[Tips]  Berdamai Dengan Dunia

[Tips] Berdamai Dengan Dunia

Amarah dapat menjadi sumber energi bagi seseorang untuk melakukan perlawanan, perombakan, dan aneka bentuk perjuangan lainnya. Namun di tengah perjalanan, yaitu saat perjuangan tak kunjung membawa hasil, pejuang biasanya merasakan kelelahan dan hilang daya. Bagaimanakah kita dapat memadamkan amarah dan menguak damai, tidak hanya sebagai selimut istirahat di kala usia senja, namun terlebih sebagai bahan bakar aktivitas hidup kita sehari-hari?

Seorang istri merasa marah kepada suaminya ketika ia berhenti bekerja dan suami tidak sigap mengambil alih tanggung jawab sebagai sumber nafkah tunggal untuk keluarga. Rasa marahnya ini tidak ia ekspresikan, sehingga ia pun bermimpi….

Di dalam mimpinya, dua orang sahabat tiba-tiba datang ke gedung reuni SMA, dan memarahi dia, karena ia tidak me-lap meja. Ia sedikit tersinggung, kemudian bingung, karena tidak mengerti mengapa dua sahabatnya menuntut ia melakukan hal tersebut. Namun ia diam saja dan melakukan apa yang diperintahkan kedua sahabatnya itu. Di tengah perasaan campur aduk, ia terbangun.

Ia lalu duduk, sambil merenungkan mimpinya. Ia sadar, ia merasa tidak nyaman menghadapi tuntutan sahabat yang ia rasa tidak pada tempatnya. Ia lalu teringat suaminya. Apakah suaminya juga merasakan hal yang sama, yaitu merasa seperti ditodong dengan tuntutan normatif: “suami seharusnya mampu menafkahi keluarga”? Realitanya adalah ia takut kekurangan karena tidak memiliki penghasilan lagi setelah berhenti bekerja. Apakah ketakutan dan kebutuhannya ini merupakan tanggung jawab suami untuk memenuhinya? Ataukah ia sendiri lah yang perlu bertanggung jawab untuk mengatasi ketakutan dan kebutuhannya?

tips-berdamai-1
(Sumber: suratkabar.id)

Sang istri terdiam hening. Ia sadar bahwa ia perlu bertanggung jawab untuk mengatasi ketakutan dan memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Suaminya sudah berupaya optimal dan memberikan seluruh penghasilannya sebagai nafkah keluarga. Bilamana ia merasa itu kurang mencukupi, lalu ia merasa marah dan menuntut suaminya untuk memberikan penghasilan lebih, maka itu akan menjadi batu sandungan, baik bagi proses bekerja suaminya, maupun untuk relasi mereka berdua. Solusi yang perlu ia lakukan adalah mengakui ketakutan dan kebutuhannya, lalu mengambil tanggung jawab untuk mengatasi ketakutan dan memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Ia perlu mencari pekerjaan baru dan turut menjadi sumber nafkah juga bagi keluarga bersama-sama dengan sang suami.

Ilustrasi kejadian di atas menunjukkan bahwa konflik yang kita alami dengan orang lain sering kali bersumber pada penolakan kita atas sikap, perkataan, dan tindakan orang lain yang tidak sesuai dengan standar harapan kita sendiri. Aktualita peristiwa di depan mata memang sering kali berbeda dengan realita yang kita harapkan di dalam benak. Perbedaan antara aktualita objektif yang ada dengan realita subjektif yang kita punya ini membuat kita merasa frustrasi.

“Konflik yang kita alami dengan orang lain sering kali bersumber pada penolakan kita atas sikap, perkataan, dan tindakan orang lain yang tidak sesuai dengan standar harapan kita sendiri.”

Dalam psikologi, reaksi frustrasi secara garis besar ada dua macam, yaitu agresif (seperti marah, melawan, menyerang, dan semacamnya) serta apatis (seperti enggan, berhenti usaha, menghindar, dan semacamnya). Dengan demikian, dapatlah kita simpulkan bahwa perasaan bermasalah dengan sesama, kita sekedar perlu merasakan kehadirannya ini, tanpa harus menuruti desakannya, entah itu desakan perasaan yang sifatnya agresif, ataupun desakan perasaan yang sifatnya apatis. Saat kita merasa bermasalah dengan orang lain, kita sebaiknya:

  • berefleksi sejenak untuk menemukan bayangan ketakutan dan kebutuhan pribadi yang belum terpenuhi,
  • mengakuinya secara bulat dan berdamai dengan diri sendiri, serta
  • mengambil tanggung jawab penuh untuk mengatasi ketakutan dan memenuhi kebutuhan kita; sehingga
  • kita otomatis merasa berdamai dengan sesama dan kembali lancar melakukan kolaborasi dalam hidup bersama.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah pola batin dalam lingkup mikro tersebut di atas berlaku juga dalam dinamika psikis dalam lingkup makro? Misalnya, seorang aktivis, yang merasa marah dengan ketidakadilan ekonomi dan sosial di tengah masyarakat sekelilingnya, sehingga ia terdorong untuk melakukan berbagai upaya untuk mengubah keadaan tidak adil; apakah hal ini dapat dikatakan juga bahwa ada ketakutan dan kebutuhan dalam diri sang aktivis yang tidak tertangani dengan baik, dan juga tidak ia sadari, lalu ia merasa frustrasi, marah, menyalahkan pihak di luar dirinya, lalu berupaya keras untuk mengubah hal di luar dirinya?

Bilamana demikian, banyaklah aktivitas berlabel kebaikan yang tercemar tanpa disadari pencemarannya. Sebagaimana sifat pencemaran, akibat akumulatifnya tentu negatif.

Aktivis yang mengalami pencemaran tanpa sadar cenderung akan bertenaga besar untuk melakukan perombakan dengan cara merubuhkan tatanan bangunan yang tampak. Hasilnya langsung terlihat, ibarat tukang yang merubuhkan bangunan di atas tanah. Hal ini akan meningkatkan semangat dan tenaganya untuk membangun tatanan bangunan baru di atas lokasi bangunan lama. Akan tetapi, pondasi bangunan lama masih ada, sehingga bangunan baru mau tidak mau menggunakan pondasi yang sama dengan yang lama dan menghasilkan bangunan baru yang serupa dengan bangunan lama; atau bangunan baru dibuat sama sekali berbeda namun tidak di atas pondasi yang kuat, sehingga mudah rubuh oleh terpaan cuaca.

“Ibarat tukang yang merubuhkan bangunan di atas tanah. Pondasi lama masih ada, sehingga bangunan baru mau tidak mau menggunakan pondasi sama dengan yang lama dan menghasilkan bangunan baru yang serupa dengan bangunan lama; atau bangunan baru dibuat sama sekali berbeda namun tidak di atas pondasi yang kuat, sehingga mudah rubuh oleh terpaan cuaca.”

Ilustrasi metaforik di atas menggambarkan bahwa aktivitas berlabel kebaikan yang tercemar tanpa disadari hasil awalnya terlihat baik. Akan tetapi, lambat laun manfaat-seolah-positif tadi lalu berubah menjadi akibat negatif.

Oleh karena itu, seperti halnya pola batin dalam lingkup mikro, pada saat kita merasa terdorong, pada saat kita begitu bersemangat untuk segera melakukan “kebaikan” kita sebaiknya tidak langsung menuruti desakan semangat tersebut. Alih-alih itu, kita lebih baik berefleksi sejenak untuk memurnikan intensi tindakan kita, mengakui dan menerimanya secara jujur dan terbuka menarik napas panjang secara teratur untuk melepaskan pencemaran dan berdoa memohon rahmat untuk memurnikan intensi tindakan, sampai kobaran semangat yang mendesak kemudian meredamenjadi hembusan bisikan yang tenang menuntun langkah.

tips-berdamai-2
(Sumber: dribble.com)

Aktivitas berlabel kebaikan yang sudah didahului oleh pemurnian intensi akan berbuah matang dan manis sejati. Buah matang dan manis ini akan bermanfaat signifikan. Apapun komentar orang mengenai hasil tindakan tidak akan mengganggu pelaku aktivitas, melainkan disambut dengan rasa terima kasih, dan diolah menjadi umpan balik konstruktif. Damai-di-hati membawa damai-di-luar-diri.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah prinsip “damai-di-hati yang membawa damai-di-luar-diri” tersebut dapat juga kita aplikasikan secara lebih luas dalam situasi hidup apapun? Pada tahun 2020 ini, kita menghadapi perubahan situasi hidup, yaitu dari situasi “normal”, situasi pandemi covid-19, dan sekarang situasi AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru). Perubahan situasi hidup seringkali membuat kita merasa cemas dan mengalami ketidaknyamanan, karena perubahan sifatnya unhomeostasis (tidak statis, tidak pasti, tidak stabil). Manusia pada umumnya cenderung menyukai kondisi homeostatis, sehingga pengalaman unhomeostasis akibat perubahan situasi hidup sekarang ini dapat membuat kita merasa frustrasi, dan bereaksi agresif-daya-kuat maupun apatis-daya-lemah.

Padahal di sisi lain, kita dituntut untuk melakukan adaptasi kebiasaan baru secara sadar, agar kita dapat melanjutkan perjalanan hidup secara aman. Bagaimana kita mengelola “gagap adaptasi” ataupun “sikap adaptasi semu” kita terhadap perubahan situasi hidup sekarang ini menjadi “luwes adaptasi” maupun “sikap adaptasi sejati”?

tips-berdamai-3
(Sumber: humas.jabarprov.go.id)

Menurut Geise, perubahan sosial masyarakat sesungguhnya merupakan perubahan nilai-nilai yang diperlukan untuk berhasilnya pembangunan. Merujuk pada pandangan Geise tersebut, AKB bukanlah sekedar pembiasaan diri memakai masker dan sarung tangan saat beraktivitas di luar rumah, cuci tangan dengan sabun sebagai jeda antar aktivitas, menjaga jarak fisik dengan orang lain, tidak bepergian bila tidak sungguh diperlukan, ataupun menerapkan kebiasaan baru lainnya yang diarahkan oleh protokol covid-19 saja. Lebih dalam dari itu, AKB merupakan perubahan apa yang sebaiknya dianggap bernilai dalam hidup agar pembangunan atau adaptasi kebiasaan untuk keberlanjutan hidup dapat berhasil.

“Menurut Geise, perubahan sosial masyarakat sesungguhnya merupakan perubahan nilai-nilai yang diperlukan untuk berhasilnya pembangunan.”

Menurut Steven Covey, kita perlu berpusat pada prinsip untuk menghasilkan kebiasaan efektif. Prinsip adalah nilai-nilai yang bersifat universal. Nilai-nilai ini dianggap nilai yang sejati karena bernilai dalam situasi hidup apapun, di mana pun, kapan pun, dan oleh siapa pun. Nilai-nilai apakah yang perlu kita pijak sebagai prinsip dasar hidup, pun dalam situasi AKB sekarang?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita gali nilai-nilai di balik kebiasaan baru sesuai protokol covid-19, lalu kita ekstrakkan kembali nilai-nilai hasil penggalian itu.

Satu, memakai masker dan sarung tangan saat beraktivitas di luar rumah. Tujuannya ialah untuk memperkecil kemungkinan kita terpapar virus covid-19. Tantangannya ialah mengelola rasa tidak nyaman dan terhambat dalam beraktivitas. Kita biasanya tidak suka merasa terhambat, dan berhasrat ingin menghilangkan sumber hambatan dengan segera. Kalau dorongan itu kita ikuti, kita mengabaikan anjuran protokol covid-19, dan membiarkan kemungkinan besar kita terpapar virus covid-19. Desakan meninggalkan anjuran baru dan kembali melakukan kebiasaan lama ini sebaiknya tidak langsung kita ikuti. Kita perlu menarik napas panjang dan teratur untuk melepaskan keterdesakan dan ketegangan yang ada. Setelah reda dan merasa tenang, kita dapat menyadari tujuan dan tantangan secara netral, lalu leluasa memilih tindakan yang sesuai dengan tujuan dengan mencari cara untuk menyelesaikan tantangan yang ada. Dengan demikian, prinsip “damai-di-hati membawa damai-di-luar-diri” bekerja dan berbuah efektif.

Dua, cuci tangan dengan sabun sebagai jeda antar aktivitas. Tiga, menjaga jarak fisik dengan orang lain. Empat, tidak bepergian bila tidak sungguh diperlukan. Tujuan dari kebiasaan baru dua-empat tersebut juga sama, yaitu memperkecil kemungkinan kita terpapar virus covid-19 Tantangannya pun juga sama, yaitu mengelola rasa tidak nyaman dan terhambat dalam beraktivitas. Pola dinamika psikis yang muncul serta prinsip yang perlu kita junjung juga berlaku sama.

“Damai-di-hati sama artinya dengan tidak langsung mengikuti desakan, melainkan mundur dari desakan untuk berefleksi dan menemukan bayangan diri, mengakuinya, menerimanya, dan mengambil tanggung jawab penuh untuk menanganinya.”

Berdasarkan paparan tersebut di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa bertindak dengan berpusat pada prinsip “damai-di-hati” akan membantu kita berdamai dengan dunia, entah itu benturan akibat perbedaan dengan orang lain ataupun keterbatasan dalam situasi yang ada. Yang penting digarisbawahi ialah damai-di-hati tidak sama dengan mengikuti desakan dengan segera demi merasa nyaman. Sebaliknya, damai-di-hati sama artinya dengan tidak langsung mengikuti desakan, melainkan mundur dari desakan untuk berefleksi dan menemukan bayangan diri, mengakuinya, menerimanya, dan mengambil tanggung jawab penuh untuk menanganinya. Salam damai!

***

(Sumber: refleksi pengalaman penulis dan rangkuman bacaan)

 

 

Levianti

Levianti

Levianti, M.Si, Psi, adalah psikolog, yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, merintis usaha Kopi Bale bersama suami sejak tahun 2016, penulis lepas, associate trainer, dan staf Unpar Press. Minat utamanya adalah pada pelatihan character building, serta latihan melepaskan diri dari hawa nafsu dan kelekatan tidak teratur. Diskusi artikel dengan penulis dapat dilakukan melalui email alevianti@gmail.com.

Related Posts

[Tips] Yang Lalu Tinggallah Di Masa Lalu : Sebuah Refleksi Tentang Belajar Memaafkan Pasangan

[Tips] Yang Lalu Tinggallah Di Masa Lalu : Sebuah Refleksi Tentang Belajar Memaafkan Pasangan

[Tips] Mencapai Kedamaian Batin

[Tips] Mencapai Kedamaian Batin

[Tips] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Tips] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Tips] Self Awareness dalam Konflik

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 0
Total Visitors: 787

Visitors are unique visitors