[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

masalah-kita_piki
Gambar oleh Mario Sanchez Nevado (https://bit.ly/3n8ciFi)

Saat saya pindah ke kota ini sekitar sepuluh tahunan yang lalu, saya mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Masa kecil saya memang sudah dipenuhi dengan perpindahan dari kota ke kota. Selalu, pindah ke tempat baru tidak pernah mudah. Selain alamnya, orang-orang dan budayanya juga bisa jadi sangat berbeda dengan tempat asal kita.

Masyarakat di desa tempat tinggal saya saat ini, di Sidoarjo, kebanyakan bekerja sebagai pedagang dan karyawan. Dulu, desa ini adalah salah satu desa penghasil beras terbaik se-Kabupaten Sidoarjo. Namun, sawah-sawahnya sudah berubah menjadi perumahan dan pabrik. Tidak banyak lagi petani yang tinggal di sini. Kompleks tempat tinggal saya, yang dulunya sawah, dipenuhi penduduk pendatang, yang seluruhnya pegawai swasta.

Beberapa tahun yang lalu, sebelum saya menempati perumahan ini, saya mengontrak rumah di desa tidak jauh dari sini. Di desa itu, kebanyakan tetangga saya masih bekerja sebagai petani dan pengelola tambak. Ada juga yang bekerja sebagai pegawai, tapi jumlahnya masih lebih sedikit.

Di desa, kerja bakti hanya dilakukan dua kali setahun : seminggu sebelum lebaran haji dengan target membersihkan makam, dan seminggu sebelum acara Peringatan Hari Kemerdekaan dengan target membersihkan kampung secara umum. Biasanya yang jadi lokasi adalah saluran irigasi.

Perbedaan yang saya amati antara kompleks perumahan dengan Desa, adalah bahwa di perumahan kerja bakti dilakukan hampir tiap 2 bulan sekali, dengan agenda utama membabati rumput yang mulai tumbuh di tanah-tanah terbuka di daerah fasilitas umum. Kerja bakti mulai dari beramai ramai, sampai membeli mesin pemotong rumput, dan membeli racun rumput. Pengeluaran solar untuk mesin potong rumput dan racun ini adalah pengeluaran rutin di kas RT.

Saya hampir tidak habis pikir, mengapa di perumahan ini kita menghabiskan sedemikian banyak waktu untuk menghilangkan rumput yang akan tumbuh lagi seminggu setelah dicabut?

Baru sebulan yang lalu, tanah-tanah terbuka itu ditutupi paving dan semen. Warga merasa lega karena tidak lagi harus mencabuti rumput. Di awal musim hujan ini, kembali warga mengeluh karena genangan air yang terbentuk setelah hujan. Rupanya tanah terbuka yang tadinya penuh rumput, yang sekarang ditutupi semen itu menyerap air sehingga tidak sempat menggenangi jalan. Sekarang, fungsi menahan air itu hilang. Warga mulai berpikir untuk mengadakan kerja bakti lagi. Kali ini sasarannya adalah saluran air. Buangan air harus lebih lancar lagi, caranya adalah dengan melakukan pengerukan dan memperdalam saluran air.

Mengapa tanah rumput tidak disukai? Katanya, “Ini perumahan, bukan kampung. Banyak rumput begitu mirip hutan. Nanti kalau ada ular, bagaimana?”

Rumput tumbuh karena sinar matahari masuk ke tanah terbuka. Ini hanya mekanisme tanah untuk mempertahankan diri. Tanah butuh kelembaban dan material organik. Tanah terbuka adalah tanah yang mati. Bagaimana caranya agar tanah tersebut bisa tetap lembab, menyerap air, tapi tidak ditumbuhi rumput? Itulah pertanyaannya. Beberapa orang tetangga yang senang bercocok tanam, memulai inisiatif untuk menanam tanaman pangan di sepanjang lahan yang masih selamat dari paving, sehingga rumput tak lagi tumbuh di sana.

Sesaat orang senang karena bisa ikut menikmati panen dari tanaman pangan ini. Tapi, ramainya berita tentang penemuan ular di televisi, membuat tetangga-tetangga saya berpikir ulang. Mereka takut ular berkeliaran menggigit anak-anak yang sering bermain di sekitar kompleks. Lahan-lahan yang ditumbuhi tanaman pangan ini tidak lolos dari tuduhan. Menurut mereka, lahan-lahan itu akan menjadi sarang ular.

Tinggal di lahan bekas sawah, bertetangga dengan kawasan pesawahan dan tambak, tentu sulit sekali untuk tidak menemui hewan-hewan seperti ini. Ular itu hanya satu hal. Hal lain adalah nyambek atau kadal yang ukurannya bisa sebesar betis orang dewasa. Kadal ini tinggal di saluran air dan dituduh sebagai penyebab tidak lancarnya saluran air, karena kebiasaannya membuat sarang berupa lubang di pinggir saluran air. Saking menguasai saluran air, ada beberapa kejadian dimana kadal ini muncul di toilet di dalam rumah. Di beberapa kejadian, kadal ini masuk dan mengacak-acak isi rumah. Orang takut dan tidak suka pada kadal.

Beberapa orang yang saya ajak bicara, tahu kebiasaan kadal ini. Mereka tahu bahwa kadal ini juga memakan ular yang mereka takuti. Tapi mereka tidak suka ular maupun kadal itu sendiri. Begitu juga dengan rumput. Bayangkan, berapa besar waktu dan energi yang dibutuhkan untuk menghilangkan semua itu. Semuanya juga demi sebuah kepercayaan bahwa “Ini perumahan, bukan kampung” atau tidak mau terlihat seperti hutan.

Ada apa dengan kampung? Dengan hutan? Dengan ular, kadal dan rumput? Dalam kepercayaan budaya masyarakat di sini, rupanya hutan atau daerah-daerah alami seperti rawa, identik dengan tempat tinggal roh jahat atau setan dan dedemit, sehingga daerah-daerah seperti itu harus diubah menjadi daerah-daerah manusia, dengan cara menghilangkan semua fitur “alam”-nya. Mulai dari tanaman yang rimbun dan semua hewan-hewannya seperti ular dan kadal itu. Babad alas atau membuka hutan, serta penaklukan alam, dipandang sebagai sesuatu yang heroik dan hebat. Kita tidak suka dengan kampung karena merasa derajat kampung atau alam, jauh lebih rendah dari kita yang hidup moderen di perumahan.

Cara-cara pandang seperti ini tidak saya temui di tetangga-tetangga saya ketika saya mengontrak rumah di desa. Ya, ada ular dan kadal, bahkan ayam mereka beberapa kali dihabisi musang, tapi ya sudah saja. Tidak ada permusuhan yang dibangun terhadap ular dan kadal, begitu juga pada si musang. Mereka tahu bahwa binatang-binatang itu mungkin menghuni rumpun bambu tak jauh di beberapa titik di saluran irigasi. Tapi mereka tidak menebang habis rumpun bambu itu karena penduduk desa memanfaatkan bambu itu untuk berbagai keperluan mereka. Mulai dari membuat patok untuk sawah, sampai membuat bedeng untuk memperkuat dinding tambak, atau memperbaiki kandang hewan ternak.

Bekerja sebagai karyawan (alih-alih petani atau petambak) membuat hubungan mereka jauh dengan alam. Di desa yang tidak jauh dari perumahan ini, keberadaan ular, kadal, bahkan rumpun bambu lebat di samping rumah di pinggir sungai tidak pernah menjadi persoalan. Entah karena mereka ini kebanyakan bekerja sebagai petani, atau karena daerah ini adalah pedesaan (sehingga keberadaan hal hal seperti ini dianggap ‘wajar’), tapi profesi petani pun dianggap lebih rendah ketimbang karyawan. Buktinya, jumlah petani di kampung itu pun semakin berkurang dari generasi ke generasi. Dan tanah-tanah sawah dijual beralih menjadi perumahan.

Bagi saya, anggapan-anggapan seperti ini tak ada gunanya. Ini justru membuat kita terus menerus berada dalam fase pertempuran. Pertempuran dengan alam untuk berusaha menghilangkan ke-alam-an daerah ini, atau berusaha menjaga derajat agar tidak sama dengan “desa”. Berapa banyak waktu dan energi yang harus keluar untuk semua ini? Dalam fase pertempuran, seluruh indra kita selalu terjaga akan semua kemungkinan bahaya. Berapa banyak beban psikologis yang harus ditanggung?

Saya sendiri memilih untuk tidak mengadopsi cara berpikir seperti ini. Saya tidak takut ular berkeliaran karena saya tahu di depan saluran air rumah saya, ada kadal kadal yang berkeliaran, berjemur di depan rumah saya setiap pagi. Lagipula hanya sedikit ular yang bisanya (racun) mematikan. Kebanyakan ular justru tidak berbisa, atau bisanya lemah. Saya tidak keberatan dengan rumput yang tumbuh karena saya tahu dengan demikian tanah terlindungi kesuburannya. Gantinya, saya tanam beberapa jenis sayur, sehingga rumputnya mati karena tidak kena sinar matahari lagi. Bonusnya saya mendapat bahan sayur, dan tidak perlu kerja bakti cabut rumput.

Rumah saya pun jadi lebih rimbun dibandingkan rumah tetangga yang seluruh halamannya ditutup semen. Saya tidak keberatan bila rumah saya dianggap hutan, atau “ndeso”. Rumah saya lebih sejuk dan lembab di tengah udara yang panas dan kering. Saya tidak perlu AC atau kipas angin yang berputar terus menerus dan menghabiskan listrik.

Alam adalah hal yang melingkupi kita semua. Sebetulnya, tidak mungkin kita melepaskan diri darinya. Sebagian, atau sementara, kita bisa melepaskan diri dari alam. Misalnya seperti pada saat kita naik pesawat. Kita sebenarnya sedang melawan gravitasi. Untuk melawan gravitasi ini, berapa banyak bahan bakar yang dibutuhkan? Mengikuti alam, tentu butuh energi yang lebih rendah.

Saya sendiri tidak terpikir untuk sama sekali tidak melakukan apapun. Tentu tidak. Dalam beberapa hal, mungkin kita masih butuh memodifikasi alam, seperti yang saya lakukan dengan menanam tanaman pangan untuk menutupi rumput. Kita perlu memperhitungkan berapa besar energi, waktu, dan sumberdaya yang kita habiskan untuk melakukan modifikasi itu, dan seberapa besar manfaat yang kita dapatkan. Bila manfaat yang sama bisa kita dapatkan tanpa harus terlalu banyak mengeluarkan energi, waktu dan sumberdaya, mengapa tidak kan?

Fictor Ferdinand

Fictor Ferdinand

Fictor Ferdinand, biasa dipanggil Piki. Lahir di Bandung, sekarang tinggal di Sidoarjo bersama si kecil Avani dan ibunya, Indah. Piki tertarik pada isu-isu kedaulatan dan bagaimana manusia berhubungan dengan alam. Sejak 2001 Piki berkenalan, menjadi relawan, dan bergabung dengan YPBB. Saat ini menjabat sebagai Direktur Harian YPBB, dengan program utama mempromosikan gaya hidup yang berkelanjutan melalui kegiatan kampanye, pelatihan dan pendampingan, membangun model komunitas organis dan advokasi kebijakan. Selain di YPBB, Piki juga aktif sebagai penggerak Koperasi Pendidikan Ura-Ura di Surabaya, dan beberapa jaringan belajar yang digagas Walhi Jawa Timur. Lewat Ura-ura, cita-cita kecil yang sedang digarapnya adalah membangun sekolah untuk memperluas kesadaran terhadap krisis dan mendorong upaya aktif untuk membangun wacana peradaban baru. Mimpi besarnya adalah membangun model masyarakat yang bertransisi secara sadar pada kehidupan yang selaras dengan alam. Piki bisa disapa di Whatsapp: 081331806993 atau di facebook https://web.facebook.com/fictor.ferdinand

Related Posts

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Merajut Damai

[Masalah Kita] Merajut Damai

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 1713

Visitors are unique visitors