[Masalah Kita] Kisah Kasih Kota dan Desa (K3D)

Ancaman perubahan iklim saat ini bukan sekedar wacana biasa. Banyak hal yang terjadi tanpa kita sadari adalah akibat dari perubahan…
1 Min Read 0 21

Ancaman perubahan iklim saat ini bukan sekedar wacana biasa. Banyak hal yang terjadi tanpa kita sadari adalah akibat dari perubahan iklim. Salah satu ancamannya adalah terjadinya berbagai bencana terutama bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi menjadi bencana yang dominan melanda Indonesia khususnya banjir, longsor, pergerakan tanah, dan puting beliung. Di sepanjang bulan November-Desember 2024, tercatat bencana hidrometeorologi terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya wilayah provinsi Sumatera Utara dan Jawa Barat sebagai berikut. Di Provinsi Sumatera Utara, sebanyak 16 orang meninggal dunia dan tujuh orang dinyatakan hilang akibat  bencana banjir dan tanah longsor. Sementara itu, di Provinsi Jawa Barat, 20.629 orang warga terdampak dan 476 jiwa diantaranya terpaksa mengungsi karena lingkungan tempat tinggal mengalami kerusakan.

Kejadian bencana tersebut bahkan diceritakan dalam buku “Bumi Yang Tak Dapat Dihuni: Kisah Masa Depan” karya David Wallace-Wells, adalah sebagian rentetan bencana yang terjadi akibat perubahan iklim. Dalam buku yang sama, jika proyeksi-proyeksi tentang masa depan bumi tidak dilakukan pencegahan lebih dini, maka akan terjadi rentetan bencana yang lebih menyeramkan seperti bencana gelombang panas yang luar biasa, kelaparan, tenggelam, kebakaran, kekurangan air, laut yang sekarat, udara yang tidak bisa dihirup, wabah penyakit, dan konflik. Lalu apa yang menyebabkan perubahan iklim sehingga terjadi bencana tersebut?

Perubahan iklim terjadi akibat naiknya suhu bumi secara global yang menyebabkan terganggunya sistem di bumi mencakup reaksi biologi, fisika, dan kimia. Sebagai contoh, kenaikan suhu, akan menyebabkan es di kutub mencair. Mencairnya es di kutub akan menaikkan tinggi permukaan laut yang berakibat pada menyempitnya luas sebuah pulau. Pada wilayah lain terjadi kekeringan yang tidak seperti biasanya, lalu di wilayah yang lain terjadi banjir, longsor, dan bahkan puting beliung. Artinya, sistem alami bumi terganggu. Lalu apa yang menyebabkan naiknya suhu bumi?

Suhu bumi mengalami kenaikan akibat berbagai macam kejadian yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak seimbang dengan tanpa diimbangi oleh kondisi bumi untuk menyeimbangkan aktivitas tersebut. Salah satu aktivitas yang luput dari perhatian adalah bahwa faktanya, pertanian kini berada di urutan kedua di antara penghasil gas rumah kaca terbesar. Sistem pertanian konvensional sebagai penghasil barang/bahan pangan mulai dari mentah hingga menjadi sampah, mengalami berbagai perjalanan yang kompleks dan telah menjadi sistem tersendiri yang diproyeksikan berimbas pada terjadinya perubahan iklim. Seperti contoh: 

  1. Praktek pembukaan lahan untuk pertanian kerap mengkonversi lahan hutan menjadi lahan pertanian. Konversi lahan hutan ini menyebabkan pelepasan gas karbondioksida (CO2) yang sebelumnya terperangkap dalam pohon dan tanah. Lebih buruk lagi, jika konversi lahan dilakukan dengan cara pembakaran;
  2. Praktek peternakan hewan ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba menghasilkan gas metana (CH4) pada proses pencernaan hewan ternak melalui sendawa hewan dan kotoran hewan yang dihasilkan;
  3. Penggunaan pupuk sintetis seperti urea atau amonium nitrat dan penggunaan pestisida kimia menghasilkan emisi gas karbondioksida (CO2) . 
masalah-kita_picture1
Gambar 1 Emisi Gas Rumah Kaca Global berdasarkan Sektor

 

masalah-kita-2-2
Gambar 2 Daur Materi Eksisting

Produksi Pangan Pertanian

Dalam sistem pertanian konvensional, bahan pangan yang telah dipanen tidak langsung didistribusikan melainkan masuk ke dalam proses industrialisasi. Dalam proses industrialisasi, pangan yang sebetulnya sudah siap dikonsumsi justru diberi kemasan agar tampak menarik dan tahan lama. Pengolahan makanan tersebut membutuhkan sumber daya energi yang berasal dari bahan bakar fosil dan menghasilkan gas karbondioksida (CO2). Selain itu, selama proses ini akan menghasilkan limbah berupa bahan kimia berbahaya dalam berbagai bentuk (gas, cair, padat) yang terlepas ke lingkungan dan berdampak pada kerusakan ekosistem. 

Distribusi Pangan Pertanian

Distribusi adalah proses penyaluran (pembagian, pengiriman) kepada beberapa orang atau tempat. Tahap distribusi memerlukan sarana dan prasarana terutama transportasi dengan kebutuhan bahan bakar yang menghasilkan emisi karbon. Semakin panjang perjalanan yang ditempuh, semakin besar kebutuhan bahan bakar dan emisi berupa karbondioksida (CO2) yang dihasilkan. 

Konsumsi Pangan Pertanian

Konsumsi adalah pemakaian barang hasil produksi. Pada tahap konsumsi, terjadi pengurangan nilai barang karena pemanfaatan. Tahap konsumsi merupakan tujuan dari proses daur materi. Daur yang terjadi akibat kebutuhan manusia sebagai konsumen. Namun sayangnya, aktivitas konsumsi pangan di kota dalam jumlah besar tidak ditangani dengan tepat. Sehingga sisa konsumsi tersebut berubah fungsi menjadi sampah yang tidak memiliki manfaat dan justru memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.

Pembuangan

Sampah pangan yang dihasilkan oleh kota merupakan komposisi paling besar dari jumlah sampah yang dihasilkan. Rata-rata kota besar di Indonesia menghasilkan sampah dengan proporsi >50% nya adalah sampah organik hasil pangan. Kondisi penanganan sampah saat ini adalah sampah masih tercampur antara sampah organik dan sampah lainnya. Akibatnya, materi ini tidak lagi memiliki manfaat, berpotensi menuju TPA dan Lautan, yang menyebabkan terjadinya pelepasan racun ke lingkungan sepanjang proses penguraian. Tahapan pembuangan yang tidak diimbangi oleh penguraian yang baik akan mencemari lingkungan (tanah, air, dan udara) secara menyeluruh.

Sistem di atas dapat dikatakan sebagai sistem daur materi/ nutrisi linier. Nutrisi yang berasal dari lahan subur di desa, tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga terjadi kehilangan nutrisi pasca konsumsi di kota. Sistem linier yang terjadi dalam jangka waktu tertentu akan menyebabkan nutrisi lahan di desa mengalami  penurunan secara terus menerus. Akibatnya, lahan pertanian yang semula subur akan berubah menjadi lahan kritis. Di sisi lain, kebutuhan lahan untuk pertanian akan memaksa terjadinya perubahan tata guna lahan, baik itu berasal dari lahan hutan atau lahan gambut yang memiliki peranan penting dalam siklus karbon (pengurangan gas rumah kaca). Praktik pertanian seperti ini dapat dikatakan tidak berkelanjutan yang pada akhirnya, akan memberikan dampak pada kenaikan suhu global. 

masalah-kita3
Gambar 3 Siklus Timbal Balik Nutrisi

Dalam interaksi kota dan desa saat ini, tidak terjadi timbal balik dalam hal perbaikan nutrisi/materi. Desa cenderung dipaksa untuk memenuhi kebutuhan kota secara terus-menerus tanpa memperhatikan kebutuhan desa agar berkelanjutan. Sudah saatnya desa mendapatkan timbal balik dari kota melalui penerapan siklus timbal balik nutrisi pada proses pengolahan sampah organik. Jika ini dapat dilakukan, diharapkan lahan desa sebagai penghasil pangan setidaknya tidak mengalami miskin nutrisi. Nutrisi dalam bentuk pangan yang didistribusikan ke kota akan dikembalikan ke desa melalui skema pengolahan sampah organik menjadi pupuk alami bagi lahan pertanian di desa. Di samping itu, pupuk alami hasil pengolahan sampah organik bisa dimanfaatkan untuk perbaikan nutrisi pada lahan kritis. 

Untuk memulai sistem ini dibutuhkan model kawasan sebagai prototipe pelaksanaan siklus timbal balik nutrisi kota dan desa. Prinsip dalam pengujian model kawasan ini adalah memilih lokasi yang paling siap dalam hal kelembagaan, pembiayaan, dan operasional. Tidak disarankan untuk memilih lokasi yang belum siap dalam aspek kelembagaan, pembiayaan, dan operasional. Hal ini perlu menjadi prinsip, agar tujuan dari pengembangan model lebih mudah tercapai sehingga tercipta formula yang dapat digunakan kembali di kawasan lainnya. Pertimbangkan kedua lokasi antara lokasi di kota dan lokasi di desa. Karena pengembangan model ini akan melibatkan dua pihak (kota dan desa) yang akan saling berinteraksi dan terintegrasi dalam jangka waktu tertentu. Sehingga kesiapan kelembagaan, pembiayaan, dan operasional perlu dipertimbangkan pada kedua pihak. Lokasi yang dipilih dapat dimulai dari unit kawasan terkecil pada kabupaten/kota yaitu desa dan kelurahan.

Setelah dilakukan pemilihan lokasi berdasarkan kesiapan, kota dan desa secara bersama-sama akan membuat perencanaan dan implementasinya secara kolaboratif. Seluruh kegiatan dalam sistem ini akan dilaksanakan secara bersama-sama. Penyelesaian masalah yang terjadi akan ditanggung secara bersama-sama hingga keberhasilan dari sistem ini akan dirasakan secara bersama-sama. Melalui pelaksanaan siklus timbal balik nutrisi, kota dan desa dapat menjalin kisah bersama dalam menangani isu perubahan iklim dengan cara saling berbagi kasih nutrisi yang dibutuhkan oleh masing-masing. Membebaskan lingkungan dari tanah yang tandus dan tergenang, membebaskan dari bencana yang tidak semestinya terjadi.

 

Referensi:

  1. https://www.antaranews.com/berita/4539830/bergelut-dengan-nestapa-akibat-bencana-sepanjang-2024
  2.  Wallace David, Wells. 2019. Bumi Yang Tak Dapat Dihuni: Kisah Masa Depan. Cetakan Pertama. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta
  3. https://www.wri.org/insights/4-charts-explain-greenhouse-gas-emissions-countries-and-sectors

 

Muhammad Dera Purdiansyah

Menyelesaikan pendidikan sarjana pada tahun 2019 di Universitas Islam Bandung sebagai Sarjana Perencanaan Wilayah dan Kota. Sejak tahun 2019 sampai sekarang bekerja di YPBB Bandung, sebuah organisasi yang memperjuangkan terciptanya kehidupan masyarakat untuk mencapai kualitas hidup yang tinggi dengan gaya hidup yang selaras dengan alam. Sejak tahun 2019, berperan dalam kampanye Zero Waste Solution dan memberikan asistensi teknis kepada pemerintah kabupaten/kota yang tercakup di Metropolitan Bandung Raya dan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Karawang. Saat ini memiliki ketertarikan pada Pengembangan Wilayah dan Pembangunan Berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.