[Opini] Mari Bercocok Tanam Ramah Lingkungan

[Opini] Mari Bercocok Tanam Ramah Lingkungan

Perubahan iklim saat ini merupakan dampak revolusi industri yang mengubah cara pandang manusia terhadap alam untuk menaklukkan alam (egosentris), membawa semangat eksplorasi serta eksploitasi berlebihan (melampaui batas kebutuhan). Indikator utama kerusakan yang menyebabkan perubahan iklim adalah jejak karbon dan polutan sintetik sukar/lama terurai, hingga percepatan produksi massal yang berlangsung tidak sebanding dengan kecepatan daya lenting atau daya pulih alam menuju keadaan setimbang.

Dengan keadaan seperti ini, sudah tentu kita harus mulai bertindak dari lingkungan terkecil (diri sendiri dan keluarga) bertahap hingga ke lingkungan sekitar terdekat (regional sampai global). Mulailah, misalnya, dengan mengurangi penggunaan emisi karbon dan polutan sintetik sukar/lama terurai, serta mengembangkan kemandirian dan ketahanan pangan ramah lingkungan. Bercocok tanam dengan cara menyesuaikan situasi dan kondisi ketersediaan lahan (jangan lupa memperhitungkan daya dukung dan daya tampung), serta menggunakan media tanam, perlengkapan dan peralatan yang mudah terurai. Tanamlah berbagai jenis tanaman yang memang biasa kita olah dan pergunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Agar terstruktur dan sistematis, dapat dibuat dalam bentuk rencana menu harian yang dihitung berdasarkan kebutuhan kalori, protein, lemak, vitamin serta mineral.

Selain menanam tanaman pangan harian, jika masih memungkinkan, tanamlah berbagai jenis bunga-bungaan, pohon buah-buahan dan kayu-kayuan untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi oksigen serta pemenuhan kebutuhan mineral dan vitamin bagi tubuh kita. Bangun kembali jejaring rantai makanan di alam secara bertahap, agar kembali membentuk ekosistem heterogen, terpadu dan berkelanjutan (kompleks) yang kaya akan plasma nutfah. Tangkap, sebar, resap dan tahan selama mungkin energi sinar matahari, air serta nutrisi tanah agar terus berputar di ekosistem yang kita bangun.

Apabila kita sudah memulai kegiatan tersebut, maka cara pandang menyelaraskan diri dengan alam (ekosentris) akan kembali berjalan bagi kebaikan seluruh makhluk. Sudah tentu keserasian, kesehatan serta kedamaian alam dapat mengembalikan status makhluk sosial manusia dalam hidup berdampingan bersama para penghuni bumi lainnya. Inilah sebenarnya inti dari ajaran saling berkasih sayang sesama makhluk, bermanfaat satu sama lain, hingga menjadi rahmat bagi alam semesta.

Namun kenyataan pelaksanaan tidaklah semudah konsep dan teori yang ada, mengubah peradaban umum yang negatif saat ini, harus dimulai bertahap dari ritme, kebiasaan, adat, budaya hingga menjadi peradaban baru yang lebih positif, dan ini butuh waktu bertahun-tahun hingga lintas generasi. Zona nyaman yang serba instan dan praktis menjadi tantangan awal yang lumayan berat jika kita tidak menumbuhkan tekad kuat untuk berubah. Belum lagi masyarakat pada umumnya masih kurang menyadari perlunya perubahan bagi kebaikan bumi sebagai rumah kita bersama.

Kegiatan awal untuk bercocok tanam ramah lingkungan pada situasi dan kondisi saat ini dapat dimulai dengan memperbaiki kondisi tanah. Perbanyak membuat kompos serta mengembangbiakan mikro organisme lokal, cacing dan magot sambil mengatur desain kebun yang akan ditanami. Perhatikan arah pergeseran matahari agar kita dapat menangkap sinar matahari sebanyak mungkin bagi pertumbuhan tanaman. Di wilayah kita, biasanya pertimbangan arah terbit matahari hanya bergeser dari timur laut hingga tenggara. Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan adalah sumber air untuk pengairan dan penyiraman tanaman. Semakin tinggi lokasi sumber air pada kontur lahan kebun, akan semakin baik, karena dengan demikian aliran air dapat mengikuti kontur lahan. Buatlah sebanyak mungkin kolam-kolam kecil penampung air, diakhiri kolam paling besar pada kontur terendah batas terluar lahan. Selain memperkaya ekosistem untuk mengkondisikan iklim mikro, seluruh kolam penampungan air berfungsi juga sebagai tabungan cadangan air untuk musim kemarau.

whatsapp-image-2020-12-20-at-12-49-51-pm
Pencacahan bahan kompos

whatsapp-image-2020-12-20-at-12-49-52-pm

whatsapp-image-2020-12-20-at-12-49-59-pm
Menyiapkan dan mengisi wadah pengomposan

 

whatsapp-image-2020-12-20-at-12-50-08-pm-1
Tumpukan terakhir

Jika lahan kebun kita berada pada jalur angin kencang, tanamlah pohon-pohon pemecah angin pada area arah datangnya angin, dengan demikian kebun kita akan terlindungi dari terpaan angin. Tanamlah tanaman yang memerlukan perhatian lebih intensif dan kita butuhkan sehari-hari di sekitar rumah. Kemudian semakin menjauh untuk tanaman yang tidak terlalu memerlukan perhatian intensif dan bukan untuk kebutuhan sehari-hari. Begitu pula pengembangbiakan ternak, biasanya jenis ternak yang dikembangbiakan bertahap dari ikan dan lebah madu di awal, lalu unggas berkaki dua hingga ternak berkaki empat.

Tahapan pengembangbiakan ternak disesuaikan dengan berkembangnya kompleksitas ekosistem, hal ini menjadi pertimbangan agar kita tidak perlu membeli pakan untuk ternak. Perputaran energi diusahakan saling melengkapi dari kebun yang sedang digarap, dengan demikian kita benar-benar tumbuh bersama berbagai tanaman dan ternak yang digembalakan. Semakin beragam flora dan fauna yang ada di lahan kita, maka akan semakin sedikit input yang kita butuhkan dari luar sehingga anggaran pembiayaan pun semakin irit, hanya tenaga kerja saja untuk pemeliharaan. Dengan bekerja dan memenuhi kebutuhan dari kebun, insya Allah, badan kita tetap sehat dan bugar.

Selain mengembangkan keberagaman melalui pola tumpang sari, setelah mengalami siklus satu kali panen, maka kita perlu melakukan rotasi tanaman. Jangan lupa juga menanam tanaman penutup permukaan tanah (cover crops) agar kelembaban tanah tetap terjaga. Dalam kurun waktu setahun awal biasanya kita harus bekerja keras, namun lambat laun seriring semakin kompleksnya ekosistem maka siklus alamiah akan mengambil alih beberapa pekerjaan rutin kita.

Pekerjaan rutin yang biasa dilakukan di kebun meliputi pembenihan, penyiraman, membersihkan gulma serta pemangkasan untuk dibuat kompos, pengendalian hama dan panen. Jika disederhanakan kronologi proses biogeokimia-nya, maka setiap terjadi kerusakan dalam suatu ekosistem (salah satunya oleh manusia), maka ekosistem tersebut akan memperbaiki dirinya sendiri dengan kemampuan daya lenting/daya pulih melalui proses bertahap yang disebut suksesi. Pola tanaman perintis yang tumbuh dalam proses suksesi itulah yang menjadi pedoman tumpang sari dalam kebun kita (diinventarisasi dan identifikasi berdasarkan kesamaan taksonomi spesies, genus, keluarga, ordo, kelas atau divisi tanaman).

Setiap tanaman yang tumbuh liar di kebun dapat menjadi bahan utama kompos kita (percepatan proses suksesi – meniru pola pembentukan humus di alam liar). Beberapa tumpang sari tanaman dalam bedeng tertentu maka akan menjadi komunitas tanaman. Kumpulan beberapa bedeng/komunitas tanaman yang sudah mengembalikan jejaring makanan (masuknya hewan-hewan liar maupun ternak) maka disebut dengan gilda. Semua aliran informasi, energi serta materi yang ada di kebun itulah yang disebut dengan ekosistem.

Jika kita menikmati proses berkebun sambil menghitung biogeokimia-nya menggunakan rumus-rumus matematika dan fisika, tanpa terasa kita telah belajar secara utuh ilmu pengetahuan alam murni beserta aplikasinya. Semakin lama dilakukan secara rutin dan konsisten, maka kepekaan berbagai indera kita akan semakin tajam. Perhitungan logika lambat laun lebur menjadi insting alamiah keselarasan/keserasian dengan lingkungan sekitar. Di situlah sejatinya manusia pilihan mulai terbentuk. Harmoni tubuh dan lingkungan sekitarnya akan terlihat mengalir indah. Bumi tempat tinggal kita menyumbangkan energi positif bagi keberlangsungan generasi berikutnya.

Selamat berdamai dengan seluruh alam semesta, agar dapat berjumpa TUHAN di kebun.

 

Rio Kornel

Rio Kornel

Rio Kornel Lahir di bandung 25 april 1976, rio kornel lebih banyak tumbuh dan besar di alam terbuka. Berkebun, memancing dan berburu bersama almarhum kakek tercinta menjadi rutinitas masa kecilnya. Kegiatan alam terbukanya berlanjut di WAPATALA SMP N 28 Bandung, Apis Indica SMA N 6 Bandung hingga Sekolah Panjat Tebing SKYGERS dan kursus menyelam PADI. Selain itu juga, Rio merupakan salah satu Pendiri aktivitas penyelamatan satwa JAAN. Setelah belajar ekologi di jurusan Antropologi UNPAD, serta menjadi manajer jungle training OPWALL selama 5 tahun, kemudian belajar Permakultur dan tinggal di Bumi Langit selama setahun, lengkaplah konsep bercocok tanam ramah lingkungan yang mengantarkannya menuju Ekoteologi.

Related Posts

[Opini] Self-Healing: Behind the Scenes

[Opini] Self-Healing: Behind the Scenes

[Opini] Mau Miskin

[Opini] Mau Miskin

[Opini] Bisakah Kita Bebas dari Perilaku Diskriminatif?

[Opini] Bisakah Kita Bebas dari Perilaku Diskriminatif?

[Opini] Damai Mulai Dari Diri Sendiri

[Opini] Damai Mulai Dari Diri Sendiri

2 Comments

  1. Menanam cara Permakulture sdh prnah diajarkan dgn yanda Dilla di sklh Al Hiraa, tp blm sepenuhnya dipraktekkan, dgn adanya Ekoteologinya yanda Rio mngkn bs dilnjutkan pembelajaran ke Al Hiraanya bgtu yanda gmn? Ekoteologinya yanda Rio keren bnget nih, utk kita yg mempunyai lhn terbatas, teori ini bs jd jln keluar yg cocok agar ketahanan pangan kita bs berkembang dgn baik, sesuai dgn anjuran Pemerintah kita hrs mulai mempersiapkan akan ketahanan pangan agar tercukupi utk kebutuhan sendiri…..jd kpn yanda Rio bs mengajarkannya ke Al Hiraa……terimakasih sdh ksh info yg menarik, dan hrs dpt memberikan pembelajaran ke daerah daerah gtu yanda…..sukses barokah buat yanda Rio…..Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 3
Total Visitors: 2370

Visitors are unique visitors