[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

Setiap orang memiliki kisahnya sendiri terkait apa yang membuatnya “tidak damai”. Bagi Mbak Gina, seorang ibu yang bergiat di sebuah komunitas pendidikan, rasa tidak damai dalam hidupnya dikarenakan tidak punya uang yang cukup, konflik dalam keluarga, dan pengalamannya mengurus masyarakat yang memiliki berbagai isu. Mbak Mala, seorang pendidik dan peneliti yang hobi menari, pernah merasa tidak damai karena merasakan bullying sebagai akibat dari bentuk tubuhnya yang besar, termasuk oleh keluarga. Juga, terkait cinta, keluarga, dan pencapaian dalam hidup. Mbak Rosa, seorang aktivis buruh dan perempuan pernah merasa tidak damai karena apa yang diimpikannya berbeda dengan kenyataan. Mimpinya tentang dunia tanpa penindasan dan patriarki, tetapi kenyataan di lapangan berkata lain.

Saya berkesempatan mewawancarai Mbak Gina, Mbak Mala dan Mbak Rosa untuk mempelajari pandangan dan perjalanan mereka untuk berdamai dengan diri sendiri. Inilah kisahnya.

Di masa mudanya, Mbak Gina pernah punya kesulitan keuangan sehingga tak mampu membayar uang kuliah. Ibunya, seorang pegawai negeri yang sebenarnya tidak terlalu berkekurangan. Kalau memilih berkuliah di dekat kampung, Mbak Gina akan memerlukan biaya yang lebih sedikit. Namun, Mbak Gina memilih berkuliah di sebuah kampus negeri yang prestisius di kota yang biaya hidupnya tidaklah murah.
“Saat waktunya membayar uang kuliah, saya butuh satu juta rupiah. Tidak banyak, tapi saya tidak punya. Saya mendatangi kampus, menyampaikan masalahnya, mencoba mencari beasiswa dengan mengikuti proses birokrasi rumit,” katanya.

Ketika kepastian mengenai beasiswa tak kunjung datang. Mbak Gina menyalahkan dirinya sendiri. Keputusannya berkuliah di kampus tersebut rasanya salah. Pikirnya, “Kenapa memilih kampus dan kota yang mahal seperti ini?”

Mbak Gina, akhirnya memperoleh beasiswa yang memungkinkannya melanjutkan studi. Mengenang kejadian itu, Mbak Gina berkata, “Sebenarnya, tidak apa-apa tidak punya uang. Itu tidak selalu 100% kesalahan saya. Kadang hidup yah kayak begitu. Abis itu aku juga belajar lebih terbuka. Dulu disimpan sendiri. Aku mulai membuka diri terhadap pertemanan, cerita diriku apa adanya. Aku jadi lebih menerima, tidak punya uang tidak apa-apa.”

Keluarga dan pengalaman bermasyarakat juga faktor lain yang membuat Mbak Gina pernah merasa tidak damai. Orang tuanya bercerai dan itu menimbulkan trauma. Saat mengurus komunitas di sebuah kampung, ada berbagai masalah yang ditemuinya. Di kampung tersebut ada anak-anak yang putus sekolah dan kawin muda. Juga ada isu kemiskinan dan konflik antara warga dan pengusaha sekitar. Isu-isu ini tidak selalu mudah dihadapi. Mbak Gina merasa perlu menjaga kesehatan jiwanya agar tidak terlalu sedih dan kelelahan. Ada aktivis yang memang sanggup berinteraksi nyaris 24 jam dengan warga tapi tidak harus selalu begitu. “Saya memilih peran untuk mendukung teman-teman yang terjun ke lapangan dari belakang layar. Mendukung, tapi tak terjun penuh,’ katanya. Mbak Gina merasa terbantu dengan sebuah pelatihan Capacitar yang diikutinya di Kail. Di sana, Mbak Gina belajar untuk menerima emosinya. Kalaupun dirinya belum siap berdamai dengan beberapa isu dalam hidupnya, tidak apa-apa dan tidak perlu dilawan. Itu bagian dari proses. Secara aktif Mbak Gina juga melakukan latihan pernapasan untuk menenangkannya ketika ia merasa membutuhkannya. Ada banyak hal yang sudah bisa diterima oleh Mbak Gina. Dia telah berdamai dengan banyak hal, tapi sebagai manusia, tentu ada hal-hal yang “belum selesai”.

terima-kasih1
Berdamai dengan diri sendiri tidak perlu dilakukan sendirian, bisa juga dilakukan bersama misalnya dengan mengikuti Capasitar, sebuah process self-healing yang dilakukan secara komunal (Sumber: http://kail-bandung.blogspot.com/)

Manusia pada dasarnya kompleks, berdamai dengan satu hal tidak selalu berarti berdamai dengan hal lainnya. Mbak Mala punya kisah menarik mengenai ini. Dirinya pernah menjadi korban bullying karena tubuhnya besar. Stres membuatnya mengalami gejala anorexia, makanan yang telah dimakan selalu dimuntahkan kembali. Tubuhnya tidak sehat. “Di keluargaku, biasanya kalau ada masalah dibiarkan saja. Hidup yah memang pasti ada masalahnya. Tapi di masa itu aku sampai ke titik, kalau saya gak minta tolong, saya pasti akan mati.”

Seorang teman memperhatikan Mbak Mala, dan mengulurkan tangan untuk menjadi tempat mencurahkan isi hati. Mbak Mala memilih untuk mencurahkan isi hatinya kepada teman-temannya sampai akhirnya urusan bentuk tubuh tidak lagi menjadi masalah. Namun, hal itu bukan berarti dirinya telah sepenuhnya berdamai dengan diri sendiri. Ada kejadian-kejadian yang membuat Mbak Mala tidak kalem. Hal ini biasanya terkait traumanya dengan isu keluarga. Juga terkait percintaan, tidak semua hal berjalan mulus. Dirinya pernah berada dalam sebuah relasi yang toksik. Namun, Mbak Mala telah belajar untuk secara aktif mencari bantuan. Mbak Mala juga belajar bahwa trauma tidak perlu dilawan dan bila perlu dikomunikasikan. Bila diperlukan Mbak Mala menumpahkan isi hatinya kepada teman yang kebetulan juga seorang psikolog. Secara tidak langsung, pengalamannya berdamai dengan isu di masa lalu dan usaha aktifnya untuk mencoba berdamai dengan diri sendiri menyebabkannya lebih memahami dirinya. Kalau dulu, Mbak Mala akan bertahan dalam hubungan yang toksik agar “tak sendiri”, sekarang Mbak Mala memilih untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan terhadap pasangan. Selain itu, Mbak Mala juga menjadi lebih peka terhadap diri dan tubuhnya sendiri. Mbak Mala, tidak ragu untuk berhenti ketika sebuah hubungan dirasa tidak baik bagi dirinya. Prosesnya memang panjang tapi bermanfaat.

Berdamai dengan diri sendiri memang tidak mudah, tetapi perlu dilakukan, apalagi apabila memilih menjadi seorang aktivis. Mbak Rosa merupakan seorang aktivis yang mengurus isu buruh, pendidikan dan perempuan. Dirinya sendiri pernah menjadi korban kekerasan seksual. Traumanya membuatnya lebih sensitif terhadap berbagai isu kekerasan. Kalau ada temannya yang bercerita mengenai relasi yang timpang, ada masanya Mbak Rosa ingin meledak. Tentu itu bukan sikap yang baik, khususnya ketika ingin melakukan pendampingan terhadap perempuan. Isu lain yang membuatnya tidak damai adalah kesulitannya menerima bahwa realita tidak selalu sesuai dengan idealisme. Inginnya dunia yang damai yang bebas dari penindasan namun faktanya, masih banyak penindasan yang terjadi. Buruh, misalnya seringkali diperlakukan secara tidak manusiawi. Dalam beberapa kasus, penindasan ini juga dilegalisasi oleh undang-undang. Mbak Rosa sangat membenci patriarki di mana laki-laki dianggap lebih superior dari wanita. Cita-cita yang diidam-idamkannya adalah agar hubungan manusia senantiasa setara. Namun, di lingkungan terdekat seperti keluarga atau teman, fakta berkata lain. Budaya mengharuskan perempuan berperilaku dan memiliki peran tertentu, tidak jarang sesuai apa yang diharapkan oleh laki-laki.

terima-kasih2
Berdialog dengan teman yang bisa dipercaya memberikan sudut pandang baru untuk memahami berbagai kegelisahan diri (Sumber: https://www.freepik.com/)

Untuk bisa berdamai dengan berbagai kegelisahan yang dihadapinya, Mbak Rosa secara aktif meminta bantuan teman-temannya. Mbak Rosa selalu mencari teman-teman untuk berdiskusi sehingga bisa memahami situasi dan memperoleh sudut pandang baru. Proses diskusi ini membantunya menentukan sikap. Ketika bergerak di kalangan aktivis sendiri, Mbak Rosa sadar, aktivis pun beragam. Misalnya, tidak semua punya perspektif yang sama mengenai isu penindasan dan patriarki. Secara aktif Mbak Rosa melakukan dialog dengan aktivis lain untuk saling memahami persepsi, bahkan strategi masing-masing. “Kadang kita merasa kita paling tahu, paling benar. Padahal bisa jadi tujuan yang ingin dicapai sama, tapi strategi berbeda. Dulu aku gak terima kalau ada orang melakukan sesuatu bukan dengan “caraku”. Tapi sekarang aku belajar untuk lebih fokus pada apa yang sama-sama bisa dilakukan daripada perbedaannya.”
Selain dialog, hal lain yang membantu Mbak Rosa menghadapi hal-hal yang membuatnya tidak damai adalah imajinasi. Dengan berimajinasi, Mbak Rosa menemukan alternatif solusi dari berbagai kegelisahannya. Jumlahnya tak terhingga.

terima-kasih3
Teman membuat proses berdamai dengan diri sendiri lebih mudah (Sumber: https://www.freepik.com/)

Tidaklah sama, hal yang membuat Mbak Gina, Mbak Mala, dan Mbak Rosa tidak “merasa damai”. Masalah-masalah dan trauma yang mengganggu mereka di masa lalu ada yang sudah selesai dan ada yang belum. Namun, ketiganya secara aktif sama-sama berusaha untuk berdamai dengan apapun yang menggelisahkan mereka. Pengalaman berdamai dengan diri sendiri terkait satu isu di masa lalu menjadi pembuka jalan untuk berproses berdamai dengan isu-isu lainnya yang masih mereka hadapi. Menariknya, ketiganya menyatakan bahwa proses berdamai dengan diri sendiri tidak dilakukan seorang diri. Relasi antara manusia juga jadi faktor penting dalam proses menjadi damai ini. Adanya teman yang membuat diri merasa nyaman menceritakan kegelisahan membuat proses berdamai dengan diri sendiri, meskipun melalui jalan yang panjang dan berliku, terasa lebih mudah. Ditambah dengan waktu untuk merenung, berefleksi, dan imajinasi, perlahan jalan untuk berdamai dengan diri sendiri menjadi lebih terang.

Dhitta Puti Sarasvati

Dhitta Puti Sarasvati

Dhitta Puti Sarasvati adalah associate KAIL. Kini, mengajar calon guru di Fakultas Pendidikan Universitas Sampoerna serta  menjadi fasilitator berbagai pelatihan guru.

Related Posts

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Merajut Damai

[Masalah Kita] Merajut Damai

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 1
Total Visitors: 2140

Visitors are unique visitors