[Masalah Kita] Berhenti Bermusuhan dengan Diri Sendiri

[Masalah Kita] Berhenti Bermusuhan dengan Diri Sendiri

19qn9skm9q0mwiohrcv7h7a-3150505
Sumber: Pexel

~ Berdamai: berbaik kembali; berhenti bermusuhan; berunding untuk mencari kesepakatan (KBBI) ~

Mudah membayangkan bermusuhan dan berdamai dengan orang lain. Tetapi dengan diri sendiri? Seperti apa berbaik kembali dengan diri sendiri? Berhenti bermusuhan dengan diri sendiri? Berunding untuk mencari kesepakatan dengan diri sendiri?

***

Soni dan Sonya** adalah orang-orang sukses. Karir dan keluarga berjalan tanpa gejolak berarti. Mereka baik-baik saja. Seperti kita.

Soni hobi berlari dan bersepeda. Lomba lari ratusan km di berbagai kota, biasa ia jadwalkan beberapa kali dalam setahun. Perjalanan ke kantor sejauh 20 km pun ia jabani dengan bersepeda. Melintasi jalanan kota yang padat, panas, dan berdebu selama 1,5 jam, lebih ia sukai dibanding menggunakan kendaraan umum. Tubuhnya kurus hampir tak berlemak. Mungkin seperti ini yang disebut “otot kawat, balung wesi”. Tenaganya seperti tidak pernah habis.

Sonya juga hobi berlari. Meski tak setangguh Soni, tapi jarak 10 km dalam lomba lari sudah beberapa kali ia taklukkan. Karirnya pun melesat pesat. Tahun lalu ia dilantik sebagai direktur di sebuah lembaga besar. Ibu dua anak, yang baik hati dan murah senyum ini, masih bisa menyisihkan waktu untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan seni bersama teman-teman kuliahnya.

***

Seminggu menjelang sebuah lomba lari, Soni memintaku menyembuhkan kram kaki dan nyeri otot archilles kirinya. Pada hari kompetisi, di separuh jalan dia mengontakku lagi. Kali ini mata kakinya. Tetap di kiri. Soni sempat beristirahat lama di sebuah water station. “Tenagaku habis. Kenapa ya, May?” tanyanya sedikit mengeluh dalam perjalanan kembali ke kotanya dengan bis. Walau lapar, dia tidak makan apapun sepanjang perjalanan 4 jam itu.

Orang kagum dengan kekuatan dan ketahanan lelaki paruh baya ini. Tetapi aku melihat sesuatu yang lain pada tubuh energinya. Tubuh energi (dikenal dengan istilah aura) menyimpan banyak informasi tentang kesehatan fisik dan psikis seseorang. Aku menemukan energi trauma, pikiran negatif, fobia, dan kecanduan di tubuh energi Soni. Auranya pun tipis dan tidak seimbang. Sakit yang selalu mampir di sisi kiri tubuhnya punya arti spesifik: terlalu mengalah di setiap konflik.

“Ya, ada beberapa pikiran yang belum selesai sampai sekarang. Kadang bisa kusisihkan. Kadang mendesak dipikirkan,” aku Soni tentang trauma dan pikiran negatifnya. Meski mengiyakan, tidak mudah membantu Soni mengatasi masalahnya. Sudah lima purnama, dia belum juga mau bercerita. Cenderung denial. Untuk setiap saran yang kuberikan, selalu ada argumen bantahan. Baru ketika masalah muncul pada anaknya, ia mulai terbuka. Sedikit.

“Kamu nyadar ga sih, selalu ngeyel tiap kali aku kasih masukan? Tapi sekarang aku tahu kenapa,” kataku tanpa menunggu jawaban. Lalu kujelaskan tentang pelindung cakranya yang pecah. Seperti jendela pecah yang bisa dengan mudah dimasuki debu dan serangga tak diundang, demikian pula dengan pelindung cakranya. Energi negatif masuk ke dalam cakranya, mengganggu dan menahannya dari keinginan untuk sembuh.

Cakra adalah tempat keluar masuknya energi positif dan negatif di tubuh manusia. Cakra memiliki lapisan pelindung. Lapisan ini bisa retak atau pecah ketika seseorang mengalami kejadian emosional yang mengguncang hebat.

Soni terkejut. Sejak itu ia mulai membuka diri dan bercerita banyak. Tentang trauma masa kecilnya. Tentang perkawinannya. Tentang candunya. Tentang fobia di tengah keramaian. Tentang mengalah karena tak tega. Berpuluh tahun ia berhasil menghindari konflik dengan orang lain. Tetapi tidak dengan dirinya sendiri. Hatinya tidak tenang. Ia tak seikhlas yang ia kira. Fisiknya memberontak. Pikirannya penuh. Sebagian – mungkin semua – aktivitas larinya adalah untuk mengkompensasi tekanan psikis yang ia rasakan.

Dua sesi terapi pranic healing jarak jauh cukup membuatnya merasa tenang ati. “Perasaan bersalah itu mulai hilang. Maksudnya diganti sikap semeleh. Ya wis sing wis. Kiro-kiro gitu,” katanya menceritakan suasana hatinya. Sesuatu yang tidak bisa ia lakukan sebelumnya.

Dalam pranic healing seorang healer menyalurkan energi prana untuk membersihkan aura pasien dan memberinya energi untuk kesembuhan fisik dan/atau psikis. Energi prana (energi kehidupan) adalah energi yang terdapat di udara, matahari, pohon, bumi, dan juga ada yang berasal dari Ilahi. Energi disalurkan oleh healer menggunakan tangan atau kristal dari jarak dekat maupun jarak jauh. (Sumber gambar: www.arslucida.mk)

***

Kebalikan dari Soni, Sonya cenderung sakit di tubuh sebelah kanan. Tulang kering, punggung, dada, bahu, lengan – semua di kanan. Pertanda Sonya tipe penuntut. Penuntut yang terlalu keras pada orang lain dan/atau dirinya sendiri. Lima bulan terakhir ini, detak jantungnya sering tak menentu, terutama ketika berlari. Asma, asam lambung dan kaki juga menjadi kendalanya dalam berlari. Obat-obatan dari dokter sudah diminumnya. Hasil medical check-up tahun lalu untuk jantung dan paru, baik. Tetapi sakitnya terus hilang timbul.

Malam itu Sonya kembali menghubungiku via WA. Sesak napas dan sakit dadanya kambuh. Sudah seminggu. Tidur telentang yang sebetulnya bagus untuk membuka otot dada, malah makin membuatnya sesak.  Yakin ada yang salah dengan jantungnya, ia kembali melakukan tes EKG. Esoknya ia mengabariku hasilnya. Normal. Ya, yang tidak normal adalah energi kegelisahan dan iritabilitas yang bertengger di tubuh energinya.

“Sonya, sedang gelisah apa? Sesek napasnya karena ini nih.” Belum sempat ia menjawab, aku sudah bertanya lagi, “Spiritualitas gimana? Lagi turun ya? Mungkin ini yang bikin gelisah?”. Aku melihat cakra mahkotanya mengecil. Cakra yang terletak di atas kepala ini adalah titik masuk energi spiritual, pusat kesadaran jiwa, dan pusat cinta Ilahi.

Diberondong pertanyaan begini, Sonya terhenyak. “Waah, bukan karena aku lagi mens dan ga sholat kan? Beban kerjaan banyak dan aku bawain terlalu serius semua. Bawaan ga easy going dari orok,” keluhnya. “Bukan. Ini bukan tentang ritual religi. Lebih ke koneksi batin kamu sendiri. Jangan ditanggung sendiri, Sonya. Sertakan Gusti Allah dalam setiap kegiatan dan keputusanmu,” pesanku. Sonya kembali tersentak, “Iya yaa.. kadang suka kelupaan merasa beban sendiri. Masih ada Yang Maha Kuasa. Duuhh… Gusti!”

Setelah mendapat tips bagaimana memperlakukan hijab dan berlatih pernapasan untuk memperbesar cakra mahkota, Sonya berjanji mengabariku lagi malam itu. Malam berlalu tanpa kabar darinya. Aku tidak melakukan healing apapun. Kulihat cakra mahkotanya sudah membesar. Sonya pasti sudah melakukan sesuatu.

Benar saja. Besok malamnya ia kembali dengan berita baik. “Feel much better today. Masih sedikit sesek tapi ga kerasa ganggu. Bukan cuma atur nafas seperti yang Maya bilang kemarin, tapi sambil minta maaf sama almarhum orang tua. Virtually. Sama sodara, temen, semua yang keinget aja…”

***

Ketika perdamaian di muka bumi dilakukan oleh manusia-manusia yang belum berdamai dengan dirinya sendiri, maka yang terjadi hanyalah perdamaian semu. Manusia nampak rukun, namun hati dan jiwanya terkoyak, fisiknya pun tak prima. Pada momen-momen tertentu, dengan sedikit senggolan, bom waktu ini meledak. Kita sudah menyaksikannya sendiri beberapa tahun terakhir ini di negeri kita tercinta.

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya tidak damai. Orang mengira ketika suatu masalah tidak lagi dibahas, maka masalah itu sudah selesai. Yang sebenarnya lebih sering terjadi adalah energi negatif dari masalah itu masih tersimpan di tubuh energinya.

Bukan hanya Soni dan Sonya, hampir semua pasien yang aku temui, memiliki energi negatif yang berkontribusi pada sakitnya. Ada energi negatif yang mereka peroleh semenjak masa kecil, saat mereka belum menyadari apapun. Ada yang muncul dari pikiran negatif mereka sendiri. Ada pula yang memperolehnya dari makluk tingkat rendah, sesama penghuni dunia ini (ada yang menyebutnya jin atau roh jahat). Yang jarang, namun masih saja terjadi, adalah mendapat kiriman (atau terkontaminasi) energi hitam dari orang yang berniat jahat.

Mari kita cek, adakah satu atau lebih situasi berikut ini tengah kita alami saat ini: cenderung emosional, julid, nyinyir, merasa paling benar, mudah tersinggung? Mengalami trauma, fobia, kecanduan, insomnia, obsesi? Cemas, gelisah, tidak percaya diri, stres, depresi, halusinasi? Sakit yang tidak bisa didiagnosa dokter? Sakit yang tak kunjung sembuh? Sakit di sisi tertentu saja? Atau mengalami masalah yang sama terus-menerus?

Bila ya, di dalam diri kita sejatinya tengah terjadi pertempuran. Tidak ada damai. Menyadari dan mengakuinya adalah langkah pertama. Langkah berikutnya adalah membuka diri untuk mendapat penyembuhan. Sonya berhasil melakukannya sendiri. Soni memerlukan bantuan healer dan masih harus mengerjakan beberapa “PR”nya untuk sembuh secara penuh.

Sumber: jayasarada.com/work-with-jaya

Ada dua hukum sederhana yang bisa kita gunakan untuk berhenti bermusuhan dengan diri sendiri: hukum kasih dan hukum pengampunan.

Hukum kasih. Kasihi dan cintailah Sang Maha Pencipta, sesama manusia dan makluk lain, serta yang tak boleh dilupakan: diri sendiri! Berdevosi pada Tuhan Yang Maha Kuasa melalui ritual keagamaan; berderma dan melayani sesama yang menderita; memurnikan diri dengan pembentukan watak yang baik; serta bermeditasi, adalah bentuk perwujudan hukum kasih.

Hukum pengampunan. Ampuni orang lain dan diri sendiri. Berkati secara mental dengan kebahagiaan, kesehatan yang baik dan kesejahteraan. Mohon belas kasih dan pengampunan Tuhan. Terus lakukan ini sampai ada perasaan pengampunan dalam batin.

Selamat berdamai dengan diri sendiri! Atma Namaste!

*) Sustainability professional & pranic healer.

**) Berdasarkan kisah nyata. Nama disamarkan demi menjaga privasi.

 

 

Maria Dian Nurani

Maria Dian Nurani

Maria Dian Nurani, biasa disapa Maya, sehari-hari bekerja sebagai konsultan, trainer dan dosen di bidang sustainability. Perhatian dan minatnya pada spiritualitas dan keseimbangan mind-body-soul membawanya pada praktik yoga sejak 1997. Akhir 2018 ia memperoleh sertifikasi yoga teacher RYT-200 dari Yoga Alliance. Pranic healing yang dikembangkan oleh Master Choa Kok Sui mulai ia pelajari dan praktikkan sejak akhir 2018.

Related Posts

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 1713

Visitors are unique visitors