[Profil] Rumpi Cisaranten Kulon: Menghubungkan Kembali Warga Kota dengan Pangan
Sebagai warga kota yang tidak memproduksi sendiri pangan yang saya konsumsi, saya merasa sangat buta akan bagaimana makanan hadir ke piring yang saya gunakan dan bagaimana sisa makanan yang tidak terkonsumsi berakhir. Kesibukan kota membuat relasi saya dengan pangan seakan terputus, sekadar menjadi asupan sehari-hari yang membuat saya dapat terus melakukan kerja-kerja produksi. Celakanya, ketidaksadaran akan bagaimana bahan pangan diproduksi dan sisa pangan dibuang dialami oleh sebagian besar warga kota saat ini. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab penumpukan sampah di Kota Bandung yang terjadi beberapa tahun terakhir. Namun, sebagian kecil masyarakat kota mencoba untuk kembali terhubung dengan pangan yang mereka konsumsi. Salah satunya adalah Ibu Gina, warga RW 03, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kota Bandung. Ia menjalankan inisiatif yang diberi nama Rumpi, yaitu pengelolaan sampah organik di tingkat RW yang dihubungkan dengan pertanian kota. Inisiatif ini ia mulai pada tahun 2020, karena melihat masalah penumpukan sampah yang terus terjadi di daerah tempat tinggalnya. Ide yang ia jalankan adalah memanfaatkan sampah organik rumah tangga menjadi bahan yang digunakan dalam produksi pangan. Contoh yang paling sering dilakukan adalah membuat kompos yang dimanfaatkan untuk input pertanian. Nantinya hasil pertanian tersebut digunakan untuk konsumsi warga sehingga jarak antara produsen dan konsumen semakin dekat. Akhirnya, masyarakat kota kembali terhubung dengan pangan yang mereka konsumsi. Berputarnya material organik di satu daerah tersebut juga diharapkan dapat mengurangi sumbangan sampah organik ke tempat pembuangan akhir, sehingga penumpukan sampah tidak lagi terjadi. Namun, pengalaman yang Ibu Gina alami dalam membangun ide tersebut melalui Rumpi bukan berarti tanpa hambatan dan tantangan.

Ibu Gina bersama pengunjung Rumpi Cisaranten Kulon
Operasional Sehari-hari
Dalam menjalankan aktivitas pengelolaan sampah tersebut, Ibu Gina dibantu seorang laki-laki yang direkrut menjadi staf operasional. Staff operasional tersebut bukan merupakan warga setempat namun mengenal Ibu Gina, sehingga bisa menjadi bagian dari Rumpi. Ibu Gina bertanggung jawab dalam perencanaan dan pengelolaan keuangan, sementara staf operasional tersebut bertanggung jawab untuk pengangkutan sampah, pengolahan sampah menjadi kompos/olahan lain, serta perawatan tanaman dan ternak. Staf operasional tersebut mengerjakan tugas di Rumpi Senin-Sabtu dari pukul 7 pagi hingga pukul 2 siang dan mendapat upah bulanan dari Ibu Gina. Di hari Minggu, pengangkutan sampah tetap dilakukan namun hanya di pukul 7 pagi dan pukul 2 siang. Ibu Gina memulai Rumpi pada tahun 2020 lalu bersama salah satu perempuan lain di RW 3. Namun, rekan Ibu Gina tersebut tidak sanggup untuk terus terlibat di kegiatan-kegiatan Rumpi karena banyak menyita waktu dan juga uang pribadi untuk biaya operasional. Akhirnya Ibu Gina melanjutkan Rumpi seorang diri tanpa bantuan dari warga setempat. Di tengah perjalanan membangun Rumpi, Ibu Gina akhirnya mendapat bantuan dari salah seorang pendamping Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang sebenarnya tidak ditugaskan di wilayah Cisaranten Kulon. Ketika mendengar bahwa inisiatif pengelolaan sampah yang dilakukan Ibu Gina cukup baik, beliau akhirnya secara sukarela membantu Ibu Gina dalam proses adopsi teknologi dan penerapan teknik-teknik pengolahan sampah organik.
Seiring dengan perkembangan Rumpi, akhirnya Ibu Gina bisa mendapatkan CSR (Corporate Social Responsibility) dari beberapa lembaga untuk membantu biaya operasional. Biaya CSR tersebut digunakan untuk mendatangkan pekerja dan menerapkan beberapa teknologi pengolahan sampah. Mereka juga mendapat bantuan dari Universitas Al-Ghifari Bandung untuk penerapan teknologi seperti rainwater harvesting, pengolahan biogas untuk memasak, serta pembuatan sistem pertanian hidroponik. Saat ini kebun serta ternak yang mereka rawat sudah rutin menghasilkan panen, yang biasa dibeli oleh warga sekitar. Di kebun tersebut terdapat beberapa tanaman, seperti bawang daun dan seledri, yang dapat diambil secara gratis oleh warga. Penghasilan terbesar yang mereka dapatkan berasal dari penjualan telur ayam dan lele. Selain membeli hasil panen, warga juga terkadang membeli media tanam yang mereka olah dari sampah organik. Harga dari hasil panen di Rumpi relatif lebih mahal dari harga pasar, misalnya: 400 gram sayur pakcoy diberi harga 15 ribu rupiah, sedangkan kangkung dan bayam seharga 10 ribu rupiah. Untuk telur ayam dan lele, Rumpi menjualnya dengan harga yang sama dengan harga di pasar. Dari pendapatan-pendapatan tersebut Rumpi sudah bisa menutupi biaya operasional, termasuk upah untuk 1 orang pekerja tanpa bantuan CSR.
Strategi untuk Melibatkan Warga
Walaupun pengurus Rumpi hanya terdiri atas 2 orang, keterlibatan warga setempat tetap krusial dalam proses pengelolaan sampah. Sebelum dilakukan pengangkutan sampah organik warga harus memilah sampah organik tersebut, agar tidak perlu dilakukan pemilahan lagi di tempat pengolahan. Awalnya, warga belum memiliki kebiasaan memilah tersebut sehingga membuat pengurus Rumpi kesulitan. Namun, mereka berhasil membangun kebiasaan warga pada tahun 2022 setelah mereka mulai menjalankan bank sampah. Bank sampah sebenarnya merupakan cara untuk pengolahan sampah anorganik. Warga menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah, dan sebagai imbalannya mereka akan mendapatkan uang sesuai dengan nilai dari sampah anorganik yang disetorkan. Sistem ini menarik ketertarikan warga untuk menyetorkan sampah anorganiknya, karena wilayah dari Cisaranten Kulon merupakan perumahan komplek yang banyak menghasilkan sampah anorganik. Melihat banyaknya warga yang ingin menyetorkan sampah anorganiknya, Ibu Gina melihat peluang untuk mengajak warga agar memilah sampah organik juga. Dalam pelaksanaannya, ia membuat aturan, yaitu: saat warga ingin menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah, mereka wajib membawa juga sampah organik yang sudah terpilah. Pada awal penerapan aturan ini banyak mendapat protes dari warga, tetapi lama-kelamaan warga bisa mengikutinya, sehingga akhirnya mereka terbiasa untuk memilah sampah organik dan memudahkan pekerja di Rumpi untuk mengolahnya menjadi kompos atau biogas. Saat ini, seluruh rumah di RW 3 yang terdiri dari 6 RT sudah memilah sampahnya dan dikelola oleh Rumpi. Dalam 1 hari tim Rumpi bisa mengangkut 8-10 ember sampah dari seluruh wilayah RW 3 Cisaranten Kulon.

Pengolahan sampah organik menjadi biogas di Rumpi
Tantangan dan Hambatan
Salah satu tantangan yang saat ini dialami Ibu Gina dalam menjalankan Rumpi adalah membangun koordinasi dengan pihak pemerintah, baik di level RW, Kelurahan, Kecamatan, serta Kota Bandung. Seperti yang disampaikan oleh YPBB dan pendamping dari DLH, terdapat sumber daya yang bisa dimanfaatkan pada level RW untuk membiayai operasional pengelolaan sampah,namun, Ibu Gina menyampaikan bahwa pengalamannya berkoordinasi dengan pihak pemerintah sejauh ini masih kurang baik, karena mereka kurang responsif saat Rumpi membutuhkan bantuan. Begitu pula dengan Program Kampung Iklim (ProKlim), penghargaan dari DLH yang diberikan ke RW yang memenuhi standar pengelolaan lingkungan tertentu, yang Ibu Gina anggap standarnya terlalu sulit untuk dicapai. Ia merasa terlalu banyak tenaga yang dihabiskan untuk memenuhi indikator-indikator yang ada pada ProKlim, sehingga ia lebih memilih untuk fokus pada rencana yang sudah ia jalankan. Terdapat juga masalah lahan, walaupun tidak begitu mengancam keberlanjutan Rumpi. Sebagian kecil lahan dari yang saat ini digunakan merupakan milik pribadi salah seorang warga yang berencana untuk menggunakan lahan tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka lahan yang digunakan Rumpi untuk penanaman akan berkurang, namun tidak akan menghentikan operasi mereka secara keseluruhan.
Perjalanan Ibu Gina dalam membangun kesadaran masyarakat di lingkungannya tentang pengelolaan sampah menjadi pelajaran penting, bahwa masyarakat kota tetap bisa kembali terhubung dengan pangan. Di tengah kesibukan kota yang menuntut warganya untuk terus bekerja, inisiatif seorang warga untuk memikirkan hal yang selama ini terlupakan bisa menghubungkan kembali warga kota dengan apa yang mereka konsumsi. Walaupun baru berjalan pada tingkat RW, Ibu Gina dengan Rumpi-nya menunjukkan bahwa warga kota tetap bisa menjaga material organik untuk terus berputar di wilayahnya, tanpa harus membebani wilayah lain dalam bentuk sampah yang terbuang.
No Comment