[Tips] Mencapai Kedamaian Batin

[Tips] Mencapai Kedamaian Batin

Oleh: Navita Kristi Astuti

Manusia terdiri atas dimensi fisik dan batin. Dimensi fisik pada manusia adalah segala sesuatu yang terlihat, yaitu tubuh dan organ-organnya. Sedangkan dimensi batin adalah akal budi yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya, yaitu: kemampuan memahami dirinya sebagai makhluk sosial yang berhubungan dengan sesama, alam dan penciptaNya, sesuai keyakinan masing-masing pribadi.  Melalui akalnya, manusia mampu memahami fenomena alam. Ia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan persepsi dan pengalamannya berhubungan dengan dunia di sekitarnya.

Baik dimensi fisik maupun batin, memiliki kebutuhan untuk dipenuhi, dicukupi. Secara fisik, kebutuhan manusia disebut sebagai kebutuhan dasar (basic needs) yaitu pangan, sandang dan papan. Sedangkan kebutuhan batin pada manusia adalah hal-hal yang mempengaruhi sikap dan karakter manusia, emosi dan tanggapan manusia terhadap dunia di luar dirinya. Kebutuhan batin tersebut antara lain: perasaan damai, tentram, percaya diri, merasa dicintai, dan sebagainya. Pemenuhan kebutuhan fisik dan batin itulah yang membuat manusia dapat terus hidup di dunia ini.

Bagaimana praktek pemenuhan kebutuhan fisik atau kebutuhan batin? Kapan harus dipenuhi? 

Kebutuhan fisik muncul dalam berbagai gejala pada tubuh, seperti lapar, lelah, kedinginan atau merasa sakit. Kebutuhan tersebut dapat dijawab sebagai berikut : bila lapar, saya makan; bila lelah, saya mengistirahatkan diri di sofa atau di tempat tidur; bila kedinginan, saya mengenakan baju yang hangat; bila merasa sakit, saya meminum obat. Jawaban untuk kebutuhan fisik terlihat nyata untuk dipenuhi. Jika tak dapat ditemui di rumah, maka ada toko, supermarket, klinik dan apotik yang menyediakan segala kebutuhan tersebut. 

Selama ini, kebutuhan batin saya anggap sebagai kebutuhan untuk aktualisasi diri. Untuk mencapai aktualisasi diri ini, saya berorganisasi dan berkegiatan bersama dengan orang-orang lain yang memiliki visi misi yang sama, saya menekuni hobby, atau mengadakan rekreasi dengan keluarga. Dengan berbagai sarana aktualisasi diri itu, saya mendapatkan penerimaan dari orang lain, merasa berguna, dan dicintai oleh orang lain.

Namun demikian, terkadang – atau malah sering – saya tersesat. Saya cenderung mendahulukan pencarian jawaban untuk kebutuhan fisik daripada kebutuhan batin. Bagi saya, kebutuhan fisik lebih mudah dilihat atau dirasakan gejalanya.  Jawaban untuk kebutuhan fisik pun terasa lebih mudah dilakukan daripada memenuhi kebutuhan batin. Terkadang, dengan alasan penyegaran batin, saya menyibukkan diri pada kegiatan-kegiatan ‘luar’ atau urusan yang berhubungan dengan orang lain, seperti: bersosialisasi dengan teman-teman se-geng, arisan ibu-ibu, reuni kelas atau reuni angkatan, ajakan ngafe bersama sahabat, dan seabrek aktivitas lain. Jadwal satu minggu menjadi begitu padat dengan perjumpaan dengan orang lain. Waktu habis terpakai di jalan untuk mampir sana dan sini. Di penghujung hari, tubuh lelah dengan aktivitas-aktivitas fisik tersebut, dan meninggalkan pertanyaan “Apa yang sudah kulakukan sepanjang hari tadi? Apakah sungguh batinku telah tersegarkan?”

 

Hidup manusia seringkali dipenuhi dengan berbagai aktivitas, sehingga waktu untuk sendiri terabaikan. Gambar oleh: Prana M. Paramitha.

Sebelum melangkah lebih jauh, saya akan menjelaskan bahwa tulisan ini merupakan pengembaraan pribadi, proses jatuh dan bangun terutama dalam kaitan dengan kebutuhan batin/spiritual. Beberapa buku dari para pemikir maupun peneliti spiritual menjadi pegangan saya dalam pengembaraan pribadi ini. Semoga pengalaman ini dapat turut memperkaya referensi pencarian para pembaca.

Kedamaian Batin, di Mana Harus Kucari?

Dalam beberapa waktu, saya merasa gelisah, merasa ada sesuatu yang salah, tetapi tidak berhasil menemukan jawabannya. Saya sudah mencoba berbagai cara, pergi beribadah dan mendengarkan renungan dari tokoh-tokoh agama, menceritakan kegelisahan kepada sahabat, mengikuti yoga dan mendengarkan musik-musik yang tenang. Sejenak batin merasa damai. Namun itu tak bertahan lama. Ketika hadir faktor-faktor pemicu kegelisahan, layaknya memencet tombol lampu, kegelisahan itu menyala kembali di dalam pikiran dan menggelisahkan batin. Pupus semua kedamaian yang terasa sebelumnya. 

Setiap orang memiliki tombol kegelisahan. Sebagai contoh, dalam pengalaman saya, tombol kegelisahan terletak pada perasaan diterima oleh orang lain ketika saya ‘berhasil’ melakukan sesuatu. Keberhasilan itu membuat mereka kagum pada saya. Ketika di kemudian hari, ternyata saya gagal melaksanakan sebuah misi atau tugas tertentu, pikiran-pikiran ini menyerang dan menggelisahkan saya: saya telah gagal menjalankan tugas, akibatnya, saya tidak lagi diterima oleh orang lain. 

Masih ada banyak lagi daftar tombol kegelisahan yang mungkin saya  miliki terkait perasaan dihargai, dihormati, disayangi, diperhatikan, dipercaya dan sebagainya. Jika dirunut, tombol kegelisahan ini menyala berkali-kali sepanjang hidup, seperti sebuah pola. Tentu saja, kegelisahan itu menghasilkan rasa yang tidak nyaman. Akibat dari kegelisahan itu, saya tidak dapat tidur dengan nyenyak, menumpahkan kemarahan pada orang lain yang tidak bersalah, misalnya anak-anak saya, dan mengalami keraguan setiap akan menentukan tindakan tertentu. Saya ingin sekali menghilangkan pola-pola yang tidak mengenakkan seperti itu. Tetapi mengapa, dengan berbagai cara, pola itu selalu kembali? 

Proses pergumulan batin ini telah berlangsung selama hampir separuh hidup saya. Saya bersyukur bahwa di dalam kurun waktu tersebut, saya mengalami perjumpaan dengan beberapa sahabat, yang bersedia mendukung saya dalam proses pengembaraan diri. Melalui perjumpaan-perjumpaan tersebut, salah satunya, saya dianjurkan untuk melakukan kilas balik terhadap pola-pola kegelisahan yang saya alami. Dimulai dari mengingat dan mengenal kembali hal-hal atau peristiwa-peristiwa apa yang membuat saya gelisah seiring waktu. Di kesempatan lain, saya melakukan proses mengingat kembali peristiwa-peristiwa di masa kecil yang begitu membekas dan pandangan-pandangan yang telah ditanamkan kepada saya. Dalam perjalanan menempuh masa lalu itu, saat mengingat peristiwanya saja, seketika mendatangkan gelombang kegelisahan di dalam diri saya. Salah satu contohnya antara lain: perasaan sedih ketika dimarahi orang tua, menyaksikan orang tua bertengkar hebat, dan sebagainya. Jika pengalaman masa lalu saya bisa menimbulkan dampak sedemikian pada diri saya, bagaimana dengan orang lain yang mengalami peristiwa yang lebih tragis, seperti: mengalami kehilangan atau ditinggalkan orang-orang yang dicintai, mengalami/menjadi korban dari sebuah kecelakaan, peperangan, atau kekerasan?

Seseorang dapat terjebak dalam keruwetan pikirannya sendiri. Dalam keruwetan pikiran, kegelisahan muncul terus menerus. Gambar oleh: Prana M. Paramitha

Kemudian, dalam latihan berikutnya, saya melakukan beberapa hal berikut ini: meluangkan waktu sendiri, dalam hening, mengamati pikiran-pikiran yang muncul, menyadari kehadiran pikiran-pikiran tersebut, hingga akhirnya membiarkan pikiran-pikiran tersebut pergi menjauh dengan sendirinya. Wow, rupanya tidak mudah! Puluhan, bahkan ratusan pikiran berseliweran, datang silih berganti. Ternyata, dalam hening pun, pikiran manusia itu demikian sibuk! Sebagai manusia yang hidup, tentu pikiran akan terus berjalan. Dalam latihan ini, saya ingin agar diri saya tidak mudah bereaksi dan terpengaruh oleh pikiran-pikiran tersebut. Tantangan dalam melakukan latihan ini juga berasal dari pikiran kita sendiri, yaitu merasa tidak ada gunanya, tidak akan berhasil, tidak dapat meluangkan waktu, malas, dan sebagainya. 

Belakangan, saya merasakan bahwa latihan tersebut telah mengubah banyak hal dalam diri saya. Jika sebelumnya tombol kegelisahan begitu mudah terpencet dan membawa serangkaian perasaan tidak nyaman, kini, dengan latihan tersebut, saat kegelisahan hadir, saya tidak menolaknya. Saya membiarkan pikiran itu bergentayangan namun tidak memberikan respon, dan hanya melakukan pengamatan terhadap pikiran tersebut. Saya amati dan terima bahwa kegelisahan hadir. Hingga akhirnya kegelisahan itu berlalu.

Latihan ini saya lakukan sejak tiga tahun yang lalu, dengan berbagai jatuh dan bangunnya. Kini, dengan semakin terbiasanya saya melakukan latihan tersebut, menjadi lebih mudah bagi saya untuk mengendalikan kegelisahan yang muncul. Yang hadir kemudian adalah perasaan damai yang bukan disodorkan dari luar. Damai itu berasal dari dalam diri. Saya dibawa pada sebuah kesadaran baru: untuk mencapai kedamaian batin, faktor penentunya ada di dalam diri saya sendiri. Hal-hal di luar sana berlaku sebagai pendukung, bukan faktor utama. Hal ini mengubah asumsi saya, yang selama ini telah menganggap jawabannya HANYA ditemukan di luar sana, seperti halnya kebutuhan-kebutuhan fisik yang dijawab dengan benda-benda dari luar tubuh, makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan sebagainya.     

Menjaga Kedamaian Batin

Kunci kedamaian batin terletak di dalam diri sendiri. Namun, kedamaian batin itu tidak bertahan jika kita tidak memelihara atau merawatnya. Setiap orang dapat mengalami pasang surut dalam proses mencapai kedamaian batin ini. Otto Scharmer, penulis buku “Theory U, Leading from The Future as It Emerges” menyebutkan dua aspek pada diri manusia, baik secara individu maupun komunitas, terdiri dari bagian yang terlihat (the visible area), berupa aksi-aksi sosial, sedangkan bagian tak terlihat (the invisible area) yang merupakan sumber penggerak aksi-aksi sosial tersebut. Sumber yang menggerakkan aksi-aksi sosial manusia disebut Sang Sumber (inner place atau source).

Scharmer yang berasal dari keluarga petani, mengambil perumpamaan tentang tanah yang subur. Tanah yang subur diumpamakan sebagai tindakan-tindakan manusia yang berkualitas, di mana terdapat top soil yang merupakan area pertemuan antara bagian yang terlihat di permukaan dengan bagian yang tidak terlihat di permukaan. Untuk menjaga kesuburannya, petani seringkali melakukan penggemburan, yaitu saat di mana bagian yang terlihat di permukaan tanah terkoneksi dengan bagian tanah yang tak terlihat. Tanah yang berkualitas baik akan menghasilkan panen yang baik pula.

Upaya mengolah tanah agar subur itu mirip dengan kondisi manusia dalam menjaga kualitas hidupnya. Kedamaian batin akan mendukung emosi dan perilaku manusia dalam kesehariannya, bagi dirinya,  sesama, dan alam. Untuk menjaga kedamaian batin, diperlukan serangkaian prasyarat yang harus dipenuhi. Pertama-tama, perlu tersedia waktu luang untuk sendiri, tanpa disibukkan dengan aktivitas lainnya maupun gangguan benda-benda yang dapat mengalihkan perhatian kita.   

Kedua, diperlukan keterbukaan dan kerelaan hati untuk melepaskan asumsi-asumsi dan pandangan yang sudah tidak relevan dengan kedamaian batin. Lao Tzu menyatakan, ketika kita berani melepaskan sesuatu dari diri/hidup kita, sesuatu yang baru dan lebih baik akan masuk menggantikannya. Seperti sebuah gelas yang terisi penuh dengan air, maka gelas itu tidak lagi dapat menampung air baru yang mungkin lebih jernih. Padahal, mungkin saja air di dalam gelas tersebut sudah keruh dan sudah saatnya diganti. Jika kita mengosongkan isi gelas, maka terbuka kesempatan untuk air yang lebih jernih dan segar mengisi gelas tersebut. Mengosongkan isi gelas, bagaikan melepaskan asumsi-asumsi, paradigma lama, maupun cermin sosial yang tak relevan dengan kedamaian batin. Berani melepaskan, berarti berani menerima perubahan diri ke arah kedamaian batin. 

Kedamaian batin dimulai dari keberanian untuk melepaskan kerak-kerak diri. Sumber: www.thequotes.in

Bertindak dalam Kedamaian Batin

Tantangan setiap orang untuk mendapatkan kedamaian batin adalah bertindak berdasarkan ego tanpa mempertimbangkan realita di sekitarnya. Ego merupakan pikiran seseorang tentang dirinya sendiri, yang terbentuk dari pengalaman hidupnya.  Orang yang bertindak dengan mengutamakan ego-nya, mendahulukan pemikiran tentang dirinya sendiri, padahal terdapat realita lain di sekitarnya. Sebagai contoh, saat masih kecil, saya dibiasakan untuk tidak boleh protes terhadap nasihat orang tua. Ego yang terbentuk pada diri saya setelah dewasa dan menjadi orang tua adalah, anak-anak saya tidak boleh protes kepada saya, apapun bentuknya. Ketika anak-anak saya mengungkapkan bentuk protes atas suatu hal kepada saya, jika saya bereaksi berdasarkan ego, saya menutup pintu komunikasi terhadap anak-anak saya. Saya tidak membiarkan saran perubahan terjadi pada diri saya. Seseorang dengan kedamaian batin, mampu memilah realita di hadapannya dari ego-nya sendiri dan bertindak dengan turut mempertimbangkan realita lain di sekitarnya.

Dr. David Hawkins dalam bukunya yang berjudul “Power vs Force: The Hidden Determinants of Human Behavior” menyatakan bahwa manusia bertindak berdasarkan tingkat energi kesadaran (level of consciousness atau LOC) yang berbeda-beda. Hawkins membagi tingkat energi kesadaran tersebut dalam skala 1 sampai 1000. Tingkat energi tertinggi adalah 1000 yaitu energi Pencerahan. Manusia yang dipercaya memiliki tingkat energi kesadaran sampai 1000 adalah Sang Budha dan Yesus Kristus. Sedangkan tingkat energi kesadaran terendah adalah pada skala 20 yaitu rasa malu. Di atas energi malu, adalah rasa bersalah, apatis, duka, takut, hasrat/nafsu, kemarahan, kebanggaan/merasa benar sendiri, keberanian (courage). Energi keberanian ini merupakan titik peralihan antara tingkat energi negatif (1-199) menjadi positif (200 – 1000). Dalam skala 200 – 1000 tersebut terdapat energi netralitas, kesediaan, penerimaan, kejelasan/rasional, cinta, sukacita, perdamaian, hingga pencerahan.

levels-of-consciousness-001-5796799
Tingkat energi kesadaran oleh David Hawkins. Sumber: https://www.thebigwhisper.com/blog/2019/3/6/what-level-of-consciousness-are-you-operating-from

Hawkins menulis di dalam bukunya, di dunia ini, orang-orang dengan tingkat energi negatif akan bertindak dengan kekuatan (force) dan senantiasa menguras energi orang lain. Sementara orang-orang dengan energi positif akan selalu dicari oleh orang lain, karena ia bertindak secara berdaya (power). Berdaya artinya memiliki kehendak dan kekuatan untuk bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Orang-orang yang bertindak secara berdaya,  energinya mampu memperkuat, memotivasi, dan menyemangati orang lain. 

Energi damai, sebagaimana yang ditulis oleh Hawkins, adalah energi yang mampu melepaskan diri dari dualitas, ia tak memandang secara terpisah apakah sesuatu itu baik atau buruk, menyenangkan atau menakutkan, menarik atau tidak menarik. Seseorang dengan kedamaian batin, akan mampu menentukan hidupnya sendiri, tidak mudah terpengaruh oleh hiruk pikuk dunia. Apabila manusia berpikir dan bertindak di tingkat energi ini, ia telah mampu melepaskan ego, ia tak lagi terkungkung oleh keterpisahan dualitas, ia menyatu dengan sesama dan alam. 

Kini saya menyadari bahwa saya tak perlu jauh-jauh mencari sumber kedamaian batin, karena rahasianya ada di dalam diri sendiri. Meskipun begitu, saya tetap harus menjaga dan melatihnya setiap saat, karena berbagai halangan akan hadir silih berganti. Halangan-halangan itu terutama berupa ilusi-ilusi serta energi negatif yang kerap muncul di dalam diri. Pertanyaannya bukan lagi tentang mampukah kita mencapai kedamaian tersebut di dalam batinmu, tetapi apakah kita mau meniatkan diri secara sungguh-sungguh untuk mencapai kedamaian tersebut? Mari kita meniatkannya dengan penuh kesungguhan, mulai dari diri sendiri.

Navita K. Astuti

Navita K. Astuti

Navita Kristi Astuti, sejak kuliah telah memiliki minat pada isu pemberdayaan manusia dan berbagi informasi melalui tulisan. Ia menempuh pendidikan S1di Biologi ITB (1995-2001) dan S2 di Network on Humanitarian Assistance (NOHA) di Rijksuniversiteit Groningen (2004-2005). Tahun 2001-2004, ia mengabdikan diri sebagai relawan di kamp pengungsi Pulau Timor bersama Jesuit Refugee Service. Setelah itu ia berkarya bersama Kuncup Padang Ilalang (2008-2009 di Aceh, 2011-2019 di Bandung). Sejak pertengahan April 2020, ia bergabung dengan Unpar Press.

Related Posts

[Tips] Modern Pranic Healing: Ketika Komunitas Menyembuhkan Komunitas

[Tips] Modern Pranic Healing: Ketika Komunitas Menyembuhkan Komunitas

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Kebunku Sekolahku

[Tips] Kebunku Sekolahku

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 2797

Visitors are unique visitors