[Opini] Damai Mulai Dari Diri Sendiri

[Opini] Damai Mulai Dari Diri Sendiri

Ketika mendengar kata damai, orang cenderung mengasosiasikannya pada keadaan yang tenang, indah, tanpa adanya konflik kekerasan. Damai seolah merupakan kondisi yang berada di awang-awang dan jauh dari kenyataan hidup kita sehari-hari. Padahal, sebagai suatu entitas yang terdiri dari berbagai aspek kompleks di dalamnya, pribadi manusia juga tidak luput dari berbagai persoalan dan konflik. Tuntutan rutinitas yang membuat stress, ketiadaan kepercayaan diri, bahkan perasaan tidak dicintai seringkali menjadi konflik yang nampaknya kecil namun bisa jadi sangat mematikan. 

Riset dari YouGov tahun 2019 menyebutkan bahwa setidaknya 27% orang Indonesia menyatakan bahwa mereka pernah memiliki pemikiran untuk bunuh diri. Sedangkan 36% pernah melakukan tindakan melukai diri sendiri (self harm). Temuan ini membuka mata kita bahwa persoalan kesehatan mental di Indonesia tengah mengemuka. Tuntutan zaman yang serba cepat dan standar sosial yang tidak realistis menjadi dua dari banyaknya faktor yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang sehingga orang tersebut dapat mengalami kecemasan yang berujung pada permasalahan mental yang lebih serius. 

Kita seringkali menuntut diri kita dengan sangat berlebihan untuk nampak baik atau memenuhi standar sosial. Hal ini yang mendorong kita untuk berlaku sangat keras pada diri kita sendiri. “Masa baru segitu aja capek? Coba lihat orang lain aja masih bertahan”. “Jangan sedih dulu deh, pekerjaan kamu masih banyak” “Gak perlu lah marah, marah itu nggak baik. Maklumi aja”. Akibatnya, kita sering mengungkung emosi kita hingga akhirnya kita mengalami tekanan luar biasa. Padahal, emosi yang ditekan terus menerus seperti bom waktu yang bisa saja tersulut karena perkara yang kecil. Lain lagi terkait emosi, kita juga tak jarang menjadi kritikus paling kejam pada diri kita sendiri. Kita menganggap diri kita selalu saja kurang dari orang lain, kurang pintar, kurang kaya, kurang menawan, kurang inspiratif. Kemudian, kita terjebak dalam dua kondisi, antara merasa rendah diri atau mencari sosok orang lain untuk direndahkan agar kita terlihat lebih baik (narsistik). Berbagai kondisi di atas bukankah sama atau lebih berbahaya daripada adu jotos dengan orang lain? Jika demikian, damai adalah kondisi yang juga harus diupayakan di dalam diri kita.

Lantas, apa maksudnya membangun damai dalam diri sendiri? Bukankah itu sama absurdnya dengan kondisi utopia lain? Coba bayangkan suatu keadaan yang sangat menenangkan? Bisa jadi hal yang terlintas adalah perasaan dicintai apa adanya dengan setulus hati oleh seseorang. Dia mungkin memeluk dan berbisik di telinga “Tidak apa-apa kok, bagaimana pun kamu sudah melakukan yang terbaik. Aku ada di sini untukmu, mari kita berjuang melewati ini bersama”. Perlakuan orang tersebut sesungguhnya bisa juga kita lakukan pada diri kita sendiri. Di dalam istilah psikologi, karakter ini dinamakan sebagai welas asih terhadap diri sendiri (self compassion) yang tentu saja saling berkelindan dengan konsep damai. 

Sifat welas asih dicirikan dengan perilaku merangkul emosi atau dengan kata lain menerima dan membiarkan sensasi emosi yang datang untuk diproses tanpa pandang bulu. Contohnya, ketika kita sedang marah, alih-alih menyangkal dan menganggapnya sebagai emosi yang tidak baik, kita dapat mengakuinya dan berkata pada diri sendiri “Tidak apa-apa, ini keadaan yang manusiawi. Kamu berhak marah tentang hal itu”. Hal ini dapat membantu kita merasa lega lebih cepat dan menentukan respon apa yang harus dilakukan berikutnya. 

Secara biologis, ketika kita merangkul kegelisahan dan emosi negatif yang kita rasakan seperti laiknya seorang sahabat, tubuh kita melepaskan hormon oksitosin. Hormon ini dapat membantu kita merasa dipercaya, aman, tenang, dan hangat. Sebaliknya, saat kita melakukan kritik berlebihan kepada diri sendiri, otak meresponnya sebagai ancaman sehingga terjadi pelepasan hormon kortisol. Hormon ini bertanggungjawab dalam meningkatkan kadar stres seseorang. Dengan demikian, diri yang menerapkan sikap welas asih dapat lebih mudah bangkit dari keadaan sulit dan berisiko lebih rendah mengalami permasalahan mental.

Namun, bukannya welas asih ini bisa saja jadi alasan untuk memiliki motivasi rendah atau terlalu mudah membiarkan kita terlena pada hal-hal yang sesungguhnya juga bermasalah? Misalnya, seseorang menganggap tidak perlu menurunkan berat badan sedangkan obesitas dan berbagai penyakit bawaan mengintainya? Atau pada kasus lain, seorang pekerja membiarkan pekerjaannya dikerjakan dalam waktu yang lama agar dia tidak merasa tertekan padahal dia akan terancam dipecat jika tidak memenuhi batas waktu pengerjaan. Bersikap welas asih tidak serta merta dilakukan sebagai alasan untuk kurang atau tidak bertanggungjawab. Sebaliknya, sikap ini seyogyanya dilaksanakan dengan menyertakan kedisiplinan. 

Seseorang yang bersikap welas asih pada dirinya pasti akan menginginkan hal yang terbaik bagi dirinya sendiri, baik dalam hal kesehatan, hidup yang berkecukupan, kesempatan untuk berkarya, memperoleh cinta, dan sebagainya. Jika dia menginginkan yang terbaik bagi fisiknya, dia akan sedapat mungkin menjaga perilaku hidup sehat dengan mengupayakan nutrisi terbaik, melakukan olahraga, dan beristirahat dengan cukup. Dia akan berupaya menjaga tubuhnya dengan baik agar bisa produktif untuk mencapai apa yang menjadi mimpinya. Hal ini tentu saja berbeda dengan motivasi untuk mengejar gambaran ideal tubuh yang dikonstruksi masyarakat.

Pada kasus lain, orang yang bersikap welas asih pun tidak akan membiarkan dirinya terpuruk dalam hidup yang tidak layak, kelaparan, tanpa penghasilan, dan tidak produktif. Dia akan tetap bertanggungjawab menjalankan perannya di pekerjaan dan berkontribusi kepada masyarakat. Lagi-lagi, hal ini berbeda dengan menjadi terus menuntut diri bekerja keras dan mencapai target dengan berlebihan. Apalagi hanya untuk mengejar agar saya tampak lebih hebat dari karyawan lain.

Jika kita telah merasakan pentingnya menciptakan rasa damai dalam diri dengan bersikap welas asih terhadap diri sendiri, berikut ini beberapa aktivitas yang layak dicoba.

  1. Membuat daftar hal-hal yang disyukuri sepanjang hari sebelum beranjak tidur.
  2. Membuat setoples apresiasi yang berisi kertas-kertas bertuliskan apresiasi terhadap apa yang pernah dicapai. Cobalah membuka dan membacanya saat merasa terpuruk dan rasakan perubahan apa yang terjadi dalam diri kita.
  3. Menulis dua buah surat untuk diri sendiri. Satu surat berisi curahan perasaan yang sedang dirasakan sebebas-bebasnya. Surat kedua adalah surat balasan yang lemah lembut dan merangkul apapun perasaan yang diungkapkan.
  4. Aktivitas terakhir yang klasik namun tak pernah kadaluarsa. Jika kita sedang merasa dalam keadaan tidak baik, ambil jeda dari aktivitas. Lakukan hal kecil yang menyenangkan, menonton genre film kesukaan, berjalan-jalan, melakukan aktivitas spiritual, dan hal lain sesuai kegemaran.

Manusia adalah salah satu komponen yang tidak akan pernah terlepaskan dari sistem kehidupan. Ketiadaan damai dalam hubungannya dengan diri sendiri akan berdampak pada bagaimana dia berperilaku kepada pihak di luar dirinya. Betapa banyaknya kita saksikan orang yang tidak berdamai melakukan sesuatu yang buruk, menyakiti diri sendiri, bersikap manipulatif, mengontrol orang lain, hingga mengambil apa yang bukan haknya. Kondisi dunia yang damai dan adil hanya akan terwujud oleh pribadi-pribadi yang telah selesai dan berkomitmen memulai damai dari diri sendiri.  

Berdamai bukan lagi konsep abstrak yang jauh dari kenyataan sehari-hari. Damai bisa dimulai dari diri kita sendiri, yaitu dengan cara menjadi pendamping terbaik bagi pertumbuhan diri kita. Mari mulai dengan langkah kecil ini dan temukan kejutan positif yang dapat terjadi dalam kehidupan kita. 

Gratitude Jar

 

 

Lindawati Sumpena

Lindawati Sumpena

Lindawati Sumpena, kerap dipanggil Linda. Seorang pembelajar di PeaceGeneration Indonesia dan senang menyapa di berbagai kegiatan komunitas, kecuali sedang ingin sendiri. Dia menyukai diskusi terbuka mengenai manusia dan ragam budayanya. Penggemar cilok dan kue nastar. Bisa dihubungi melalui instagram @lindawlindaw

Related Posts

[Opini] Pola Pendekatan Penyembuhan Komunitas

[Opini] Pola Pendekatan Penyembuhan Komunitas

[Opini] Self-Healing: Behind the Scenes

[Opini] Self-Healing: Behind the Scenes

[Opini] Mau Miskin

[Opini] Mau Miskin

[Opini] Mari Bercocok Tanam Ramah Lingkungan

[Opini] Mari Bercocok Tanam Ramah Lingkungan

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 2797

Visitors are unique visitors