[Masalah Kita] Berdamai dengan Diri Sendiri

[Masalah Kita] Berdamai dengan Diri Sendiri

Setiap hari, kita pasti menghadapi tuntutan, entah itu berasal dari orang lain, ataupun dari dalam diri kita sendiri. Ada kalanya, tuntutan melebihi kesediaan kita untuk menjawabnya, sehingga kita pun merasa tertekan. Mari kita simak bersama contoh peristiwa berikut. 

Bayangkan Anda adalah seorang anak, yang setiap hari mendapat rentetan tugas untuk diselesaikan, baik itu tugas dari sekolah, ekstra / luar sekolah, maupun tugas-tugas di rumah. Sebagai seorang anak, Anda sering ditegur oleh orang dewasa, yaitu ketika Anda bertindak tidak sesuai dengan standar mereka, entah itu orang tua, kakek nenek, guru, bahkan juga teman sebaya. Teguran, kritikan, maupun saran yang setiap hari Anda terima tanpa sadar kemudian membuat Anda merasa buruk. Sebesar apapun usaha yang sudah Anda lakukan, hasilnya Anda tidak akan pernah dinilai cukup pantas. Tidak hanya itu, Anda juga tidak punya tempat untuk mengadu. Orang tua Anda sibuk dengan kepentingan mereka sendiri, dan mereka pun sedang mengurus proses perceraian. Binatang peliharaan kesayangan Anda pada saat yang bersamaan mati. Di sekolah dan tempat kursus, Anda tidak punya sahabat baik. Setiap orang kelihatannya sibuk dengan urusannya masing-masing. Anda merasa kesepian, sendirian, merana, lemah daya, dan tidak berarti. Anda mulai melakukan percobaan bunuh diri….         

Bagaimana perasaan Anda setelah membayangkan peristiwa tersebut di atas? Apakah emosi Anda tersentuh dan berbelas kasihan kepada anak itu? Apakah Anda merasa marah kepada situasi hidup yang membelenggu? Atau Anda tidak suka kepada anak itu karena ia memilih menjadi korban daripada terus berjuang? Atau tidak ada emosi apapun yang muncul, dan Anda menganggap peristiwa itu biasa saja, wajar, dan banyak terjadi dalam hidup sehari-hari?  

Perasaan Anda biasanya langsung mendorong Anda bertindak untuk menanggapi situasi hidup. Anda yang berbelas kasihan kemudian cenderung memikirkan cara untuk dapat mengurangi penderitaan yang ada. Anda yang marah cenderung bertenaga dan berdaya desak mengupayakan perbaikan. Anda yang tidak suka akan meninggalkan, dan Anda yang biasa-biasa saja akan membiarkan. 

Akan tetapi, tulisan ini tidak fokus membahas mengenai konten perasaan dan tanggapan Anda terhadap masalah hidup yang ada. Tujuan tulisan ini pertama-tama hendak mengajak Anda untuk merefleksikan: Mengapa perasaan dan tanggapan “itu” yang muncul dalam diri Anda, dan bukan yang “lain”? Bagaimana situasi / masalah yang sama dapat memunculkan reaksi yang berbeda pada tiap-tiap orang? Apakah itu berarti faktor pribadi oranglah yang menentukan munculnya kualitas reaksi tertentu, dan bukan situasi / masalah yang menyebabkan reaksi yang dialami seseorang?   

growthstream.com

Kita sadar, bahwa faktor pribadi kita sendirilah yang menentukan munculnya kualitas reaksi tertentu. Setelah ini Anda sadari, Anda akan lebih mudah melihat bayangan diri Anda, melalui reaksi yang Anda berikan terhadap situasi yang terjadi di luar. Pertanyaan selanjutnya yang muncul kemudian adalah: Apakah pemahaman Anda mengenai bayangan diri Anda sudah sesuai dengan kenyataan tentang diri Anda yang sebenarnya?

Untuk itu, mari kita cermati peristiwa aktual mengenai virus Covid 19. Apa yang sesungguhnya Anda pikirkan, rasakan, dan ingin lakukan terkait situasi dan kondisi pandemi virus ini? Sungguhkah itu pikiran, perasaan, dan keinginan asli Anda, atau Anda terpengaruh oleh pandangan, arus perasaan, dan himbauan lingkungan di luar diri Anda? 

Mari kita gali lebih dalam. Apapun konten pikiran, perasaan, dan keinginan Anda, adakah cemas dan gelisah yang terkandung di dalamnya? Bila ada, apakah itu berarti bahwa kenyataan diri Anda yang sebenarnya ialah “cemas – gelisah”, dan bukannya “pikiran – perasaan – keinginan dengan konten tertentu? 

Sesungguhnya, rasa cemas, gelisah, tertekan, ataupun perasaan tidak nyaman lainnya merupakan tanda bahwa ada pertentangan atau konflik di dalam diri Anda. Ibarat berdiri di persimpangan, satu kaki batin Anda melangkah ke kanan dan satu kaki batin Anda yang lain melangkah ke kiri, sehingga bila demikian terus, tubuh batin Anda pun dapat pecah terbelah dua. Apakah “konflik” merupakan wajah diri Anda yang sebenarnya?

Demikianlah penggalian ke dalam diri kita lakukan dengan cara merefleksikan kembali bayangan diri yang muncul dari reaksi kita terhadap situasi yang ada. Kapan kita berhenti menggali? Bagaimana kita tahu bahwa kita sudah sampai ke dasar diri, atau kenyataan sejati diri? Anda akan mengetahuinya sendiri, yaitu saat Anda tidak lagi menemukan jawaban, sehingga pertanyaan terakhir Anda merefleksikan kenyataan sejati diri Anda untuk “sekarang”. Anda mungkin akan menemukan jawaban dan mempertanyakannya kembali di masa yang akan datang. Penggalian yang semula Anda anggap sudah sampai dasar, kemudian berlanjut lagi lebih dalam. Proses pengenalan diri ini berlangsung terus seumur hidup Anda.

Tentu saja, proses ini terjadi bila Anda sadar dan mau berefleksi. Ada kalanya, Anda merasa cukup dengan menyadari bayangan diri Anda saja, tanpa merefleksikannya lebih dalam. Ada kalanya juga, Anda tidak menyadari bayangan diri Anda, melainkan sekedar menyadari reaksi yang Anda keluarkan saja. Atau Anda juga dapat abai terhadap reaksi Anda, dan lebih fokus memperhatikan situasi di luar diri Anda. 

Saat Anda fokus memperhatikan situasi yang ada, Anda cenderung sigap menanggapinya. Ini menunjukkan Anda re-aktif. Faktor penyebab situasi atau permasalahan yang ada Anda identifikasikan sebagai faktor eksternal. Anda kemudian sibuk mengubah faktor penyebab eksternal tersebut. Saat berhasil mengubah, Anda merasa bangga. Saat Anda gagal mengubah, Anda menyalahkan faktor eksternal sebagai akar permasalahan. Lucu bukan? Anda bangga karena merasa sudah berupaya. Anda lupa, bahwa pelaku utama perubahan adalah pihak eksternal itu sendiri. Namun sebaliknya. Anda tidak mau mengambil peran sebagai penanggung jawab utama saat perubahan yang Anda upayakan ternyata hasilnya gagal.

Bilamana Anda mulai memperhatikan reaksi Anda terhadap situasi yang ada, Anda tidak lagi tergerak untuk bersegera memberikan tanggapan. Inti kenyataan tidak lagi situasi di luar, melainkan kondisi di dalam diri Anda. Yang menjadi akar permasalahan ialah faktor diri Anda. Anda mengambil tanggung jawab utama terhadap reaksi Anda. Waktu dan tenaga Anda kerahkan pertama-tama untuk menyelesaikan akar masalah di dalam diri Anda. Setelah permasalahan dalam diri selesai, Anda tidak lagi mudah terpancing oleh situasi yang ada. Reaksi Anda terhadap situasi sifatnya menerima situasi dan berbelas kasih, bukan lagi menolak dan berupaya mengubah apa yang tidak Anda sukai. Lucu bukan? Anda akan mentertawakan diri Anda, karena sebelumnya Anda sudah berlaku bodoh, seolah berjuang melakukan perubahan, padahal sebenarnya Anda tanpa sadar memusuhi cacat lingkungan yang terkait dengan cacat diri Anda sendiri. 

Proses pengenalan diri seumur hidup akan membantu Anda untuk menjernihkan kacamata pandang Anda terhadap dunia, memurnikan niatan Anda sebelum bertindak, sehingga Anda terbiasa melakukan aksi, dan bukan re-aksi. Buah aksi sifatnya konstruktif dan tidak destruktif. Manfaat aksi positif dan berdampak nyata. 

Adakah damai dalam kondisi batin demikian? Ya! Damai ditunjukkan dari satu padunya semua bagian dalam diri, antara lain satu padunya pikiran, perasaan, keinginan, perkataan, tindakan, dan reaksi tubuh. Tapi bagaimana bila reaksi spontan kita terhadap situasi yang ada ialah menolak dan berusaha mengubah apa yang tidak kita sukai? Bagaimana kita dapat kita dapat menciptakan damai dalam situasi konflik batin?

groundandgrow.com

Dalam situasi tidak akur, perlu ada pihak netral yang menjembatani pertikaian. Di dalam diri, bagian yang dapat berfungsi sebagai pihak netral dinamakan sebagai kesadaran. Kesadaran melihat adanya pertentangan. Kesadaran tidak memihak, melainkan mencoba memahami pihak-pihak yang bertentangan. Caranya adalah dengan mendatangi satu per satu pihak-pihak yang bertentangan tersebut. 

Misalnya dalam kasus cemas-gelisah menghadapi situasi pandemi virus covid 19, kesadaran akan datang dan bertanya kepada perasaan, mengapa ia sampai tidak nyaman? Adakah rasa takut yang masih bergelayut? Adakah penolakan atau “tidak ingin” terhadap situasi yang ada? Adakah kelelahan akibat upaya memaksakan diri untuk berpikir, merasa, dan bertindak sebagaimana seharusnya? Apapun jawaban perasaan, akan diterima oleh kesadaran. Keberadaan perasaan dihormati, dan diberi tempat untuk tampil secara apa adanya. Tidak ada sedikit pun gerakan untuk mengubah perasaan yang ada. Hal ini membuat perasaan menjadi tenang dan rileks. Ketegangan mencair, kenyamanan mulai muncul. 

Selanjutnya kesadaran akan mendatangi pikiran dan bertanya mengapa ia bertengkar dengan perasaan. Adakah pikiran mendeteksi sinyal bahaya yang dipancarkan oleh perasaan? Apakah pikiran menemukan adanya ketakutan pada perasaan? Adakah pikiran segera mencari cara perlindungan agar diri terhindar dari bahaya yang dibayangkan? Adakah pikiran mengambil alih kendali, yang memerintah perasaan dan keinginan untuk turut mendorong tindakan sesuai arahan pikiran? Apakah pikiran mengabaikan suara jujur dari perasaan dan keinginan, yang bisa saja tidak searah dengan yang diperintahkan oleh pikiran? Kesadaran tidak bertendensi untuk menyalahkan pikiran sebagai pemegang kendali. Jawaban apapun dari pikiran merupakan fakta dan kebenaran, dari sudut pandang pikiran. 

Adakah kesadaran mengalami kebingungan menyikapi dua kebenaran yang berbeda, karena pikiran dan perasaan memandang dari sudut pandang yang berbeda? Bagaimana kesadaran dapat memadukan perbedaan menjadi utuh?   

Satu ciri kesadaran adalah sifatnya yang seperti apa adanya (as it is). Manakala muncul pertanyaan “bagaimana caranya untuk memadukan perbedaan menjadi utuh?”, kesadaran ngeh bahwa pertanyaan ini muncul dari pikiran. Kesadaran lalu paham sifat pikiran, yang berorientasi untuk memecahkan masalah, dan mencari cara untuk mencapai tujuan atau memenuhi standar seharusnya. Kesadaran menerima pertanyaan itu, lalu memberi ijin kepada pikiran untuk bekerja secara mandiri mencari jawabannya, tanpa kesadaran larut terseret dalam upaya pencarian jawaban tersebut. Jadi, jawaban apapun yang muncul sebagai perintah baru dari pikiran, tidak akan langsung diiikuti atau dilakukan, melainkan diterima sebagai laporan dari pikiran kepada kesadaran. 

Pada titik ini, pikiran tidak lagi sebagai pemegang kendali yang memerintah perasaan dan keinginan untuk segera bertindak mematuhinya. Pikiran, perasaan, dan keinginan, masing-masing melaporkan keberadaannya kepada kesadaran. Kesadaran menerima laporan keberadaan tersebut tanpa berpihak, ataupun tanpa mengambil alih kendali untuk mengolah dan memadukannya, karena lagi-lagi, fungsi olah informasi bukan merupakan porsinya. Kesadaran menghormati keberadaan setiap pihak yang ada. 

Bilamana keinginan memilih ide perpaduan, demikian juga perasaan mendukung keinginan, maka pikiran diberi tugas untuk menyelesaikannya. Bilamana ide perpaduan dari pikiran belum sesuai dengan keinginan dan perasaan, maka pikiran tidak memaksakan, melainkan mencari ide perpaduan yang lain. Bilamana situasi di hadapan dinilai mendesak oleh pikiran, dan penilaian itu disetujui oleh perasaan dan keinginan, maka semua pihak bersama-sama akan bersatu dalam tindakan secara mantap. Adakah damai dalam kondisi batin demikian? Tentu! Damai di hati Anda ini akan memancar ke luar. Kehadiran Anda akan membawa perdamaian, karena aksi Anda berdasarkan penerimaan dan belas kasih, bukan re-aksi karena menolak dan benci.*** 

Levianti

Levianti

Levianti, M.Si, Psi, adalah psikolog, yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, merintis usaha Kopi Bale bersama suami sejak tahun 2016, penulis lepas, associate trainer, dan dosen homebase Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul. Minat utamanya adalah pada pelatihan character building, serta latihan melepaskan diri dari hawa nafsu dan kelekatan tidak teratur. Diskusi artikel dengan penulis dapat dilakukan melalui email alevianti@gmail.com.

Related Posts

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Kesehatan Mental dan Self Healing

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Mensyukuri Luka Pengasuhan

[Masalah Kita] Terima Kasih Teman, Proses Berdamai dengan Diri Sendiri Menjadi Lebih Terang!

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

[Masalah Kita] Bergelut Dengan Alam

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

edisi

Terbaru

Rubrik

Recent Comments

STATISTIK

Online User: 0
Today’s Visitors: 6
Total Visitors: 1713

Visitors are unique visitors