[Tips] Self Awareness dalam Konflik

Oleh: Anastasia Levianti

Setiap hari, kita pasti menghadapi konflik, baik konflik dalam diri sendiri maupun konflik dengan orang lain dan situasi kondisi di luar diri. Inti dari konflik adalah kita mengalami ketegangan akibat perbedaan. Konflik dalam diri terjadi misalnya saat pikiran menyuruh kita untuk tetap terjaga sampai tugas selesai tuntas, sementara badan rasanya lelah dan sangat ingin rebah. Konflik dengan lingkungan terjadi misalnya saat kita menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, ataupun saat kita berbeda sudut pandang dengan rekan tanpa menemukan jalan keluar.
Dalam psikologi, ada setidaknya tiga macam konflik, yaitu approach-approach, approach-avoidance, dan avoidance-avoidance. Konflik approach-approach terjadi saat kita mengalami pertentangan antara dua hal yang sama-sama kita sukai/inginkan/sifatnya positif. Contoh konflik approach-approach misalnya antara tekad meneruskan puasa dengan keinginan makan teratur untuk memulihkan lambung yang luka. Puasa dan makan teratur sama-sama positif sifatnya atau diinginkan.
Konflik approach-avoidance kita alami saat menghadapi pertentangan antara hal yang kita inginkan (arah positif) dengan hal yang kita hindari (arah negatif). Misalnya, seorang perempuan sangat ingin menjadi ibu rumah tangga agar dapat total melayani keluarga, namun sekaligus juga tidak mau bergantung pada suaminya dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Melayani keluarga sifatnya positif atau diinginkan, sementara bergantung secara finansial kepada suami sifatnya negatif atau tidak diinginkan.
Dari paparan di atas, pembaca tentu dapat menduga, bahwa konflik avoidance-avoidance terjadi saat kita mengalami pertentangan antara dua hal yang sifatnya sama-sama negatif atau kita hindari. Contoh dari konflik ini ialah saat kita tidak suka dengan sikap rekan kerja, namun kita juga enggan menyelesaikan tugas tim sendirian. Kita menghadapi dua pilihan yang sama-sama tidak kita inginkan, namun menuntut kita untuk tetap memilih.

sumber: www.dosensosiologi.com


Ketegangan dan ketidaknyamanan yang dirasakan saat berhadapan dengan konflik diinterpretasikan oleh otak kita sebagai sinyal bahaya. Otak kemudian dengan cepat mengambil alih kendali diri untuk melakukan upaya penyelesaian konflik. Upaya pemecahan masalah dapat mengadposi kebiasaan umum yang berlaku menurut akal sehat (common sense), mengikuti cara penyelesaian yang dilakukan oleh orang lain di sekitar kita (vicarious learning), memilih mengikuti dorongan yang paling dominan untuk memperoleh kenyamanan/menghilangkan ketegangan (emotional focus solving), ataupun melakukan analisa sintesa dalam rangka menemukan akar masalah dan menyelesaikannya (problem focus solving).
Ada beberapa rambu yang perlu kita perhatikan saat menimbang sesuatu, agar hasil common sense setidaknya logis dan objektif (Solso, 2005). Beberapa rambu tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Rambu mayoritas: suara terbanyak atau mayoritas belum tentu benar
  2. Rambu atribut popularitas: opini figur populer belum tentu benar
  3. Rambu atribut otoritas: pandangan figur pimpinan, ataupun mematuhi norma tanpa pertimbangan konteks, belum tentu benar
4. Rambu kekuatan/dominan: mematuhi desakan karena takut ancaman, ataupun mengikuti pengaruh orang yang dominan, belum tentu benar
  1. Rambu “kambing hitam”: apapun pandangan kita tentang orang lain dan lingkungan sebetulnya lebih menggambarkan dinamika batin pribadi daripada kenyataan di luar diri   
Vicarious learning atau belajar dengan cara meniru sebenarnya sering kita lakukan. Di Indonesia, praktik belajar dengan cara meniru dikenal dengan singkatan 3M, yaitu memperhatikan, mengikuti, dan memodifikasi (Krismastono, 2019). Agar optimal memperhatikan, kita perlu mengaktifkan panca indera. Misalnya saat belajar memasak, alih-alih hanya melihat dan mendengar video masakan, kita dapat juga menyentuh langsung, mengenali aroma, ataupun mencicipi produk masakan. Perhatian kita juga akan lebih cermat manakala kita mengulanginya beberapa kali, ataupun mendiskusikan hasil observasi kita ini dengan orang lain yang juga melakukan observasi serupa. Pengulangan juga perlu dilakukan saat praktik mengikuti. Seorang pelatih senior menganjurkan agar peserta mengulangi hal yang dipelajari sampai sepuluh kali. Meski ada peserta yang sudah cukup paham setelah pengulangan ketiga sampai kelima, manfaat tetap akan diperoleh bilamana peserta disiplin mengulanginya sampai sepuluh kali. Practices indeed make us perfect, iya kan? Hasil pengulangan akan membantu kita menemukan intisari pembelajaran, yang kemudian menstimulasi kita untuk mengembangkannya melalui elaborasi ide pribadi. 

sumber: www.rumahfilsafat.com

Emotional focus coping ditujukan untuk menyalurkan ketegangan agar reda dan tidak berdampak destruktif. Ada beberapa cara penyaluran emosi negatif yang dialami saat konflik. Langkah pertama adalah walk out. Kita dapat minta ijin waktu jeda 5-15 menit ke kamar mandi. Kita dapat membasuh wajah dengan air, menghirup udara segar, dan minum segelas air putih. Gerakan menyediakan waktu untuk pribadi ini dapat membantu kita kembali berpusat kepada prinsip diri, sekaligus melapangkan hati untuk berempati menangkap kebutuhan inti orang lain/inti tuntutan situasi di balik paparan informasi yang tampak di permukaan. Bilamana walkout tidak dimungkinkan, kita dapat menggosok-gosokkan telapak tangan, memijat jari jemari, ataupun mengempitkan kedua telapak tangan di ketiak. Menurut hasil penelitian para ahli healing dalam komunitas capacitar, emosi negatif tersimpan dalam jari-jemari, sehingga gerakan memijat, menekan, mengelus, dan gerakan apapun yang kita lakukan secara sadar terhadap jari jemari kita akan membantu kita melepaskan emosi negatif yang kita rasakan. Intinya adalah kesadaran penuh pada gerakan, dengan cara menyediakan waktu untuk memperhatikan diri sendiri serta melambatkan tempo aktivitas sejenak.
Problem focus coping yang dewasa ini berkembang adalah pemikiran komputasional (Krismastono, 2019). Kita mencoba memecahkan masalah sebagaimana komputer melakukannya. Ada empat tahapan dalam pemikiran komputasional, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, algoritma, dan identifikasi. Dekomposisi kita lakukan dengan cara menguraikan masalah. Masalah yang diuraikan membuat kita merasa lebih ringan dan mudah memahami keadaan masalah yang dihadapi. Misalnya, saat menghadapi tumpukan pekerjaan rumah tangga, sampai kita merasa berat sekali, namun juga tahu bahwa kita harus mengerjakannya, kita dapat memulai penyelesaian dengan cara memecah tumpukan pekerjaan berdasarkan kelompoknya (cucian dipisahkan berdasarkan jenis, dst., sehingga kita menghadapi bukan tumpukan berantakan yang membuat rasa tidak nyaman, melainkan tumpukan rapi yang membangun  kesiapan untuk mulai mengerjakan). Kebiasaan melakukan dekomposisi lambat laun membuat kita mudah mengenali benang merah saat menghadapi masalah. Benang merah atau pengenalan pola di balik paparan informasi ini akan membantu kita lancar memahami algoritma-keterkaitan logis, seperti hubungan sebab akibat langsung di antara dua hal. Identifikasi akar masalah dan solusi pun menjadi mudah kita lakukan. Untuk menyempurnakan hasil pemikiran, kita dapat membiasakan diri melakukan review setiap tahapan dan mengevaluasinya sebelum melakukan eksekusi solusi.
Yuk, kita coba praktik sejenak melalui studi kasus berikut. Ada seorang biasa, berumah tangga dan bekerja dengan mengutamakan nilai-nilai luhur dalam aktivitasnya, yang akhir-akhir ini mengalami kelelahan. Meski tugas demi tugas diselesaikan sesuai standar, namun tugas demi tugas baru datang dengan tempo lebih cepat, sehingga tumpukan hasil kerja tidak memadai bila dibandingkan dengan tumpukan tugas baru yang menanti diselesaikan. Segala upaya optimal pekerja juga kurang dihargai oleh lingkungan sekitarnya. Hasil kerjanya tidak lepas dari kritik dan cemooh, entah itu disampaikan secara langsung dan objektif, ataupun dengan bisik-bisik di belakang kehadirannya dan subjektif. Jiwa raganya sangat lelah.   
Bagaimana penyelesaian studi kasus tersebut dapat dilakukan? Pekerja bisa saja mengikuti saran atasannya untuk lebih rileks dalam bekerja, menyelipkan kesenangan di tengah waktu kerja, dan menambah waktu kerja dengan mengerjakan tugas juga di luar jam kantor (pengaruh otoritas). Pekerja juga bisa meniru teladan atasan lain yang fokus membuat skala prioritas, mengerjakan hanya yang penting saja, dan menyelesaikan pekerjaan yang datang berdasarkan skala prioritasnya (vicarious learning). Ia sendiri dapat menciptakan waktu jeda untuk diam sejenak, lepas dari rutinitas memenuhi tuntutan tugas yang terus bertambah, agar stamina jiwa raganya pulih dan siap kembali beraktivitas menyelesaikan tugas (emotional focus coping). Dalam keadaan siap, ia sadar, bahwa ia perlu melakukan perubahan cara kerja. Pola kerja yang sama tidak cukup memadai untuk memenuhi tuntutan yang terus bertambah. Alternatif saran yang tersedia adalah menambah waktu kerja dan memilah pekerjaan berdasarkan skala prioritas. Ia juga terpikir untuk menjaga tempo kerja, dengan cara tidak mengejar kualitas – kesempurnaan saja yang memakan waktu lama, melainkan memperhatikan juga batasan waktu pengerjaan selama proses penyelesaiannya. Selain itu, ia juga perlu lebih disiplin mengatur kemauan badannya, untuk merelakan waktu istirahatnya digunakan sebagai waktu tambahan penyelesaian tugas (problem focus coping). 
Apakah alternatif solusi di atas berhasil menyelesaikan masalah yang dialami? Sering kali, penyelesaian yang dilakukan tidak cukup memuaskan, karena tidak semua rencana penyelesaian sungguh dapat dilaksanakan dalam keseharian. Pekerja belum terbiasa mengatur kemauan badan, sehingga stamina menambah waktu kerja masih naik turun dan belum konsisten. Sementara itu, tumpukan kerja terus datang bertambah. Tekanan beban kerja tidak dapat diimbanginya dengan peningkatan stamina dan pembentukan kebiasaan kerja baru yang lebih efektif. Jiwa raganya belum terlepas dari kelelahan. Sukacita belum memenuhi aktivitas kerjanya.
Pada titik ini, kita mendapat kesempatan untuk lebih masuk ke dalam diri, melakukan refleksi, untuk menyadari keberadaan aktualita yang lebih hakiki. Untuk dapat masuk ke dalam diri, diperlukan keadaan hening. Kita dapat menciptakan keheningan dengan cara melakukan jeda, yaitu dengan menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan, mencari tempat untuk tenang menyendiri, dan rileks melepaskan semua ketegangan melalui hembusan dan tarikan napas yang teratur. Melalui napas teratur, kita dapat menajamkan indera untuk merasakan situasi dan kondisi di sekitar, meskipun kita tidak aktif mengamati – menginderanya dan tidak terlibat di dalamnya. Melalui kesadaran pada napas teratur, pikiran kita juga akan lebih jinak, tidak agresif memimpin tindakan pemecahan masalah berasarkan keterdesakan/sinyal bahaya yang ditangkap otak. Melalui kesadaran pada napas teratur, pelan-pelan kita melepaskan kelelahan, ataupun keterikatan diri pada tuntutan pemenuhan tugas, yang tanpa sadar membuat kita lelah. Melalui kesadaran pada napas teratur, cakrawala pandang kita meluas, kondisi penuh desakan seperti “kiamat” kini terlihat harmoni ibarat “surga”. Ada keyakinan dalam hati kecil bahwa semua baik-baik saja. Ada gerakan cinta yang lembut untuk mulai dengan tenang aktivitas yang paling diperlukan dalam penyelesaian tugas. Melalui kesadaran diri pada napas teratur, sikap dan tanggapan kita terhadap situasi yang sama (yaitu sama-sama belum memenuhi standar sempurna), akan menjadi lebih bersifat cinta merawat, daripada  rasa tidak suka dan nafsu memperbaikinya. Energi cinta akan menjaga stamina terlepas dari kelelahan buta yang tidak perlu. Energi cinta akan membantu kita untuk sabar bertekun dan damai bersyukur selama bertekun hingga selesai.     

Sumber: www.vectorstock.com

Jadi, apa yang dapat kita lakukan untuk menghadirkan self-awareness dalam situasi konflik sehari-hari?
1.   Let it flow, ikuti arus yang berjalan:
common sense, vicarious learning, emotional focus solving, problem focus solving, yang tetap saja berakhir pada rasa tak berdaya meski  segala upaya telah dilakukan.
2.   Hentikan sejenak langkahmu sekarang:
pejamkan sejenak matamu yang lelah, rasakan kelelahan seperti sia-sia;
diamlah sejenak bibirmu tak bicara, biarkan kata-kata mematung sementara;
biarkan sejenak pemberontakan rasuki jiwa, dan biarkan dirimu digerakkannya;
hidup memang penuh peluh, untuk siapa saja yang membuatmu penuh;
tapi pernahkah kau berpikir, perlu ada waktu tuk nurani bicara;
jernihkan sejenak pikiran keruhmu, coba sadari manusia yang semakin rapuh;
panjatkan sejenak doa sederhanamu, undanglah Dia masuk ke dalam bingkai hatimu;
rasakan sejenak genggam erat tanganKu, jangan pernah kau abaikan cintaKu (Wiji Tukul).
3.  Loving by serving, cinta merawat yang di hadapan dengan tulus melayani pemenuhan kebutuhan:
Orientasikan diri untuk bertanggung jawab penuh menyelesaikan semua tugas (Yes, I do).
Tangkap tujuan utama, buat skala prioritas kerja berdasarkan dampaknya pada pencapaian tujuan.
Diam (hening) dan bekerjalah. Sabar bertekun dan damai bersyukur.
Doa, meditasi, hening, waktu jeda, akan mengasah pisau kesadaran diri untuk terus hidup dan terus mencinta. 
Levianti

Levianti

Levianti, M.Si, Psi, adalah psikolog, yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, merintis usaha Kopi Bale bersama suami sejak tahun 2016, penulis lepas, associate trainer, dan dosen homebase Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul. Minat utamanya adalah pada pelatihan character building, serta latihan melepaskan diri dari hawa nafsu dan kelekatan tidak teratur. Diskusi artikel dengan penulis dapat dilakukan melalui email alevianti@gmail.com.

Related Posts

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Memandu Diri Pulihkan Luka Batin

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Self-healing di Tengah Pandemi : Sebuah Tips dari Teman

[Tips] Kebunku Sekolahku

[Tips] Kebunku Sekolahku

[Tips] Berdamai dengan Alam

[Tips] Berdamai dengan Alam

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 1713

Visitors are unique visitors