[Opini] Melepaskan Hasrat dan Keinginan

[Opini] Melepaskan Hasrat dan Keinginan

Di dalam kehidupan, manusia mempunyai banyak keinginan dan hasrat dalam dirinya. Contohnya adalah keinginan untuk memiliki harta berlimpah, jabatan yang tinggi, pasangan yang rupawan dan masih banyak keinginan-keinginan lainnya. Tetapi kenyataannya adalah dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Di dunia yang kita diami sekarang, tak semua keinginan kita dapat terwujud.  Bahkan, dengan berbagai macam persoalan, kita bisa jadi justru merasa lebih banyak hal yang tidak kita inginkan dari pada yang kita inginkan.

Ada pepatah mengatakan “keinginan adalah sumber penderitaan”. Keinginan yang tak tercapai menghasilkan kekecewaan. Ketika kekecewaan itu berulang-ulang kali terjadi, timbullah keputusasaan, lalu menjadi penderitaan. Di dalam penderitaan, kita kerap mengira bahwa hidup kita tidak lagi bermakna untuk dijalani.

Paradoksnya, untuk mencapai keinginan kita harus melepaskan keinginan. Melepaskan keinginan berarti kita tidak lagi memaksa dunia harus berjalan sesuai keinginan kita. Hal ini berlaku untuk semua jenis keinginan, termasuk keinginan untuk merasa damai. Keinginan untuk merasa damai justru akan menciptakan perasaan tidak damai di dalam diri kita.

Ada sebuah kisah dari buku Masanobu Fukoka yang berjudul “Revolusi Sebatang Jerami”. Buku itu bercerita tentang keinginan manusia untuk memenuhi kepuasan lidahnya. Makan adalah kebutuhan manusia untuk bertahan hidup. Semula manusia makan dari beberapa jenis makanan. Seiringnya dengan waktu berjalan, satu bahan makanan tak lagi dapat memenuhi keinginan yang terus bertambah. Kepuasan hasrat akan makanan yang tak pernah terpuaskan membuat manusia mencari bahan makanan yang lain. Selalu ingin terus tambah dan tambah.

Tidak puas dengan rasa makanan yang hanya manis, asam, pahit, dan asin, manusia lalu mencari lagi berbagai kombinasi rasa makanan sampai ditemukanlah rasa baru yaitu “Umami” atau rasa gurih, perpaduan rasa manis dan asin. 

Tetapi tidak sampai di situ saja, manusia masih merasa belum puas. Ketika memasak,ia menggunakan metode yang sulit dan bumbu-bumbu yang rumit. Akhirnya rasa akhir makanan yang dikonsumsi sangat jauh dari rasa bahan pangan aslinya. Seperti yang dikatakan Fukuoka, setiap bahan makanan mempunyai rasa halus dan alami. Jika bahan makanan diberi terlalu banyak bumbu, maka rasa asli yang disebutkan oleh Fukuoka tidak akan dapat dirasakan lagi. Akhirnya kita tidak tahu lagi rasa asli dari makanan yang kita makan. 

Dari cerita di atas tergambar keinginan dan hasrat manusia tidak akan pernah terpuaskan. Manusia akan mengejar dan terus mengejar keinginan tersebut sampai apa yang dibayangkannya akan terpuaskan. Padahal yang terjadi adalah tidak sama sekali. 

Di dalam kasus makanan, selain informasi yang telah sampaikan di atas, makanan yang terlalu banyak diproses juga kehilangan berbagai nutrisi yang terkandung di dalam bentuk aslinya. Padahal nutrisi tersebut bisa jadi sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Keinginan kita untuk mendapatkan “rasa” yang kita inginkan mengalahkan kesempatan kita untuk mendapatkan nutrisi terbaik yang sebetulnya sangat dibutuhkan tubuh.

Dalam mencapai keinginan-keinginan dan hasrat, manusia juga tidak ragu-ragu untuk merusak alam demi memenuhi kepuasan dirinya. Manusia rela mencemari udara, membuang limbah ke sumber air, merusak tanah, menebang pohon-pohon di hutan tanpa sisa. Akibatnya tidak hanya ditanggung oleh manusia sendiri, tetapi juga berdampak kepada flora dan fauna serta ekosistem, dan pasti akan mengganggu keseimbangan kerja alam semesta.

Ketika kita melepaskan keinginan kita, kita menerima kenyataan apa adanya. Kita tidak lagi memaksakan supaya dunia berjalan sesuai dengan keinginan kita. Justru, kita akan menyesuaikan keinginan kita dengan bagaimana alam bekerja. Keinginan kita menjadi sinkron dengan tarian semesta.

Di dalam kasus makanan, untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, kita akan menyesuaikan dengan apa yang disediakan oleh alam di sekitar kita. Kita akan mengolah pangan itu sedemikian sehingga kita dapat memperoleh berbagai nutrisi dalam bentuk alaminya. Kita akan mendukung alam menghasilkan pangan yang akhirnya mendukung kehidupan kita.

Melepaskan keinginan berarti melepaskan harapan-harapan kosong akan kehidupan. Hidup kita akan selaras dengan hukum-hukum semesta. Jika hal itu terjadi, maka di titik ini kita akan menemukan kedamaian yang sesungguhnya.

Bayu Agumsah

Bayu Agumsah

Bayu Agumsah lahir di Jakarta. Menempuh kuliah Sistem Informasi di Universitas Gunadarma, pegiat seni teater dan sedang menggeluti bidang Permaculture. Bercita-cita mempunyai kebun pangan dan hutan sebagai pusat pendidikan pertanian yang selaras dengan alam.

Related Posts

[Opini] Ke Alam, Kembali Hidup Komunal: Refleksi Kritis Tentang Makan Berkesadaran

[Opini] Ke Alam, Kembali Hidup Komunal: Refleksi Kritis Tentang Makan Berkesadaran

[Opini] Kedaulatan Pangan: Kita Sedang Berjuang atau Hanya Sedang Mengigau?

[Opini] Nasib “Sorgum” dalam Terang Pascakolonial

[Opini] Nasib “Sorgum” dalam Terang Pascakolonial

[Opini] Adopsi Pertanian Berbasis Agroekologi dan Regeneratif pada Sistem Pangan Indonesia untuk Melampaui Komitmen Iklim Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia

[Opini] Adopsi Pertanian Berbasis Agroekologi dan Regeneratif pada Sistem Pangan Indonesia untuk Melampaui Komitmen Iklim Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 7
Total Visitors: 94837

Visitors are unique visitors