[Profil] Padepokan Kirik Nguyuh: Tempat Bermain yang Menanam Cara Hidup
Di sebuah sudut Desa Girimukti, Kecamatan Kasokandel, Majalengka, berdiri sebuah padepokan yang tumbuh dari tempat sederhana, sebuah karang, halaman yang biasanya jadi arena lari anak-anak. Dari tanah kecil itu, lahirlah Padepokan Kirik Nguyuh. Tempat ini berkembang bukan dari rencana besar, tapi dari gerak kecil orang-orang yang percaya bahwa keseriusan dan permainan sebenarnya tidak pernah berjauhan.
Pendirinya, Baron Famousa, memegang gagasan bahwa manusia adalah homo ludens, makhluk yang belajar lewat bermain, meski hidup penuh rutinitas. Karena itu mereka bekerja sambil tetap memberi ruang untuk kegembiraan kecil. Mungkin itu yang membuat Kirik Nguyuh tidak pernah terasa seperti lembaga, tapi lebih seperti rumah yang pintunya selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin tinggal sebentar dan mengerjakan sesuatu, atau cuma duduk tanpa tujuan jelas.
Komunitas ini diisi orang-orang dari latar yang beragam. Ada yang pendidikannya tidak tuntas, ada insinyur pertanian, ada imam yang pemalu, mantan anak jalanan, pegawai negeri, dan pemuda yang datang begitu saja tanpa banyak penjelasan selain ingin bekerja bersama. Perbedaan itu tidak pernah jadi masalah. Mereka menyatukan kekurangan dan kelebihan masing-masing sampai akhirnya lahir kegiatan beternak, bercocok tanam, diskusi bulanan, dan gamelan Sorawatu—seperangkat alat musik yang seluruhnya dibuat dari limbah batu.
Nama Kirik Nguyuh dipilih lewat banyak obrolan panjang yang kadang seperti bercanda, meski sebenarnya tidak demikian. Kirik, yang berarti anak anjing, dianggap mewakili sifat setia dan rajin. Nguyuh, yang berarti kencing, dalam tafsir mereka menunjuk pada penandaan, kewaspadaan, dan cara sederhana untuk ingat bahwa hidup ini penuh tanda-tanda kecil yang sering kita lewati begitu saja. Nama yang terdengar iseng ini jadi semacam doa yang halus, supaya komunitas tetap lincah, setia, dan cukup waspada menghadapi perubahan.
Pada masa awal, mayoritas warga Girimukti merupakan petani palawija musiman. Mereka menanam di lahan pamong desa saat musim hujan, lalu menanam semangka ketika kemarau, di tanah yang bukan milik sendiri. Pola ini membuat mereka sulit mencapai kemandirian. Jenis musim menentukan panen, dan panen menentukan harapan.
Padepokan Kirik Nguyuh bertujuan untuk membuka pintu alternatif, sekecil apa pun. Lewat pertanian terpadu, mereka mengajak warga, terutama yang posisinya marjinal, untuk belajar mengelola lahan, memelihara ternak, dan mengurangi ketergantungan pada input luar. Mereka percaya kemandirian pangan bukan cuma soal menghasilkan makanan, tapi soal punya kendali atas bagaimana seseorang ingin menjalani hari-harinya.
Sistem yang mereka jalankan mengintegrasikan kolam ikan, hutan kecil, kandang kambing dan ayam, serta kebun pangan dengan sayuran dan sorgum. Semua hal saling memberi. Limbah ternak jadi pupuk, air kolam menyegarkan tanah, pepohonan menjaga lembap. Perubahan paling terasa adalah ketersediaan air yang sekarang lebih terjaga. Lahan yang dulu biasa saja berubah jadi tempat yang mampu menampung kerja besar yang selalu dikerjakan bersama.
Selain mengolah tanah, padepokan juga membuka ruang belajar untuk anak-anak desa. Mereka bekerja sama dengan sekolah dasar setempat untuk mengenalkan kebun, hewan ternak, dan cara merawat lingkungan. Tidak ada program megah untuk petani lain, tidak ada sertifikat, hanya kegiatan kecil yang pelan tapi bertahan.
Tentu ada tantangan. Mengelola pertanian terpadu berarti menjaga banyak unsur sekaligus. Air harus mengalir, hewan harus dirawat, tanah diolah, manusia saling mengingatkan. Pengalaman menyewa lahan agak jauh dari padepokan juga tidak selalu menyenangkan. Lahan itu mudah dijarah, dan jarak membuat mereka tidak bisa mengawasinya tiap hari. Dari situ mereka belajar bahwa lahan, seperti halnya dialog, butuh kedekatan.
Kisah Padepokan Kirik Nguyuh menyimpan cara lain melihat dunia dan bagaimana komunitas bisa tumbuh. Mereka mulai dari karang kecil, lalu pelan-pelan menanam kebiasaan, lalu nilai. Dari bermain mereka belajar bertahan. Dari bertani mereka belajar membaca. Dan dari membaca, mereka belajar menjadi manusia yang sedikit saja lebih merdeka dari kemarin.
Tempat ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang ia lahir dari sekelompok orang yang sepakat menggali tanah, menyiram tanaman, dan sesekali menertawakan nama padepokan mereka sendiri. Di Girimukti, cara hidup seperti itu masih terus dirawat.

No Comment