[Media] Belajar dari Film True Cost

Oleh: Jeremia

Tidak bisa dipungkiri bahwa pakaian bukan lagi sekedar penutup aurat tapi sudah jadi cara kita mengomunikasikan siapa diri kita kepada masyarakat. Pakaian adalah tentang seperti apa kita ingin dipersepsikan orang lain. Persepsi ini sangat beragam spektrumnya. Mulai dari ingin dilihat paling berkelas, paling mengikuti tren, atau sekedar ekspresi seperti kaus dengan tulisan atau logo bermakna tertentu.
                 
Ada hal yang menarik terjadi di industri pakaian belakangan ini. Dalam 15 tahun terakhir harga jual pakaian terus menurun namun profit perusahaan besar seperti Zara, H&M, atau Forever21 terus meroket. Puncaknya industri ini mencatatkan rekor profit tertinggi dalam sejarah pada tahun 2016. Bukan hanya itu, industri pakaian (khususnya fast fashion) menempatkan salah satu pentolannya yaitu pemilik merek pakaian Zara menjadi orang terkaya ke 3 di dunia pada tahun 2017.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana bisa sebuah industri terus mencatatkan peningkatan keuntungan sementara harga jual barang mereka terus mengalami penurunan. Untuk menjawabnya saya ingin berbagi informasi-informasi dari sebuah film berjudul TRUE COST. Film ini disutradarai oleh Andrew Morgan dan kawan-kawan. Melalui TRUE COST, mereka berusaha mencari jawaban tentang berapa harga sebenarnya baju dan celana yang kita pakai. Mereka juga mencari informasi bagaimana industri sandang global beroperasi.  

TRUE COST
Berapa harga baju yang biasa anda beli? Jawabannya akan sangat tergantung merk dan lokasi kita membeli. Bila membeli baju tanpa merk di pasar, harganya mungkin hanya Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah). Namun bila anda membeli merk pakaian mewah di mal berkelas, harga satu potongnya bisa mencapai puluhan juta rupiah. 
Salah satu gudang di pabrik pakaian di China.
 Sebagaimana produk lainnya di pasaran, harga akan ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran serta harga bahan baku dan biaya operasional pembuatannya. Berdasarkan pengakuan salah satu produsen baju asal China di film TRUE COST terungkap bahwa sebenarnya harga produksi sepotong pakaian terus meningkat dalam 15 tahun terakhir. Lalu bagaimana Zara dan kawan-kawan bisa meraih peningkatan keuntungan yang gila-gilaan sementara biaya produksi terus meningkat?
HARGA MANUSIA
Sebagai bagian akhir di rantai pasok sebelum ke konsumen, Zara dan kawan-kawan ternyata mengontrakkan pekerjaan awal pembuatan baju pada perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, biasa dikenal dengan sebutan perusahaan vendor, di Bangladesh, Kamboja, India, dan Cina.  Zara dan kawan-kawan tahu bahwa banyak perusahaan vendor akan mengemis pekerjaan pada mereka. Ini mereka manfaatkan betul dengan meminta perusahaan tersebut menurunkan harga jual pakaian. Mereka berlomba-lomba  menekan perusahaan agar terus memberikan harga yang lebih murah. Alasan yang mereka gunakan adalah kompetisi. Bila mereka tidak bisa memberikan harga lebih murah, maka Zara dkk tidak akan menggunakan jasa mereka dan mencari perusahaan lain yang bisa di-outsources sesuai kemauan mereka. “No squeezing the price, no job
Pemilik perusahaan tentu harus memutar otak untuk bisa memenuhi keinginan Zara dkk. Kain, bensin, listrik, dan tanah tidak bisa dinegosiasikan untuk berproduksi. Satu-satunya yang bisa dinegosiasikan adalah bagian paling lemah di rantai produksi yaitu manusia.
Manusia yang tidak berdaya dan tidak punya banyak pilihan untuk menghidupi dirinya mau tak mau menurut saja dengan apa yang perusahaan mau daripada mereka dan anak mereka harus mati kelaparan. Pekerja bukan hanya harus menerima gaji yang kecil, mereka juga harus mau dipaksa kerja dalam kondisi yang menyesakkan. Mereka harus bekerja di gedung yang rapuh, kondisi yang penuh racun, dan tidak ada hari libur.

Puncaknya pekerja bahkan harus rela kehilangan nyawa. Kejadian runtuhnya bangunan 9 lantai di Bangladesh yang menewaskan 1.134 orang membuka mata dunia. Ya, anda tidak salah baca. Sebanyak 1.134 orang yang sehari-hari bekerja di Rana Plaza, Dhaka, Bangladesh harus meregang nyawa karena kondisi bangunan tempat mereka bekerja sudah keropos, tidak terawat, dan akhirnya ambruk.  Mereka sudah protes pada pemilik perusahaan, namun apa daya, pemilik hanya peduli pada pemenuhan tenggat dari Zara dkk. Akhirnya, pekerja pun dipaksa masuk untuk bekerja bahkan dengan cara-cara penuh kekerasan. 

Rana Plaza yang runtuh pada tahun 2013 di Dhaka, Bangladesh

Di dunia ketiga dimana orang menganggur jauh lebih banyak dibanding pekerjaan yang tersedia, menempatkan manusia sebagai komoditas bukanlah hal baru. Harga tenaga manusia bisa sangat relatif tergantung berapa banyak “pasokan manusia” yang ada. Jika protes karena digaji rendah dan kondisi tempat kerja yang memprihatinkan, anda hanya punya dua pilihan. Silahkan keluar atau belajar menerima kesengsaraan ini.
HARGA LINGKUNGAN
Selain manusia, harga yang tidak diperhitungkan ketika membuat baju adalah lingkungan. Coba bayangkan sejenak jika tiap sumber air yang tercemar oleh bahan kimia untuk memproduksi pakaian, tanah yang menampung akumulasi residu pestisida tanaman kapas, dan udara yang terkontaminasi banyak racun pabrik, dikuantifikasi dalam nilai uang lalu dibebankan ke harga jual baju. Masih mungkinkah harga pakaian kita seperti sekarang?
Keadaan tanah, air, dan udara adalah hal lain yang tidak dihiraukan oleh perusahaan selain manusia pekerja. Semua ini dianggap komoditas semata. Peduli setan dengan keadilan, kesejahteraan pekerja, serta kondisi alam. Selama menghasilkan profit yang pertumbuhannya eksponensial, semuanya bisa dikompromikan.

Terbukti, dalam 15 tahun terakhir polusi yang ditimbulkan fashion industry dari hulu sampai hilir mengalami peningkatan signifikan. Bahkan saat film TRUE COST diluncurkan (tahun 2015), fashion industry menempati posisi ke-2 sebagai industri paling kotor di dunia hanya kalah dari industri minyak dan gas.

Sungai Gangga di India tercemar industri garmen
DIWAJARKAN SISTEM

Menurut Prof. Richard Wolff dari New School University, New York, penyebab kejadian ini bukan lagi tentang produksi dan seterusnya. Ini adalah tentang sistem yang tidak baik. Sistem yang hanya menguntungkan segelintir jajaran direksi dan pemegang saham. Kekuasaan yang hanya ditempatkan di segelintir orang tersebut hanya akan melayani kepentingan orang-orang tersebut di atas segalanya. Bagi mereka, perusahaan hanyalah alat pengeruk keuntungan. Profitlah yang akan jadi parameter utama kesehatan perusahaan. Selama profit terus lancar dan tumbuh, terlepas dari banyak hal yang dirusak dan banyak pekerja yang sengsara, perusahaan akan jalan terus.

Prof. Richard Wolff.
Mereka bukan hanya berdaya sebagai puncak kekuasaan pada rantai produksi, namun mereka juga bisa mengatur perilaku konsumen. Dengan kekuasaan menentukan arah perusahaan dan modal yang melimpah, mereka bisa melancarkan propaganda sedemikian rupa sehingga memastikan akan selalu ada aliran konsumen yang membeli semua barang mereka.
                Pandangan ekonomi klasik mengenai pertumbuhan dan profit membuat praktik-praktik ini diwajarkan. Tapi kita tahu bahwa sumber daya alam kita begitu terbatas. Apakah mungkin sumber daya alam yang terbatas ini bisa memenuhi nafsu mengejar pertumbuhan yang tak berbatas?
YANG BISA KITA LAKUKAN
Tentu penyiksaan pekerja dan perusakan alam yang dilakukan pelaku fashion industry dari hulu sampai hilir tidak bisa dibiarkan. Keadaan tersebut harus segera dihentikan atau paling tidak dikurangi.
Dalam film TRUE COST, seorang jurnalis isu lingkungan yang bernama Lucy Siegel berkata,” You turn all consumer into activist, all consumer asking how their clothes are made, where that come from, and all consumer then consciously saying, “It is not right that someone must die making those clothes”.
 Kita mungkin tak punya kekuatan langsung untuk mengubah aturan, memaksa aparat menindak perusahaan nakal, atau meminta para pekerja jangan lagi kerja di perusahaan tersebut. Tapi kita punya kekuatan yang sebenarnya masih sangat besar. Kita bisa menolak membeli pakaian buatan perusak lingkungan dan kemanusiaan.
Dengan memilih membeli pakaian dari perusahaan yang lebih peduli lingkungan dan pekerjanya kita membuat para perusak lingkungan dan kemanusiaan itu tidak berdaya karena tidak lagi memiliki aliran uang ke dalam kas mereka. Saat ini, uang adalah kekuasaan. Kita tidak bisa menolak kenyataan itu. Membuat penjahat kemanusiaan dan lingkungan tidak punya uang sama dengan membuat mereka tidak punya kuasa untuk melanjutkan operasi perusakan mereka.

Dalam memilih perusahaan mana yang memproduksi pakaian secara baik juga sudah tidak terlalu sulit. Ada banyak gerakan yang mengarahkan perusahaan untuk lebih sadar terhadap lingkungan. Fair trade, ecoage, dan conscious capitalism adalah segelintir contoh. Perusahan-perusahaan yang mengikuti aturan main gerakan tersebut juga tidak sedikit. Salah satu contoh terkenal di bidang fashion adalah People Tree.

Kegiatan fair trade di Jepang.

Kita harus sadar bahwa konsumen punya daya ubah dan konsumen yang memiliki kesadaran tinggi akan barang yang mereka beli punya daya ubah yang lebih dahsyat lagi. Sambil berharap ada pemerintah yang lebih berani menegakkan aturan, kita bisa meningkatkan kesadaran akan asal usul barang yang kita beli. Kesadaran sederhana ini akan membantu kita lebih bijak dalam membeli banyak hal, bukan lagi sekadar pakaian, dan ujungnya bisa mengubah keadaan dunia lebih baik.

Avatar

Jeremia Bonifasius Manurung

Related Posts

[Media] The Earthing Movie: The Remarkable Science of Grounding

[Media] The Earthing Movie: The Remarkable Science of Grounding

[Media] Kiss the Ground

[Media] Kiss the Ground

[Media] Radical Forgiveness – Kunci Pendewasaan Jiwa

[Media] Radical Forgiveness – Kunci Pendewasaan Jiwa

[Media] Zootopia: Perubahan Dimulai dari Dirimu Sendiri!

[Media] Zootopia: Perubahan Dimulai dari Dirimu Sendiri!

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 1
Total Visitors: 2140

Visitors are unique visitors