[Masalah Kita]  Sekolah dan Kehidupan

[Masalah Kita] Sekolah dan Kehidupan

Sepanjang sejarah Indonesia, jumlah orang yang mengenyam pendidikan formal di sekolah semakin banyak. Lepas dari segala macam kesulitan atau tantangan, setidaknya, semua anak Indonesia wajib mengikuti program pendidikan dasar sembilan tahun. Di sekolah, anak-anak belajar tentang berbagai teori dan konsep yang diasumsikan berguna dalam membentuk konstruksi berpikir yang membantu mereka untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di dunia kerja. Itulah sebabnya sejak SD sampai SMA, para pelajar disibukkan dengan berbagai mata pelajaran yang dianggap berguna tersebut.

Lepas dari berbagai upaya untuk membantu anak-anak belajar, baik lewat muatan lokal atau pendidikan berbasis proyek; pendidikan belum berhasil membuat para pelajar mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Argumen lainnya adalah, sekolah memang tidak dirancang untuk membuat orang mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sekolah menyiapkan alumninya untuk memasuki dunia kerja, alias untuk menjadi karyawan. Karyawan artinya siap dipekerjakan sesuai dengan perintah atasannya.

Kalau kita mempelajari waktu yang digunakan oleh anak-anak setiap hari, maka paling besar waktunya adalah untuk sekolah. Waktu sekolah itu pun tidak berhenti di waktu anak berada di sekolah, melainkan juga mengambil waktu-waktu yang lain. Kalau anak sekolah pagi, maka ada waktu siang dan bahkan malam yang juga terpakai untuk keperluan sekolah. Kalau anak sekolah siang, maka ada waktu malam atau pagi yang diperlukan untuk keperluan sekolah. Keperluan itu bermacam-macam, mulai dari mengerjakan PR atau tugas sekolah, membaca catatan atau materi yang diberikan guru, atau latihan persiapan ulangan atau ujian. Kebanyakan sekolah berdurasi waktu setengah hari. Beberapa sekolah bahkan seharian penuh. Sekolah jenis yang kedua kadang-kadang malah disukai oleh orang tua karena sekaligus berfungsi sebagai tempat penitipan anak.

Apa yang dilakukan anak-anak dalam waktu selama itu? Pada umumnya mereka mendapatkan dari para guru. Sekolah yang biasa-biasa saja menerapkan pola mengajar ceramah, di mana guru-guru menyampaikan materi secara lisan dan kadang-kadang dibantu dengan menulis dengan kapur di papan tulis atau spidol di whiteboard atau tayang ppt atau menulis di layar elektronik untuk sekolah yang lebih kaya. Di sekolah yang lebih kreatif, anak-anak diajak untuk belajar dengan cara-cara yang lebih kreatif, misalnya melalui praktik, simulasi, percobaan, diskusi kelompok, permainan, gerak dan lain-lain. Lepas dari berbagai metode kreatifnya, yang dipelajari di sekolah bukanlah hal-hal yang langsung berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh-contoh hal-hal yang langsung berguna dalam kehidupan sehari-hari antara lain misalnya, bagaimana kita memproduksi dan mengolah makanan kita, bagaimana kita membangun rumah dan bagaimana kita merawat rumah dan kebun pangan kita. Sayangnya, sekolah-sekolah yang ada saat ini menjauhkan kita dari keterampilan-keterampilan itu. Keterampilan-keterampilan itu diasumsikan sudah dipelajari sendiri di keluarga masing-masing atau bisa diperoleh di tempat lain. Masalahnya, waktu anak-anak sudah habis untuk sekolah. Di dunia saat ini, di mana pendidikan formal dianggap penting, kecil kemungkinan anak-anak diarahkan untuk memprioritaskan keterampilan-keterampilan seperti berkebun dan mengurus rumah sebagai bahan belajar.

mk1
Mengolah Makanan Sehat : keterampilan penting untuk hidup
Sumber: Koleksi Hari Belajar Anak KAIL

 

mk2
Memasak dengan tungku : Belajar Survival
Sumber: Koleksi Hari Belajar Anak KAIL

Saya bersekolah di sebuah SD Inpres di pinggiran Kota Jakarta di tahun 80-an. Pada saat itu, sekolah saya itu tidak memiliki petugas kebersihan khusus. Tidak ada pegawai sekolah yang khusus bertanggung jawab untuk membersihkan kelas. Jadi setiap wali kelas bertanggung jawab untuk kebersihan kelas masing-masing. Mengingat tanggung jawab guru banyak, maka guru mendistribusikan tanggung jawab tentang kebersihan kelas kepada para murid. Kami dibagi menjadi enam kelompok. Setiap kelompok bertanggung jawab untuk satu hari membersihkan kelas, sebelum dan setelah kelas berlangsung. Kelompok itu disebut kelompok piket. Piket berarti antara lain menyapu kelas, mengepel, membersihkan papan tulis, melap semua meja dan kursi agar bersih dan siap digunakan untuk belajar. Kadang-kadang ditambah dengan mengisi air pada vas bunga atau tanaman di meja guru, melap kaca jendela dan pintu kelas dan lain-lain tergantung keperluan.

Apabila dilihat sekilas, sepertinya itu tidak berhubungan dengan pelajaran atau penguasaan ilmu pengetahuan. Buat apa anak disekolahkan, kalau di sekolah cuma disuruh menyapu? Atau kita kemudian mengaitkannya dengan kenyataan bahwa ini adalah sekolah anak-anak miskin, jadi anak-anak masih harus menyapu sendiri, ketimbang langsung mempelajari pelajaran sekolah. Tidak seperti sekolah-sekolah yang lebih kaya, di mana anak-anak tersebut bisa langsung menikmati kelas yang bersih dan siap pakai ketika datang ke sekolah.

Apabila dipikirkan lebih jauh dan memperhatikan perkembangan yang terjadi pada anak-anak generasi sekarang, saya mulai berpikir bahwa yang sesungguhnya terjadi itu bukan sekedar saya dan teman-teman kelompok piket menyapu kelas sebelum pelajaran dimulai. Sebetulnya yang terjadi adalah sebuah proses pembelajaran. Proses itu mengajarkan kami tentang memahami kebutuhan-kebutuhan bersama di sekeliling kami dan mengambil tanggung jawab serta berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan bersama tersebut. Kami belajar bekerja di dalam kelompok untuk menyelesaikan sebuah tanggung jawab riil yang hasilnya langsung kami rasakan bersama. Menurut saya, ini adalah sebuah proses belajar yang luar biasa. Kalau dari kelas satu sampai dengan kelas enam kami melakukannya setiap minggu selama kira-kira 1 jam, maka kami mendapatkan pelajaran tambahan gratis tentang tanggung jawab dan kerjasama selama 6 tahun X 1 jam X (52 minggu – libur sekitar 4 minggu/tahun) = 288 jam. Jika diasumsikan satu hari adalah 8 jam kerja, maka urusan piket ini sebetulnya setara dengan 36 hari kerja praktek langsung di sekolah. Selain soal tanggung jawab dan kerjasama, tentu anak-anak bisa belajar tentang kepemimpinan, kepedulian terhadap sesama dan terhadap lingkungan dan tentu saja belajar teknik menyapu dan mengepel yang efisien. Semua itu adalah karakter-karakter dan keterampilan yang berguna untuk kehidupan.

Hal di atas adalah contoh-contoh sederhana dari sebuah kondisi yang dianggap “kurang baik” tetapi justru dapat dimanfaatkan menjadi sebuah ruang belajar yang konstruktif untuk membangun karakter dan keterampilan anak. Hal-hal semacam itu sudah jarang. Sebaliknya, anak-anak diarahkan untuk praktek di luar ruang hidupnya, yang kebanyakan menjauhkan dirinya dari kehidupannya saat ini. Lebih parah lagi, untuk mendapatkan semua itu, orang tua harus membayar. Bahkan, biayanya semakin lama semakin mahal. Tidak heran kalau setelah lulus, para lulusan pergi dari rumahnya untuk bekerja, baik di kota maupun di tempat-tempat yang lebih jauh. Asumsi bahwa menyekolahkan anak untuk membangun kampung halaman jarang terjadi. Sekolah memang tidak menyiapkan anak-anak untuk membangun kampung halamannya. Maka wajar kalau ada yang mempertanyakan, sekolah untuk pulang atau sekolah untuk pergi?

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Masalah Kita] Gerakan Pangan di Tengah Kapitalisme

[Masalah Kita] Melawan Plant Awareness Disparity: Misi Orang Muda Gunung Sawal Menjaga Cagar Alam lewat Pangan Lokal

[Masalah Kita] Melawan Plant Awareness Disparity: Misi Orang Muda Gunung Sawal Menjaga Cagar Alam lewat Pangan Lokal

[Masalah Kita] Kesulitan Menerapkan Pangan Lokal dalam Praktik Sehari-hari: Pengalaman CSA KAIL-YPBB

[Masalah Kita] Kesulitan Menerapkan Pangan Lokal dalam Praktik Sehari-hari: Pengalaman CSA KAIL-YPBB

[Masalah Kita] Kisah Kasih Kota dan Desa  (K3D)

[Masalah Kita] Kisah Kasih Kota dan Desa (K3D)

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 44
Total Visitors: 93793

Visitors are unique visitors