[Profil] Savic Ali: Gus Dur, Dunia Digital, dan Toleransi

[Profil] Savic Ali: Gus Dur, Dunia Digital, dan Toleransi

Alamsyah M Dja’far & Aldilla Septerina

Kondisi lelaki berusia 27 tahun itu sudah mirip orang senewen. Tiba-tiba menangis seperti baru mendengar kematian mendadak orang paling dicintai. Kepalanya sering terasa nyeri seperti dipukul palu. Tidak jarang pula otaknya tak dapat mengendalikan gerak tubuhnya. Hari-hari menyiksa itu dialaminya beberapa lama dan baru pergi setelah bertemu Iwan Darmansjah, Guru Besar Emeritus Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Iwan menasihati agar lelaki itu melakukan beberapa hal.

savic_ali-sumber_alam
Savic Ali (tengah mengangkat tangan) dalam sebuah diskusi tentang Ekstremisme Kekerasan di Jakarta . Sumber: Alam/dokumen pribadi

Peristiwa itu dialami Muhamad Syafi’ Alielha, lebih akrab ditulis Savic Ali, pada 2001. Beberapa bulan sebelumnya, peristiwa nasional terjadi dan membuat Savic diselimuti marah dan rasa frutasi. KH. Abdurrahman Wahid, Presiden keempat Republik Indonesia, dijatuhkan lewat Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat pada 23 Juli 2001.

Pendiri Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) ini masih ingat  ketika menyaksikan ribuan orang berkumpul di depan Istana memberi dukungan untuk Gus Dur, malam 22 Juli 2001. Perasaannya campur aduk. Seperti diberitakan, putera Menteri Agama KH Wahid Hasyim itu keluar dengan mengenakan celana pendek melambaikan tangan pada mereka. Keesokan harinya, Gus Dur keluar Istana menuju bandara dan terbang ke Washington DC Amerika Serikat. Inilah hari terakhir mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tinggal di Istana Negara sebagai Presiden.

“Kejatuhan Gus Dur adalah pelajaran. Bahwa kekuasaan tak layak dipertahankan dengan darah dan kekerasan, yang pada titik tertentu harus diikhlaskan. Fitnah, caci-maki dan ancaman, pada gilirannya harus diterima dengan lapang dada selapang-lapangnya, karena itulah yang membuat hidup jadi ringan sehingga kita masih mampu melakukan banyak kebaikan di masa depan,” tulis mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu di dinding Facebook, Desember 2019 lalu.

Santri dan Aktivis Gerakan Mahasiswa

Savic yang pernah menjadi santri Pesantren Raudlatut Thalibin, Pesantren Mambaul Ulum dan Pesantren Mathaliul Falah, Pati Jawa Tengah, memang mengidolakan Gus Dur. “Ia tokoh yang berusaha saya ikuti jejaknya. Mengapa? Karena Gus Dur tokoh Muslim yang benar-benar berusaha bertindak adil terhadap semua umat beragama. Gus Dur itu menjadi pembela bagi kelompok-kelompok yang dianggap lemah dan minoritas. Gus Dur orang yang sangat berkomitmen dengan perlindungan hak-hak yang memang dijamin konstitusi,”  kata pendiri situs media keislaman islami.co dan pengelola situs NU online itu kepada penulis, awal Agustus lalu.

Lulus pesantren, gairah aktivisme pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, 21 November 1974 itu terkerek ketika kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta pada 1993-1994. Ia mengambil Fakultas Syariah atau Hukum dengan Jurusan Perbandingan Mazhab. Di masa ini ia mulai aktif menulis dan terlibat dalam gerakan dan organisasi kemahasiswaan. Lewat buku atau pertemuan langsung, Savic mengenal Gus Dur lebih jauh di masa-masa itu.

Savic tak menamatkan kuliah karena alasan ekonomi. Ketika Ali Hamdan, ayahnya meninggal, Savic memutuskan mengambil cuti dan fokus mencari uang untuk membiayai adik-adiknya. Pada 1996, ia pindah ke Jakarta dan memutuskan kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Di Jakarta, ia terlibat aktif dalam kegiatan kajian dan gerakan mahasiswa, termasuk dengan komunitasnya, anak-anak muda NU. Ketika reformasi berlangsung, Savic terlibat jauh dalam gerakan mahasiswa menjatuhkan Presiden Soeharto. Sebelum di Famred, Savic juga menginisiasi berdirinya Forum Kota alias Forkot. Di masa-masa ini, hari-hari putera Ali Hamdan dan Karsi ini kebanyakan dihabiskan di jalanan lewat aksi-aksi demonstrasi. Di masa ini ia banyak kehilangan teman-teman seperjuangannya lantaran dibedil tentara di antaranya dalam dua peristiwa berdarah, dikenal Tragedi Semanggi I pada 11-13 November 1998 dan Semanggi II pada September 1999.

Kampanye Toleransi di Dunia Digital

Savic kini banyak bergiat pada pengembangan literasi di media dalam jaringan. Tujuannya mengembangkan sikap terbuka, kritis, dan menolak cara-cara kekerasan. Savic menggerakan pengelolaan media resmi PBNU, NU Online. Pada 2009-2016 ia ditunjuk sebagai pemimpin redaksi. Ia juga mendirikan islami.co pada 2013. Ia banyak mendampingi anak-anak muda mengembangkan gerakan literasi, khususnya di kalangan komunitas NU. Namun, jaringannya yang luas membuatnya menjadi salah satu penghubung antara anak muda dari luar NU dengan NU. Penyuka buku-buku filsafat ini juga menjadi salah seorang penggagas lahirnya Jaringan Gusdurian yang kini dipimpin puteri pertama Gus Dur, Alissa Wahid.

Berdarah-darah di awal, kini kerja keras Savic terbayar. Dua media online itu termasuk dalam dua media online keislaman paling banyak di baca di Indonesia. Menurut situs pemeringkat Alexa pada 23 Februari 2020, nu.or.id menempati peringkat kedua, Islami.co di peringkat ketiga. Posisi pertama ditempati republika.co. Sebelumnya, dua media online tersebut jauh di bawah media-media online yang dianggap berisi gagasan dan informasi eksklusif seperti muslim.or.id, rumaysho.com, almanhaj.or.id,  atau portal-islam.id.

Langkah Savic menekuni gerakan dunia digital tak lain karena situasi masyarakat setelah reformasi. Sebagai aktivis yang terlibat dalam gerakan reformasi, ia heran sekaligus gelisah dengan kemunculan organisasi-organisasi atau kelompok-kelompok yang doyan menggunakan kekerasan atas nama agama, menggelar razia warung ketika Ramadhan, atau kampanye sentimen anti kelompok lain, mengkafir-kafirkan atau menyesat-nyesatkan. “Saya khawatir nanti kalau dibiarkan akan banyak orang yang tertular tafsir-tafsir atau pandangan intoleran,” kata pria yang pernah mendirikan sejumlah media dan penerbitan ini.

Mengampanyekan toleransi di dunia digital tak bisa dikatakan mudah. Dibanding membuat media cetak koran, tabloid atau majalah, memang lebih mudah membuat media online. Tantangannya, kata Savic, di era internet semua orang juga gampang membuat media. Mereka, termasuk mereka yang berpandangan intoleran, banyak membuat kanal-kanal sendiri di Facebook, Twitter, Instagram untuk merebut 170 juta lebih orang yang ada di internet saat ini di Indonesia. “Jadi, tak mudah untuk kemudian memenangkan pertarungan gagasan di media online,” katanya.

Lewat pengalamannya, Savic juga menyatakan bahwa berjuang untuk mengampanyekan toleransi juga harus siap dengan tekanan dan pengalaman buruk. Misalnya, serangan kelompok-kelompok yang tidak setuju dengan gagasan tersebut lewat media sosial. Biasanya dengan cap-cap tertentu seperti liberal atau komunis. Ini hal biasa dialaminya. “Tapi, buat saya ini bukan pengalaman buruk. Saya telah mengalaminya sejak menjadi aktivis mahasiswa,” katanya.

savic_ali_2-sumber_alam
Savic Ali dalam sebuah pertemuan di Bogor. Sumber: Alam/dokumen pribadi

Kemerdekaan dan Peran Anak Muda

Saat ditanya tentang mimpi besarnya dalam menjalani gerakan ini, ia menyebut kebebasan. “Mimpi saya itu saja,” katanya. Ia tak ingin melihat ada orang yang kebebasan konstitusinya dilanggar. Ia menginginkan kebebasan beragama, dan kebebasan atas rasa aman. Ia bermimpi orang bebas menjalankan keinginan dan berhak atas rasa aman.

Pandangan itu juga ia katakan saat ditanya tentang kemerdekaan. “Kemerdekaan pada dasarnya bebas dari penindasan. Kita bisa hidup aman dan nyaman untuk mengejar hak-hak kita sebagai warga negara. Kita berharap bisa terbebas, termasuk dari penindasan atas nama agama. Penindasan atas keyakinan beribadah.”

Di usianya yang ke-46 tahun, lelaki yang hobi jalan-jalan dan membaca buku ini selalu tampak muda dan bersemangat membicarakan perubahan-perubahan di masa depan. Bicaranya lantang dan tahan berjam-jam. Ia memang selalu punya gairah dengan anak-anak muda.

Menurut anggota pengurus Civil Society Against Violent Extremism (C-SAVE) periode 2016-2018 itu, untuk menjadi manusia yang terbuka dan toleran, anak-anak muda Indonesia harus bersedia mempelajari agama atau keyakinan yang berbeda. Dengan begitu, mereka tak mudah salah paham. Anak muda, kata Savic, juga perlu merespons jika ada kekerasan atas nama agama. Mereka harus ikut bersuara dan mengecam agar orang tahu tindakan itu keliru. Anak muda juga dapat mengampanyekan toleransi dengan cara mengunggah, menyerukan, menulis atau membuat konten berisi toleransi, persaudaraan, dan persatuan.

———————-

 

Profil singkat

savic_ali-sumber_savic
Sumber: Savic/dokumen pribadi

Nama: Savic Ali

Tempat Tinggal : Jakarta

Pendidikan:

  • S1 Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta 1993-1996
  • S1 Filsafat Sosial Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta 1996-1999

Pengalaman Kerja

  • Pemimpin Redaksi NU Online 2010-2015
  • Founder & Editor www.islami.co 2013-2018
  • Direktur NU Online (Situs Resmi Nahdlatul Ulama) 2015-2020
  • Member of Board C-SAVE (Civil Society Against Violent Extremism) 2016-2018

 

 

 

Alamsyah M Dja'far

Alamsyah M Dja'far

Alamsyah M Dja'far, peneliti Wahid Foundation. Lebih dari sepuluh setahun terlibat dalam isu kebebasan beragama berkeyakinan dan melakukan advokasi hak-hak komunitas minoritas agama keyakinan di Indonesia. Mewakili WF, Alam menjadi peserta atau narasumber untuk forum-forum regional dan internasional. Ia mempublikasikan artikel di pelbagai media, menulis buku, modul, dan kertas kerja tentang isu toleransi, kebebasan beragama, dan ekstremisme berbasis kekerasan. Salah satu karya fiksinya, Lelaki Laut: Mengayuh Semangat dan Cita-cita dari Pulau Seribu (Gramedia 2010). Alam banyak memberi pelatihan menulis untuk para santri, mahasiswa, dan kalangan umum.

Related Posts

[Profil] Membuka Telinga untuk Mencari Kebenaran : Perjalanan Amy Tan Mengenal Dirinya Sendiri

[Profil] Membuka Telinga untuk Mencari Kebenaran : Perjalanan Amy Tan Mengenal Dirinya Sendiri

[Profil] Ceu Nden, Pentingnya Mencintai Diri Bagi Aktivis

[Profil] Mbah Paiman, Kisah Seorang Petani Bandel

[Profil] Ines Setiawan (Shine) Mendorong Keberlanjutan Melalui Pendidikan Informal

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors