[Profil]  Dr. Wenimo Okoya; Pemulihan Trauma Rasial melalui Pendidikan

[Profil] Dr. Wenimo Okoya; Pemulihan Trauma Rasial melalui Pendidikan

Apakah Anda pernah mendengar nama George Floyd? Atau pernah mendengar black lives matter?

Mungkin sebagian dari Anda pernah mengikuti berita tersebut. Mungkin sebagian Anda merasa samar-samar tentang peristiwanya. Atau mungkin juga Anda tidak memiliki gambaran peristiwa apa pun yang terkait dengan kedua pertanyaan di atas.

George Floyd adalah seorang pria kulit hitam berusia 46 tahun yang meninggal akibat metode penanganan polisi kulit putih saat melakukan penahanan terhadap dirinya. Adapun George Floyd saat itu diduga menggunakan uang palsu untuk membeli sebungkus rokok di sebuah toko di Minneapolis, Amerika Serikat (AS). Peristiwa penahanan pada tanggal 25 Mei 2020 menjadi viral karena direkam oleh seorang remaja dan diedarkan melalui media sosial[1].

Menanggapi kejadian tersebut, aksi protes massal terjadi di hampir semua negara bagian AS untuk menuntut reformasi pada badan-badan kepolisian di seluruh AS (di AS, kepolisian dibentuk oleh masing-masing negara bagian dan tidak terdapat lembaga nasional yang membawahi seluruhnya). Dari situ, isu rasisme kulit hitam kembali memanas di berbagai kelompok masyarakat di AS dan juga beberapa negara lain seperti Kanada, Inggris, Australia, Perancis, dll. Hal ini tampak dari penggunaan slogan black lives matter dalam berbagai aksi protes yang berlangsung selama beberapa minggu tersebut.[2]

Kematian George Floyd menjadi momentum bagi masyarakat AS untuk merefleksikan kembali, bahwa rasisme kulit hitam masih hidup dan merupakan persoalan pelik yang belum terselesaikan hingga saat ini. Bukti-bukti bahwa rasisme masih hidup dapat dilihat dari beberapa data berikut ini[3] :

  • Secara ekonomi, kesenjangan kesejahteraan rumah tangga antara kulit putih dan kulit hitam nyaris tidak mengalami perubahan dalam tiga dekade terakhir. Hal ini berdasarkan data Institute for Policy Studies yang memperlihatkan bahwa pada tahun 1983, median kesejahteraan rumah tangga kulit putih sebesar US$ 110.160, sementara kulit hitam sebesar US$ 7.323. Pada tahun 2016, median kesejahteraan rumah tangga kulit putih meningkat menjadi US$ 145.984, sementara kulit hitam justru mengalami penurunan menjadi US$ 3.557
  • Dari data penghasilan berdasarkan ras yang dirilis oleh Departemen Ketenagakerjaan AS, hasilnya median penghasilan warga kulit putih lebih tinggi 28% dari warga kulit hitam.
  • Dengan kondisi pandemi Covid-19 yang mulai melanda AS pada awal tahun 2020, Pew Research Center mencatat bahwa jumlah warga kulit hitam yang kehilangan pekerjaan lebih banyak dibandingkan warga kulit putih. Dari riset tersebut ditemukan bahwa 44% dari seluruh rumah tangga kulit hitam kehilangan pekerjaan akibat Covid-19. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan jumlah rumah tangga kulit putih yang kehilangan pekerjaan, yaitu sebanyak 38%.
  • Dari data pembunuhan terhadap sipil oleh polisi berdasarkan kajian organisasi non pemerintah Mapping Police Violence menunjukkan bahwa orang kulit hitam berpeluang tiga kali lipat lebih besar terbunuh oleh polisi dibanding dengan orang kulit putih. Pada periode 2013-2019 terdapat total korban pembunuhan oleh polisi sebanyak 7.666 orang dengan 17% di antaranya adalah orang kulit hitam tidak bersenjata, sedangkan korban orang kulit putih tak bersenjata sekitar 12%. Pada tahun 2019 saja, dari data kekerasan dilakukan oleh polisi, terdapat 1.099 korban yang terbunuh dan 24% di antaranya merupakan orang kulit hitam.

Data-data tersebut memberikan gambaran, bahwa tidak hanya persoalan terkait diskriminasi rasial kepada kulit hitam masih terjadi. Namun juga adanya persoalan kekerasan yang dilakukan oleh aparat dan institusi negara terhadap warganya. Kekerasan tersebut menimbulkan trauma bagi masyarakat. Bagi warga kulit hitam, mereka mengalami kekerasan berlapis, yakni (1) kekerasan dari negara terhadap warga dan (2) kekerasan karena faktor ras.

 

Trauma Rasial Dan Community Healing
*Disarikan dan diterjemahkan dari berbagai sumber

Secara umum, kaum kulit hitam dianggap belum mendapatkan kesetaraan yang sama dengan kaum kulit putih di AS. Berbagai data yang dipaparkan di atas cukup memperkuat asumsi tersebut. Kondisi krisis akibat pandemi Covid-19 hanya memperburuk situasi yang dialami oleh kaum kulit hitam. Hal ini turut menjadi perhatian seorang aktivis perempuan kulit hitam bernama Dr. Wenimo Okoya, EdD, MPH.

 

1-dr-wenimo
Foto Dr. Wenimo Okoya dari www.wenimookoya.com

Dr. Wenimo Okoya adalah seorang penggiat yang memiliki perhatian pada dunia pendidikan dan kesehatan mental. Mulai berkarir sebagai seorang guru pada tahun 2009, Dr. Wenimo telah bekerja di dan bersama sekolah dengan komunitas kulit berwarna. Pengalaman tersebut berangkat dari ketertarikannya terhadap isu kesenjangan akses di dunia pendidikan, yang memotivasinya untuk bergabung ke organisasi Teach for America menjadi relawan dan menyelesaikan komitmen mengajar 2 tahunan[4]. Setelah mengamati dampak dari adanya disparitas antara pendidikan dan kesehatan pada siswa sekolah dan anggota keluarganya, dia menganggap pengajaran yang baik saja tidak cukup dan mendorongnya untuk mengambil pendidikan Master of Public Health dan kemudian Doctor of Education in Health Education.

Ia mengamati bahwa sejak pandemi Covid-19 bergulir pada tahun 2020, anak-anak harus bersusah payah dalam pembelajaran virtual sambil menyaksikan keluarga mereka berjuang dalam memenuhi kebutuhan pangan dan tekanan finansial. Di sisi lain, anak-anak juga melihat dan mendengar berbagai berita mengenai berbagai penderitaan orang-orang yang terinfeksi dan meninggal karena Covid-19. Selain itu, anak-anak juga rentan terekspos dengan video, gambar dan pemberitaan yang memperlihatkan orang-orang yang tampak seperti mereka dapat terbunuh ketika sedang melakukan kegiatan-kegiatan ringan, semisal joging, berbelanja, bahkan ketika sedang berada di rumah. Kondisi tersebut menjadi keprihatinannya karena mempengaruhi perkembangan harga diri, kesehatan (fisik dan psikis), dan kesejahteraan anak.

Terkait dengan isu black lives matter dan peristiwa kematian George Floyd, Dr. Wenimo memberi penekanan secara khusus mengenai dampak pada anak-anak kulit hitam. Kejadian-kejadian yang menunjukkan supremasi kulit putih dan kebencian terhadap kulit hitam, membentuk cara pandang anak-anak kulit hitam terhadap lingkungannya, keamanan mereka di dunia, dan terutama bagaimana mereka melihat diri mereka dan menghargai diri sendiri. Dia juga meyakini bahwa anak-anak kulit hitam telah terdampak atas trauma rasial yang berlangsung lintas generasi. Sejarah diskriminasi rasial yang telah terjadi, diyakini masih mempengaruhi generasi kulit hitam sekarang.

Situasi tersebut membuatnya bertanya, “Apa artinya melindungi anak-anak kita sementara kita mengetahui bahwa trauma yang mereka alami saat ini terbentuk dari ketidakadilan yang dialami oleh orang tua, kakek-nenek, dan generasi-generasi sebelumnya?”. Dr. Wenimo meyakini jawabannya terletak pada upaya penyembuhan yang dilakukan secara komunal.

Upaya-upaya penyembuhan komunal melalui sekolah telah dilakukan oleh Dr. Wenimo melalui karya-karyanya, salah satunya melalui organisasi Child Health Fund, dimana ia menginisiasi program Healthy and Ready to Learn (HRL). Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan akses terhadap sumber kesehatan, mengkampanyekan kepekaan terhadap trauma, dan membangun iklim sekolah yang positif.

Pada salah satu artikelnya yang berjudul Trauma Sensitive Schools: A Leap Towards Progress for Kids dia membuka tulisannya dengan cerita berikut ini :

“Bayangkan Anda (sebagai siswa) setiap hari ke sekolah dengan pikiran terbayang oleh kekerasan yang terjadi di rumah semalam. Anda menyaksikan pacar ibu Anda memukuli ibu Anda. Anda terlambat 30 menit ke sekolah agar Anda bisa menemani ibu Anda sampai pacarnya pergi kerja. Lalu setibanya di kelas, guru Anda memberi tugas matematika yang baru dan Anda sulit mengikuti arahan guru karena masih memikirkan apa yang terjadi semalam. Kemudian guru Anda bersuara keras dengan nada yang baru saja Anda dengar semalam di rumah,’Ayolah! Apa masalahmu?! Aku sudah memberitahumu dua kali!’”[5]

Ilustrasi tersebut, menurut penulis, memberikan gambaran posisi sekolah sangat penting sebagai tempat intervensi yang dapat memberikan dampak yang cukup luas. Sekolah masih menjadi tempat dimana kebanyakan anak-anak mengenyam pendidikan. Namun, anak-anak yang datang ke sekolah juga memiliki masalah psikologis, tidak mendapatkan dukungan ketika berada di sekolah dan malah semakin tertekan karena guru yang tidak peka. Itu sebabnya HRL berupaya untuk melakukan intervensi di sekolah dan komunitas dengan menyediakan material praktis yang dapat diakses oleh keluarga dan pendidik.

Pada halaman https://hrl.nyc/, HRL memiliki beberapa material framework dan tools boleh diakses oleh siapa saja, misalnya panduan praktis untuk membantu anak-anak tetap sehat mental. Ada juga panduan dan tips untuk penanganan asma pada anak-anak. Selain itu, beberapa isu lain yang menjadi perhatian HRL adalah masalah penglihatan, kesehatan gigi, trauma, kehadiran di sekolah.

Dalam tulisan terakhir Dr. Wenimo untuk Child Health Fund berjudul Community Healing is the Systemic Change People of Color Need[6], ia menegaskan upaya pemulihan komunal terutama untuk menyembuhkan trauma rasial pada anak-anak kulit hitam, bagaimana sekolah dapat berkontribusi untuk penyembuhan tersebut. Mengubah kebijakan yang berorientasi pada disiplin (reward and punishment) dipandang tidak membantu dalam perkembangan siswa-siswa kulit hitam. Apalagi bila evaluasi pembelajaran hanya berorientasi pada disiplin dan perilaku korektif semata. Sebaiknya, siswa dilihat sebagai manusia terlebih dahulu dengan mendengarkan mereka, memelihara bakat, dan menciptakan lingkungan yang mengedepankan keamanan dan kenyamanan.

Saat ini Dr. Wenimo mengembangkan Healing School Project (HSP)[7] yang berfokus untuk memfasilitasi para pendidik kulit berwarna yang terlibat dalam pendidikan siswa-siswi kulit berwarna untuk menyembuhkan diri sehingga kemudian dapat menyembuhkan siswa-siswi mereka. Beliau masih memperjuangkan kepeduliannya untuk mendorong semakin banyak lingkungan sekolah yang peka terhadap trauma sehingga dapat meningkatkan akses kepada sumber kesehatan bagi anak-anak kulit berwarna.

PENUTUP

Kematian George Floyd hanyalah salah satu cerita rasisme yang masih hidup di Amerika Serikat. Diskriminasi seperti ini sangat mungkin terjadi juga di negara-negara lain, yang tidak hanya menyasar kaum kulit hitam tapi juga kelompok-kelompok minoritas di suatu negara atau daerah. Diskriminasi tersebut memberikan dampak buruk bagi anak-anak kulit hitam dan kelompok minoritas yang menjadi sasaran diskriminasi. Upaya mengatasi persoalan rasisme tidaklah mudah dan membutuhkan proses yang panjang. Terlebih trauma-trauma yang dihasilkan olehnya membutuhkan komitmen dan upaya yang tak kenal lelah. Dr. Wenimo Okoya adalah salah satu pejuang yang telah mencurahkan perhatian dan tenaganya untuk memutus rantai rasisme melalui perbaikan sistem pendidikan anak di sekolah agar anak-anak mendapatkan haknya untuk berbahagia dan bebas dari trauma rasial sehingga mereka bisa berbahagia. Kisahnya akan selalu menjadi seberkas cahaya harapan untuk dunia yang lebih baik bagi generasi-generasi selanjutnya.

 

Referensi :

[1] Dipna Videlia Putsanra (2020) “Kronologi Kematian George Floyd yang Jadi Penyebab Demo di AS” diakses pada tanggal 15 Agustus 2021 melalui tautan: https://tirto.id/kronologi-kematian-george-floyd-yang-jadi-penyebab-demo-di-as-fEyQ

[2] Adi Priyatno Utomo (2020) “Demo Protes Kematian George Floyd, 10.000 Orang Seantero AS Ditangkap” diakses pada tanggal 15 Agustus 2021 melalui tautan :
https://www.kompas.com/global/read/2020/06/04/222115470/demo-protes-kematian-george-floyd-10000-orang-seantero-as-ditangkap?page=all

[3] Untuk data mengenai kesenjangan kesejahteraan, penghasilan, dan dampak krisis Covid-19 terhadap tingkat kehilangan pekerjaan berdasarkan ras diambil dari :

https://katadata.co.id/muhammadridhoi/berita/5ee1f3c2794ea/protes-kematian-george-floyd-dan-ketimpangan-ekonomi-rasial-di-as

Untuk data pembunuhan yang dilakukan oleh polisi, diambil dari :

https://www.researchgate.net/publication/348275155_Diskriminasi_Ras_Dan_Hak_Asasi_Manusia_Di_Amerika_Serikat_Studi_Kasus_Pembunuhan_George_Floyd/fulltext/5ff5ca6d92851c13fef07246/Diskriminasi-Ras-Dan-Hak-Asasi-Manusia-Di-Amerika-Serikat-Studi-Kasus-Pembunuhan-George-Floyd.pdf

[4] Teach for America menetapkan komitmen mengajar 2 tahunan bagi corps member (sebutan bagi relawannya) sebagai salah satu syarat untuk kemudian dapat bergabung pada jaringan alumninya. Informasi lebih lengkap dapat mengunjungi :

https://www.teachforamerica.org/

[5] Wenimo Okoya dan Karen Redlener (2019) “Trauma Sensitive Schools: A Leap Towards Progress for Kids” diakses pada tanggal 30 Agustus 2021 melalui tautan :

https://www.childrenshealthfund.org/trauma-sensitive-schools-a-leap-towards-progress-for-kids/

[6] Wenimo Okoya (2020) “Community Healing is the Systemic Change People of Color Need” diakses pada tanggal 25 Juli 2021 melalui tautan :

https://www.childrenshealthfund.org/community-healing-is-the-systemic-change-people-of-color-need/

[7] Keterangan lebih lanjut tentang inisiatif HSP dapat mengunjungi tautan berikut :

http://www.healingschoolsproject.com/#

 

David Ardes Setiady

David Ardes Setiady

David Ardes Setiady adalah alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran. Ia memiliki impian agar setiap manusia dapat hidup seturut panggilan sejatinya. Ia pernah belajar tentang hipnoterapi yang seutuhnya dipergunakan membantu orang-orang yang membutuhkan. Bergabung di KAIL sebagai staf pada tahun 2012-2014 sebagai penanggung jawab dokumentasi dan menjadi trainer berbagai kegiatan Pengembangan Diri KAIL. Setelah itu, ia pindah ke Medan dan secara rutin menjadi relawan kontributor Proaktif Online. Saat ini ia menjabat sebagai Pengawas KAIL.

Related Posts

[Profil] Longevitology : Menyalurkan Cinta Kasih dengan Energi Semesta

[Profil] Longevitology : Menyalurkan Cinta Kasih dengan Energi Semesta

[Profil] YPBB – Inspirator Gaya Hidup Organis

[Profil] YPBB – Inspirator Gaya Hidup Organis

[Profil] Savic Ali: Gus Dur, Dunia Digital, dan Toleransi

[Profil] Savic Ali: Gus Dur, Dunia Digital, dan Toleransi

[Profil] Membuka Telinga untuk Mencari Kebenaran : Perjalanan Amy Tan Mengenal Dirinya Sendiri

[Profil] Membuka Telinga untuk Mencari Kebenaran : Perjalanan Amy Tan Mengenal Dirinya Sendiri

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 5
Total Visitors: 3279

Visitors are unique visitors