[Masalah Kita] Kemandirian Sabun, Sebuah Upaya Menuju Keselarasan Hidup Dengan Semesta

[Masalah Kita] Kemandirian Sabun, Sebuah Upaya Menuju Keselarasan Hidup Dengan Semesta

Kehidupan manusia amat bergantung pada semesta. Salah satunya pada ketersediaan sumber air, yang menjadi kebutuhan vital dalam mendukung aneka keperluan manusia sehari-hari. Sebagian besar orang bergantung pada air hujan untuk memenuhi kebutuhan airnya. Ketika curah hujan rendah, terlebih saat musim kemarau panjang, mereka akan berupaya mencari sumber air lain, yang umumnya cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Ada pula sebagian orang yang memenuhi kebutuhan airnya dari sungai terdekat tempat mereka tinggal. Sementara bagi penduduk kota besar, kebutuhan air terfasilitasi melalui aliran air yang diupayakan sebuah perusahaan.
Sebagai salah satu kebutuhan vital, maka kualitas air tentu perlu mendapat perhatian.Terutama air yang diperlukan untuk kebutuhan minum dan memasak. Lalu bagaimanakah kita menjaga serta mengupayakan kualitas air hingga layak dikonsumsi?
Salah satu penyebab tercemarnya air adalah hamparan busa yang menutup permukaan air. Tudingan kerap ditujukan pada buangan limbah industri sebagai penyebab utama meluapnya busa tersebut. Namun, adakah peran aktivitas keseharian manusia yang punya andil cukup penting dalam hal ini?
Sejatinya air mengalami siklus. Maka air bersih yang kita nikmati di rumah, sepatutnya bisa dijaga kebersihannya saat mengalir dari rumah, usai pemakaian. Namun, aktivitas manusia ternyata memberikan beban yang cukup berat pada air buangan. Kegiatan cuci-bersih dengan bantuan sabun/pembersih/detergen, tanpa disadari, telah menjadi faktor penting dalam pencemaran air (air sungai/air tanah).
***
Entah sejak kapan, manusia menggunakan dan menjadi bergantung pada sabun/deterjen/pembersih dalam kesehariannya. Tidak kurang dari lima jenis sabun/pembersih yang dimiliki/digunakan dalam rumah tangga. Saya mendata jenis sabun/pembersih yang saya gunakan beberapa tahun yang lalu.
Sabun mandi dan shampoo menjadi perangkat bersih diri yang utama. Kemudian bertambah dengan sabun khusus wajah dan kondisioner (pelembut) rambut. Lalu sabun cuci pakaian, yang dilengkapi dengan pewangi, sabun cuci piring, sabun cuci tangan, pembersih lantai, pembersih kaca, pembersih kamar mandi. Sabun/pembersih sebanyak itu memberikan kenyamanan pada manusia, karena mampu menjawab kebutuhan manusia untuk selalu bersih, wangi, ataupun sehat terbebas dari kuman.
Kenyamanan yang dinikmati manusia dengan penggunaan sabun/pembersih –terlepas dari dampak negatifnya- sepatutnya juga dinikmati oleh semesta, karena hidup manusia bergantung pada semesta. Pemikiran inilah yang mengusik saya untuk mempertanyakan dampak pemakaian sabun/pembersih pada lingkungan.
***
Sabun/pembersih pabrikan mengandung sejumlah bahan kimia. Dan tidak terbersit sedikitpun keingintahuan atas fungsi dan dampak dari bahan-bahan tersebut, meski telah amat lama menggunakannya. Merk sabun/pembersih tertentu dipilih, dan selanjutnya digemari, karena –yang terutama- seruan iklan di media. Kesadaran pada kondisi lingkungan hidup, khususnya air, telah menggugah saya untuk mencari tahu bahan-bahan pembuat sabun/pembersih.
Bahan utama pembuatan sabun adalah SLS (Sodium Lauryl Sulfate), SLES (Sodium Laureth Suflate), atau ASL (Ammonium Laurel Sulfate). Ketiga senyawa kimia ini adalah bahan utama pembentuk busa yang berfungsi meningkatkan efisiensi pencucian dengan cara menonaktifkan mineral pembentuk kesadahan air. Berpadu dengan surfactan (surface active agent) –yang umumnya adalah senyawa fosfat-  busa yang dihasilkan sabun/pembersih akan menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran dan lapisan minyak. Banyaknya busa dapat menjadi indikator kadar SLS pada sabun. Kandungan SLS/SLES/ALS yang cukup tinggi dapat menyebabkan kulit tubuh menjadi kering. Dan pada sebagian orang akanmenyebabkan iritasi.
Busa yang dihasilkan sabun/deterjen yang menggunakan SLS/SLES/ALS sebagai komponen utamanya menjadi salah satu unsur penyebab eutrofikasi (pengayaan unsur hara yg berlebihan) pada sungai/danau yang bisa menyebabkan ledakan pertumbuhan eceng gondok dan algae sehingga menyebabkan pendangkalan sungai. Keberadaan busa di permukaan air juga menjadi salah satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga menurunkan oksigen terlarut. Dengan demikian menyebabkan organisme air kekurangan oksigen.
Lapisan busa pada permukaan air sungai/danau memiliki ikatan molekul yang sulit diuraikan. Perlu perlakuan khusus ataupun penambahan senyawa kimia tertentu untuk memecah hamparan busa tersebut. Ini artinya, ada bahan kimia lain yang ditambahkan untuk menjernihkan air sungai/danau yang selanjutnya menjadi sumber air bersih bagi banyak orang.
Paparan di atas hanya menguraikan dampak dari satu bahan yang terdapat pada sabun/pembersih pabrikan. Bagaimana dengan bahan lainnya? Sudah banyak kajian tentang hal tersebut, yang sebagian merujuk pada dampak bagi kesehatan manusia. Tetapi, sebagai kesatuan ekosistem, perilaku hidup kita hendaknya selaras dengan semesta, memelihara kelestarian ibu bumi beserta isinya.
***
Hasil penelusuran atas dampak sabun/deterjen bagi semesta mengarahkan saya pada pertanyaan, “Sejak kapan sabun ada? Ketika belum ada produksi sabun, bahan apakah yang dipakai sebagai sabun/pembersih? Mengapa dampak dari bahan pembuat sabun tidak diketahui oleh sebagian besar orang?” Keingintahuan ini menjadi awal perkenalan saya dengan LERAK/KLEREK.
Lerak/klerek adalah jenis tanaman yang tumbuh di daerah tropis, salah satunya di Indonesia. Tanaman ini, yakni bagian buahnya, mengandung senyawa saponin, yang memiliki daya bersih seperti sifat sabun/deterjen. Sebagian masyarakat, terutama yang tinggal di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, mengenal lerak sebagai sabun pencuci kain batik dan perhiasan. Hanya sebatas itu. Padahal pencarian saya atas manfaat lerak melalui internet menemukan khasiat lerak sebagai sabun pencuci untuk semua keperluan. Namun tulisan-tulisan itu umumnya berbahasa Inggris.
Maka keheranan saya pun menimbulkan pertanyaan, “Kenapa lerak terabaikan di negeri ini? Benarkah lerak bisa menggantikan aneka sabun/pembersih yang selama ini saya pakai?” Jawaban atas rasa penasaran itu diperoleh setelah saya menggunakan lerak sebagai sabun/pembersih untuk keperluan sehari-hari, yang dimulai sejak  5 (lima) tahun lalu.
Ketika ditanyakan alasan menggunakan lerak sebagai sabun/pembersih, maka alasan yang amat mendasar –bagi kami- adalah pilihan untuk mengurangi pencemaran air dan tanah. Alasan berikutnya, yakni pemakaiannya yang mudah dan pemanfaatan produk lokal yang merupakan kearifan budaya negeri ini. Tentu aneka pertanyaan pun dialamatkan pada kami, “Bersih gak? Wangi gak? Bebas kuman gak? Harganya mahal gak?” Pertanyaan wajar yang dilatarbelakangi pengalaman penggunaan sabun/pembersih yang selama ini digunakan.
Sejumlah pertanyaan tersebut menjadi latar belakang proses edukasi yang kami lakukan saat mengenalkan manfaat lerak ke sejumlah teman maupun berbagai komunitas.
***

Awalnya, pengalaman menggunakan lerak sekadar dibagikan melalui cerita-cerita singkat di media sosial. Menarik sekali tatkala mengamati cukup banyak orang yang belum mengenal lerak. Kalaupun sudah mengenalnya, hanya sebatas penggunaannya untuk mencuci batik. Ini tentu amat memprihatinkan, mengingat lerak adalah sabun alami yang sesungguhnya digunakan oleh orang-orang tua kita. Alasan kepraktisan, yang disertai tanpa adanya aroma wangi, telah menjauhkan lerak dari minat sebagian orang. Dan akhirnya, lerak terabaikan, terlupakan di negeri penghasilnya sendiri.

Kuliah umum tentang lerak
Ketika mengetahui bahwa lerak justru amat terkenal di luar Indonesia, maka ini juga menjadi pemicu semangat saya untuk semakin giat berbagi cerita manfaat lerak, dan dampaknya yang cukup luas di berbagai bidang kehidupan.
Cerita tentang manfaat lerak di media sosial memunculkan reaksi positif. Cukup banyak teman yang tertarik, dan selanjutnya memesan lerak. Bahkan mereka yang tinggal di luar Jawa, cukup antusias untuk dapat  menggunakan lerak sebagai pengganti sabun/detergen. Bagi sebagian orang, diperlukan penyesuaian yang tidak mudah ketika memulai penggunaan lerak. Inilah alasan Omah Hijau menyelenggarakan pelatihan dengan tema “Sabun Sehat”, baik berupa kelas tatap muka maupun kelas online. Pengenalan lerak, pertama-tama, menekankan pada tanggung jawab manusia atas limbah busa pada perairan. Juga dampaknya terkait penghematan dan siklus air. Penggunaan lerak sebagai sabun tidak memerlukan banyak air saat pembilasan. Air bekas cucian pun bisa ditampung untuk menyiram tanaman ataupun dikembalikan ke tanah untuk mempertahankan ketersediaan air tanah. Sesudah itu, tentang dampak bahan-bahan pada sabun/detergen bagi tubuh. Proses ini membuka wawasan masyarakat tentang fungsi sabun dan indikator bersih yang selama ini hanyalah ciptaan iklan/produksi semata.
Omah Hijau pertama kali menyelenggarakan kelas online pada 15 Januari 2018, dengan 50 peserta. Sebagian besar, 95% peserta, adalah kaum ibu. Antusiasme mereka amat bagus. Merekalah yang selanjutnya aktif menggaungkannya di media sosial. Maka kelas online pun diadakan lagi, karena banyaknya peminat. Hingga saat ini, kurang lebih telah terselenggara kelas online sebanyak 8 (delapan) kali. Selanjutnya terselenggara pelatihan/workshop karena adanya permintaan dari komunitas tertentu: di Malang, Surabaya, Solo, Jakarta, Pontianak.

 

Workshop pembuatan sabun lerak

 

Pemanfaatan bahan alami untuk menggantikan produk pabrikan tentu melahirkan pertanyaan, yang beberapa di antaranya, memerlukan kajian ilmiah dan penelitian laboratory, seperti yang sudah dituliskan di bagian sebelumnya. Maka ini menjadi semacam tantangan yang selalu saya tawarkan ke kelompok mahasiswa, saat mendapat kesempatan mengedukasi mereka. Sampai saat ini, Omah Hijau sudah memaparkan manfaat lerak pada kelompok mahasiswa di tiga Perguruan Tinggi.
Adakah catatan terkait peningkatan pemakai lerak? Dan dampak nyatanya bagi kualitas air dengan dilakukannya edukasi tentang lerak? Pertanyaan yang tidak bisa saya jawab secara kuantitatif. Saya hanya bisa mengamati tingginya ketertarikan pada lerak di media sosial melalui tanggapan atas paparan saya tentang lerak. Juga munculnya teman-teman yang mulai dan terus menggunakan lerak hingga saat ini. Jawaban pada pertanyaan itu kerap saya jawab dengan nada bercanda, “Pemesanan lerak ke Omah Hijau meningkat terus. Itu indikator sederhana bahwa pemakai lerak bertambah dan konsisten menggunakannya.” Di sisi lain, perlu dipahami bahwa perubahan adalah proses yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat. Terlebih untuk melepas ketergantungan yang amat sangat pada wangi, busa, dan kepraktisan.
***
Seperti dituliskan di bagian awal, lerak adalah tanaman lokal negeri ini, dan dipakai oleh orang-orang tua kita sebagai sabun/pembersih. Ini adalah sebuah kearifan lokal, kekayaan perilaku hidup negeri ini, yang tanpa disadari, memiliki keselarasan dengan ibu bumi. Bukankah hal luhur ini harusnya dihidupi terus? Kalau tetap diabaikan, maka lerak hanya akan menjadi komoditas eksport, dan masyarakat negeri ini hanya sekadar penonton tanpa pernah tahu manfaat lerak yang amat banyak.
Bahkan di beberapa tempat yang memiliki pohon lerak, buahnya dibiarkan begitu saja. Ini bukan melulu persoalan lerak yang seharusnya bisa menjadi komoditas dagang. Tetapi semestinya masyarakat di daerah itu tidak perlu bergantung pada aneka sabun/pembersih pabrikan. Mereka perlu dikenalkan pada manfaat lerak, bagi tubuh dan semesta, agar selanjutnya mengoptimalkan potensi alam di sekitar mereka. Dan dengan demikian akan ikut pula memelihara kelestarian air dan tanah di daerah tersebut.

 

Peserta praktek membuat sabun lerak
Pengenalan potensi lerak memang menuntut adanya  perubahan pola pikir tentang ‘sabun’. Juga pemahaman yang benar tentang indikator bersih, seperti busa dan wangi. Hal lainnya, masyarakat diajak bergeser dari pola hidup praktis ke pola hidup yang lebih mandiri dan lebih bersahabat dengan semesta. Dari sekadar beli sabun/pembersih yang sudah tersedia dan siap pakai ke pola hidup yang menggunakan sabun alami, tidak instan, perlu sedikit upaya dalam penyiapannya, tetapi tidak menambah beban pencemaran ibu bumi.
***
Edukasi tentang manfaat lerak, secara online melalui sarana WA ataupun pelatihan, memang tidak serta merta mengubah banyak orang untuk beralih ke lerak. Tujuan utamanya lebih terarah pada tersebarnya informasi ini secara meluas. Informasi yang berimbang perlu didapat oleh seluruh masyarakat. Tidak hanya beroleh informasi sebuah produk pabrik dari media televisi atau media cetak, tetapi juga tentang hasil alam lokal yang memiliki kesamaan fungsi. Dampak positif dan negatif keduanya akan menjadi pertimbangan dalam mengambil pilihan.
Dengan makin banyaknya orang yang mulai mengenal lerak, maka diharapkan ada cukup banyak orang yang tergerak menggunakan lerak, mengalami langsung manfaatnya, dan selanjutnya menjadikan lerak sebagai sabun/pembersih utama di rumahnya. Ini tentu sebuah perubahan yang berarti bagi ibu bumi. Ajakan mengenal lerak juga ingin memberikan kesadaran pada semua orang untuk membangun sebuah kemandirian, dalam hal ini kemandirian sabun. Masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada sabun/pembersih pabrikan, tetapi mampu mengupayakan sendiri (mandiri) kebutuhan sabunnya dengan mengoptimalkan potensi lokal negeri ini. Potensi lokal yang selama ini diabaikan, seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa kecuali. Jangan sampai lerak menjadi barang mahal, yang terlahir sebagai sebuah gaya hidup sehat yang hanya dinikmati segelintir orang. Inilah yang menjadi salah satu semangat hadirnya Omah Hijau, yang merupakan sarana berbagi pengalaman hidup selaras dengan semesta dari keseharian pola hidup kita, yang bisa dijangkau banyak orang.
Avatar

Kristien Yuliarti

Related Posts

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 1713

Visitors are unique visitors