[Rumah KAIL] Tantangan dalam Pengelolaan Sampah Bersama

[Rumah KAIL] Tantangan dalam Pengelolaan Sampah Bersama

Dibandingkan beberapa generasi sebelumnya, masa sekarang ini menawarkan lebih banyak kenyamanan dan kemudahan. Masalahnya berbagai kenyamanan dan kemudahan yang kita nikmati tersebut memberikan dampak negatif terhadap alam. Salah satunya dalam bentuk akumulasi sampah. Sampah-sampah ini dihasilkan sepanjang rantai produksi dan konsumsi dalam bentuk sisa-sisa material yang tak terpakai, atau material yang digunakan untuk manfaat sementara dan kemudian dibuang karena sudah tidak diperlukan lagi. Sampah juga didapatkan dari pola hidup praktis yang menganjurkan penggunaan berbagai produk sekali pakai.

 

Saat ini sampah-sampah tersebut diproses dengan berbagai cara. Salah satu yang cukup baik adalah dengan pemilahan sampah. Biasanya, sampah dipilah berdasarkan kategori organis dan anorganis. Yang organis bisa dikompos dan dikembalikan ke tanah dalam bentuk pupuk bagi tanaman. Yang anorganis dipisahkan antara yang masih bisa digunakan kembali, entah diberikan kepada orang lain yang membutuhkan, dijual ke tukang loak atau dibuang dalam bentuk residu ke tempat pembuangan sampah sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA). Di kota-kota dan komunitas-komunitas yang sadar, proses di atas sudah berlangsung seperti telah disebutkan.

 

Masalahnya, pada masyarakat yang belum sadar, kondisinya lebih parah. Sampah bercampur dibawa langsung ke TPS dan TPA. Setelah bercampur, tentu sulit sekali untuk memisahkannya dan kalaupun bisa, tentu siapapun akan enggan melakukannya. Sebagai contoh, bayangkan kita harus memisahkan kantong kresek dengan irisan sayuran atau daging busuk di dalamnya. Padahal kandungan bahan organis di sampah bercampur itu mungkin bisa lebih dari 30%-nya. Artinya, kalau kita melakukan pemilahan, beban TPS dan TPA  harusnya bisa berkurang sejumlah fraksi bahan organis yang tidak kita buang ke sana.

 

Di komunitas yang tidak melakukan pemilahan, ada dua kondisi yang biasanya terjadi. Pertama, seperti yang dijelaskan di atas, semua sampah yang tercampur dikirim ke TPA. Kedua, kalau akses terhadap TPA tidak ada, maka sampah itu kebanyakan hanya berserakan di lokasi-lokasi tertentu yang dianggap tidak berpenghuni, seperti tanah kosong atau bantaran sungai. Mereka yang memiliki rasa tanggung jawab kadang-kadang melakukan hal-hal yang dianggap cukup normal untuk pemeliharaan kebersihan, tetapi menimbulkan masalah yang lain, misalnya pembakaran sampah. Kondisi inilah yang terjadi di Kampung Cigarukgak, kampung di mana Rumah KAIL berada.

 

Rumah KAIL berada di perbatasan antara perkampungan dan kompleks. Kalau secara administratif, posisinya di bagian kampung. Di kompleks, misalnya Kompleks Giri Mekar Permai yang dekat dengan Rumah KAIL, sampah diambil beberapa hari sekali oleh truk pengangkut sampah. Warga membayar iuran beberapa puluh ribu rupiah setiap bulan untuk jasa pengambilan sampah tersebut. Kompleks tersebut bersih, tak bersampah. Tetapi sampah yang diangkut dari kompleks tersebut entah dibawa kemana, harus diproses dan diolah. Bagaimana nasib sampah itu dan memberikan dampak apa di tempat yang baru? Saya tidak tahu persis. Tetapi saya tidak heran kalau sampah itu berakhir di TPA yang dikelola oleh pemerintah dan menjadi gunungan sampah yang tinggi. Kemudian akan ada sejumlah pemulung yang mencoba mengais-ngais rejeki mencari barang-barang yang masih bisa mereka jual. Dari sejumlah pemulung tersebut, beberapa menderita sakit yang terkait sanitasi dan tidak semua dari mereka ditangani oleh petugas kesehatan secara memadai. Di TPA itu, gunungan sampah menimbulkan bau yang harus dicium oleh warga yang tinggal di daerah tersebut. Kadang-kadang sampah-sampah itu mungkin dibakar dan menimbulkan asap yang menyesakkan pernapasan. Apakah biaya yang dibayar oleh warga Giri Mekar cukup untuk mengkompensasi semua dampak negatif ini? Saya tidak yakin.

 

Di kampung Cigarukgak, kami tidak punya akses ke mobil pengangkut sampah seperti di Kompleks Giri Mekar Permai. Jadi warga harus mengurus sampahnya sendiri. Di masa lalu, saat Kebun KAIL masih berupa padang alang-alang, orang-orang membuang sampah di Kebun KAIL. Ada beberapa titik yang menjadi lokasi pembuangan sampah. Pernah sekali waktu saya juga melakukan patroli malam-malam untuk mengetahui siapa sebetulnya yang membuang sampah tersebut. Proses mengubah Kebun KAIL menjadi benar-benar Kebun dan bukan tempat pembuangan sampah, bukanlah proses yang mulus nan damai. Ada kalanya saya bertengkar dengan mereka yang membuang sampah dan beradu argumen tentang mengapa mereka tidak boleh membuang sampah di Kebun kami. Di satu masa dimana saya sangat kehabisan ide, saya bahkan pernah menyuruh para pembuang sampah mengambil kembali sampah-sampah tersebut atau kami mengirimkan sampah itu kembali ke halaman rumah mereka.

 

1-4
Pembakaran sampah di pinggir sungai dekat Rumah KAIL di Kampung Cigarukgak (Foto: Dokumentasi KAIL)

 

Memang kalau dilihat kembali, sepertinya agak kurang cerdas juga upaya semacam itu. Proses yang lebih ideal mungkin adalah melakukan penyadaran terhadap warga, kemudian mereka secara sukarela akan mengelola sampahnya. Tetapi memang prosesnya tidak semudah itu. Ada banyak persoalan lainnya. Misalnya masalah ekonomi. Bagi sebagian warga Cigarukgak, iuran sampah dua puluh ribu sebulan untuk penanganan sampah dirasa berat; meskipun mereka sanggup membelanjakan puluhan juta rupiah demi menyelenggarakan hajatan pernikahan (yang juga menghasilkan banyak sampah).

 

Karena mereka tidak bisa membuang sampah di Kebun KAIL lagi, mereka pun membuang sampah di tempat lain. Ketika kemudian tempat tersebut menjadi rumah dan bangunan baru, mereka lalu mencari tempat lain, bantaran sungai misalnya. Bagi mereka yang tidak bisa menemukan tanah kosong untuk membuang sampah, mereka kemudian membakar sampah di halaman rumah masing-masing. Menjelaskan tentang bahaya membakar sampah, itu juga sulit sekali. Mereka tidak kuatir dengan penyakit. Belum ditemukan orang yang meninggal karena membakar sampah, sehingga mereka anggap aman. Paling-paling asapnya mereka arahkan supaya tidak masuk ke rumah mereka, tetapi tentu saja malah jadi masuk ke rumah tetangga.  Situasi ini tampaknya normal di Kampung Cigarukgak. Tetapi tentu saja ini merupakan “gunung es” persoalan yang harus diselesaikan.

 

Baik warga Cigarukgak maupun warga Kompleks Giri Mekar Permai, sama-sama tidak tuntas dalam menyelesaikan persoalan sampah mereka. Dalam bahasa ekonomi, sampah yang mereka hasilkan menimbulkan eksternalitas negatif bagi pihak lain. Dalam kasus Kompleks Giri Mekar Permai eksternalitas itu ditanggung oleh mereka yang tinggal jauh lokasinya dari Kompleks Giri Mekar Permai. Bagi warga Cigarukgak, eksternalitas tersebut ditanggung oleh warga sendiri beserta para tetangga yang berdekatan. Mereka bahkan saling memberikan eksternalitas negatif. Masalah sampah di kedua lokasi tersebut diselesaikan dengan menimbulkan persoalan baru, entah di tempat mereka sendiri (Kampung Cigarukgak) maupun di tempat lain (Giri Mekar Permai). Singkat kata, persoalan tidak selesai. Persoalan hanya berubah bentuk menjadi masalah baru, atau berpindah tempat ke lokasi yang baru, atau kombinasi dari keduanya.

 

Apa yang bisa kita refleksikan dari fenomena ini? Masalah pengelolaan sampah adalah satu dari berbagai masalah pengelolaan bumi kita. Bagaimana kita sebagai penduduk bumi mengambil tanggung jawab akan dampak lingkungan dari pola hidup kita. Persoalan ini bukan hanya terjadi dalam skala komunitas seperti Kompleks Giri Mekar Permai atau Kampung Cigarukgak, tetapi juga dalam skala negara. Akhir-akhir ini, ada banyak berita tentang sampah impor yang dikirim dari negara maju dan menimbulkan masalah di Indonesia. Negara maju itu seperti Kompleks Giri Mekar Permai yang mengirimkan sampah ke tempat lain dengan membayar sejumlah uang. Negara miskin atau berkembang seperti Indonesia posisinya sama dengan Kampung Cigarukgak yang mengolah sampahnya dengan cara membakar, membuang dan mencemari lingkungan mereka sendiri dan menanggung bersama (meskipun secara berbeda) dampak-dampak tersebut di wilayah mereka. Meskipun berbeda skala, struktur persoalannya mirip.

3-4
Rumah cacing dan Keranjang Takakura – cara mengolah sampah organis yang lebih ramah lingkungan daripada pembakaran (Foto: Koleksi KAIL)

 

Cara kita mengelola bumi ini sudah melewati batas daya dukung. Ilmu pengetahuan dan banyak peneliti telah menunjukkan fakta dan data pendukungnya di seluruh dunia. Krisis lingkungan terjadi dalam skala global. Sementara itu, kita berada di dalam sistem sosial, ekonomi dan politik yang cerminan perilakunya seperti Warga Kampung Cigarukgak atau Warga Kompleks Giri Mekar Permai. Jadi akan ada dua tantangan besar untuk mencapai dunia yang lebih berkelanjutan. Yang pertama, berkejaran dengan ambang batas daya dukung itu sendiri. Yang kedua, bagaimana mentransformasi struktur dan kultur yang membentuk perilaku kampung dan kompleks di atas. Bagaimana membangun masyarakat baru yang lebih bertanggung jawab di dalam memelihara bumi sekaligus juga memiliki sikap adil terhadap sesama, itulah agenda transformasi kolektif untuk pemulihan kondisi alam dan memperbaiki hubungan antar sesama manusia.

 

***

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati

Any Sulistyowati adalah trainer dan fasilitator di Perkumpulan Kuncup Padang Ilalang. Peran utama yang sedang dijalani saat ini adalah: (1) memfasilitasi komunitas/ organisasi/ kelompok untuk membuat visi bersama dan perencanaan untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (2) menuliskan inisiatif-inisiatif untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, (3) membangun pusat belajar (Rumah KAIL) untuk memfasilitasi proses berbagi dan belajar antar individu dan organisasi.

Related Posts

[Rumah Kail] Memulihkan diri di Rumah dan Kebun KAIL

[Rumah Kail] Memulihkan diri di Rumah dan Kebun KAIL

[Rumah KAIL} Pengalaman Pemulihan Kondisi Alam di Kebun KAIL

[Rumah KAIL} Pengalaman Pemulihan Kondisi Alam di Kebun KAIL

[Rumah KAIL] Berdamai dengan Tetangga : Suka Duka Pengelolaan Kebun KAIL

[Rumah KAIL] Berdamai dengan Tetangga : Suka Duka Pengelolaan Kebun KAIL

[Rumah KAIL] Mencari Kedamaian di Rumah KAIL

[Rumah KAIL] Mencari Kedamaian di Rumah KAIL

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 5
Total Visitors: 3279

Visitors are unique visitors