[Opini] Bisakah Kita Bebas dari Perilaku Diskriminatif?

[Opini] Bisakah Kita Bebas dari Perilaku Diskriminatif?

Tiga bulan ke belakang, masyarakat dunia dihadapkan dengan masa pandemi yang bisa jadi baru pertama kali dirasakan di dalam kehidupannya. Pemerintah berbagai negara satu per satu mengeluarkan kebijakan untuk membatasi interaksi masyarakat dan menganjurkan beraktivitas di rumah. Jalanan sepi, pusat keramaian tutup, alam sejenak rehat dari intervensi aktivitas manusia. Namun, suatu peristiwa membakar amarah warga Amerika Serikat dan mendorong mereka kembali ke jalanan untuk melakukan protes. Seorang warga kulit hitam, tak bersenjata, George Floyd meninggal di tangan polisi AS kulit putih di Minneapolis. Tubuh korban dihadapkan di atas aspal jalanan dan lehernya ditekan lutut pelaku. “Tolong! Tolong! Saya tidak bisa bernapas”, kata-kata tersebut berulang kali dikatakan korban hingga dalam waktu 8 menit 46 detik, tubuh korban tak lagi bernyawa.

Gelombang protes kemudian menjalar ke berbagai daerah di Amerika Serikat. Massa terus menggelar aksi menyuarakan keadilan. Di media sosial muncul tagar #BlackLivesMatter dan sempat menjadi trending topic. Hal ini berujung vonis kurungan penjara kepada pelaku, Derek Chauvin, atas tindakan pembunuhan dan penganiayaan. Empat orang yang turut serta dalam kejadian pembunuhan tersebut ikut divonis penjara. Kekerasan berbau rasisme ini bukan pertama kali terjadi di AS. Dalam kurun 2014-2020, terjadi 8 kali pembunuhan warga kulit hitam tak bersenjata oleh polisi AS[1].

Peristiwa ini juga memicu gerakan masyarakat yang lebih luas dan menjangkau masyarakat di negara lain.  Mereka mempertanyakan kapankah keadilan akan terwujud untuk  warga kulit hitam dan kelompok minoritas lain. Beberapa warga bahkan merusak patung tokoh nasional yang dianggap mempraktikkan atau mendukung rasisme, misalnya Colombus, Edward Colston, Leopold II, Jefferson Davis, dan Winston Churchill.

opini-bisakah-2

 

Rentetan aksi kekerasan yang terjadi di AS terhadap warga kulit hitam mungkin menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat dunia. AS dikenal sebagai negara demokratis yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan individu. AS memiliki kesan sebagai rumah bagi kaum imigran. Masyarakatnya datang dari berbagai latar belakang ras. Sejarah mencatat, perbudakan telah lama dihapuskan di abad ke-19 dan hak-hak sipil warga kulit hitam sudah diakui tahun 1960[2]. Mengapa saat ini, hampir lebih dari separuh abad setelahnya, kita masih menemui adanya tindakan berbau rasisme? Ketika anak-anak warga kulit putih dan kulit hitam berjalan menuju sekolah yang sama, ketika seorang warga kulit hitam tercatat pernah memegang peran tertinggi sebagai kepala negara.

Minneapolis, lokasi kejadian kekerasan yang berujung kematian pada George Floyd, memiliki populasi warga kulit hitam sebanyak 19% dari total keseluruhan. Sebanyak 9% warga kulit hitam memiliki jabatan di kepolisian. Namun demikian, mereka ternyata paling banyak menjadi target kekerasan oleh pihak polisi di antara kelompok lainnya. Sejak tahun 2015, 58% dari sasaran tindakan paksa dan kekerasan polisi adalah warga kulit hitam. Dalam kurun lima tahun terakhir, warga kulit hitam tujuh kali lipat menjadi sasaran kekerasan polisi dibandingkan warga kulit putih. Prof. David Schultz, akademisi yang mempelajari taktik kepolisian lokal selama dua dekade menyatakan tindakan pemaksaan dan kekerasan yang terjadi pada warga kulit hitam disebabkan adanya permasalahan kesenjangan struktural, seperti kurangnya pendidikan, tingginya tingkat pengangguran, dan rendahnya penghasilan di kalangan warga kulit hitam.[3] Data lain dari Pew Research menyebutkan bahwa di tahun 2018, 33% tahanan penjara adalah orang kulit hitam yang hanya menyumbang 12% dari populasi keseluruhan Amerika Serikat.

opini-bisakah-3
Data Pew Research Center (2018) menunjukkan populasi tahanan penjara di AS paling banyak diisi oleh warga kulit hitam

Walaupun secara sekilas pembedaan kelas dan hak-hak sipil sudah tidak lagi nampak namun secara sistemik rasisme masih terus terjadi. Diskriminasi hak berubah bentuk menjadi pelabelan bahwa warga AS non kulit putih, terutama warga kulit hitam adalah masyarakat yang bodoh, penuh masalah, dan biang keladi tindakan kriminal. Hal ini bisa tercermin dari polisi yang memilih bertindak lebih kasar kepada warga kulit hitam. Sikap ini bisa jadi dipengaruhi oleh bias implisit yang dimiliki manusia.

Bias implisit dan bias eksplisit dibedakan atas dasar hubungannya dengan kesadaran. Bias eksplisit dilakukan secara sadar. Seseorang mudah menemukan alasannya atas pembedaan yang dilakukan. Misalnya, kelompok supremasi kulit putih di AS secara sadar melakukan tindak kekerasan kepada warga kulit hitam karena ras mereka yang berbeda. Mereka menganggap bahwa warga kulit hitam tetaplah kaum budak dan lebih inferior dibandingkan warga kulit putih. Sedangkan bias implisit bekerja pada level alam bawah sadar dan berpengaruh pada perilakunya. Pada kasus penangkapan warga kulit hitam yang dibahas sebelumnya, polisi bisa jadi tidak bermaksud melakukan pembedaan atas sentimen rasial tetapi dikarenakan secara tidak sadar mereka mengasosiasikan warga kulit hitam sebagai orang yang punya perilaku lebih buruk dan lebih mungkin bertindak kriminal. Hal ini menyebabkan jumlah warga kulit hitam yang diputuskan hukuman penjara dengan kasus sejenis lebih banyak daripada warga kulit putih. Selain itu, respon polisi juga berbeda ketika penanganan kasus yang sama terjadi antara warga kulit putih dan warga kulit hitam. Kemungkinan polisi melakukan paksaan dan tindak kekerasan lebih besar jika orang yang dicurigai berasal dari warga kulit hitam.

Bias implisit pertama kali dipopulerkan oleh ilmuwan di bidang psikologi kognitif, yaitu Mahrazin Banaji dan Anthony G. Greenwald[4]. Bias ini dipercaya terbentuk dari berbagai interaksi dan persepsi yang diperoleh dari dunia di sekeliling manusia, imaji dari media, pengondisian budaya, maupun pengalaman orang lain yang terdengar. Bias ini tidak serta- merta sejalan dengan keyakinan seseorang. Seseorang bisa memiliki bias namun berlawanan dengan pandangan yang dia nyatakan. Karena itulah, para ilmuwan berpendapat bias ini perlu diperhatikan. Bahkan, orang yang dituntut untuk objektif seperti hakim bisa tanpa sadar mempunyai bias ini.

Kita perlu mengetahui bias yang kita miliki agar dapat terhindar dari perilaku subjektif yang dapat merugikan diri dan orang lain. Salah satu instrumen terkenal yang dikembangkan oleh Banaji dkk di Universitas Harvard bisa membantu kita melihat gambaran awal bias yang kita miliki. Instrumen tersebut dinamakan IAT (Implicit Association Test) dan dapat diakses pada laman  https://implicit.harvard.edu/.  Berbagai tes tersedia untuk kategori bias.

IAT dibuat dengan asumsi bahwa seseorang yang memiliki bias implisit negatif terhadap kelompok tertentu akan sulit melihat asosiasi kelompok tersebut dan berbagai karakter positif. Contohnya, seseorang yang memiliki bias implisit terhadap peran gender tradisional akan lebih sulit mengasosiasikan perempuan dengan variabel kesuksesan dan karir dibandingkan laki-laki dengan variabel kesuksesan dan karir. Contoh terkait rasisme, seseorang akan lebih sulit mengasosiasikan orang kulit putih dengan variabel kriminalitas dibandingkan orang kulit hitam dan variabel kriminalitas.

Responden akan diminta untuk melakukan kategorisasi kata benda yang muncul pada layar komputer menggunakan dua jari dan dua tuts papan ketik. Kata benda yang muncul umumnya terdiri dari empat kelompok. Dua kelompok berkaitan dengan kelompok manusia dan dua lainnya terhadap kualitas tertentu. Keempatnya akan muncul secara acak dan akan dikelompokkan untuk melihat asosiasinya. Responden yang memiliki bias rasial pada kelompok kulit hitam akan lebih cepat megetik tuts ketika kata African American dan Bad memiliki kesamaan tuts dibandingkan African American dan Good.

opini-bisakah

Setelah mengetahui bias-bias implisit yang kita miliki. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah bias ini dapat dihilangkan? Kabar baiknya, beberapa studi menyatakan bias ini dapat dikurangi, bahkan diatasi. Beberapa metode yang telah diperkenalkan antara lain pelatihan yang menantang stereotipe. Peserta akan diberikan intervensi yang dapat membentuk asosiasi baru yang sebelumnya tidak dimiliki. Dalam kaitannya dengan rasisme, peserta diharapkan dapat mengasosiasikan kelompok etnis tertentu yang sebelumnya dilabeli buruk dengan kebaikan. Metode yang ditujukan untuk menangani pengaruh bias pada struktur dan sistem lembaga perlu didesain dengan pendekatan yang lebih sistematis dan dalam jangka panjang.

Hal yang dapat dilakukan secara individual bisa berupa interaksi secara langsung dengan orang yang hidup berbeda dari stereotipe yang dimiliki masyarakat. Misalnya, pertemuan dengan model lanjut usia, perawat pria, teknisi perempuan, profesor kulit hitam, dsb. Studi juga menyebutkan bahwa praktik mindful meditation dapat membantu menyingkirkan asosiasi negatif yang terlintas dalam pikiran.

Manusia ada dan hidup terpaut dengan realita sosial yang ada di sekitarnya. Realita tersebut, disamping faktor genetis, sangat mempengaruhi perkembangan dan aktualisasinya. Bias  adalah salah satu bentukan peradaban yang kemudian terinternalisasi dalam diri dan bisa secara strategis menentukan perilaku dan keputusan yang dibuat.

Kehadiran bias dalam diri manusia bisa jadi salah satu hambatan upaya berdamai dengan orang lain dan menciptakan dunia yang lebih adil. Kita tidak mampu memandang individu dengan kualitas terbaiknya dan lebih banyak dibayang-bayangi asosiasi kelompoknya. Pada keadaan tertentu, bias, sekalipun tanpa kita sadari dapat mendorong kita mengambil keputusan yang salah dan merugikan kelompok masyarakat tertentu bahkan mengancam nyawa orang lain. Hal ini dicontohkan pada kasus di atas. Maka, sudah sepatutnya kita kembali berefleksi ke dalam hati kita. Di dalam keseharian, sudahkah saya mengesampingkan asumsi yang dimiliki tentang orang lain dan dengan tulus serta empati berupaya mengenal mereka lebih jauh?

 

[1] https://www.bbc.com/news/world-us-canada-52905408

[2] https://www.history.com/topics/black-history/black-history-milestones

[3] https://www.nytimes.com/interactive/2020/06/03/us/minneapolis-police-use-of-force.html

[4] https://www.vox.com/2014/12/26/7443979/racism-implicit-racial-bias

 

Lindawati Sumpena

Lindawati Sumpena

Lindawati Sumpena, kerap dipanggil Linda. Seorang pembelajar di PeaceGeneration Indonesia dan senang menyapa di berbagai kegiatan komunitas, kecuali sedang ingin sendiri. Dia menyukai diskusi terbuka mengenai manusia dan ragam budayanya. Penggemar cilok dan kue nastar. Bisa dihubungi melalui instagram @lindawlindaw

Related Posts

[Opini] Damai Mulai Dari Diri Sendiri

[Opini] Damai Mulai Dari Diri Sendiri

[Opini] Melepaskan Hasrat dan Keinginan

[Opini] Melepaskan Hasrat dan Keinginan

[Opini] Revolusi Diri Adalah Revolusi Dunia

[Opini] Konsekuensi Kemandirian

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors