[Profil] OPIK: PEMUDA KOTA YANG MENJADI PETANI KOTA
Saya mulai mengenal Opik sekitar 3 tahun yang lalu. Saat itu saya sedang mengambil studi S3 dan Seni Tani, organisasi tempat Opik bekerja adalah lokus penelitian saya. Seni Tani adalah sebuah organisasi yang diinisiasi oleh generasi muda di masa pandemi. Mereka ingin membuat perubahan untuk Kota Bandung dengan cara mengaktivasi lahan tidur menjadi kebun pangan, pemuda kota pengangguran menjadi petani kota dan menggalang dukungan dari konsumen untuk membeli produk pangan sehat yang dihasilkan oleh para petani kota di lahan tidur kota. Opik adalah salah satu dari pemuda kota itu.

Opik direkrut oleh Seni Tani melalui Karang Taruna Kelurahan. Dari Karang Taruna tersebut beberapa teman Opik sempat terlibat di Seni Tani. Tetapi banyak dari mereka yang kemudian keluar karena sudah memiliki pekerjaan lain yang dianggap lebih layak atau melanjutkan studi atau magang ke luar negeri. Saat bergabung, Opik baru lulus SMA. Ia dipilih oleh teman-teman Seni Tani karena statusnya sebagai anak yatim. Ibu Opik adalah orang tua tunggal yang menghidupi Opik dan adiknya.
Sejak kecil Opik tinggal di kota, tepatnya di kawasan Arcamanik. Ia belum pernah bertani sebelumnya. Kehidupannya adalah kehidupan kota. Yang paling diingat dari masa kecilnya adalah diajak ibunya berjalan-jalan ke pasar di hari Minggu dan ia mendapat kesempatan naik kuda keliling-keliling. Bertani adalah kegiatan yang sangat jauh dari kehidupannya sehari-hari.
Pengalaman bertani didapatkannya dari Seni Tani. Setiap hari, sejak pagi sampai sekitar setengah hari, Opik datang ke kebun Seni Tani di daerah Arcamanik. Kebun ini cukup dekat dengan rumahnya. Ia bantu-bantu apa saja yang bisa dikerjakan. Ia mendapatkan pengarahan dari Kang Fathan, Manager Produksi Seni Tani dan juga menimba ilmu dari Kang Galih, yang merupakan anggota tim Seni Tani yang bertanggung jawab akan Riset dan Pengembangan di Seni Tani. Saat pertama kali bertani, ia merasa badannya cepat lelah. Ia jadi tahu betapa beratnya kehidupan petani. Sebagai orang yang belum pernah bertani sebelumnya, tentu banyak keterampilan yang harus dipelajari dari awal. Proses itu tidak mudah.
Kemudian Seni Tani merekrut seorang petani yang sungguh petani. Namanya Mang Dudu. Dari Mang Dudu, Opik mendapatkan banyak ilmu teknis pertanian. Opik belajar banyak dari Mang Dudu. Seperti juga Mang Dudu, Opik mendapatkan honor bulanan dari Seni Tani. Honor ini tidak bisa dibilang besar, tetapi dengan uang tersebut Opik bisa membayar cicilan motor, beli bensin untuk keliling-keliling, kontribusi uang belanja ke ibunya dan membiayai hobi musiknya. Opik suka ngeband. Ia main band secara rutin bersama dengan kawan-kawannya. Mereka secara rutin menyewa studio untuk berlatih bersama.
Opik kemudian mendaftar kuliah, dan diterima dengan beasiswa. Jadi dengan uang dari Seni Tani ia bisa membayar bensin untuk kuliahnya. Ia membagi waktu antara kuliah dan bekerja di Seni Tani. Pagi sampai tengah hari ia bekerja di Seni Tani. Siang dan malam ia kuliah. Di sela waktu tersebut, ia mengerjakan tugas, membaca buku dan berkegiatan sosial. Ia masih terus aktif di Karang Taruna.
Proses bersama Seni Tani membuat Opik menyukai pertanian. Ia ingin kalau ia pensiun nanti, ia bisa bercocok tanam di kebun belakang rumahnya. Ia ingin punya rumah yang ada halaman belakangnya. Di situ ia ingin menanam sayur dan bumbu yang dibutuhkan untuk memasak keluarganya. Ia ingin bereksperimen dengan aneka perlakuan pada tanah dan tanaman dan efeknya pada produksi. Ia ingin menjadikan petani sebagai hobi dan kegiatan pengisi waktu di masa pensiun.
Ia merasa senang berkebun, tetapi tidak menjadikan bertani atau berkebun sebagai sumber penghasilan. Menurut Opik, pemasaran adalah keterampilan yang lain yang belum ia miliki saat ini. Jadi ia tidak menjadikan petani sebagai cita-cita profesinya. Ia ingin menjadi pejabat, pegawai pemerintah dengan uang yang banyak. Dengan uang itu, ia bisa membeli rumah yang ada kebun belakangnya yang cukup luas.
Lewat proses bersama Seni Tani dan KAIL, Opik mendapatkan pengetahuan yang lebih luas mengenai dunia pertanian. Selain masalah teknis produksi, ia juga belajar tentang sistem sosial, ekonomi dan politik yang mempengaruhi sistem pertanian, khususnya sistem pangan. Ia menjadi paham mengapa petani pangan kebanyakan miskin, tidak punya tanah dan akibatnya banyak orang tidak mau lagi menjadi petani.
Di tengah pemahaman itu, semangat Opik untuk bertani menjadi semakin menguat. Bertani bagi Opik tidak lagi sekedar kegiatan untuk mengisi waktu luang atau menambah uang saku. Bertani bagi Opik adalah sebuah langkah kecil untuk melakukan perubahan. Aku, Opik, pemuda kota yang menjadi petani kota. Aku ingin… petani bisa hidup sejahtera. Aku ingin… banyak orang muda bisa menjadi petani muda. Seperti aku: Opik petani muda yang menjadi petani kota.

No Comment