[Profil] Profil Pemimpin Muda di Era Globalisasi

Kepemimpinan masyarakat di era globalisasi perlu berbeda pendekatannya dengan kepemimpinan masyarakat konvensional. Mendenhall et al (2008, dalam Nuno, 2012:17) menyebutkan, “Pemimpin global adalah individu yang menciptakan perubahan positif dan membangun komunitas melalui tumbuhnya kepercayaan; pengelolaan struktur dan proses organisasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, sumber-sumber otoritas eksternal, serta berbagai budaya dalam kondisi temporal, geografis maupun budaya yang kompleks.” Kompleksitas dan keberagaman menjadi karakteristik globalisasi yang mempengaruhi masyarakat; seorang pemimpin perlu memiliki kapasitas untuk menavigasi hal tersebut agar tujuan pembangunan masyarakat dapat tercapai.

Lalu bagaimana dengan kepemimpinan kaum muda? Dalam era globalisasi, kepemimpinan kaum muda juga tidak terlepas dari kompleksitas dan keberagaman yang muncul sebagai dampak globalisasi. Karakteristik mereka sebagai digital native (penduduk asli dunia digital) sebenarnya memberikan beberapa keuntungan terkait hal tersebut, misalnya mereka lebih terbiasa berjejaring dan berinteraksi tanpa tersekat batasan geografis, terbiasa dengan multikulturalisme, lebih mampu memaksimalkan teknologi untuk mengakses informasi dan menyelesaikan pekerjaan, mudah mempelajari teknologi baru. Namun di sisi lain ada juga budaya instan yang bisa menghambat kaum muda untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Untuk memahami kepemimpinan kaum muda, kita perlu mempertimbangkan juga seperti apa perspektif kaum muda sendiri mengenai kepemimpinan dan perubahan.

Mortensen et al (2014) menemukan bahwa perspektif kaum muda mengenai kepemimpinan sedikit berbeda dengan perspektif konvensional; menurutnya terdapat lima jenis narasi ketika kaum muda mendefinisikan kepemimpinan:

  1. Siapa pun bisa menjadi pemimpin dalam konteks apapun (setara, tidak ada batasan usia);
  2. Kepemimpinan adalah menciptakan perubahan;
  3. Kepemimpinan meliputi aksi kolektif;
  4. Kepemimpinan adalah keteladanan dan pendampingan/mentoring;
  5. Seorang pemimpin memiliki karakter yang kuat.

Perspektif ini tampaknya berimplikasi pada munculnya gaya kepemimpinan unik yang dipraktikkan kaum muda di dunia nyata. Beberapa contoh kepemimpinan kaum muda misalnya Greta Thunberg (21), Rafa Jafar (20), dan Andhyta Firselly Utami (31); deskripsi mengenai sepak terjang mereka dapat dilihat pada foto di bawah ini. Ketiga pemimpin muda tersebut mewakili perspektif kaum muda mengenai kepemimpinan: mereka menciptakan perubahan dan memberi pengaruh tanpa berada pada position of power/pemegang kekuasaan, mereka bertindak sejalan dengan idealisme (keteladanan), juga ketiganya memiliki karakter yang menonjol/berbeda dari orang kebanyakan.

 

Andhyta F. Utami (31)

Akrab dipanggil Afu, aktif menyuarakan isu iklim dan kebijakan. Menggagas platform Think Policy untuk mengedukasi kaum muda tentang isu politik. Salah satu produknya, Bijak

Memilih, meraih penghargaan MIT Solve 2023 Global Challenge.

 

Rafa Jafar (20)

Menulis buku tentang sampah elektronik di usia 11 tahun. Aktif mengkampanyekan

bahaya sampah elektronik dan menginisiasi e-Waste RJ, platform pengumpulan

sampah elektronik. 

 

Greta Thunberg (21)

Menginisiasi School Strike for Climate pada usia 15 tahun untuk mendesak aksi

iklim dari pemerintah Swedia. Aksi ini diikuti oleh pelajar di seluruh dunia.

Hingga kini Greta masih aktif mengadvokasi iklim melalui gerakan Fridays for Future.

 

Social influence atau pengaruh sosial sangat erat terkait dengan kepemimpinan (Ras, Hogg & de Moura, 2018). Sosok-sosok pemimpin muda ini memiliki pengaruh sosial yang kuat bagi sesama kaum muda, hal ini tampak dari banyaknya pengikut mereka di media sosial. Pemimpin muda memberi pengaruh dengan menjadi trendsetter – pemikiran dan tindakan mereka diikuti oleh banyak kaum muda karena dianggap merepresentasikan sosok ideal yang ingin dicapai (role model). Hal yang juga unik dari kepemimpinan kaum muda adalah bahwa pergerakannya banyak terjadi di ruang virtual (Jahan, 2013). Aksi Climate Strike Greta menjadi viral di media sosial, yang kemudian diikuti oleh pelajar di seluruh dunia. Rafa menggunakan media sosial untuk terhubung dengan para kontributor sampah elektronik; sementara Afu bersama timnya mengembangkan platform digital untuk edukasi politik kepada masyarakat.

Yang membuat kepemimpinan kaum muda menjadi unik, karena kaum muda memiliki cara tersendiri dalam berkomunikasi dan mempengaruhi sesamanya; mereka memiliki “budaya mereka sendiri” (Steinberg, 2011). Karena itu ketika menyasar permasalahan atau isu yang dihadapi kaum muda, mereka sebaiknya tidak hanya mengikuti secara pasif, tetapi terlibat secara aktif dalam pengambilan keputusan dan pengembangan solusi (Libby, Rosen, & Sedonaen, 2004). Hal ini penting karena merekalah yang paling paham bagaimana suatu isu dirasakan oleh kaum muda (misalnya, kaum muda cenderung lebih cemas mengenai krisis iklim daripada kaum tua karena isu tersebut akan sangat mempengaruhi masa depan mereka), bagaimana isu tersebut bisa dikomunikasikan dengan sesama kaum muda, dan bagaimana menggerakkan teman sebaya mereka untuk menavigasi isu tersebut.

 

Avatar

Kandi Sekarwulan

Related Posts

[Profil] Junkan Farm: Belajar Mengembangkan Organisasi lewat Mengelola Kebun Kecil di Jepang

[Profil] Junkan Farm: Belajar Mengembangkan Organisasi lewat Mengelola Kebun Kecil di Jepang

[Profil] Padepokan Kirik Nguyuh: Tempat Bermain yang Menanam Cara Hidup

[Profil] Rumpi Cisaranten Kulon: Menghubungkan Kembali Warga Kota dengan Pangan

[Profil] Rumpi Cisaranten Kulon: Menghubungkan Kembali Warga Kota dengan Pangan

[Profil] Bertani Itu Banyak Rasanya

[Profil] Bertani Itu Banyak Rasanya

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 4
Total Visitors: 94834

Visitors are unique visitors