[Masalah Kita] Kesehatan Mental Remaja Berawal dari Keluarga

[Masalah Kita] Kesehatan Mental Remaja Berawal dari Keluarga

Ketika kita pertama kali menjadi orang tua, tumbuh kembang anak selalu menjadi perhatian yang utama. Kita berlomba-lomba belajar untuk tahu dan terus mengusahakan bagaimana anak kita bertumbuh dengan sehat, penuh, bahagia, mawas diri dan berhasil dalam bidang yang mereka geluti. Bukankah itu idaman para orang tua masa kini? Namun begitu, ketika anak kita memasuki usia remaja, apakah usaha kita masih terus konsisten sebesar itu? Perlahan, perhatian orang tua pada pengasuhan anak menjadi berkurang karena berbagai alasan. Tampaknya kita sebagai orang tua perlu memberikan porsi perhatian yang sama atau lebih ketika anak-anak kita menginjak usia remaja. 

ANGKA YANG BICARA

Remaja merupakan fase peralihan dari anak menuju dewasa yang di dalam dirinya mengalami banyak perubahan secara fisik dan biologis, kognitif atau kecerdasan, emosi dan perilaku. Dalam masa transisi tersebut, remaja biasanya dianggap sebagai kelompok usia sehat. Namun ternyata data menunjukkan kurang lebih 20% remaja mengalami masalah kesehatan mental. Jenis masalah kesehatan mental yang umum terjadi adalah depresi dan kecemasan. WHO menyatakan bahwa 75% gangguan mental emosional memang umum terjadi sebelum usia 24 tahun. Data di Amerika Serikat menyebutkan, lebih dari 6,3 juta kasus remaja mengalami depresi atau 1 dari 4 orang mengalami gangguan kecemasan, 80% diantaranya tidak pernah ditangani secara serius melalui konseling atau terapi. Dalam berbagai kasus, bunuh diri merupakan akibat dari permasalahan kesehatan remaja. Centre for Disease Control and Prevention mencatat ada 20% atau 1 dari 12 remaja setiap tahun yang  memutuskan bunuh diri. Bunuh diri remaja adalah penyebab utama kematian ketiga pada remaja usia 10-24 tahun di Amerika Serikat. 

Data tentang kesehatan mental Indonesia khususnya gejala depresi, didapat dari Karl Peltzer, peneliti dari University of Limpopo, Afrika Selatan, dan Supa Pengpid, peneliti dari Mahidol University, Thailand, yang melakukan penelitian mengenai prevalensi depresi di Indonesia yang berskala nasional. Mereka menelaah data yang didapatkan dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia tahap kelima (Indonesian Family Life Survey fifth wave [IFLS-5]) yang telah dilakukan sejak tahun 1993. Survei ini dilakukan dengan memilih masyarakat Indonesia secara acak dari berbagai provinsi, area tempat tinggal (perkotaan dan pedesaan), serta rumah tangga. Partisipan dalam survei ini mewakili 83% dari masyarakat Indonesia, dengan melibatkan 16.204 rumah tangga. Sebanyak 31.447 masyarakat Indonesia berusia 15 tahun ke atas menjadi partisipan dalam penelitian ini. 

Dari keseluruhan orang yang disurvei, 21,4% laki-laki dan 22,3% perempuan melaporkan gejala depresi sedang atau berat. Dari prevalensi tersebut, perempuan memiliki tingkat gejala depresi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, meskipun perbedaan ini tidak signifikan. Pada perempuan yang disurvei, kelompok remaja (15-19 tahun) menunjukkan prevalensi gejala depresi tertinggi dibandingkan kelompok usia lain. Sebanyak 32% dari remaja perempuan yang disurvei melaporkan gejala depresi sedang atau berat. Sementara remaja laki-laki (26,6%) dibanding kelompok usia lain. Jadi, kesehatan mental remaja adalah masalah sosial yang perlu mendapat kepedulian dari kita bersama. 

MENILIK GEJALA DAN PENYEBABNYA

Secara umum, menurut Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5) ada beberapa gejala klinis yang menandai remaja memiliki masalah dengan kesehatan mental antara lain :

  1. Perubahan mood yang sangat cepat; agitasi, gampang marah, atau terlalu sedih, sering menangis. 
  2. Perubahan jam dan durasi tidur; tidak bisa tidur di waktu malam atau tidur berlebihan. 
  3. Perubahan pola dan intensitas makan, terdapat kenaikan atau penurunan berat badan secara signifikan.
  4. Kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya dikerjakan dengan baik, kinerja akademik yang menurun dan kebosanan yang terus-menerus.
  5. Kelelahan dan kehilangan energi untuk melakukan satu hal. 
  6. Secara sosial cenderung menarik diri dari teman dan keluarga, dan menghabiskan waktu sendirian.
  7. Memiliki perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan yang mengarah pada upaya melukai diri sendiri yang tidak dimaksudkan untuk menyebabkan kematian, lebih banyak perilaku mengambil risiko, dan atau kurang menunjukkan perhatian pada keselamatan mereka sendiri. Namun pada gejala depresi berat terlintas pikiran tentang kematian atau rencana, upaya menyelesaikan hidup dengan bunuh diri. 
  8. Keluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan misalnya, sakit kepala atau sakit perut. 

Pada kebanyakan gangguan kesehatan mental, depresi remaja pun tidak memiliki penyebab tunggal. Sebaliknya, ditemukan kecenderungan penyebab dari sejumlah faktor risiko antara lain biologis, psikologis, dan lingkungan yang berkontribusi terhadap perkembangannya. 

Secara biologis, masalah kesehatan mental seperti depresi dikaitkan dengan penurunan tingkat neurotransmitter serotonin di otak dan dengan ketidakseimbangan neurotransmitter norepinefrin. Gangguan kejiwaan ini dikaitkan dengan penurunan ukuran beberapa area otak, serta peningkatan aktivitas di area lain di otak. Remaja yang menderita gangguan perilaku, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), kecemasan, atau yang memiliki masalah kognitif dan pembelajaran, serta kesulitan yang berhubungan dengan orang lain, berisiko lebih tinggi juga mengalami depresi. Diperkirakan ada kontribusi genetik untuk perkembangan depresi pada anak-anak dan remaja dengan orang tua yang depresi. Mereka memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk meneruskan penyakit itu sendiri. Remaja yang mengalami depresi karena faktor genetis ini biasanya memiliki berat badan lahir rendah, sulit tidur dan memiliki ibu yang berusia di bawah 18 tahun pada saat kelahiran mereka.

Perempuan memiliki kerentanan yang lebih tinggi untuk mengalami depresi dibandingkan  laki-laki. Hormon pubertas yang berfluktuasi dan kombinasi faktor risiko psikologis berkontribusi pada data ini. Tekanan bagi perempuan untuk menafsirkan diri atas lingkungan mereka dan menanggapinya lalu bagaimana mereka mengekspresikan diri, lebih berat dibandingkan dengan pria dan anak laki-laki. Harga diri yang rendah, tekanan atas perubahan citra tubuh yang buruk, kecenderungan untuk bersikap kritis terhadap diri sendiri, dan perasaan tidak berdaya ketika berhadapan dengan peristiwa negatif juga sangat mempengaruhi depresi pada remaja perempuan. 

Depresi dapat merupakan reaksi terhadap tekanan lingkungan, termasuk trauma seperti pelecehan verbal, fisik, atau seksual, kematian orang yang dicintai, masalah sekolah, atau menjadi korban tekanan intimidasi atau teman sebaya. Remaja gay, biseksual, dan transgender berisiko lebih tinggi untuk mengalami depresi, diduga karena intimidasi oleh teman sebaya dan potensi penolakan oleh anggota keluarga. Remaja dalam keluarga militer juga berisiko mengalami depresi.

Faktor-faktor risiko lingkungan yang disebutkan di atas cenderung secara spesifik mempengaruhi individu untuk mengalami depresi. Faktor-faktor risiko lain membuat orang cenderung mengalami depresi serta menempatkan mereka pada risiko karena masalah lain antara lain termasuk kemiskinan, paparan kekerasan, memiliki kelompok sebaya antisosial atau terisolasi secara sosial, pelecehan korban, konflik orangtua, dan perceraian. Remaja yang memiliki aktivitas fisik rendah, kinerja akademis yang buruk, atau kehilangan suatu hubungan, berisiko lebih tinggi untuk mengalami depresi. Penelitian juga menunjukkan bahwa paparan pergaulan yang toksik lainnya juga dianggap mempengaruhi suasana hati secara negatif.

Banyak yang mengkaitkan langsung isu-isu kesehatan mental ini dengan munculnya media sosial. Adiksi terhadap media sosial, perundungan, perilaku isolasi diri dan berbagai penyimpangan perilaku menjadikan media sosial menjadi kambing hitamnya. Namun demikian, ada perbedaan pendapat antara para pelaku, korban, dan otoritas yang menyelidikinya (orangtua, guru, pemerintah, dan pakar) dan penyimpangan ini tergantung pada akar masalah yang sebenarnya. Media sosial hanyalah salah satu perantaranya. Pelarian remaja untuk mengisolasi diri dengan gadget yang mengakibatkan adiksi merupakan sarana melepas kebosanan dan negativitas yang dirasakan dari lingkungan ‘asli’-nya. 

Pada tulisan kali ini, lingkungan ‘asli’ yang ingin diangkat penulis adalah lingkungan keluarga. Dalam jurnal Family Medicine and Disease Prevention dengan judul Cost of Growing Up in Dysfunctional Family , Basem Abbas Al Ubaidi menuliskan bahwa dinamika keluarga memegang peranan penting dalam kesehatan mental seseorang.

Sebuah cita-cita keluarga ideal adalah keluarga di mana setiap individu dalam keluarganya dapat menerima dan melepaskan ekspresi dari karakter dan minatnya masing-masing. Keluarga adalah tempat di mana penghargaan yang tinggi pada tiap keunikan individu, secara konsisten diberikan pada tiap anggotanya. Idealnya, anggota keluarga bisa saling memperlakukan anggota lainnya dengan respek untuk membangun kepercayaan, rasa aman dan nyaman dan bebas dari kekerasan verbal, fisik dan seksual. Setiap orang tua memberikan perawatan terbaik dan memenuhi setiap kebutuhan anggota keluarganya. Itulah tujuan mulia setiap keluarga dalam membangun relasi terdalam antar individu di dalamnya. 

BILA KELUARGA TIDAKLAH IDEAL 

Namun demikian bahkan keluarga yang sehat pun tidak selamanya bisa memenuhi semua cita-cita ideal tersebut. Dinamika keluarga dalam mewujudkan ini dipengaruhi berbagai hal di mana perubahan-perubahan mesti terjadi dan bagaimana kita menanggapi dan meresponnya yang akan membedakan. Dinamika keluarga tersebut bisa berasal dari karakter pola asuh orang tua dan perkembangan individu tiap anggota yang terus-menerus berubah merupakan alasan yang dominan mempengaruhi, selain situasi sosial ekonomi keluarga. 

Pola pengasuhan orang tua sangat mempengaruhi keseimbangan fungsi keluarga untuk memenuhi tujuan ideal keluarga. Ada orang tua yang terlalu longgar, yang tidak berhasil dalam menetapkan aturan dan batasan keluarga, ada orang tua yang bersikap buruk kepada anak, sikap orang tua yang sangat menekan dan atau terlalu dominan membantu, dapat mempengaruhi cara anak menjalin hubungan sosial di kemudian hari dan menyebabkan pelbagai masalah perkembangan diri. Nilai keluarga, budaya dan etnis yang berbeda dalam sebuah keluarga misal peran gender, sangat mempengaruhi praktik keseharian yang diterapkan pada pola pengasuhan anak. Ada kasus di mana salah satu atau kedua orang tua dengan sengaja atau tidak, bertindak secara tidak tepat atau mengabaikan kebutuhan fisik atau emosional anak-anak mereka baik karena situasi orang tua yang mengalami gangguan kejiwaan juga atau kecanduan alkohol atau perjudian, anak-anak ini rentan terkena dampak dari orang tua yang kecanduan, beresiko tinggi mengalami pelecehan anak atau eksploitasi seksual di masa depan. Ketidakhadiran salah satu orang tua dalam proses tumbuh kembang anak karena salah satu orang tua harus bekerja jarak jauh, kematian atau perceraian juga sangat mempengaruhi relasi dinamika keluarga yang disfungsional ini. 

Disfungsi keluarga di atas ini menghasilkan relasi timpang antara orang tua dan anak. Pola asuh buruk berimbas pada cara anak memandang identitas dirinya hingga persepsinya terhadap keluarga ideal yang dapat berujung sikap benci kepada orang tua. Hubungan buruk dalam keluarga dapat ditemukan mulai perselisihan tidak sehat antar-anggota keluarga, anak-orang tua hingga pertikaian ini berakhir dengan kekerasan fisik antara yang bertengkar. Konflik keluarga yang kronis, jika terus berlangsung dalam jangka panjang dapat mempengaruhi mental anak, mulai dari dampak tekanan stres, perasaan tidak aman, hingga hilangnya kelekatan emosi antara anak dengan orang tua. 

SAATNYA SALING MEMELUK KETIDAKSEMPURNAAN

Menyederhanakan persoalan dengan menganggap ini hanya sebuah fase pada remaja zaman sekarang, kemudian membiarkannya karena sebentar lagi akan lewat, hanyalah sebuah pengingkaran yang dapat berujung fatal. Memutus rantai keluarga yang disfungsional ini membutuhkan kebesaran hati dari semua anggota keluarga. Seberapa banyak orang mau melakukan pendekatan ini?

Langkah pertama kita sebagai keluarga yang tidak mengalami gangguan kesehatan mental adalah menerima bahwa gangguan kesehatan mental, terutama pada remaja merupakan hal yang kompleks dan bersifat jangka panjang. Depresi tidak hanya dipahami sekedar merasa sedih dan moody, gangguan kecemasan tidak sama dengan rasa gelisah ketika ingin tampil di panggung. Menghadapinya apalagi, dibutuhkan kesabaran yang tinggi dan pendekatan yang berbeda sehingga tidak bisa diselesaikan dengan solusi yang seperti biasanya. Kebutuhan para remaja ini untuk dipahami dan didukung dengan kedekatan secara fisik maupun emosional. Tidak mudah bagi mereka untuk menghadapi pikiran negatif, kecemasan berlebihan, dan pikiran-pikiran yang menghantui secara bersamaan. Dukungan adalah hal utama yang mereka perlukan. 

Terkadang orang tua merasa kurang cakap, kurang paham atau lelah menghadapi perilaku anak. Banyak orang tua yang merasa tidak sanggup kalau harus menghadapi beban kesibukan pekerjaan ditambah perilaku anaknya yang membingungkan. Orang tua harus saling bekerja sama, meluangkan waktu untuk saling berbicara, belajar kembali mengenal anak remajanya yang tidak dimengerti perubahannya. Ini juga membutuhkan kelenturan hati untuk menyiapkan anggota keluarga lain, menerima, merangkul, mendukung dengan membersamainya dalam proses ini. Membangun kembali momen bersama keluarga penting untuk mengembalikan memori kebahagiaan yang defisit bagi para remaja ini. Momen-momen sederhana perlu dibangun kembali seperti membangun kebiasaan makan bersama dengan keluarga, berkebun bersama, main dan olahraga bersama, melakukan hal-hal yang interaktif untuk membangun kedekatan emosional dan fisik bersama keluarga. Namun jika keluarga tersebut adalah keluarga yang disfungsional kronis yang merusak, maka justru pembatasan waktu bersama keluarga yang mengganggu sedapat mungkin dilakukan untuk mencegah konflik dan memicu depresi berulang.

Langkah kedua adalah penyembuhan dari individu remaja sendiri, antara lain adalah dengan berlatih meditasi dan bersabar dengan diri sendiri dan orang lain, dengan menyadari setiap reaksi diri untuk mematahkan pola negatif sebanyak yang dia bisa. Para remaja belajar untuk mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi dengan menerima perasaan/pengalaman mereka sendiri dan menghindari pertimbangan berlebihan terhadap perasaan orang lain. Mereka harus berjuang untuk menemukan rasa berharga dalam diri mereka diatas perasaan salah atau minder yang berlebihan yang menyebabkan rendahnya harga diri. Melatih untuk mengatakan bagaimana perasaan mereka dan tanyakan apa yang merka butuhkan. Remaja perlu menggunakan cara kreatif dan produktif untuk melampiaskan kemarahan dengan cara olahraga, berkesenian, eksplorasi budaya dan tradisi baru akan sangat membantu kemampuan adaptasi dengan setiap perubahan yang terjadi dan memutus rantai pemicu deresi mereka. Menerima keterbatasan dan kesalahan orang tua dan berjuang menghentikan warisan pola pengasuhan dan perilaku orang tua mereka. Dan memang tidak mudah untuk selalu mencari sisi positif dari semua hal yang negatif yang tampaknya terjadi. Meskipun demikian, dalam setiap kejadian, selalu saja ada pembelajaran kehidupan yang akan berguna pada tahap kehidupan selanjutnya.

Dukungan lain yang dibutuhkan oleh remaja dengan gangguan mental adalah menyediakan pola makan yang sehat dan berimbang untuk tetap menutrisi kebutuhan tubuhnya. Makanan pun akan memberikan kontribusi pada kesembuhan secara fisik dan emosional. Diet tertentu biasanya disesuaikan dengan kebutuhan biologis tubuh, misalnya diet gula, produk susu, karbohidrat sederhana dan pati dan minyak. Komponen lain dari perawatan adalah terapi suportif, seperti perubahan gaya hidup rajin berolahraga, banyak berkumpul, berinteraksi mendalam dengan orang terdekat dan mengurangi ketergantungan dengan gadget.

Jika gejalanya menunjukkan seorang remaja menderita depresi klinis, penyedia layanan kesehatan seperti psikolog dan psikiater kemungkinan besar akan merekomendasikan pengobatan. Perawatan mungkin termasuk mengatasi setiap kondisi medis yang menyebabkan atau memperburuk depresi. Sebagai contoh, seseorang yang ditemukan memiliki kadar hormon tiroid yang rendah, dapat menerima penggantian hormon. Perawatan mungkin termasuk obat untuk depresi sedang hingga berat. Jika gejalanya cukup parah sehingga memerlukan perawatan dengan obat, gejalanya cenderung membaik lebih lama. Namun pengobatan yang dikombinasikan dengan psikoterapi akan memberikan hasil yang lebih cepat. Dua pendekatan utama yang biasa digunakan untuk mengobati depresi remaja adalah terapi interpersonal dan terapi perilaku kognitif. Sebagian besar praktisi akan melanjutkan pengobatan depresi berat selama setidaknya enam bulan hingga satu tahun setelah gejalanya stabil. Kembali lagi, dukungan keluarga untuk disiplin dalam menjalani proses perawatan dan pengobatan ini sangat dibutuhkan agar remaja kembali bisa menjalani hari-harinya dengan lebih bersemangat dan menyongsong menjadi manusia dewasa yang lebih baik.

Pada akhirnya, generasi muda harus semakin peduli terhadap kesehatan diri dan mentalnya.  Kesehatan mental remaja juga perlu mendapat perhatian yang cukup dari kita semua, terutama keluarga. Mungkin terdengar klise, tapi itulah panggilan keluarga di jaman modern ini yaitu menjadi sistem pendukung bagi tiap anggota keluarganya untuk mencapai kepenuhan dirinya, karena semua orang dalam keluarga sama pentingnya.

Dominika Oktavira Arumdati

Dominika Oktavira Arumdati

Dominika Oktavira Arumdati, ibu rumah tangga dari 2 remaja yang menaruh kepedulian pada isu kesehatan mental dan saat ini senang belajar tentang pengembangan diri untuk menyembuhkan diri dan keluarganya. Belajar tentang pangan sehat, pendidikan lingkungan dan mengembangkan usaha produksi perawatan tubuh yang ramah lingkungan adalah kegiatan lain yang sedang digelutinya. Saat ini sedang melakukan studi di Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta.

Related Posts

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 1713

Visitors are unique visitors