? Silahkan menghubungi :

Fransiska Damarratri – kail.informasi@gmail.com

 

 

 

 

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Media] The Earthing Movie: The Remarkable Science of Grounding

[Media] The Earthing Movie: The Remarkable Science of Grounding

[Media] Kiss the Ground

[Media] Kiss the Ground

[Media] Radical Forgiveness – Kunci Pendewasaan Jiwa

[Media] Radical Forgiveness – Kunci Pendewasaan Jiwa

[Media] Zootopia: Perubahan Dimulai dari Dirimu Sendiri!

[Media] Zootopia: Perubahan Dimulai dari Dirimu Sendiri!

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 5
Total Visitors: 3279

Visitors are unique visitors